Blog EntryUntung - RugiFeb 1, '06 4:24 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

 

Adalah sebuah fitrah manusia untuk memikirkan untung-rugi dari setiap langkah yang akan diambilnya.  Dalam bahasa fiqihnya : manfaat dan mudharatnya.  Memang itulah gunanya akal, yaitu untuk menimbang-nimbang baik-buruknya suatu perbuatan dan memilih yang terbaik dari sekian banyak pilihan.  Kalau tidak digunakan untuk melakukan pertimbangan semacam ini, lantas apa lagi gunanya akal?

 

Sungguh wajar pula jika manusia melakukan perniagaan dengan pertimbangan untung-rugi semacam ini.  Sejujurnya, semua orang berdagang untuk mencari keuntungan.  Ini bukanlah kesalahan, karena manusia jaman sekarang memang butuh uang untuk segala sesuatunya.  Jaman dulu, manusia bisa hidup dari sayuran dan buah-buahan di ladangnya sendiri, atau dengan menyembelih ternaknya sendiri.  Sekarang, hal ini tidak lagi realistis kecuali bagi para petani dan peternak profesional.

 

Al-Qur’an dan Al-Hadits, secara eksplisit ataupun implisit, juga selalu berpesan agar manusia menimbang-nimbang dengan cermat segala tindakannya.  Ada perbuatan yang merugikan, sia-sia, dan menguntungkan.  Kalau diberi nilai numerik, maka segala yang merugikan itu bernilai minus, yang sia-sia bernilai nol alias balik modal, sedangkan yang menguntungkan itu diberi nilai plus.

 

Jangankan yang minus, yang bernilai nol pun dilarang untuk melakukannya.  Pada banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia.  Kita pun bisa melihat kesesuaian perintah ini dengan ucapan dan perbuatan utusan-Nya yang mulia, yaitu Rasulullah saw.  Jadi, kalau yang balik modal pun harus dihindari, maka hanya ada satu pilihan bagi seorang Muslim, yaitu terus-menerus mengeruk keuntungan.

 

Tentu saja, keuntungan yang dimaksud tidak selalu bermakna finansial.  Dalam menyikapi takdir, Islam memperkenalkan konsep sabar dan syukur.  Jika kita mengalami musibah atau cobaan, maka kita diperintahkan untuk sabar agar bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari peristiwa itu, yaitu pelajaran dan hikmah yang mendalam.  Ketika kita mendapatkan kesenangan, maka Allah SWT memerintahkan kita untuk bersyukur, agar keuntungan kita terus bertambah dan berlipat ganda.  Jika kita bersumpah-serapah ketika mengalami musibah, maka kita akan merugi dalam berbagai aspek.  Demikian juga keuntungan finansial dapat menjadi bumerang jika kita tidak pandai-pandai bersyukur.

 

Konsep untung-rugi atau manfaat-mudharat ini menjadi sangat rancu ketika diterapkan dalam hubungan antara manusia dan Allah.  Kadang-kadang, disadari atau tidak, diakui atau tidak, manusia sering menimbang-nimbang sikapnya terhadap Allah berdasarkan untung-ruginya.  Ada dua masalah yang mendasar dalam hal ini, yaitu : (1) Allah bukanlah rekanan sejajar manusia atau partner transaksi yang sama derajatnya dengan manusia, dan (2) manusia sering tidak teliti dalam menimbang untung-rugi.

 

Hablumminannaas jelas berbeda dengan hablumminallaah.  Dalam hubungan antarmanusia, kita tidak boleh bersikap rendah diri.  Sebaliknya, ketika berhadapan dengan Allah, bahkan meragukan keputusan-Nya pun tidak diperbolehkan.  Kita tidak boleh terintimidasi oleh sesama manusia.  Sebaliknya, kita bahkan tidak boleh bersuara lantang ketika berdoa kepada Allah.  Manusia boleh protes jika merasa dizalimi oleh orang lain.  Akan tetapi, apakah gunanya memprotes keputusan Allah yang serba tidak bisa diganggu gugat?

