Blog EntryIslam Atau PlayboyJan 26, '06 11:22 PM
for everyone
assalaamu’alaikum wr. wb.

Rencana penerbitan majalah Playboy Indonesia adalah gonjang-ganjing terbesar yang menimpa negeri ini di awal tahun 2006.  Seolah fitnah majalah-majalah mesum yang menjual syahwat purba selama ini belum cukup, datang pula sebuah majalah yang sejak dulu telah menjadi simbol utama bagi pornografi.  Tidak ada keraguan lagi bahwa yang akan ditawarkannya pastilah sekedar umbar aurat perempuan, sepandai apa pun mereka menghias barang dagangannya itu.

Para pimpinan majalah Playboy Indonesia mengatakan bahwa majalah itu tidak akan memuat gambar-gambar telanjang (full nudity), melainkan disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia.  Masalahnya, bangsa Indonesia yang mana yang harus dijadikan ukuran?  Preman yang sehari-harinya menggoda perempuan di perempatan jalan pun merupakan warganegara Indonesia yang sah.  Anggota DPRD yang tertangkap basah sedang tripping di diskotek pun adalah keturunan asli bangsa Indonesia.  Bahkan, dengan sangat menyesal dan penuh rasa malu, kita pun harus mengakui bahwa Sumanto pun adalah salah satu dari putra bangsa Indonesia.

Ada sebagian pihak yang mencoba melucu dengan mengatakan bahwa jika memang pornografi itu memang tidak baik, maka mengapa masih banyak orang yang membelinya?  Mereka melihat fenomena ini dengan penuh keheranan.  Ajaibnya, mereka tidak heran mengapa masih saja banyak orang yang merokok padahal sudah sangat jelas keburukannya.  Masih banyak pula yang menggunakan narkoba dan minum minuman beralkohol padahal sudah jelas pula mudharatnya.  Seharusnya hal-hal ini mengajarkan sebuah fakta pada mereka : perbuatan dosa memang menggoda.  Masalahnya, siapakah yang lebih berkuasa?  Akal sehat atau hawa nafsu?

Setiap orang punya hawa nafsu.  Islam mengakui fakta ini, bahkan mengecam orang-orang yang dengan sengaja menekan kebutuhan dirinya.  Tidak pernah ada larangan untuk menikah, bahkan malah dianjurkan oleh Rasulullah saw.  Tidak ada pula perintah untuk menjadi seorang vegetarian, karena manusia memang berhak mengecap kenikmatan makan daging.  Demikianlah pengakuan Islam terhadap keberadaan hawa nafsu.  Tidak dilarang dan tidak ditekan, hanya perlu dikendalikan.

Bahkan para Nabi dan Rasul pun tidak terhindar dari hawa nafsu.  Orang-orang pilihan itu juga merasakan kebutuhan menikah, dan mereka tidak pernah dengan sengaja menyiksa diri sendiri.  Mereka adalah Nabi dan Rasul, bukan biarawan.  Allah SWT tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-hamba-Nya.  Kalau pun terdapat banyak larangan, maka sebenarnya larangan-larangan itu justru demi kepentingan manusia itu sendiri.

Ada tujuannya mengapa Allah SWT memuat sebuah surah yang secara khusus berbicara mengenai seorang hamba-Nya yang mulia, yaitu Nabi Yusuf as.  Surah itu diberi nama sesuai tokoh utamanya, yaitu surah Yusuf.  Surah sepanjang 111 ayat ini memaparkan kisah penuh keteladanan dari seorang pemuda pilihan Allah yang perlu kita cermati, terutama dalam menyikapi masalah hawa nafsu ini.

Alkisah, Nabi Yusuf as. dibuang oleh saudara-saudara kandungnya ke dalam sebuah sumur.  Sementara ayahnya, Nabi Ya’qub as., mengira bahwa putra kesayangannya itu telah mati dimakan serigala, sekumpulan musafir menemukannya dan kemudian menjualnya sebagai budak di tanah Mesir.  Yusuf as. kemudian dibeli oleh seorang pembesar Mesir dan mengabdi sebagai budaknya.

Di kemudian hari, ketika Yusuf as. telah tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang tampan lagi saleh, istri sang pembesar Mesir (yang ia tumpangi rumahnya) malah jatuh hati kepadanya.  Ia datang kepada Yusuf as. dan mengajaknya melakukan perbuatan yang tidak pantas.

Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya.  Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.”  Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.”  Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.  (Q.S. Yuusuf [12] : 23)

Jika demikian sikap sang istri pembesar Mesir, bagaimana halnya dengan pikiran yang berkecamuk dalam benak Yusuf as. ketika ada seorang perempuan yang menawarkan dirinya dengan cara demikian?  Kita bisa menyimak jawabannya secara gamblang di ayat berikutnya.

Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf).  Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Rabb-nya.  Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian.  Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.  (Q.S. Yuusuf [12] : 24)

Jelaslah sudah bahwa seorang Nabi Yusuf as. pun memiliki keinginan terhadap seorang perempuan cantik yang menawarkan diri di hadapannya itu.  Jelas pula bahwa kecenderungan terhadap lawan jenis adalah sebuah hal yang wajar.  Jadi, jika ada laki-laki yang mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik melihat kecantikan fisik perempuan, maka ia jelas-jelas berbohong karena telah mengklaim dirinya lebih baik daripada Nabi Yusuf as.

Satu-satunya hal yang mencegah Yusuf as. dari perbuatan nista dengan istri majikannya itu adalah akal sehatnya.  Beliau ingat selalu kepada Allah dan memohon perlindungan dari-Nya.  Nabi Yusuf as. tahu bahwa Allah SWT melarang perzinaan karena zina itu tidak baik bagi manusia.  Oleh karena itu, ia memohon agar Allah melindunginya dari godaan tersebut.  Hasil akhirnya adalah kemenangan mutlak bagi Nabi Yusuf as. atas hawa nafsu.

Akhir-akhir ini, muncul pembenaran dari pihak-pihak pembela Playboy yang mengatakan bahwa seksi dan sensual tidak identik dengan pornografi.  Foto-foto perempuan yang mengumbar aurat tidak selalu mengundang syahwat selama masih dikemas dengan cara yang artistik.  Dengan kata lain, ada garis batas cukup samar antara pornografi dengan cita rasa seni.  Itu menurut mereka.

Dari kisah Nabi Yusuf as. ini, jelas sudah bahwa seorang laki-laki normal tidak akan kehilangan kecenderungannya pada kecantikan fisik perempuan.  Bahkan seorang Nabi yang telah ditegaskan oleh Allah sebagai salah satu dari hamba-Nya yang terpilih.  Nabi Yusuf as. pun merasakan dorongan hawa nafsu tersebut, dan Al-Qur’an menceritakannya secara gamblang.  Hanya saja, tidak semua lelaki bisa memberikan reaksi sebagaimana Nabi Yusuf as. menghadapi godaan di depan matanya.

Sebaiknya, mereka yang mengatakan bahwa perempuan telanjang tidak selalu mengundang nafsu syahwat laki-laki itu segera bertaubat dan mengajari lidahnya untuk mulai berkata jujur.  Setidaknya, mereka harus belajar untuk bersikap jujur kepada diri sendiri.  Kalau jujur pun tidak bisa, apa lagi yang bisa kita harapkan dari seorang manusia?

Kalau permintaan itu dianggap terlalu berat, maka ada beberapa pertanyaan yang bisa mereka coba jawab.  Pertanyaan-pertanyaan ini berkisar pada tiga tema penting, yaitu Al-Qur’an, Allah SWT dan Nabi Yusuf as.  Benarkah Yusuf as. adalah seorang Nabi, sementara ia tidak bebas dari hawa nafsu?  Jika benar beliau adalah seorang Nabi, apakah Allah SWT telah salah pilih?  Jika ada yang salah dalam kisah tersebut, apakah Al-Qur’an juga dianggap melakukan kesalahan?  Jadi siapa yang perlu digugat?  Yusuf as., Al-Qur’an, atau Allah sekalian?

Tentu saja, masih ada sebuah pilihan yang lain, yaitu mengakui kebenaran kisah Al-Qur’an dan mengambil pelajaran dari keteladanan seorang hamba pilihan-Nya, yaitu Nabi Yusuf as.  Jika beliau pun bersikap jujur terhadap hawa nafsunya, maka tentu kita tidak perlu sok suci dengan mengatakan bahwa ada lelaki yang tidak merasa terangsang melihat perempuan-perempuan yang berlomba-lomba pamer aurat.  Sekarang masalahnya adalah jujur atau tidak jujur.  Meragukan Allah SWT, utusan-utusan dan Kitab-Nya adalah sebuah serangan langsung terhadap rukun iman.  Dengan demikian, wajar bila kita mengatakan bahwa mereka yang menyerang sebagian (atau seluruhnya) dari rukun iman harus memikirkan kembali perihal komitmennya terhadap Islam.

