Blog EntryAtas Nama Tradisi dan BudayaJan 10, '06 6:02 AM
for everyone

assalaamu'alaikum wr. wb.

Di Indonesia, tradisi dan budaya lokal seringkali dipuja-puja, terutama di pelajaran-pelajaran Pancasila, Kewiraan, Kewarganegaraan, atau apalah namanya.  Saya pribadi tidak pernah memahami 'arti penting' dari memelihara sebuah tradisi dan budaya.  Bagi saya, segala sesuatu dinilai dari baik-buruknya.  Dalam bahasa fiqih : manfaat dan mudharat-nya.  Kita tidak memerlukan standar lain.

Melakukan sesuatu hanya karena hal tersebut adalah sebuah tradisi, bagi saya, sama saja seperti memelihara cara berpikir kaum musyrik Quraisy di jaman Rasulullah saw. atau para penyembah berhala pada jaman para Rasul terdahulu.  Seolah-olah kita mengatakan : "kami melakukannya karena bapak-bapak kami dahulu juga melakukannya".  Padahal, orang tua yang baik pasti menghendaki anak-cucunya untuk bertindak lebih cerdas daripada dirinya.  Tradisi bukanlah alasan untuk melakukan sesuatu, meskipun tidak semua yang ditradisikan itu buruk.

Melaksanakan tradisi sekedar karena generasi terdahulu juga melakukannya adalah contoh kebekuan intelektual.  Kalau orang lain melakukannya, kenapa kita harus mengikutinya?  Apakah kita harus selalu ikut-ikutan?  Apakah orang-orang terdahulu selalu lebih baik?  Tidak bolehkah kita membuat sebuah rumusan dalam rangka menyempurnakan apa yang telah diwariskan oleh generasi pendahulu?  Sungguh tidak masuk akal.

Dulu, waktu masih aktif di DKM semasa SMA, saya pernah berdiskusi dengan seorang rekan sesama pengurus DKM.  Waktu itu masih awal tahun ajaran baru.  Ia sudah punya banyak rencana untuk berbagai agenda setahun ke depan.  Ada perayaan Isra' Mi'raj, perayaan Maulid Nabi, perayaan Idul Fitri, perayaan Idul Adha, bahkan sampai detil-detilnya, misalnya lomba-lomba yang akan dipertandingkan pada masing-masing perayaan, atau pembicara yang akan diundang untuk memberi ceramah pada perayaan-perayaan tersebut.

Quick question!  "Ada yang baru?"

Ternyata semuanya berasal dari tradisi.  Sudah sejak dulu DKM mengadakan perayaan ini-itu dengan konsep begini-begitu, urutan acara begini-begitu, bahkan tema khutbah pun dari tahun ke tahun ya begitu-begitu saja.  Setelah diteliti, ternyata DKM pun tidak banyak berubah setiap tahunnya.  Konsep dakwah yang digunakan selalu sama, bahkan menurut saya nyaris tidak pernah dirumuskan.

Saya tidak menentang penggunaan cara-cara yang sudah pernah digunakan.  Hanya saja, hal ini menggiring kita pada pertanyaan berikutnya : "Apa alasannya cara tersebut tetap dipertahankan?  Kalau memang dianggap berhasil, apa parameter keberhasilannya?".  Parameter keberhasilan dakwah adalah sesuatu yang amat kompleks untuk dibahas, namun sangat penting.  Sayangnya, jarang sekali yang mendiskusikannya.

Sebagian program DKM saat itu barulah menyentuh kulit ari dari permasalahan umat.  Agendanya tidak pernah jauh dari perayaan hari-hari besar keagamaan.  Padahal, hari-hari raya tersebut tidak perlu dirayakan, tapi dihayati.  Lagipula, hari raya umat Islam sejatinya hanyalah Idul Fitri dan Idul Adha.  Apakah dakwah semacam ini menyentuh orang-orang awam yang tidak begitu peduli pada agama?  Apakah cara-cara ini bisa membuat mereka semakin menghayati ajaran Islam?  Jawabannya : jarang sekali ada yang mendiskusikannya.  Semua ini hanyalah sebuah tradisi.