 

Oleh karena itu, tidaklah pantas bagi kita untuk memperlakukan Allah seperti partner dagang kita.  Kita tidak boleh memprotes ‘tarif’ yang telah ditetapkan oleh Allah dan jelas tidak berlaku hukum tawar-menawar.  Tawar-menawar hanya berlaku jika kedua belah pihak saling membutuhkan, sehingga perlu mencapai kata sepakat.  Dalam hal ini, manusialah yang serba butuh, sementara Allah sama sekali tidak membutuhkan apa-apa dari kita.

 

Karena itu, ketika berbicara soal motivasi menjalankan perintah agama, maka jawaban pertama yang harus dimunculkan adalah karena Allah SWT telah memerintahkannya.  Meskipun jelas bahwa shaum itu menyehatkan tubuh manusia, namun kita tidak melaksanakannya karena sekedar ingin sehat.  Kita melakukannya karena Allah memberi kita perintah untuk melakukannya.  Demikian juga shalat, berwudhu, istinja’, meninggalkan khamr, semuanya memberikan manfaat yang besar bagi manusia.  Meski demikian, alasan utama bagi kita untuk melaksanakannya adalah karena Allah, bukan karena manfaat-manfaat tersebut.

 

Persoalannya begini.  Jika kita berorientasi pada untung-rugi dalam beribadah, maka kita secara tidak langsung telah menggugat otoritas Allah.  Seolah-olah Allah berkewajiban memberikan rahmat-Nya kepada manusia, padahal tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini yang bisa memaksa Allah untuk berbuat demikian.  Kalau memang Allah membagi-bagikan rahmat-Nya kepada manusia, itu karena Dia adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Kaya dan Maha Pengampun.  Allah melakukan hal tersebut karena Dia berkehendak melakukannya, bukan karena ada yang mewajibkan Dia untuk berbuat demikian.

 

Masalah berikutnya akan terjadi ketika kita belum bisa menelaah ‘untung-rugi’ dari suatu ibadah.  Bayangkanlah kondisi umat Islam beberapa abad yang lalu, ketika mereka belum lagi memahami manfaatnya wudhu.  Jika mereka berpegang pada untung-ruginya, maka bisa jadi mereka akan meninggalkannya begitu saja.  Padahal wudhu jelas memiliki manfaat, hanya saja manfaat tersebut baru diketahui belum lama ini.  Kini, manfaat wudhu bagi kesehatan telah disorot oleh banyak ahli, misalnya Prof. Hembing.

 

Kita tidak mungkin menunggu akal kita untuk sanggup menelaah untung-rugi dari suatu ibadah, karena Allah tidak hendak menunggu.  Barangsiapa telah mendengar kewajiban yang Allah berikan padanya, maka ia wajib untuk bersegera melaksanakannya.  Memang Allah tidak menuntut kesempurnaan atau keberhasilan, akan tetapi manusia harus menunjukkan usahanya yang gigih.  Karena itu, apa pun yang Allah perintahkan, maka manusia berkewajiban untuk melaksanakannya.  Memikirkan manfaat dari perintah-perintah tersebut jelas diperbolehkan, namun tidak bisa dijadikan sumber motivasi utama dalam beribadah.

 

Masalah besar kedua dalam menilai ‘untung-rugi’ ini adalah ketidakcermatan dalam melakukan perhitungan.  Sama seperti penyanyi dangdut yang gemar berkeluh-kesah dalam lagunya, seolah-olah merekalah manusia yang tersial di dunia.  Padahal, tidak ada manusia yang sial.  Semuanya beruntung, karena Allah membagi-bagikan rahmat-Nya secara gratisan kepada manusia, bahkan yang kafir sekalipun.  Bahkan manusia tidak pernah berhasil menghitung rahmat-Nya secara teliti.

