assalaamu’alaikum wr. wb.
20.01.06
Meskipun sudah menyelesaikan sidang Tugas Akhir pada tanggal 13 Januari yang lalu, saya tetap masih harus membayar separuh dari biaya SPP untuk semester selanjutnya. Agak kesal juga, karena pada tanggal 4 Maret saya sudah akan diwisuda. Artinya, walaupun hanya tinggal satu setengah bulan dari jadwal wisuda, saya diharuskan membayar Rp 375.000,-. Tapi saya masih beruntung. Mahasiswa-mahasiswa yang lebih junior harus membayar jauh lebih mahal lagi. Dengar-dengar, mahasiswa ITB angkatan 2006 akan dikenai tarif SPP dua juta rupiah per semesternya. Maasyaa Allaah!
Pada saat antri membayar SPP itulah, setelah shalat Jum’at, saya menerima sebuah SMS dari teman kost saya yang bekerja di Lab Uji Model Hidraulika ITB. Inti ceritanya : saya ditawari ikut survei ke Sumbawa selama 5-10 hari dengan upah yang cukup menggiurkan. Memang pekerjaan survei selalu menjanjikan penghasilan yang lebih bagus daripada kerja kantoran, karena lebih beresiko, menuntut kesiapan fisik dan mental karena jauh dari tempat asalnya.
Saya sudah memiliki pengalaman kerja kantoran. Tinggal kerja lapangan saja yang belum. Jadi, setelah menyelesaikan semua urusan administrasi, saya langsung mengontak keluarga dan menyatakan keinginan untuk mengikuti survei tersebut. Tidak ada masalah dari pihak keluarga, walaupun saya yakin mereka cukup kaget mendengar saya akan pergi ke Sumbawa. Sumbawa? Di NTB ya? Ngapain ke sana? Pasti itu yang mereka pikirkan.
Jadi, dalam waktu cukup singkat, sore itu saya telah memberikan jawaban. Tiket segera di-booking, dan saya pun segera menghadiri briefing singkat pada pukul 16.00 di Lab Uji Model Hidraulika ITB. Di sana, saya memperoleh penjelasan secukupnya (walaupun rasanya tidak cukup) dan saya pun berkenalan dengan anggota tim survei lainnya.
21.01.06
Dalam tahap persiapan menuju keberangkatan ini saya tidak memiliki tanggung jawab apa-apa. Saya tidak perlu menyiapkan peralatan apa pun dan tidak perlu pergi berbelanja bersama para ‘Bos’. Saya cuma perlu menyiapkan segala keperluan pribadi. Itu saja.
Walaupun sudah dilarang-larang, Mama tetap bersikeras untuk datang ke Bandung pagi itu dan kemudian pulang lagi ke Bogor keesokan siangnya. Bukannya saya tidak suka beliau datang ke Bandung, hanya saja perjalanan Bandung-Bogor pasti melelahkannya. Apalagi saya sedang sangat sibuk mempersiapkan kepergian ke Sumbawa, jadi bisa dipastikan tidak akan sempat menemaninya jalan-jalan sama sekali. Tapi memang Mama sangat ingin menemui saya di Bandung, karena saya belum sempat pulang ke Bogor sejak sidang tempo hari.
Mama bilang, saya berubah sejak terakhir kali ketemu. Barangkali ada aura tambahan yang muncul setelah lulus sidang dan resmi mendapat gelar ST (Sarjana Teknik). Tapi saya tidak akan menggunakan gelar itu, kecuali barangkali kalau akan melamar pekerjaan. Lagipula saya merasa tidak berubah. Saya masih gemar komik, gemar basket, dan gemar bercanda. Apa bedanya mahasiswa dengan sarjana? God knows.
Pagi itu saya habiskan untuk bermain basket di lapangan basket Sabuga. Sepuluh hari ke depan, saya tidak akan bisa bermain basket. Sepuluh hari sudah terlalu lama buat seorang maniak basket seperti saya. Benar-benar gawat.
Rencananya, pagi-pagi senang-senang, siang-siang istirahat, sore-sore packing, malamnya istirahat lagi, lalu pada pukul dua dinihari saya sudah harus berkumpul di Lab Uji Model Hidraulika ITB dan langsung berangkat dengan mobil sewaan ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Rencananya begitu. Tapi saya tidak terbiasa tidur siang, dan akhirnya siang itu pun dilalui dengan berbagai agenda dadakan, misalnya makan mie ayam di Sakinah, sewa beberapa komik dan langsung membacanya hari itu juga, lalu titip teman untuk mengembalikannya besok.
Akhirnya, saya malah tidak tidur malam itu. Terlanjur sudah terlalu excited akan pergi ke tempat yang cukup jauh (percayalah, Bandung-Sumbawa itu sudah cukup jauh buat saya), dan saya terlibat obrolan yang sangat serius dengan Mama. Tentang apa lagi kalau bukan soal nikah.
- Bersambung ke bagian berikutnya -
wassalaamu’alaikum wr. wb.