assalaamu’alaikum wr. wb.
Salah satu hal yang paling menarik dalam dunia perempuan adalah fenomena ketidakberanian perempuan dalam menerapkan standar yang ketat terhadap kaum lelaki. Bagaimana pun, seorang perempuan berhak (dan wajib) menerapkan sebuah standar dalam memandang gender pasangannya. Jika kaum Hawa memang merasa sejajar dengan kaum Adam, maka mereka memang sudah seharusnya menerapkan sebuah standar yang objektif.
Banyak di antara kaum perempuan merasa khawatir kalau harus menerapkan sebuah standar yang ketat. Hal paling utama yang mereka khawatirkan adalah masa depan mereka sendiri. Jangan-jangan, jodoh tidak kunjung datang karena mereka terlalu pilih-pilih. Karena itu, mereka berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal-hal yang mereka anggap ‘kecil’.
Dalam sebagian kasus memang demikianlah masalahnya. Sikap perfeksionis dalam mencari jodoh memang sangat tidak realistis. Bagaimana pun, tidak ada laki-laki yang sempurna, sebagaimana juga tidak ada perempuan yang sempurna. Tidak pantas seseorang mencari pasangan yang sempurna, sementara ia sendiri banyak kekurangannya. Akan tetapi, hal ini tidak menghapus kenyataan bahwa standarisasi itu tetap perlu dan realistis.
Ironisnya, kaum perempuan seringkali tidak menyadari ketakutan mereka sendiri dalam menetapkan sebuah standar yang ketat. Padahal, di sisi lain, kaum laki-laki sama sekali tidak ragu untuk menerapkan standarnya sendiri secara ketat dalam memilih pasangan hidupnya.
Contoh gampangnya adalah rokok. Kaum perempuan mudah sekali ‘memaafkan’ kebiasaan buruk suaminya yang tidak lebih dari bakar duit dan menebar penyakit ini. Bagaimana sikap laki-laki jika melihat seorang perempuan merokok? Sebagian besar lelaki masih bersikap tegas dan konservatif dalam menyikapi hal ini. Tanpa pikir panjang, mereka tidak akan memberikan toleransi terhadap kebiasaan itu.
Dimana-mana, ada saja istri yang memaafkan kebiasaan suaminya yang suka mabuk, berjudi, main pukul, selingkuh, dan sebagainya. Bagaimana kalau ada istri yang melakukan hal-hal tersebut? 90% laki-laki – walaupun saya belum pernah mengadakan survei yang teliti – tidak akan memberi ampun.
Dalam hal ini, sikap kaum lelaki tidak bisa disalahkan. Memang hal-hal yang telah disebutkan itu adalah sebuah aib yang amat fatal. Saya tidak bisa menyalahkan laki-laki yang berkeinginan menceraikan istrinya yang melakukan hal-hal semacam itu. Pertanyaannya sekarang : mengapa kaum perempuan tidak berani menerapkan standar yang sama ketatnya terhadap pasangan atau calon pasangannya?
Semestinya, sebelum menikah, seorang perempuan harus memiliki serangkaian standar yang harus dipenuhi oleh calon suaminya sebelum ia bisa meminangnya. Sebagai contoh, ia harus seiman, tidak boleh merokok, tidak boleh punya tato, tidak pernah menenggak barang haram, aktif dalam dakwah, tidak bergaul akrab dengan orang-orang ‘aneh’, selalu berpenampilan rapi, dan sebagainya. Bahkan tidak salah kalau ia juga menuntut calon suaminya untuk hapal 3 juz dalam Al-Qur’an, misalnya. Mengingat keluarga adalah tonggak utama dari kekuatan umat, maka tidak salah kalau kita melakukan standardisasi ini secara serius.
Sayangnya, dunia ini memang selalu menjadi milik laki-laki. Sangat jarang kita temui perempuan yang meneladani sikap Khadijah ra., Maryam, atau perempuan-perempuan mulia lainnya. Banyak yang malah lebih memilih Britney Spears atau Angelina Jolie sebagai tokoh panutannya. Karena yang dipuja adalah artis, maka nasib mereka pun tidak akan jauh dari nasib para artis tersebut. Sekarang kawin, besok cerai.
Saya pribadi dibuat bingung oleh sikap kaum perempuan yang membiarkan begitu saja hak-haknya dirampas oleh kaum lelaki. Ada perempuan baik-baik yang berpacaran dengan lelaki kumal yang nampak jarang mandi. Ada istri yang diam saja menerima nasibnya menjadi sasaran pukulan sang suami. Ada fotomodel yang menyuguhi semua lelaki dengan fantasi-fantasi kotornya. Masih ada setumpuk kejanggalan lainnya, tapi ini benar-benar terjadi.
Yah, mau bagaimana lagi? Dunia ini memang milik lelaki. Kecuali, mungkin, jika suatu hari nanti kaum perempuan berani menerapkan standar ketatnya terhadap pasangan setaranya. Bagaimana pun, percuma saja meneriakkan kesetaraan sementara hati yang terdalam senantiasa merasa inferior.
wassalaamu’alaikum wr. wb.