 

Susahnya, manusia memang gemar mengeluh.  Satu hari jatuh sakit, ia bersikap seolah-olah telah sakit berhari-hari lamanya.  Padahal, kalau ia mau berhitung, maka hari-hari yang dilaluinya dalam kesehatan jauh lebih banyak daripada hari-hari sakitnya.

 

Kalaupun ada manusia yang lebih sering sakit daripada sehatnya, atau menderita cacat, maka ia pun tidak berhak mengeluh.  Dengan keterbatasan itu, masih banyak rahmat lain yang telah Allah berikan padanya.  Lagipula, sejak awal manusia memang tidak memiliki apa-apa di dunia ini.  Karena itu, jika Allah berkehendak untuk tidak memberikan kesempurnaan fisik pada seseorang, maka hal itu sepenuhnya adalah hak Allah.  Manusia tidak berhak protes.

 

Stephen Hawking tidak berhenti berkarya meskipun nyaris lumpuh total.  Forrest Gump tidak berhenti meskipun ia tahu betul dirinya idiot.  Dan yang jelas, Nabi Musa as. tidak pernah mengeluh dalam mengemban tugasnya yang super berat itu meskipun lidahnya tidak lancar berbicara.  Banyak hal yang bisa kita lakukan jika kita tidak menghabiskan waktu untuk mengeluh.

 

Jika manusia menghitung untung-rugi dalam hubungannya dengan Allah, lantas standar apa yang digunakannya?  Apakah uang menjadi ukuran?  Apakah kesempurnaan fisik menjadi parameternya?  Apakah bertubuh seksi adalah sebuah keuntungan, sementara bertubuh subur adalah sebuah kerugian?  Apakah banyak uang itu baik, sedangkan miskin itu buruk?  Sayangnya, segalanya tidak sesederhana itu.

 

Katakanlah Allah menjadikan kita buta.  Tentu kita sedih dan bermimpi suatu hari akan bisa melihat lagi.  Apakah kita merugi?  Belum tentu.  Dengan kebutaan itu, maka Allah SWT telah mencabut fitnah syahwat mata dari hidup kita.  Sementara orang lain menjebloskan dirinya sendiri karena ulah matanya, orang-orang buta tidak menemukan masalah yang sama.  Selain itu, tanggung jawab orang buta tentu lebih kecil daripada orang-orang yang bisa melihat.  Apakah orang buta merugi?  Tergantung bagaimana ia menyikapi kebutaannya itu.

 

Bagaimana jika Allah menjadikan kita hidup dalam harta yang melimpah-ruah?  Apakah ini sebuah keuntungan?  Belum tentu.  Dengan banyak harta, kita memiliki banyak pilihan, sedangkan tidak semua pilihan itu baik.  Harta bisa digunakan untuk membangun masjid, berdakwah, membiayai pendidikan anak, memelihara anak yatim, namun juga bisa digunakan untuk membuat pabrik ekstasi, menyewa pelacur, berjudi di Las Vegas, dan sebagainya.  Godaan-godaan semacam ini tidak dialami oleh mereka yang tidak berduit.  Apakah uang adalah sebuah keuntungan?  Tergantung bagaimana kita menggunakannya.

 

Bagaimana pun, nampaknya sulit meyakinkan manusia untuk tidak selalu menghitung untung-rugi dengan Allah.  Manusia memang gemar mengeluh.  Ada yang malas shalat jika sedang dirundung musibah, karena menyangka Allah telah bersikap tidak adil padanya.  Ada pula yang justru lebih khusyu’ beribadah ketika menghadapi cobaan, namun segera lupa pada Allah ketika hidupnya telah tenang kembali.  Sikap-sikap semacam ini adalah sebuah kesesatan cara berpikir. 

 

Jika kita mau berpikir lebih mendalam, sebenarnya kita tidak perlu mengkhawatirkan untung-rugi ketika berurusan dengan Allah SWT.  Apa pun yang terjadi, manusia sebenarnya selalu beruntung.  Kita tidak memiliki apa-apa, namun Allah terus memenuhi segala kebutuhan kita.  Walaupun kita tidak meminta, Allah tetap melimpahkan rahmat-Nya.  Ini adalah sebuah kenyataan yang kita alami setiap harinya, namun sedikit sekali yang menyadarinya. 

