assalaamu’alaikum wr. wb.
26.01.06
Sudah dini hari. Tengah malam sudah lewat sejak beberapa menit yang lalu. Sudah masuk hari baru menurut sistem perhitungan waktu internasional. