Blog EntrySatu PermintaanJan 13, '06 6:05 AM
for everyone

assalaamu'alaikum wr. wb.

Hina.  Saya ini hamba yang benar-benar hina.  Jatuh serendah-rendahnya, terperosok sedalam-dalamnya.  Kesalahan apa lagi yang lebih parah daripada merasa yakin benar?  Saya terus mengeluh, dan saya senantiasa merasa wajar.  Sekarang, semua itu menjadi sangat tidak logis.  Sangat tidak tahu diuntung.  Benar-benar kufur.  Padahal kufur selalu kontradiktif dengan iman. 

Hari demi hari saya habiskan dengan mengeluh.  Setiap ada masalah, selalu saya mengeluh.  Saya mengangkat tangan untuk berdoa, mengeluh begini-begitu kepada Allah, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.  Mengeluh adalah wajar!  Memang siapa yang hendak diprotes?  Saya memang benar-benar hina.

Hidung saya termasuk yang sensitif, terutama pada perubahan suhu yang tiba-tiba dan debu.  Dulu, nyaris setiap pagi pasti saya bersin-bersin karena debu interior (debu yang terkurung di dalam ruangan).  Tidak ada jalan lain kecuali dengan meningkatkan daya tahan tubuh.  Banyak makan sayur dan buah-buahan.  Tentu ini adalah sebuah kebiasaan yang sangat baik.  Tapi yang selalu terpikir hanyalah bersin-bersin di pagi hari.  Mengeluh dan mengeluh.

Sekarang, kalau dipikir-pikir lagi, seharusnya saya bersyukur Allah membuat hidung saya seperti ini.  Dengan penyakit alergi biasa, Allah SWT mengajari saya cara hidup sehat.  Saya diajari-Nya untuk menyukai nyaris semua jenis sayuran dan buah-buahan.  Saya memang dikaruniai hidung yang sensitif, tapi dengan cara itu, Allah menghindarkan saya dari berbagai penyakit 'orang kaya' seperti kolesterol, obesitas, darah tinggi, dan berbagai penyakit lainnya yang sebenarnya bisa dicegah dengan mudah kalau kita doyan sayuran dan buah-buahan.  Tapi saya tidak selalu secerdas ini.  Saya lebih sering mengeluh.

Saya tidak habis pikir bagaimana orang-orang mengajukan permintaannya kepada Allah.  Saya yakin Allah Maha Pemurah, dan memang Allah sendiri yang mengundang manusia untuk meminta kepada-Nya.  Pertanyaannya sekarang : apa yang harus saya minta?  Dalam keadaan tenang seperti sekarang, saya merasa seperti manusia paling beruntung di dunia.  Apa lagi yang harus saya minta?  Bahkan musibah dari-Nya pun sama sekali bukan suatu keburukan, kalau saya mau duduk tenang dan memikirkannya secara mendalam.  Hanya duduk dan berpikir!  Itu pun jarang saya lakukan. 

Saya tidak ragu lagi akan kebaikan Allah.  Semua yang diberikan-Nya adalah yang terbaik, baik kita mengakuinya atau pun tidak.  Saya tidak bisa mencarikan alternatif jalan hidup yang lebih baik daripada yang telah dipilih-Nya untuk hamba-Nya yang hina ini.  Berpikir sekeras apa pun, tidak ada alternatif yang lebih baik daripada takdir-Nya.  Sayang sekali, akal saya tidak selalu secemerlang ini.

Saya tidak bisa mengerti dari mana para pembuat sinetron mendapatkan referensi untuk adegan berdoa para karakter fiktifnya.  Tokoh-tokoh itu berdoa dengan suara lantang, menatap langit, dan tidak ragu-ragu mengucapkan permohonannya.  Dalam akal saya, saya tidak akan mungkin bicara lantang kepada Allah.  Bahkan saya ragu lidah ini bisa bergerak di hadapan-Nya.  Kalau saya merasakan betul-betul pengawasan Allah (dan memang Allah senantiasa Maha Melihat), tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali tertunduk malu.  Kalau saya membayangkan sedang berhadapan dengan Allah, saya tidak akan punya nyali untuk mengangkat muka.  Saya ini benar-benar hina. 