 

Manusia tidak pantas menuntut macam-macam kepada Allah, karena Allah tidak pernah menzalimi manusia.  Jika Dia memberikan cobaan, maka Dia pun pasti telah menyiapkan imbalan yang amat besar jika kita bisa bersabar menghadapinya.  Jika Dia memberikan rahmat, maka Dia pun telah menyiapkan balasan yang amat besar jika kita benar-benar bersyukur.  Apa lagi yang bisa kita keluhkan?

 

wassalaamu’alaikum wr. wb.


20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
droppingzone wrote on Feb 1, '06, edited on Feb 1, '06
akmal said
Kita tidak boleh terintimidasi oleh sesama manusia. Sebaliknya, kita bahkan tidak boleh bersuara lantang ketika berdoa kepada Allah. Manusia boleh protes jika merasa dizalimi oleh orang lain. Akan tetapi, apakah gunanya memprotes keputusan Allah yang serba tidak bisa diganggu gugat?
Kalo ada yg protes kepada keputusan Allah, itu bisa jadi orang itu belum mengerti lebih detail. Kalo mengerti, insya Allah ga pernah protes ke Allah koq
Ibarat orang haus ketemu air bening sejuk. Bukan hanya ga protes, malah nyaman. Beda kalo lagi haus malah dikasih air panas.

Misal, korban Tsunami yg banyak, itu kesalahan siapa? Karena lempeng bumi sudah ada jauh sebelum Aceh dihuni manusia kan? Bukan tiba2 saja ada pertemuan lempeng
Bahkan dalam tayangan tentang tsunami, orang asing bisa bilang, "We can not stop the earthquake, we can not stop the tsunami, but we can stop the victims".

Jadi kalo ada murrob yang menjawab orang yg protes kepada Allah dgn kata2 "itu sudah keputusan Allah, tidak bisa diganggugugat", berarti murrobnya itu perlu belajar lebih lanjut lagi mengenal Allah & Islam deh
akmal wrote on Feb 1, '06
saya rasa ucapan "itu sudah keputusan Allah, tidak bisa diganggu gugat" itu tidak salah... hanya saja perlu tambahan penjelasan biar bisa diterima oleh kuping kebanyakan orang... tapi secara objektif memang benar bahwa segala hal yg terjadi di dunia ini adalah keputusan Allah.. dan secara objektif pun memang benar bahwa keputusan Allah (yg mana pun) tidak bisa diganggu gugat... kadang kesal memikirkannya, tapi itu memang benar...

cuma, ya, sesuai fiqh dakwah, kalo mo bicara dengan segmen manusia yg berbeda tentu berbeda pula bahasanya... kalau bicara dgn level alim ulama sih penjelasan "itu sudah keputusan Allah" pasti sudah cukup membuatnya berpikir jernih... tapi kalo dgn org2 yg sedang futhur abis2an ya jangan pake penjelasan begitu donk...
droppingzone wrote on Feb 1, '06, edited on Feb 1, '06
akmal said
kalau bicara dgn level alim ulama sih penjelasan "itu sudah keputusan Allah" pasti sudah cukup membuatnya berpikir jernih... tapi kalo dgn org2 yg sedang futhur abis2an ya jangan pake penjelasan begitu donk...
Nah berarti si murrobnya atau si ustad yg mau menjelaskan itu ya harus belajar memahami manusia & persoalannya dulu, jangan asal main hantam saja jawabannya. .
Coba lihat bagaimana cara Rosul menghadapi umatnya per pribadi masing2.
Bahkan dalam ketentaraan, baik dari zaman Rosul sampai zaman sekarang, komandan2 yg berhasil itu biasanya tahu cara menghadapi anak buahnya, bahkan dalam kondisi genting sekalipun ['Futhur"? Atau "Future"? ].
Dan kita bisa banyak belajar koq, ada banyak ilmu yg terserak sekarang ini.