Yang manakah pilihan Anda?  Islam atau Playboy?  Tidak mungkin memilih keduanya.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


15 CommentsChronological   Reverse   Threaded
indrayogi wrote on Jan 27, '06
akmal said
Islam atau Playboy?
Yang pasti akan tetap ada yang memilih "atau"......
akmal wrote on Jan 27, '06
haha itu sih lawakan jaman jebooooot.... :))
indrayogi wrote on Jan 27, '06
hahaha tapi dalam prakteknya kan beneran ada mal. Orang-orang yang milih "atau" itu kan seperti orang yang melarang Playboy tapi memperjuangkan FHM....jadi golbing...golongan bingung :D
ivanalbar wrote on Jan 28, '06
Siapa bilang pornografi bukan seni?emang bener seni tau cuman aurat wanita adalah seni yang indah, sangat mahal dan mulia..indah karena kenyataaannya wanita adalah mahkluk yang indah, mahal??emang buat diliatin sama suaminya kalo yang liat bukan suaminya yah namanya seni murahan, murah kayak obralan dipasar..kalau diliatin sama orang banyak ya bukan mulia tapi mulai sama kayak kambing..bukankah kambing, monyet, kucing juga telanjang..setuju gak?jadi mang bener aurat wanita adalah seni dan daya tarik ya kalo pengen menikmati seni dari aurat ya menikah dulu..dijamin udah bisa lihat, tetap mahal (karena dilihat cuma suami) sama mulia, halalan lagi..karena tidak mirip kambing hahaha...
akmal wrote on Jan 28, '06
haha ya gak apa2 mas indra... pokoknya saya menegaskan lewat artikel ini bahwa tidak ada pilihan di antara keduanya... saya gak mengkafirkan org lain lho... cuma asal tahu saja bahwa membiarkan Playboy beredar itu sama saja dgn mendustakan Allah, Kitabullaah, dan Rasul utusan-Nya... selama ini kan jarang tuh yg menegaskan hal seperti ini...