Alhamdulillaah, ketika saya menjabat sebagai Ketua Seksi Dakwah Umum di DKM, ada sebuah usulan yang sangat bagus.  Kurang lebih begini.  Daripada membuat acara besar-besaran yang cuma beberapa kali dalam setahun namun tidak berbekas dalam hati para siswa, lebih baik bikin acara kecil yang bisa dilaksanakan setiap hari sehingga benar-benar memberi efek pada semua orang.  Akhirnya, kami sepakat mengadakan kultum di setiap kelas setelah guru pada jam pelajaran terakhir keluar, dan sebelum siswa meninggalkan kelas.  Tentu saja, mereka yang bukan Muslim dipersilakan untuk langsung pulang jika mereka ingin, dan mereka pun boleh tinggal jika mau.  Hasilnya?  Banyak teman saya yang mendiskusikan hadits-hadits dan ayat-ayat yang mereka dengar saat kultum.  Yang penting, Islam telah mendapatkan perhatian mereka.

Pada dasarnya, semua pembaruan harus dimulai dari sebuah penolakan terhadap tradisi.  Bukan nilai-nilai yang ditradisikan itu yang harus dimusuhi, karena memang tidak semua yang ditradisikan itu buruk.  Yang jelas, tradisi bukanlah alasan untuk melakukan segala sesuatunya.  Kita melakukan sesuatu karena hal itu baik.  Kalau ada hal lain yang lebih baik, maka tidaklah tabu untuk berganti haluan.

Tradisi juga tidak bisa dilepaskan dari corak budaya lokal.  Budaya pun merupakan suatu warisan nenek moyang.  Tidak ada salahnya memelihara budaya lokal, asalkan budaya itu memang baik.  Kalau ada kekotoran di dalamnya, mengapa ragu untuk membersihkannya?

Tahukah Anda bahwa banyak tari-tarian khas Indonesia yang identik dengan pelacuran, dan hal ini masih berlangsung hingga hari ini?  Tahukah Anda bahwa banyak budaya lokal Indonesia yang berhubungan langsung dengan hal-hal yang berbau mistis?  Tahukah Anda bahwa ada sebuah tarian dari Pulau Jawa yang mewajibkan sang penari (selalu laki-laki) memiliki pasangan sesama jenis untuk memuaskan keinginan seksualnya?  Inikah budaya yang harus kita pertahankan?

Lihatlah ragam bahasa di Indonesia.  Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang bahasanya lebih beragam daripada bangsa kita ini.  Akan tetapi, kalau mau diteliti lagi, karakter bangsa yang tergambar dari bahasa-bahasa daerah justru akan membuat kita malu.  Banyak daerah yang menggunakan tingkatan-tingkatan bahasa.  Yang paling halus digunakan untuk berbicara dengan orang tua atau untuk atasan, sedangkan yang paling kasar digunakan untuk bicara dengan anak-anak.  Perlukah kita bicara kasar pada anak-anak?  Inikah budaya lokal yang harus kita junjung tinggi?

Di jaman serba rasional ini, ternyata toh masih ada orang tua yang memaksakan anaknya untuk menikah dengan orang sesuku.  Kalau calonnya tidak memenuhi kriteria kesukuan, maka orang tua menolaknya mentah-mentah.  Memang restu orang tua itu penting, tapi seorang Muslim seharusnya tidak lupa bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk menikahkan anaknya dengan orang yang melamarnya, selama ia taat pada agama dan anaknya pun tidak menolak untuk dinikahkan dengannya.  Prinsip ini adalah tuntunan Rasulullah saw.  Apakah ada kriteria kesukuan?  Tidak ada!  Dan orang tua wajib untuk tidak menghalang-halanginya.

Lagipula, apa bagusnya sih suku bangsa tertentu dibanding suku bangsa yang lain?  Apakah orang Minang lebih baik daripada orang Sunda?  Apakah orang Sunda lebih baik daripada orang Madura?  Apakah orang Madura lebih baik daripada orang Papua?  Apakah orang Papua lebih baik daripada orang Amerika?  Omong kosong!  Orang jahat di mana pun ada, dan orang baik di mana pun juga ada.  Tidak ada hubungannya dengan suku bangsa.