Allah SWT memang Maha Pemurah.  Kekayaan-Nya tidak akan berkurang jika Dia mengabulkan semua permintaan seluruh manusia.  Tetapi, apa lagi yang harus saya minta?  Tanpa diminta pun Dia telah memberikan semuanya, gratis.  Bukan, bukan pinjaman lunak.  Benar-benar gratis!  Saya tidak bisa menukar pemberian-Nya dengan apa pun.  Tidak ada yang bisa saya ajukan untuk berjual-beli dengan Allah, karena Dia Maha Kaya dan Maha Tidak Memerlukan Sesuatu pun.  Dalam hubungan antara saya dengan Allah, Dia-lah yang selalu menjadi pihak pemberi, dan saya selalu jadi yang menerima.  Hubungan yang sama tidak berlaku sebaliknya.  Sedemikian banyak yang sudah (dan akan) saya terima dengan gratis, lalu apa lagi yang mesti saya minta?

Kalau lidah ini bisa dibujuk untuk berucap, kalau hati ini bisa diperintah untuk menahan malu, bisakah akal ini diperintah untuk tunduk?  Dengan segala kemampuan akal logika yang saya miliki, jawabannya selalu sama : Allah telah memberi begitu banyak.  Apa lagi yang harus saya minta?  Apa lagi yang harus saya protes?  Kekurangan bukanlah sifat Allah.  Saya ini sudah cukup hina.  Tidak perlu lagi menambah kehinaan diri ini dengan mengatakan bahwa karunia Allah selama ini masih kurang.

Bila saya membayangkan wajah Allah yang sedang menatap saya (dan saya selalu 'telanjang' di mata Allah), maka lidah ini selalu kelu, hati penuh penyesalan dan akal pun terpojok hingga tak berdaya.  Jangankan mengajukan sebuah permohonan, untuk membuka mata pun rasanya tak sanggup.  Saya tidak punya muka di hadapan Allah.  Saya malu dengan kehinaan diri ini.  Mengeluh, mengeluh dan mengeluh.  Kalau saja saya selalu bisa berpikir jernih.

Kalau boleh mengajukan permintaan, saya akan mengajukan satu saja.  Saya akan memohon pengampunan.  Sudah terlalu banyak dosa yang saya perbuat, tidak perlu ditambah lagi.  Tapi lagi-lagi, sangat berat untuk mengucapkannya di hadapan Dia yang tidak pernah lalai melimpahi hamba-hamba-Nya dengan begitu banyak kebahagiaan. 

Ya Allah, saya ini benar-benar hina.

 

13 Januari 2006.  Sidang yang dinanti-nantikan akhirnya lewat juga.  Tidak sampai sejam, saya berhasil menuntaskan presentasi Tugas Akhir dengan mulus.  Tidak ada daya dan upaya melainkan karena Allah semata.  Hari ini, saya tidak tahu apa yang harus saya minta.  Rasanya saya sudah terlalu beruntung untuk mengeluh.

wassalaamu'alaikum wr. wb.


annidalucu wrote on Jan 13, '06, edited on Jan 13, '06
selamat. barakallah..
terimakasih sudah invite ummi sebagai saudara:)
akmal wrote on Jan 14, '06
terimakasih sudah invite ummi sebagai saudara:)
sama-sama :)
hady82 wrote on Jan 14, '06
akmal said
13 Januari 2006. Sidang yang dinanti-nantikan akhirnya lewat juga. Tidak sampai sejam, saya berhasil menuntaskan presentasi Tugas Akhir dengan mulus.
Wah, selamat ya. Sy jug ikut senang Sekali lagi selamat.
akmal wrote on Jan 15, '06
hady82 said
Wah, selamat ya. Sy jug ikut senang Sekali lagi selamat.
makacih... makacih... :))
vin4 wrote on Jan 16, '06
Barakallah.. selamat ya Uda ^_^ perjuangan masih panjang jadi.... tetep smangaat
akmal wrote on Jan 16, '06
vin4 said
perjuangan masih panjang jadi.... tetep smangaat
memang masih panjang... kecuali kalo umur saya pendek... God knows deh... :))
ladymotts wrote on Jan 16, '06, edited on Jan 16, '06
Slamat ya kang akmal ... :)
akmal wrote on Jan 16, '06
hehe akhirnya nongol juga si Alma... :))
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help