buat mas ivan... hehe bener juga... memang tergantung waktu dan tempat... kata Rasulullah saw. juga berhubungan seks dengan istri itu memberikan pahala, sebagaimana berhubungan dengan selain istri menghasilkan dosa... jadi memang tergantung bagaimana memposisikannya sih...
ivanalbar wrote on Jan 28, '06, edited on Jan 28, '06
Emang bener van pernah baca ada hadis yang mengatakan bahwa berhubungan dengan isteri sama saja dengan jihad dijalan ALLAH (cuma gak tau pasti sahih or not), kita harus bersikap pertengahan gak terlalu ekstrim kanan ampe tabu ma sex or jadi pendeta atau sebaliknya extrim kiri yang sex bebas banget ampe ma monkey pun disodomi...lets talk sex in d right moment,right place and right people..with who?our wife
wikan wrote on Apr 23, '06, edited on Apr 23, '06
ini pertanyaan seperti membandingkan buah jeruk sama buah kedondong, nggak nyambung dong :) sekarang misalnya saya bikin pertanyaan, mana pilihan Anda? poligami atau Islam? nyambung gak? salam :)
akmal wrote on Apr 27, '06
haha justru itu mas... saya ingin bilang ke semua orang bahwa pilihan ini SANGAT nyambung... Anda tdk bisa memilih playboy tapi mengaku tetap konsisten dgn Islam, demikian juga Anda tdk mungkin konsisten pada Islam tapi membiarkan playboy merajalela... menurut saya sih nyambung...
ridae wrote on May 18, '06
Sebetulnya hal ini sudah cukup lama saya pikirkan hanya saja saya berusaha menghindar karna sepertinya dari kalangan teman-teman saya hanya saya yang berpikiran seperti ini. Saya terus terang kurang paham dengan sifat –sifat perempuan(the psychological nature of women). Saya seorang pria, tapi kalau disuruh berpakaian yang ketat atau hanya memakai celana pendek dan kaos yang tembus pandang terus terang saya malu. Tapi saya kurang mengerti apakah perempuan tidak mempunyai perasaan seperti itu. Kita bisa lihat media massa sekarang atau bahkan trend dan fashion pakaian sekarang yang semakin lama cenderung untuk membuka seluruh bagian tubuh perempuan. Mungkin kalau tidak berpakaian mengikuti trend-trend dari paris tidak di dikatakan mengikuti perkembangan zaman atau dengan kata lain tidak trendy. Tapi sebagai seorang perempuan apakah anda suka sewaktu berjalan tubuhnya di pandang orang. Buah dada dan bahkan kakinya di lihat masyarakat umum. Apakah perempuan hanya sebagai objek utk memuaskan nafsu. Bagi perempuan sendiri apakah anda tidak malu tubuh anda yg seharusnya anda lindungi tapi malah sebaliknya hanya karna demi mencari uang yang tidak kekal atau hanya karna untuk mengelak dari dikatakan ketinggalan zaman. Dengan kata lain apakah anda tidak malu tubuh anda dipandang masyarakat? Apa bedanya pakaian wanita tuna susila dengan fashion jaman sekarang ? mungkin beberapa decade yang lalu pakaian wanita masih tertutup tetapi semakin lama berpakaian hanya baju dalam saja utk jaman sekarang sudah menjadi trend atau malangnya disebut “fashion”
Undang-undang anti pornografi sebetulnya utk melindungi tubuh perempuan dengan kata lain melindungi maruah perempuan. Kita bisa lihat di berbagai iklan atau promosi mulai dari sabun, sampo dan lain sebagainya cenderung memaparkan tubuh perempuan. Apakah tidak ada jalan lebih baik utk mempererat hubungan suami istri selain membaca majalah porno. Kalau menrutu saya penerbitan majalah playboy tidak akan menghasilkan apa – apa utk menyelesaikan masalah hubungan seks suami istri atau hal-hal lainnya yg berkaitan dengan seks. Tidak perlulah diterbitkan majalah tersebut, sebelum ini kita bisa lihat tubuh perempuan hanya di gunakan utk dipandang atau di kongsi pandang oleh masyarakat. Mungkin perempuan tersebut tidak di sentuh tubuhnya tapi apakah tidak malu dipandang masyarakat hanya karna tubuh anda? Apakah keistimewaan perempuan hanya sebagai objek pemuas nafsu. Apakah ada sumbungan moral dengan menerbitkan majalah playboy? Apakah dengan menerbitkan majalah tersebut, kasus-kasus perkosaan dan kekerasan seksual lainnya bukan saja terhadap perempuan tetapi juga terhadap anggota keluarga sendiri bisa berkurang?
Apakah seks pranikah yg kerap dilakukan oleh generasi bangsa kita di jaman sekarang ini bisa berkurang? Apakah masalah hubungan seks suami istri bisa selesai dengan diterbitkannya majalah playboy ? marilah kita renungkan bersama mungkin renungan ini bisa membawa kebaikan untuk kaum perempuan sendiri dan juga anak bangsa kita di masa sekarang dan dimasa depan.

Saya telah membaca pandangan dari beberapa orang yang kurang lebih bisa dikatakan tidak peduli atau bisa dikatakan menyokong majalah playboy. Hal pertama yang mereka katakan adalah, media yang memaparkan tubuh kaum hawa secara vulgar baik melalui VCD atau media cetak sememangnya sudah tersebar sebelum penerbitan majalah playboy. Nah sekarang saya ambil perumpamaan, kalau saudara anda terkena penyakit AIDS apakah anda akan mengatakan:”sudahlah pasrah saja memang penyakit itu tidak bisa di obati dan lagikan bukan dia saja yg terkena penyakit itu” coba anda renungkan sejenak. Kembali kepada argument anda mengenai penyebaran gambar-gambar vulgar(porno) di Indonesia sebelum penerbitan majalah playboy memang sudah merupakan suatu masalah yang seharusnya kita secara bersama-sama menyelesaikannya bukan membiarkan masalah berikutnya muncul dan tidak bertindak apa-apa. Kita tau Indonesia masyarakatnya mayoritas beragama islam. Jelas dalam agama islam melarang gambar-gambar bagian tubuh perempuan maupun lelaki yang memaparkan auratnya. Nah sekarang meskipun bukan semua rakyat Indonesia beragama islam apakah kita harus menerima dengan pasrah penerbitan majalah tersebut yang jelas akan merugikan sebagian besar penganut agama islam di Negara ini. Hanya karna ulah tiga orang yang nafsu akan uang maka hancurlah akhlak dan moral bangsa kita. Tiga orang yang saya maksudkan adalah penerbitnya, dan dua orang modelnya yg tidak tau malu. Dengan demikian sekarang lah waktunya untuk dengan tegas menolak penerbitan majalah playboy dan juga majalah-majalah serta media lainnya yang mengandung unsur-unsur pornografi. Kita perlu ingat definisi porno itu sendiri tidak jelas dalam agama atau falsafah selain agama islam. Maka sudah seharusnya kita mengikuti pandangan orang banyak. Lagipula sebelum penerbitan majalah playboy kan memang sudah ditolak secara damai. Tapi karna tiga orang yang nekat ini maka terpaksalah kita harus berjuang demi bangsa, Negara, agama, dan generasi kita di masa sekarang dan masa depan. Perjuangan melawan pornografi sebetulnya untuk kebaikan kaum perempuan dan generasi kita tanpa mengenal agama dan kaum. Marilah teman-teman kita renungkan sejenak, mungkin usaha kita yang kecil ini bisa membawa kebaikan untuk anak-anak kita di masa sekarang dan di masa depan.