Bagaimana jika anak Anda hendak menikah dengan orang Ethiopia yang soleh?  Apakah Anda enggan menikahkannya?  Apakah Anda menganggap orang Ethiopia itu buruk?  Ingat, Bilal bin Rabah ra. adalah orang Ethiopia, dan ia adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang paling dihormati.  Apakah Anda jijik dengan orang Inggris lantaran Tony Blair selalu setia mendukung kebohongan AS?  Bukankah saudara kita, Yusuf Islam, berasal dari sana? 

Apakah ada bangsa di dunia ini yang tanpa cela?  Jika tidak ada, mengapa ada suku yang merasa dirinya lebih baik dari suku lain?  Tanpa sadar, kita telah terjebak dalam cara berpikir ala rasialis dan fasis.  Sungguh memalukan.

Hanya karena tradisi dan budaya, mata kita telah sedemikian seringnya dibutakan.  Banyak hal yang tidak bisa kita pelajari secara objektif jika kita selalu terpaku pada nilai-nilai kedaerahan.  Kita harus berhenti meniru mentah-mentah generasi pendahulu.  Mereka tentu berharap kita mampu menjadi generasi yang lebih baik daripada mereka.  Sejarah tidak pernah menghargai seorang copycat.

wassalaamu'alaikum wr. wb.


18 CommentsChronological   Reverse   Threaded
iwan95 wrote on Jan 10, '06
hmm....(sekali lagi) mantab ! :)
akmal wrote on Jan 10, '06
wah dah lama jg gak dikomentarin mas iwan... kamana wae yeuh?? :p
iwan95 wrote on Jan 11, '06
akmal said
wah dah lama jg gak dikomentarin mas iwan... kamana wae yeuh?? :p
i'm still here kok boss :)
sdang belajar berkomentar di saat dan cara terbaik :)
takut alih2 memuji untuk menyemangati malah jadi menjerumuskan ke jurang ketakaburan yg dalam.... :)
droppingzone wrote on Jan 11, '06, edited on Jan 11, '06
akmal said
Lagipula, apa bagusnya sih suku bangsa tertentu dibanding suku bangsa yang lain? Apakah orang Minang lebih baik daripada orang Sunda? Apakah orang Sunda lebih baik daripada orang Madura? Apakah orang Madura lebih baik daripada orang Papua? Apakah orang Papua lebih baik daripada orang Amerika? Omong kosong! Orang jahat di mana pun ada, dan orang baik di mana pun juga ada. Tidak ada hubungannya dengan suku bangsa.
Huakakakaka.....
Kenapa ya Tuhan itu menciptakan suku bangsa? Kalo cuma soal baik-buruk [menurut definisi tulisan di atas], kenapa ga buat satu suku bangsa ajah ya?

Kalo saya tuliskan dalil aqli maupun dalil naqli tentang masalah suku bangsa ini yg bahkan positif, kayaknya jadi banyak ya.

Biar singkat,
ga perlu berat2,
apalagi sampai penat,
cukup beberapa kalimat,
dan dari lingkungan yg cukup dekat.

Waktu saya OS Himpunan, seniro pernah kasih kata2 yg cukup saya ingat.
Beda-beda jagonya, jago-jago semuanya.

Kalo baru dengar sih ndak apa2. Tapi kalo sudah pernah dengar, sepertinya kurang didalami ya?

Memang dasar semuanya adalah kebenaran. Kalo ada budaya & tradisi yg baik, kenapa tidak didukung & dibela? Kopiah hitam, adalah tradisi & budaya, baik kan?

akmal said:
Banyak daerah yang menggunakan tingkatan-tingkatan bahasa. Yang paling halus digunakan untuk berbicara dengan orang tua atau untuk atasan, sedangkan yang paling kasar digunakan untuk bicara dengan anak-anak. Perlukah kita bicara kasar pada anak-anak? Inikah budaya lokal yang harus kita junjung tinggi?
Dalam bahasa jawa, tingkatan "ngoko" memang dikatakan sebagai "kasar", tapi "kasar" di sini itu bukan berarti berbicara "kasar" negatif, melainkan dekat, tidak ada penghalang. Itu yg dimaksud "kasar". Kata yg tepat sebenarnya bukan "kasar", tetapi "biasa". Kalo sama anak sendiri kan sangat dekat, maka tidak perlu "ewuh-pakewuh". Sepertinya belum mempelajari adat-istiadat, tradisi, & budaya dgn lebih dalam ya?