akmal wrote on Feb 1, '06
ya memang gitu... tapi kok ente bicaranya seperti ofensif gitu? emang lagi kesel ama siapa, kang? hehehe....

yg jelas kalo ada murobbi atau ustadz yg berbuat salah seperti itu, maafkan dan maklumilah... barangkali mereka keliru, salah omong, atau memang lingkungannya sudah kondusif sejak kecil sehingga mereka kurang empati pada mereka yg hidupnya agak jauh dari ajaran Islam... memang ini kesalahan umum sih... yg jelas kalo kita kesel sama seseorang, bisa dipastikan komunikasi kita kepada org tersebut akan tidak lancar jadinya... jadi daripada memendam kesal, lebih baik beri nasihat dengan penuh empati, tanpa prasangka macam-macam, dan jangan membuat asumsi apa pun... belum tentu dia tidak tahu perbuatannya itu salah... namanya juga manusia, bukan Tuhan... sekali2 kepeleset lidah kan wajar... lebih baik samperin aja orangnya langsung, tanya baik2 kenapa dia bilang begini-begitu, lalu sampaikan argumen bahwa cara itu (menurut kita) kurang bagus.... gak usah dibongkar aibnya di depan umum, karena cara itu akan membuat dia makin defensif dan makin deadlock aja komunikasinya...

intinya sih : sabar itu emang susah... siapa bilang gampang? :))
droppingzone wrote on Feb 1, '06
akmal said
Manusia tidak pantas menuntut macam-macam kepada Allah, karena Allah tidak pernah menzalimi manusia. Jika Dia memberikan cobaan, maka Dia pun pasti telah menyiapkan imbalan yang amat besar jika kita bisa bersabar menghadapinya. Jika Dia memberikan rahmat, maka Dia pun telah menyiapkan balasan yang amat besar jika kita benar-benar bersyukur. Apa lagi yang bisa kita keluhkan?
Apa gunanya doa dong uda Akmal?
Kayaknya banyak banget yg mau saya komentari, cukup ini saja deh ya.
akmal wrote on Feb 1, '06
oya saya lupa... sebelum menyampaikan kritik, saya sarankan untuk terlebih dahulu meyakinkannya bahwa kita mengajukan kritik ini karena kita sayang betul sama dia, dan kita bukan cuma temannya, tapi saudaranya... jadi dia gak merasa diserang atau gimana gitu...
droppingzone wrote on Feb 1, '06
akmal said
ya memang gitu... tapi kok ente bicaranya seperti ofensif gitu? emang lagi kesel ama siapa, kang? hehehe....
Hehehe, kesal sih ada, tapi lebih ke sistem. Susah kan? :)
Tapi saya tidak mau hal itu membuat saya tidak adil.
Malah saya pikir artikel di atas itu justru ofensif sekali. Ibarat Allah itu dianggap raja lalim yg perintahnya sama sekali tidak boleh dipertanyakan. Kalo konsep/tafsirnya seperti ini, ya wajar saja kalo ada murrob/ustadnya itu jadi begitu.
Bahkan malaikat pun bertanya ketika penciptaan manusia. Malaikat yg tugasnya itu lebih kepada pelaksanaan perintah, beda dgn manusia yg lebih kepada pengelolaan alam ini [jelas lebih superior dalam sisi ini], malah pertanyaannya itu dijawab dgn baik [tidak kasar/keras] oleh Allah, sehingga malaikat itu benar2 "ngeh" / mengerti sehingga tidak ada pertanyaan lagi.
Itu saja koq uda.
Kalo bercermin kepada Rosul bahkan Allah, dakwah itu seperti air bening sejuk yang mengaliri dahaga, dan tanpa ada resistensi yg berarti.
akmal wrote on Feb 1, '06
nah, doa itu masalah yg menarik lagi... sebenernya buat apa sih doa? apakah untuk memuaskan keinginan manusia? memang wajar kalau kita mengajukan permintaan kita dalam doa, tapi menjadi sangat tidak wajar jika kita merasa bahwa permintaan kita harus dikabulkan karena kita telah berdoa... percaya atau tidak, banyak yg berpikir dgn logika seperti ini... akhirnya jadi kusut deh... makanya ada saja korban bencana alam yg bisa dimurtadkan... para misionaris tinggal bilang : "tega betul Tuhanmu itu ya, kok orang2 saleh diuji dgn cara begini?", lalu mereka pun tergoda utk meninggalkan Islam...

yg jelas, perlu saya tegaskan lagi bahwa kita tidak perlu mengeluh ini-itu menghadapi segala cobaan, karena semua cobaan pasti disiapkan Allah dgn perencanaan yg matang... kalau kita bersabar menghadapinya, maka imbalannya JAUH lebih besar daripada pengorbanan yg harus kita lakukan... jadi saya rasa sesusah apa pun hati kita, kita harus berusaha meyakinkan diri bahwa Allah punya rencana yg lebih baik buat kita...

emang susah sih... saya jg gak selalu bisa berpikir sejernih itu kok... tapi percayalah, saya punya setumpuk pengalaman hidup yg membenarkan teori yg mengatakan bahwa "Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya..." bahkan dalam musibah pun ada keuntungan yg telah disiapkan-Nya untuk kita...
akmal wrote on Feb 1, '06, edited on Feb 1, '06
(lagi-lagi) secara objektif, memang Allah itu sangat berkuasa sehingga tidak boleh diprotes lagi.... kalau manusia yg bersifat demikian maka dia adalah raja lalim, tapi Allah kan bukan manusia... memang Allah otoriter, karena Dia memang pantas bersifat demikian... justru aneh kalau Tuhan bisa diprotes atau demokratis, atau bahkan nurut sama hamba-hamba-Nya sendiri... logikanya jadi terbalik... harusnya kan manusia yg nurut tanpa syarat...

soal pertanyaan malaikat, saya cuma hapal satu ayat soal itu, yaitu Q.S. Al-Baqarah ayat 30... di sana malaikat bertanya mengapa Allah hendak menciptakan manusia yg akan menumpahkan darah... bagaimana jawaban Allah? Allah tidak marah dan Dia Maha Tahu bahwa malaikat2 itu tidak bermaksud jelek dengan pertanyaan itu... tapi jawaban Allah sangat solid : "Sesungguhnya Aku tahu apa-apa yang tidak kalian ketahui"...

mungkin kita belum bisa memahami suatu keputusan Allah, tapi kita tetap tidak berhak protes... secara objektif saya masih yakin dengan pernyataan ini... kalo artikel saya dianggap ofensif, saya rasa nggak juga, karena di akhir cerita kan saya justru menjelaskan bahwa kita sebenernya gak perlu khawatir, karena Allah selalu melimpahi manusia dgn rahmat secara gratisan... jadi gak ada istilah rugi kalau 'berniaga' dengan Allah... saya rasa penjelasan di akhir tulisan bisa memberikan nuansa 'sejuk'...

kalau masih gagal juga usaha saya memberikan 'kesejukan', yah itu berarti saya masih belum pandai menulis... maklum amatir keneh...
droppingzone wrote on Feb 1, '06
akmal said
tapi menjadi sangat tidak wajar jika kita merasa bahwa permintaan kita harus dikabulkan karena kita telah berdoa... percaya atau tidak, banyak yg berpikir dgn logika seperti ini... akhirnya jadi kusut deh... makanya ada saja korban bencana alam yg bisa dimurtadkan... para misionaris tinggal bilang : "tega betul Tuhanmu itu ya, kok orang2 saleh diuji dgn cara begini?", lalu mereka pun tergoda utk meninggalkan Islam...
Ya memang tafsir terhadap hadist bahkan ayat Qurannya itu memang bermasalah tuh uda, ya pantas saja begitu. Coba kalo konsep/tafsirnya benar, insya Allah ga kayak gitu deh.

