Blog EntryMudah BahagiaDec 14, '05 11:55 PM
for everyone

assalaamu'alaikum wr. wb.

Saya selalu merasa bahwa ada suatu karakter unik yang bisa membedakan seorang Muslim yang baik dengan orang-orang lainnya.  Karakter itu adalah 'mudah bahagia'.  Ya, ini adalah sebuah topik yang cukup sulit untuk saya sampaikan, karena terlihat cukup abstrak, sebagaimana kebahagiaan itu sendiri adalah sesuatu yang abstrak. 

Saya rasa inilah konsep syukur yang sebenarnya.  Seorang Muslim yang baik pasti lebih sering bersyukur daripada mengeluh.  Syukur kepada Allah SWT bukanlah sejenis basa-basi seperti yang ditampakkan oleh seorang hamba sahaya ke hadapan Raja.  Syukur yang dimaksud di sini benar-benar sebuah ungkapan terima kasih karena kita telah merasakan karunia dari Allah. 

Ucapan hamdalah di bibir sebenarnya tidak ada manfaatnya sama sekali kalau tidak disertai dengan perasaan beruntung.  "Segala puji bagi Allah" bukanlah pujian yang setengah-setengah.  Anda tidak bisa mengucapkannya sebagai basa-basi.  You have to say it 'cuz you really mean it.  Kita berada dalam posisi di mana kita merasa kegirangan seperti anak kecil karena mendapat begitu banyak hadiah.  Sebenarnya semua manusia di dunia ini adalah anak kecil, dan semuanya mendapat begitu banyak hadiah.  Ironisnya, tidak semua orang merasa telah menerimanya.

Saya heran melihat begitu rentannya remaja masa kini.  Mereka membutuhkan begitu banyak kesempatan untuk curhat dengan teman sebayanya.  Padahal, seringkali masalah yang mereka hadapi sama sekali tidak berat.  Lebih parahnya lagi, mereka tidak menginginkan sahabat yang bisa memberikan saran dan koreksi.  Mereka hanya butuh telinga yang mau mendengarkannya dan membenarkan semua perasaannya.  Mereka tidak mencari jalan keluar.  Yang dicarinya hanyalah pembenaran.

Saya juga dibuat terheran-heran dengan sebagian muda-mudi yang sepertinya begitu haus akan hiburan.  Pergi ke bioskop, hangout dengan teman, dugem di berbagai klub malam, semuanya dilakukan atas nama refreshing.  Ratusan ribu bisa keluar dari koceknya hanya demi hiburan semalam di antara hingar-bingar klub malam.  Ketika hari Senin datang menyapa, mereka bahkan merasa seolah-olah tidak pernah istirahat.  Sulit sekali membahagiakan mereka.

Minuman beralkohol dan narkoba tidak akan disentuh manusia kalau bukan karena mereka merasa sulit berbahagia.  Semua orang tahu, setelah mabuk, tubuh menjadi tidak seimbang, kepala seperti mau pecah, dan efek ketergantungannya bukan main menyebalkan.  Tapi mereka hanya ingin membeli beberapa jam kebahagiaan di dalam mabuknya itu.  Sungguh kasihan nasib mereka yang sulit berbahagia.

Di tengah badai ghazwul fikri ini, pendidikan justru mengajari kita untuk susah bahagia.  Kita harus belajar di sekolah supaya dapat nilai bagus, lalu melanjutkan belajar di perguruan tinggi yang bagus, kuliah empat tahun (bila perlu lebih cepat), lalu lanjutkan lagi ke S2 agar mudah mencari pekerjaan, menjadi pegawai yang baik, mendapat gaji di atas 2 juta rupiah per bulan, membeli rumah yang nyaman, lalu menikah dan membina keluarga.  Mapan dulu, baru berkeluarga.  Kenapa?  Karena berkeluarga itu susah dan menyusahkan.  Begitulah yang ditanamkan ke dalam otak anak-anak sekolah jaman sekarang.

Saya setuju berkeluarga itu susah.  Memiliki partner dalam hidup artinya menyesuaikan diri dengannya, 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu.  Dan tentu saja, ketika anak lahir, kesulitan semakin bertambah.  Menjadi orang tua adalah sebuah pekerjaan utama, bukan sampingan.  Kalau masih mementingkan ego pribadi, maka menjadi orang tua adalah sebuah siksaan utama.  Tidak ada yang bilang berkeluarga itu mudah.  Tapi siapa bilang lebih banyak susahnya?