Sepertinya masih hitam-putih, belum grey-scale, atau bahkan belum warna-warni alias konsep Islamnya belum menyeluruh digali. Yah dimaklumi, karena semuanya masih dalam taraf belajar. [Termasuk bikin partai ;)]

Selamat Idul Adha. Semoga kita juga dapat meraih makna & hikmah dari pak Ibrahim AS yang punya julukan "bapak para nabi".
albirru wrote on Jan 11, '06
yg paling susah itu... ngajak orang utk gak percaya sama tradisi. Apalagi sama para orangtua kita.. wuidiiihhh... bisa2 dibilang kualat
akmal wrote on Jan 11, '06
Kenapa ya Tuhan itu menciptakan suku bangsa? Kalo cuma soal baik-buruk [menurut definisi tulisan di atas], kenapa ga buat satu suku bangsa ajah ya?
maksud saya sih sebenernya : tdk ada suatu suku bangsa yg secara keseluruhan lebih baik daripada yg lain... kalo masing2 punya keunggulan, itu adalah fitrah... masing2 juga punya kekurangan... bahkan setiap orang punya keunggulan dan kekurangan... jadi tdk ada alasan utk merasa diri sendiri lebih baik daripada org lain...

gitu lho maksud saya... bukan menggugat tindakan Allah yang menciptakan berbagai suku bangsa... mana berani daku menggugat Allah? emangnya Islam Liberal? wakakaka....

bukan, bukan gitu maksud saya.. cuma mengajak kita semua kembali pada standar kebenaran, bukan kedaerahan... seperti yg saya bilang di tulisan saya juga, tdk semua tradisi itu jelek... hanya saja, tradisi bukanlah alasan untuk melakukan sesuatu... shalat kalau cuma dianggap tradisi ya gawat kan? jadi, lebih baik kembalikanlah semua penilaian pada standar kebenaran... kalo benar ya silakan dipelihara, kalo jelek ya silakan ditinggalkan... idealnya sih, kita selalu bisa merumuskan cara baru yg lebih baik daripada cara yg sudah ditinggalkan oleh para pendahulu kita... nah, itu baru namanya generasi pembaharu...