Hmm…… majalah yang sama sekali tidak membantu menyelesaikan masalah yang sudah ada di Negara kita malah diterbitkan. Kembali saya ingin mengemukakan pandangan saya terhadap argument yang mengatakan majalah ini sah-sah saja di terbitkan hanya saja tergantung pendistribusiannya. Oke, saya ambil satu adegan dalam keluarga yang saya rasa mungkin terjadi, begini, katakan dalam sebuah keluarga ada seorang ayah atau salah satu anggota keluarganya yang suka baca majalah porno dan dalam hal ini orang tersebut membeli majalah playboy. Katakan orang yang membeli itu sudah diatas limit yang diperboleh kan utk membaca majalah playboy yang baru-baru ini di terbitkan. Nah sekarang kalau orang tersebut pulang kerumah dan setelah dia baca terus dia lupa menyimpan di tempat yang tersembunyi, apakah tidak mungkin bagi anak atau adiknya yang di bawah umur yang kebetulan tidak tau apa-apa kemudian melihat dan membaca majalah tersebut. Apakah penerbitnya bisa menjaga pembelinya sedemikian akurat dan teliti sampai ke rumah setiap pembelinya. Sebenarnya simple saja apakah bisa semua pembeli majalah tersebut tidak akan lupa menyimpannya di tempat yang tersembunyi? Katakan seorang ayah yang sudah menyimpannya di tempat yang tersembunyi misalnya di kamarnya. Kita tau remaja zaman sekarang sudah pandai pastilah mereka tau bagaimana cara mendapatkannya entah bagaimanalah caranya. Membatasi umur yg boleh membeli majalah tersebut tidak akan dapat memastikan bahwa majalah tersebut tidak akan jatuh ke tangan remaja atau generasi yg masih di bawah umur. Kita bisa lihat sebelum penerbitan majalah playboy, majalah yang memaparkan tubuh kaum hawa secara vulgar dan melalui media lainnya sudah tersebar luas. Sedih tapi kenyataan, membiarkan majalah playboy diterbitkan berarti membuka pintu lebih lebar lagi ke gambar-gambar atau media lainnya utk lebih memaparkan dengan lebih vulgar lagi tubuh kaum hawa. Saya mohon maaf, saya tidak bermaksud meyinggung atau bersuara galak akan tetapi saya cukup sedih melihat bangsa kita yang sudah susah mencari sesuap nasi, harga barang naik, pendidikan tidak merata bahkan banyak yang tidak bisa membaca. Malah tiba-tiba ada seseorang yang menerbitkan majalah yang konon bukan pornografi tetapi majalah lifestyle. Dia katakan sudah di modifikasi 75%, kalau tidak di tolak pasti persentase nya akan berkurang dari masa ke semasa. Pada akhirnya hancurlah moral dan pikiran bangsa kita karna tidak bisa berpikir jernih. Majalah tersebut tidak membantu bangsa kita dan tidak sama sekali membanggakan budaya kita yaitu budaya timur dan untuk umat islam budaya yang melambangkan sopan santun umat islam. Majalah tersebut sebetulnya membawa masuk bibit-bibit budaya pornografi dari barat, mungkin belum se vulgar versi barat tapi kalau dibiarkan…..teman-teman taulah.

