assalaamu’alaikum wr. wb.
Rencana penerbitan majalah Playboy Indonesia adalah gonjang-ganjing terbesar yang menimpa negeri ini di awal tahun 2006. Seolah fitnah majalah-majalah mesum yang menjual syahwat purba selama ini belum cukup, datang pula sebuah majalah yang sejak dulu telah menjadi simbol utama bagi pornografi. Tidak ada keraguan lagi bahwa yang akan ditawarkannya pastilah sekedar umbar aurat perempuan, sepandai apa pun mereka menghias barang dagangannya itu.
Para pimpinan majalah Playboy Indonesia mengatakan bahwa majalah itu tidak akan memuat gambar-gambar telanjang (full nudity), melainkan disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia. Masalahnya, bangsa Indonesia yang mana yang harus dijadikan ukuran? Preman yang sehari-harinya menggoda perempuan di perempatan jalan pun merupakan warganegara Indonesia yang sah. Anggota DPRD yang tertangkap basah sedang tripping di diskotek pun adalah keturunan asli bangsa Indonesia. Bahkan, dengan sangat menyesal dan penuh rasa malu, kita pun harus mengakui bahwa Sumanto pun adalah salah satu dari putra bangsa Indonesia.
Ada sebagian pihak yang mencoba melucu dengan mengatakan bahwa jika memang pornografi itu memang tidak baik, maka mengapa masih banyak orang yang membelinya? Mereka melihat fenomena ini dengan penuh keheranan. Ajaibnya, mereka tidak heran mengapa masih saja banyak orang yang merokok padahal sudah sangat jelas keburukannya. Masih banyak pula yang menggunakan narkoba dan minum minuman beralkohol padahal sudah jelas pula mudharatnya. Seharusnya hal-hal ini mengajarkan sebuah fakta pada mereka : perbuatan dosa memang menggoda. Masalahnya, siapakah yang lebih berkuasa? Akal sehat atau hawa nafsu?
Setiap orang punya hawa nafsu. Islam mengakui fakta ini, bahkan mengecam orang-orang yang dengan sengaja menekan kebutuhan dirinya. Tidak pernah ada larangan untuk menikah, bahkan malah dianjurkan oleh Rasulullah saw. Tidak ada pula perintah untuk menjadi seorang vegetarian, karena manusia memang berhak mengecap kenikmatan makan daging. Demikianlah pengakuan Islam terhadap keberadaan hawa nafsu. Tidak dilarang dan tidak ditekan, hanya perlu dikendalikan.
Bahkan para Nabi dan Rasul pun tidak terhindar dari hawa nafsu. Orang-orang pilihan itu juga merasakan kebutuhan menikah, dan mereka tidak pernah dengan sengaja menyiksa diri sendiri. Mereka adalah Nabi dan Rasul, bukan biarawan. Allah SWT tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-hamba-Nya. Kalau pun terdapat banyak larangan, maka sebenarnya larangan-larangan itu justru demi kepentingan manusia itu sendiri.
Ada tujuannya mengapa Allah SWT memuat sebuah surah yang secara khusus berbicara mengenai seorang hamba-Nya yang mulia, yaitu Nabi Yusuf as. Surah itu diberi nama sesuai tokoh utamanya, yaitu surah Yusuf. Surah sepanjang 111 ayat ini memaparkan kisah penuh keteladanan dari seorang pemuda pilihan Allah yang perlu kita cermati, terutama dalam menyikapi masalah hawa nafsu ini.
Alkisah, Nabi Yusuf as. dibuang oleh saudara-saudara kandungnya ke dalam sebuah sumur. Sementara ayahnya, Nabi Ya’qub as., mengira bahwa putra kesayangannya itu telah mati dimakan serigala, sekumpulan musafir menemukannya dan kemudian menjualnya sebagai budak di tanah Mesir. Yusuf as. kemudian dibeli oleh seorang pembesar Mesir dan mengabdi sebagai budaknya.
Di kemudian hari, ketika Yusuf as. telah tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang tampan lagi saleh, istri sang pembesar Mesir (yang ia tumpangi rumahnya) malah jatuh hati kepadanya. Ia datang kepada Yusuf as. dan mengajaknya melakukan perbuatan yang tidak pantas.
Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung. (Q.S. Yuusuf [12] : 23)
Jika demikian sikap sang istri pembesar Mesir, bagaimana halnya dengan pikiran yang berkecamuk dalam benak Yusuf as. ketika ada seorang perempuan yang menawarkan dirinya dengan cara demikian? Kita bisa menyimak jawabannya secara gamblang di ayat berikutnya.
Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Rabb-nya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih. (Q.S. Yuusuf [12] : 24)
Jelaslah sudah bahwa seorang Nabi Yusuf as. pun memiliki keinginan terhadap seorang perempuan cantik yang menawarkan diri di hadapannya itu. Jelas pula bahwa kecenderungan terhadap lawan jenis adalah sebuah hal yang wajar. Jadi, jika ada laki-laki yang mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik melihat kecantikan fisik perempuan, maka ia jelas-jelas berbohong karena telah mengklaim dirinya lebih baik daripada Nabi Yusuf as.
Satu-satunya hal yang mencegah Yusuf as. dari perbuatan nista dengan istri majikannya itu adalah akal sehatnya. Beliau ingat selalu kepada Allah dan memohon perlindungan dari-Nya. Nabi Yusuf as. tahu bahwa Allah SWT melarang perzinaan karena zina itu tidak baik bagi manusia. Oleh karena itu, ia memohon agar Allah melindunginya dari godaan tersebut. Hasil akhirnya adalah kemenangan mutlak bagi Nabi Yusuf as. atas hawa nafsu.
Akhir-akhir ini, muncul pembenaran dari pihak-pihak pembela Playboy yang mengatakan bahwa seksi dan sensual tidak identik dengan pornografi. Foto-foto perempuan yang mengumbar aurat tidak selalu mengundang syahwat selama masih dikemas dengan cara yang artistik. Dengan kata lain, ada garis batas cukup samar antara pornografi dengan cita rasa seni. Itu menurut mereka.
Dari kisah Nabi Yusuf as. ini, jelas sudah bahwa seorang laki-laki normal tidak akan kehilangan kecenderungannya pada kecantikan fisik perempuan. Bahkan seorang Nabi yang telah ditegaskan oleh Allah sebagai salah satu dari hamba-Nya yang terpilih. Nabi Yusuf as. pun merasakan dorongan hawa nafsu tersebut, dan Al-Qur’an menceritakannya secara gamblang. Hanya saja, tidak semua lelaki bisa memberikan reaksi sebagaimana Nabi Yusuf as. menghadapi godaan di depan matanya.
Sebaiknya, mereka yang mengatakan bahwa perempuan telanjang tidak selalu mengundang nafsu syahwat laki-laki itu segera bertaubat dan mengajari lidahnya untuk mulai berkata jujur. Setidaknya, mereka harus belajar untuk bersikap jujur kepada diri sendiri. Kalau jujur pun tidak bisa, apa lagi yang bisa kita harapkan dari seorang manusia?
Kalau permintaan itu dianggap terlalu berat, maka ada beberapa pertanyaan yang bisa mereka coba jawab. Pertanyaan-pertanyaan ini berkisar pada tiga tema penting, yaitu Al-Qur’an, Allah SWT dan Nabi Yusuf as. Benarkah Yusuf as. adalah seorang Nabi, sementara ia tidak bebas dari hawa nafsu? Jika benar beliau adalah seorang Nabi, apakah Allah SWT telah salah pilih? Jika ada yang salah dalam kisah tersebut, apakah Al-Qur’an juga dianggap melakukan kesalahan? Jadi siapa yang perlu digugat? Yusuf as., Al-Qur’an, atau Allah sekalian?
Tentu saja, masih ada sebuah pilihan yang lain, yaitu mengakui kebenaran kisah Al-Qur’an dan mengambil pelajaran dari keteladanan seorang hamba pilihan-Nya, yaitu Nabi Yusuf as. Jika beliau pun bersikap jujur terhadap hawa nafsunya, maka tentu kita tidak perlu sok suci dengan mengatakan bahwa ada lelaki yang tidak merasa terangsang melihat perempuan-perempuan yang berlomba-lomba pamer aurat. Sekarang masalahnya adalah jujur atau tidak jujur. Meragukan Allah SWT, utusan-utusan dan Kitab-Nya adalah sebuah serangan langsung terhadap rukun iman. Dengan demikian, wajar bila kita mengatakan bahwa mereka yang menyerang sebagian (atau seluruhnya) dari rukun iman harus memikirkan kembali perihal komitmennya terhadap Islam.
Yang manakah pilihan Anda? Islam atau Playboy? Tidak mungkin memilih keduanya.
wassalaamu’alaikum wr. wb.