eh kang droppingzone ini kuliah dimana ya? istilah "seniro" sepertinya saya kenal :)
droppingzone wrote on Jan 11, '06
albirru said
yg paling susah itu... ngajak orang utk gak percaya sama tradisi. Apalagi sama para orangtua kita.. wuidiiihhh... bisa2 dibilang kualat
Bagi saya sih, yg paling susah itu adalah mengajak orang berpikir jernih dan sejernih-jernihnya. Ada yg susah diajak keluar dari tradisi yg jelek. Tapi juga ada yg susah diberitahu kalo tradisi yg sudah ada itu sudah benar, eh malah maunya membuat sendiri, dan ternyata malah lebih jelek dari tradisi yg sudah ada.
akmal wrote on Jan 11, '06
Dalam bahasa jawa, tingkatan "ngoko" memang dikatakan sebagai "kasar", tapi "kasar" di sini itu bukan berarti berbicara "kasar" negatif, melainkan dekat, tidak ada penghalang. Itu yg dimaksud "kasar". Kata yg tepat sebenarnya bukan "kasar", tetapi "biasa". Kalo sama anak sendiri kan sangat dekat, maka tidak perlu "ewuh-pakewuh". Sepertinya belum mempelajari adat-istiadat, tradisi, & budaya dgn lebih dalam ya?
yg saya lihat pada prakteknya sih kesan yg didapat cenderung "kasar", bukan "biasa"... apa pun itu, tetaplah tidak wajar menurut saya jika kita membedakan sikap kita kepada masing2 orang... termasuk anak sendiri... justru kita harus membiasakan anak2 kita untuk memiliki kehormatan dan berani untuk menuntut kehormatan tersebut dari orang lain... Rasulullah saw. sendiri tdk membedakan kosa kata yg digunakannya kepada bangsawan, sahabat, budak, dan anak kecil... kalaupun ada pemilihan kosa kata, itu dikarenakan tingkat intelektual yg beda2 dari yg diajak bicara... misalnya kata2 seperti "komprehensif", "legalitas", "objektifitas", tentu sulit dicerna oleh balita kan?
droppingzone wrote on Jan 11, '06, edited on Jan 11, '06
akmal said
yg saya lihat pada prakteknya sih kesan yg didapat cenderung "kasar", bukan "biasa"... apa pun itu, tetaplah tidak wajar menurut saya jika kita membedakan sikap kita kepada masing2 orang... termasuk anak sendiri... justru kita harus membiasakan anak2 kita untuk memiliki kehormatan dan berani untuk menuntut kehormatan tersebut dari orang lain... Rasulullah saw. sendiri tdk membedakan kosa kata yg digunakannya kepada bangsawan, sahabat, budak, dan anak kecil... kalaupun ada pemilihan kosa kata, itu dikarenakan tingkat intelektual yg beda2 dari yg diajak bicara... misalnya kata2 seperti "komprehensif", "legalitas", "objektifitas", tentu sulit dicerna oleh balita kan?
Mungkin terpengaruh penerjemahan ngoko dgn kata "kasar" kali ya? . Mendingan ditanya dulu deh dgn orang2 daerahnya itu. Seperti yg sudah saya sebut, bahwa maksudnya "ngoko" itu adalah 'biasa" atau bisa diartikan "dekat". Dan itu bukan berarti melecehkan atau merendahkan anak2. Dan tentu saja berbahasa "ngoko" dgn anak itu tidak ada hubungan dekat dgn ketidakmauan untuk memperoleh kehormatan. Silakan tanya pangeran Diponegoro dll.


Kalo Rosulullah pada suatu ketika tidak membeda2kan panggilan terhadap bangsawan, bangsawan, sahabat, budak, dan anak kecil, itu artinya adalah mereka memang sederajat.
Dan yang namanya menghormati itu ada di mana2, termasuk juga dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dll. Coba deh perhatikan. Pasti ada perbedaan. Kalo ada orang yg patut dihormati, apa Rasulullah tidak pernah memberikan kata ganti atau kata tambahan untuk panggilan orang itu? Hayo buka2 lagi deh hadist2nya.
Bahkan Allah pun memberikan penghormatan. Hayo buka2 lagi Qurannya.

Nah jadi terlihat toh, bahwa tradisi & budaya yg dijadikan contoh di atas itu bukan merendahkan, atau bahkan menjelek2an sebagian orang tanpa sebab jelas? Jadi, sebelum memberikan contoh, lebih baik diteliti dahulu.