Cepat sekali dalam waktu kurang dalam lima hari bisa laku terjual. Kita perlu bertindak tegas dalam menolak majalah playboy, majalah-majalah berunsur pornografi dan media lainnya yang memaparkan tubuh kaum hawa secara vulgar. Sekaranglah saatnya. Hal ini bukan fenomena yang aneh karna setelah jatuhnya orde baru kita perlu lebih tegas dalam bertindak. Tolak hal-hal yang membawa kehancuran kepada bangsa kita. Pengalaman saya tinggal di Negara barat, setelah revolusi sex di amerika bahkan setelah menyebarnya majalah-majalah khusus utk kaum pria, kasus perkosaan dan incest tidak berkurang, di kampus saja masih bisa terjadi pelecehan seksual. Coba saja pergi ke CNN atau msnbc, sedih melihat anak-anak kecil di manipulasi utk pornographic website. Kalau pikiran sudah tidak jernih maka niat jahat akan muncul, kalau sudah demikian maka keamanan tidak akan bisa tercapai di Negara kita. Mahal memang rasa aman itu, semahal perjuangan kita meraih kemerdekaan di tahun 45. mungkin suara saya tidak sampai ke saudara-saudara saya di seluruh tanah air, marilah teman-teman yang sudah membaca, kita sama-sama berganding bahu membuat masa depan bangsa kita lebih cerah.

Terima kasih,
Ridwan
akmal wrote on May 18, '06
mas ridwan nulis artikel donk... :))

makasih atas tanggapannya...
hantulab wrote on Jan 3, '07
Tentang malu, kalau perempuan yang masih normal pikirannya pastilah merasa malu. Saya pernah diskusi masalah ini dengan teman saya (dia perempuan dan alhamdulillah berjilbab). Dia pernah karena gerah di rumah, lalu pakai baju yang agak terbuka. Baru beberapa saat dia udah risih, padahal di rumah sendiri, ga ada siapa2 yang liat. Akhirnya ganti baju ama yang lebih tertutup.

Perempuan2 yang sering jalan di mal2 dengan pakaian 'seenaknya' sering saya sebut 'perempuan perkasa' yang tahan dengan udara dingin mal. Saya aja mesti pake jaket karena dinginnya AC lumayan menusuk, sedangakan 'perempuan2 perkasa' itu sangat tahan dingin.

Ini persis seperti tanda2 akhir zaman, dimana perempuan berpakaian tapi telanjang. Semoga kita dan keluarga terhindar dari fitnah akhir zaman ini.
akmal wrote on Jan 3, '07
Tentang malu, kalau perempuan yang masih normal pikirannya pastilah merasa malu. Saya pernah diskusi masalah ini dengan teman saya (dia perempuan dan alhamdulillah berjilbab). Dia pernah karena gerah di rumah, lalu pakai baju yang agak terbuka. Baru beberapa saat dia udah risih, padahal di rumah sendiri, ga ada siapa2 yang liat. Akhirnya ganti baju ama yang lebih tertutup.

Perempuan2 yang sering jalan di mal2 dengan pakaian 'seenaknya' sering saya sebut 'perempuan perkasa' yang tahan dengan udara dingin mal. Saya aja mesti pake jaket karena dinginnya AC lumayan menusuk, sedangakan 'perempuan2 perkasa' itu sangat tahan dingin.

Ini persis seperti tanda2 akhir zaman, dimana perempuan berpakaian tapi telanjang. Semoga kita dan keluarga terhindar dari fitnah akhir zaman ini.
hihihi iya emang perkasa ya mas... kita lihat aja nanti, mereka bisa seperkasa itu gak ya di akhirat nanti? :D
izzahlaila wrote on Jan 5, '07
aku heran...banyak perempuan dewasa yg memakai kaos ukuran badanku ... tentu saja kekecilan...mmmhh..mo ikutan mode atau korban mode.....kaciiiiaaaan deh
akmal wrote on Jan 5, '07
aku heran...banyak perempuan dewasa yg memakai kaos ukuran badanku ... tentu saja kekecilan...mmmhh..mo ikutan mode atau korban mode.....kaciiiiaaaan deh
kurang bahan... hahaha :p
frishca44elek wrote on Mar 31, '07
Ass.bdw anywey bus awey...kok hare gini banyak orang yang hujat Qur'anku yang udah bener2 perfect secara terang2an di internet yaw???????padahal orang Islam???apa mereka tu g takut di demo???kok yang FPI ato sebangsanya pada ribut di TV padahal kan seluruh orang Islam pada liat??apa mereka emang bela Islam tapi kok bikin onar?????tus kenapa banyak ce berkerudung tapi wataknya lom bisa dikerudungi??apa emang sebaiknya kita make krudung lok dah siap??tus kenapa aku lbh suka dipanggil cew jelek dripada cew cakep deelel...ap ak gak normal?ato nggak hargai apa yang dah diciptain Allah??????tanks..Ass.bdwe...kakak2 yang baek bales ke emailku yaw...cos aku cm iseng tanya ma kalian...frishca_44elek@plaza.co.id
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help