Mengeluh itu memang tidak baik jika cuma mengeluh. Kan mengeluh itu sebagian bisa dianggap curhat. Ya namanya manusia yg belum menemukan jalan keluarnya.

Konsep sabar sendiri yg ada di masyarakat bahkan aktivis sendiri saya juga masih bertanya2 tuh. Karena kalo sudah bertakwa, niscaya dijadikanNya jalan keluar, dan itu tidak ada jeda, tidak pake "tsumma" bahkan "fa" [QS 65:2]. Kalo ayat ini benar2 terkuak rahasianya, kayaknya ga ada deh yg meninggalkan Islam, bahkan justru berbondong2
akmal wrote on Feb 1, '06
ya memang curhat itu beda dgn mengeluh ya... apa boleh buat emang manusia kadang suka banyak mengeluh sih...

soal tidak adanya jeda antara masalah dan jalan keluar, bukankah sabar itu sendiri adalah jalan keluar? nah ini dia yg masih jarang digali...

anyway, saya jadi banyak inspirasi buat artikel2 selanjutnya nih... nuhun nya! :))
droppingzone wrote on Feb 1, '06, edited on Feb 1, '06
akmal said
memang Allah itu sangat berkuasa sehingga tidak boleh diprotes lagi....
Bagi saya, yg lebih tepat itu bukan "tidak boleh diprotes", seolah2 kalo ada yg protes, jawabannya tuh saklek seperti itu. . Oh ya apa Rosul pernah berkata seperti itu? [Allah ga boleh diprotes].

Betul uda, soal pertanyaan malaikat. Nah selain ayat 30, ayat selanjutnya juga sangat perlu dibaca, sehingga kesimpulannya lebih komprehensif. Jadi setelah Allah bilang seperti itu, Allah langsung menunjukkan, misalnya meminta malaikat dan Adam menunjukkan nama benda2. Nah jelas, dari pembuktian itu malaikat langsung mengerti dan patuh. Dan kepatuhan yg dihasilkan dari kemengertian itu lebih baik dari cuma doktrinasi.

Jadi, kalo mau mencontoh Quran, prosedur standard setelah ngomong "ga boleh protes" ya harus bisa membuktikan, ya? . Kalo tidak? Ya akan menghasilkan orang2 yg keras, bukan orang yg tegas.

Nah kalo saya, akan bilang ke orang yg protes jika saya belum bisa menjawab protes/pertanyaannya itu dengan "bahwa saya tidak tahu dan semoga Allah memberikan jawabannya kepadanya dgn baik", jadi saya ga mau bilang bahwa Allah itu ga boleh diprotes. Selama orang ga tahu, protes itu ya boleh2 aja. Dan kalo uda Akmal tahu jawabannya, gak usah dikerasi, tinggal dikasih jawaban dgn lembut, si yg protes itu insya Allah luluh hatinya koq.

Intinya orang bisa protes ke Tuhan itu karena ga tahu. Ya obat mujarabnya ya cuma soal tahu, ya kasih tahu saja jawaban yg tepat. Selama tidak dikasihtahu jawaban yg tepat, maka akan tetap protes, kalo pun ditekan, tidak hilang, jadi depresan.
akmal wrote on Feb 1, '06
nah, jadi mengerti kan kenapa saya menutup artikel dengan penjelasan begitu? sesuai kan dengan cara bercerita di Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dst? bagaimana pun, tetap saja, penjelasan yg paling utama dari setiap kehendak Allah adalah : "Allah memang Maha Berkehendak"... kalau sudah bisa menerima kenyataan itu, barulah kita beranjak pada penjelasan2 lain...