Orang lain berpikir bahwa menikah artinya tidak mungkin selingkuh lagi, sementara seorang Muslim membayangkan betapa indahnya punya pasangan untuk saling menghilangkan beban.  Orang lain berpendapat bahwa memiliki seorang bayi artinya terbangun jam 2 pagi mendengar tangisannya yang bisa membangunkan seluruh RT, sementara seorang Muslim tidak bisa membayangkan hidup tanpa pernah menyaksikan senyum seorang anak.  Demikianlah, pikiran para pengikut Hollywood dipenuhi dengan kengerian, sementara umat Islam sejak awal sudah diajari untuk selalu berbahagia.

Saya rasa kita tidak membutuhkan uang ratusan ribu rupiah untuk merasa bahagia.  Saya bisa merasa bahagia kalau ada seorang bayi - entah anak siapa - tersenyum ke arah saya di jalan.  Saya bisa langsung merasa bahagia kalau bertemu teman yang sudah lama tidak saya jumpai.  Saya bisa merasa bahagia kalau saya menghabiskan waktu melihat pepohonan; di atas bukit, di tepi pantai, atau di pinggir jalan.  Saya bisa senang hanya dengan bermain-main dengan seekor kucing.  Saya bisa merasakan kebahagiaan kalau saya membaca Al-Qur'an.

Terbangun di pagi hari, menghirup udara dingin kota Bandung yang baru saja diguyur hujan semalaman, saya tidak mungkin menghindar dari rasa bahagia.  Kenyataannya, bahagia adalah sesuatu yang abstrak.  Tidak ada hubungannya dengan segala hal yang bersifat materi.  Saya tidak bisa menjelaskannya, dan sepertinya memang lebih baik tidak usah dijelaskan.  Biarkanlah apa adanya. 

Menjadi seorang Muslim adalah nikmat terbesar yang saya peroleh.  Begitu mudah bagi saya untuk merasakan kebahagiaan.  Saya tidak membutuhkan rumah besar, mobil mewah, uang milyaran rupiah, villa peristirahatan di atas bukit, atau jalan-jalan ke klub-klub malam.  Saya bisa berbahagia dengan hal-hal yang amat sederhana.  Demikian pula kebahagiaan.  Begitu sederhana.

Maka berbahagialah.

wassalaamu'alaikum wr. wb.



dedysubandi wrote on Dec 15, '05
akmal said
Saya bisa berbahagia dengan hal-hal yang amat sederhana. Demikian pula kebahagiaan. Begitu sederhana.
rumus kebahagiaan sederhana " it's come from our inner side not outer but sometime we dont realize it", dan saya rasa akmal sudah menemukannya... ^ - ^

salam

dedy
woro2 wrote on Dec 15, '05
akmal said
Saya heran melihat begitu rentannya remaja masa kini. Mereka membutuhkan begitu banyak kesempatan untuk curhat dengan teman sebayanya. Padahal, seringkali masalah yang mereka hadapi sama sekali tidak berat. Lebih parahnya lagi, mereka tidak menginginkan sahabat yang bisa memberikan saran dan koreksi. Mereka hanya butuh telinga yang mau mendengarkannya dan membenarkan semua perasaannya. Mereka tidak mencari jalan keluar. Yang dicarinya hanyalah pembenaran
emang sih kebanyakan remaja kayak gitu. terutama remaja cewek. sebenernya sih ga cuma remaja aja. sebagian besar wanita biasanya lebih suka menceritakan masalahnya tanpa perlu2 amat mendapatkan solusi. karena biasanya mereka hanya ingin didengar dan dipahami. hiks. btw, setuju banget deh klo kebahagiaan itu harus diri kita sendiri yang mengusahakan. nggak usah melulu mencari dari hal-hal yang besar -->> bagus banget tulisannya... jadi merenung nih.....
akmal wrote on Dec 15, '05
rumus kebahagiaan sederhana " it's come from our inner side not outer but sometime we dont realize it", dan saya rasa akmal sudah menemukannya... ^ - ^
amiin... mudah-mudahan "tuduhan" mas dedy pada saya itu benar... hahaha :)
akmal wrote on Dec 15, '05
woro2 said
bagus banget tulisannya... jadi merenung nih.....
makasih... makasih...
fitrtanjuang wrote on Dec 15, '05
akmal said
Ucapan hamdalah di bibir sebenarnya tidak ada manfaatnya sama sekali kalau tidak disertai dengan perasaan beruntung
Tetap lebih baik membiasakan diri mengucapkan dengan mulut daripada tidak sama sekali. Siapa tau dari mulut turun ke hati...:)
akmal wrote on Dec 15, '05
Siapa tau dari mulut turun ke hati...:)
mudah2an sih begitu...
rikaadinda wrote on Dec 20, '05
akmal said
Saya bisa merasakan kebahagiaan kalau saya membaca Al-Qur'an.
naahh.... ini syarat utama jadi suami yang baik hehehhe..... tinggal realisasi aja :D
akmal wrote on Dec 20, '05
tinggal realisasi aja :D
ngeledek aja nih... :p awas ya....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help