Saya memaklumi karena saya juga pernah seperti artikel di blog ini, dan saya tidak mau hal itu terulang lagi, baik bagi saya maupun saudara-i saya, apalagi yg muslim dan berpotensi seperti para komentator di atas.
akmal wrote on Jan 11, '06
ada bedanya antara "memberi penghormatan pada pihak2 tertentu" dengan "merendahkan pihak2 tertentu" kang... yg pertama itu tidak salah, tapi yg kedua itu tidak pantas... penjelasan tentang "ewuh-pakewuh" itu justru membuat saya makin yakin bahwa feodalisme bahasa ini harus dimusnahkan... kenapa sama org lain harus "ewuh-pakewuh" sementara pada anak tidak? apakah anak kita tdk perlu dijaga perasaannya? apakah kita tdk perlu khawatir akan menyakiti perasaan dia, karena dia anak kita? apakah kita tdk perlu "ewuh-pakewuh" pada anak? hmmm... sepertinya psikologi modern berkata sebaliknya...
droppingzone wrote on Jan 11, '06, edited on Jan 11, '06
akmal said
ada bedanya antara "memberi penghormatan pada pihak2 tertentu" dengan "merendahkan pihak2 tertentu" kang... yg pertama itu tidak salah, tapi yg kedua itu tidak pantas... penjelasan tentang "ewuh-pakewuh" itu justru membuat saya makin yakin bahwa feodalisme bahasa ini harus dimusnahkan... kenapa sama org lain harus "ewuh-pakewuh" sementara pada anak tidak? apakah anak kita tdk perlu dijaga perasaannya? apakah kita tdk perlu khawatir akan menyakiti perasaan dia, karena dia anak kita? apakah kita tdk perlu "ewuh-pakewuh" pada anak? hmmm... sepertinya psikologi modern berkata sebaliknya...
Saya setuju bahwa "menghormati" itu beda dgn "merendahkan". Nah"ewuh-pakewuh" di sini adalah yg positif, dan memang ada yg salah menggunakan bahkan menafsirkan bahwa hal itu merendahkan..
Anak itu memang harus dihormati, dan tentu lain cara penghormatannya dgn pahlawan perang, pejabat negara, dll, ya kan? Justru kalo disamakan malah mengakibatkan hal2 yg negatif, ya kan? Malah jadi dzalim dong?

Tetapi kalo sudah menyimpulkan bahwa "ewuh-pakewuh" itu salah 100% dan harus dimusnahkan, lagi2 berarti tidak menyimak dgn baik tentang bahasa dari budaya tersebut bahkan cenderung mencampuradukkan. Dan berarti pula bahwa pesan2 Islam (baik dari Rosul bahkan Allah) dalam mendukung suatu tradisi/budaya buatan manusia (yg positif tentunya), sudah dikesampingkan. Bahkan contoh2nya pun tidak dilihat.

Atau tulisan saya cukup dirasakan keras sehingga pesan2 yg saya sampaikan terhalangi oleh emosi bahwa tulisan pada artikel di atas adalah benar 100% serta betul2 dari Islam? OK, deh saya minta maaf ya. Dan mungkin karena saya terlalu menggebu2, jadinya lupa tata-krama dalam berdiskusi ya. Hehehe, saya yg membela tradisi & budaya (yg positif tentunya) malah kadang2 lupa. Saya harus makin belajar tentang "ma'ruf".
akmal wrote on Jan 11, '06
Atau tulisan saya cukup dirasakan keras
keras sih nggak... cuma kalau boleh kasi saran, lebih baik hindarilah cara2 menyindir seperti "buka lagi deh Al-Qur'annya" atau "baca lagi deh hadits-haditsnya", karena kebanyakan orang melihatnya sebagai fenomena arogan... tradisi arogan ini biasa dilakukan oleh anak-cucunya orientalis, misalnya Islam Liberal... saya tidak menuduh ente kadernya JIL lho... justru saya ngomong begini karena yakin dikau tdk seperti demikian... jadi jangan sampai ada yg salah sangka hanya karena hal2 kecil begini... lebih baik to the point saja, kalau ada ayat atau hadits yg hendak disampaikan ya disampaikan saja... lempeng, begitu...

haha tapi saya sih orangnya lempeng kok... gak ada prasangka macem2... kalo saya berpendapat sesuatu ya saya sampaikan tanpa maksud tersembunyi... :)) tapi kadang2 'lempeng' ini juga jadi bumerang sih...
droppingzone wrote on Jan 11, '06, edited on Jan 11, '06
akmal said
keras sih nggak... cuma kalau boleh kasi saran, lebih baik hindarilah cara2 menyindir seperti "buka lagi deh Al-Qur'annya" atau "baca lagi deh hadits-haditsnya", karena kebanyakan orang melihatnya sebagai fenomena arogan... tradisi arogan ini biasa dilakukan oleh anak-cucunya orientalis, misalnya Islam Liberal... saya tidak menuduh ente kadernya JIL lho... justru saya ngomong begini karena yakin dikau tdk seperti demikian... jadi jangan sampai ada yg salah sangka hanya karena hal2 kecil begini... lebih baik to the point saja, kalau ada ayat atau hadits yg hendak disampaikan ya disampaikan saja... lempeng, begitu...

