assalaamu'alaikum wr. wb.
Alasannya cuma satu : dosa saya sudah terlampau banyak. Kalau bisa ya tidak usah ditambah lagi. Tapi dari hari ke hari ada saja dosa yang saya lakukan. Entah bagaimana harus menghentikan kebiasaan ini. Sewaspada apa pun kita bertindak, ada saja kesalahan yang kita buat. Manusia memang lemah.
Kabar baiknya, Allah SWT menggunakan sistem timbangan. Artinya, biarpun banyak dosanya, asal amal baiknya jauh lebih banyak lagi, maka insya Allah kita 'aman'. Karena itu, dalam rangka menjauh dari kemurkaan-Nya (selain dengan bertaubat dan berusaha agar tidak terperosok di lubang yang sama berkali-kali), maka saya harus mencari suatu cara untuk mendulang kebaikan sebanyak-banyaknya. Saya sebut 'kebaikan' - bukan 'pahala' - karena sebenarnya kita tidak pernah tahu hitung-hitungan soal pahala. Saya dan nyaris semilyar manusia lainnya sama-sama shalat, tapi pahalanya beda-beda 'kan?
Ada sejenis multi level marketing (MLM) yang paling menguntungkan, yang bergerak di bidang ilmu. Untuk MLM yang satu ini, biaya sama sekali tidak relevan. Kita tidak akan kehabisan modal dalam melakukannya. Jumlah downline yang bisa kita raih tidak terbatas. Dan, selama jaringan itu terus terpelihara, maka upline akan selalu untung, berlipat ganda, hanya dengan sedikit usaha.
Usaha itu adalah nasihat.
Tepat sekali kiranya jika Allah bersumpah demi masa bahwa semua manusia di muka bumi ini akan senantiasa merugi. Mereka yang tidak merugi hanya punya satu pilihan, yaitu melaksanakan apa yang Allah perintahkan secara implisit pada surah Al-'Ashr. Beriman, beramal saleh, saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran. Iman sudah, beramal saleh diusahakan semaksimal mungkin, maka sekarang tinggal menyebar nasihat saja yang belum.
Jaman sekarang, dengan sedikit usaha, kita bisa mendapatkan free space di dunia maya. Space tersebut bisa kita isi macam-macam. Kita bisa isi dengan gambar-gambar porno, atau bisa juga kita manfaatkan untuk menyebarkan nasihat. Jaringan internet tidak tahu apa-apa. Kitalah yang harus mengarahkannya. Kenyataannya, internet adalah media informasi dan komunikasi yang sangat efektif, karena bisa menjangkau orang lain di belahan dunia mana saja, selama masih ada sambungan telepon dan komputer yang memadai. Kalau mau menyebarkan nasihat, maka internet adalah salah satu tempat yang paling tepat.
Tidak perlu muluk-muluk. Kalau ada orang lain yang mendapat inspirasi (yang positif) dari tulisan saya - satu saja - maka saya akan untung besar. Katakanlah lambat laun ia akan lupa pada saya. Yang jelas, inspirasi itu terus dipeliharanya, kemudian mendorongnya untuk menciptakan inovasi-inovasi baru, kemudian ia menggunakannya untuk kebaikan, kemudian hal itu memberi inspirasi pada orang lain untuk menciptakan inovasi-inovasi yang lain lagi. Bisakah Anda membayangkan reaksi berantai yang akan terjadi?
Pada suatu acara di Masjid Al-Ukhuwwah di Bandung, seorang akhwat pernah bertanya pada alm. Ust. Rahmat Abdullah : "Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dakwah Hasan al-Banna? Bukankah dakwah beliau telah gagal, karena Ikhwanul Muslimin terus ditindas oleh pemerintah Mesir hingga kini, dan zionisme terus merajalela?" Pada saat itu acaranya memang membedah buku 'Tarbiyah Hasan al-Banna dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin' karya Yusuf al-Qaradhawi. Apa jawab sang ustadz?
"Gimana ya... Kalau dakwah Hasan al-Banna dibilang gagal, tapi kelihatannya tidak tuh. Keberadaan anda bersama seluruh pemuda, ikhwan dan akhwat, di masjid ini, adalah salah satu buktinya. Sekian banyak pemuda dan pemudi yang memiliki komitmen pada Islam, dan dakwah Hasan al-Banna memiliki andil di dalamnya. Kalau Anda mendapat ilmu dari buku-buku Yusuf al-Qaradhawi, ketahuilah bahwa beliau belajar banyak dari Hasan al-Banna. Jadi kata siapa dakwah beliau gagal? Hasan al-Banna memang syahid ditembak musuh pada usia muda, tapi siapa yang bisa menyangkal gelombang dahsyat yang dihasilkannya dalam umurnya yang amat pendek itu? Apakah ini yang disebut gagal?"
Inilah yang saya sebut sebagai reaksi berantai keilmuan. Seumur hidupnya, Hasan al-Banna cuma menulis sedikit buku. Tapi jangan salah. Banyak sekali pemuda binaannya yang menjadi penulis handal dan sangat produktif. Yusuf al-Qaradhawi adalah sebuah contoh yang sangat bagus. Dari mana ilmu itu ia dapatkan? Banyak sekali ilmu yang didapatnya dari Hasan al-Banna. Paling tidak, Hasan al-Banna telah memberinya inspirasi untuk selalu haus ilmu dan gemar membagi-bagikannya. Kalau Anda bingung memikirkan betapa banyak kebaikan yang telah ditebar Yusuf al-Qaradhawi melalui tulisan-tulisannya, tentu Anda akan lebih bingung lagi memikirkan banyaknya kebaikan yang telah ditebar oleh Hasan al-Banna.
Dahsyat, bukan? Itulah sebabnya saya pribadi merasa berkewajiban menulis. Kebaikan sekecil apa pun akan saya bagi-bagikan secara gratis. Kalau pun harus bayar, paling-paling bayar koneksi internet atau biaya buku (kalau akhirnya saya menulis buku). Ilmunya sendiri gratis. Tidak perlu bayar, karena pada akhirnya toh saya juga yang akan untung besar. Anda boleh melupakan wajah dan nama saya, tapi saya akan berusaha agar Anda tidak lupa pada ilmu yang saya bagi-bagikan. Mudah-mudahan Allah SWT membimbing saya agar tidak menyesatkan para pembaca ke jalan yang salah. Saya harus jadi upline yang baik!
wassalaamu'alaikum wr. wb.