nah, jadinya saya heran, sebenarnya masalahnya apa ya? hahaha rasanya tulisan saya gak ofensif deh....
ladymotts wrote on Feb 1, '06
rame deh ih ...
akmal wrote on Feb 1, '06
hehe namanya jg diskusi... harus rame atuh... kalo gak rame mah mengheningkan cipta namanyah... :p (jadi inget upacara jaman baheula)
vin4 wrote on Feb 2, '06
komen sebelum baca jurnal --> welleh welleh ada apa ini antara Uda akmal vs mas droppingzone ehehhehehehehhe
akmal wrote on Feb 2, '06
ada apa? cuma ngobrol2 biasa aza lagi.....
droppingzone wrote on Feb 7, '06
akmal said
nah, jadi mengerti kan kenapa saya menutup artikel dengan penjelasan begitu? sesuai kan dengan cara bercerita di Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dst? bagaimana pun, tetap saja, penjelasan yg paling utama dari setiap kehendak Allah adalah : "Allah memang Maha Berkehendak"... kalau sudah bisa menerima kenyataan itu, barulah kita beranjak pada penjelasan2 lain...

nah, jadinya saya heran, sebenarnya masalahnya apa ya? hahaha rasanya tulisan saya gak ofensif deh....
Justru kalo cuma satu saja ayat, ya tidak komprehensif jadinya. Ayat2 yg sangat penting sesudah ayat 30 malah tidak dilihat & dianalisis lebih dalam.

Allah memang Maha Berkehendak, dan tentunya atas dasar Maha Rasional. Ga asal ngasal, apalagi ngasal njawab. .
Maka bagi saya sih, orang protes itu tidak usah dilarang, karena hal positif dari orang protes itu adalah masih mau berpikir dan memperhatikan. Kalo yg kurang mikir atau kurang memperhatikan, ya cenderung ga pernah protes.

Hehehe, belum tahu masalahnya ya? .
Comment deleted at the request of the thread owner.
akmal wrote on Feb 8, '06
Kalo yg kurang mikir atau kurang memperhatikan, ya cenderung ga pernah protes.
memang terus terang saya agak sengaja tidak begitu sering menampilkan pembahasan ayat2 Qur'an di tulisan2 saya... soalnya ada juga org yg langsung alergi baca tulisan kalo ada ayat2 Qur'annya, soalnya berkesan ceramah agama gitu... saya cuma mo menggelitik akal logika para pembaca saja kok... di ITB saya pernah berdiskusi dgn seorang atheis, pertanyaan2 dia beragam, tapi selalu seputar protes : Tuhan kok begini, Tuhan kok begitu... menurut mereka, itulah cara berpikir paling logis... lalu saya tanya lagi : "Menurut kamu logis gak Tuhan bisa diprotes-protes?"... bingung kan? memang jadi rancu jadinya... logika berpikir itulah yg ingin saya tawarkan... salah satu makna dari 'Islam' adalah berserah diri... jadi memang harus mengakui dulu kelemahan dan posisi manusia yg rendah di hadapan Allah... kalau egonya masih setinggi gunung sampai2 bisa protes pada Tuhan, maka diskusi gak akan nyampe... soalnya logikanya salah...

saya rasa tidak bisa juga digeneralisir org yg gak pernah protes itu gak pernah mikir... saya blum pernah protes sama Allah dan mudah2an gak akan pernah... justru ketidakmauan saya untuk protes itu karena saya selalu berpikir, insya Allah... bukankah sudah saya tulis dalam artikel ini bahwasanya org2 yg suka mengeluh itu sebenarnya tidak teliti dalam perhitungannya? memang banyak cobaan yg berat yg diberikan oleh Allah kepada kita, tapi cobalah hitung kenikmatan yg diberikan-Nya... pasti lebih banyak! saya tantang siapa pun untuk melakukan perhitungan yg komprehensif... kalau betul ada manusia yg menerima lebih banyak cobaan daripada rahmat, maka saya akan mengaku salah secara terbuka...

masalahnya sekarang, mau gak nerima kenyataan itu? atau mau terus dikendalikan ego pribadi? nah, itulah yg menjerumuskan orang2 menjadi Islam Liberal....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help