haha tapi saya sih orangnya lempeng kok... gak ada prasangka macem2... kalo saya berpendapat sesuatu ya saya sampaikan tanpa maksud tersembunyi... :)) tapi kadang2 'lempeng' ini juga jadi bumerang sih...
Makasih Om atas masukannya ya.
Maklum nih gebu2nya masih tinggi, dan waktunya sedikit, jadinya ga bisa banyak kasih (copy paste) referensi lengkap, walaupun ada.
Dan jangan juga lupa, arogansi itu sebenarnya ada di mana2. Di mana ada semangat menggebu berlebih, maka arogansi akan bisa masuk. Tidak peduli apa pun filosofi dasarnya, baik agama, sekuler, atheis atau apa pun. Dan bisa jadi saya sudah kena nih.
Oh ya, saya sudah memprediksi beberapa waktu lalu, bahwa bagi yg terlalu bersemangat, budaya/tradisi yg sudah ada dan benar, bisa dilibas habis. Dan mudah2an dgn semangat Islam yg benar, prediksi saya itu mudah2an salah. Amin.
In Harmonia Progressio
iwan95 wrote on Jan 11, '06
Alhamdulillah :)
masih ada saudara kita yg mau mengkritik kita dengan niat yg Insya Allah tetep Ikhlas Lillahi Ta'ala....sudah selayaknya disyukuri :)
niat udah, tinggal cara aja....harus kembali berorientasi pada efektifitas kritik (nasehat).... :)
rikaadinda wrote on Jan 12, '06
setiap akmal menulis yg saya rasakan adalah semangat yg dia punya dan juga idealismenya. saya sendiri sering merasa idealisme menghilang seiring dengan semangat.
akmal wrote on Jan 12, '06
semangat? saya? wah, itu masih misteri buat saya euy...
togie wrote on Jan 17, '06
Assalamu'alaikum wr wb

saya rasa tidak semua tradisi itu salah, dan tidak juga semua tradisi itu benar. harus dilihat dulu tradisi yang seperti apa. masalah ewuh pakewuh sih sebenernya baik, kalau digunakan dengan cara yang tepat, pada momen yang tepat dan pada suasana yang tepat pula. contohnya saja, dari kecil ibu biasa memanggil saya dengan sebutan "den bagus", "cah ganteng", "cah pinter" dan lain-lain. dan itu sudah merupakan tradisi di keluarga dan di daerah saya. apa itu salah? lalu, anak-anak dan kaum muda disini juga sudah "dididik" untuk bertutur kata dengan halus pada orang tua, orang yang dihormati, dan pada orang-orang yang mengharuskan kita untuk ber "ewuh-pakewuh" pada mereka. dan inipun tidak salah kalau dilakukan dengan cara dan waktu yang tepat.

namun ada juga tradisi yang kurang tepat atau bahkan bisa dikatakan "salah", contohnya memberikan sesajen pada jin saat acara-acara tertentu, tradisi bahwa "tidak boleh membantah perintah orang tua/orang tertentu walaupun perintah itu sudah jelas kesalahannya.

karna itulah, setiap hal punya karakteristik sendiri-sendiri, jangan dipukul rata

NB : saya setuju dengan pendapat droppingzone, dan setuju juga dengan nasehat mas iwan. Alhamdulillah
wassalamu'alaikum wr.wb
akmal wrote on Jan 17, '06
kan saya sudah bilang... yg masalah bukanlah apa yg ditradisikan itu... yg masalah adalah : kenapa sih kita harus terikat pada tradisi? kembalikanlah tradisi itu pada nilai2 kebenaran... kalo baik ya silakan dikerjakan, kalo salah ya jgn ragu meninggalkannya... yg jelas jgn terikat pada satu hal hanya karena hal itu adalah tradisi.... sebab apa yg sekarang kita anggap baik bisa jadi besok2 kita anggap buruk setelah melalui proses pemikiran yg panjang... jadi jgn terikat pada tradisi... lebih baik terikat pada kebenaran...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help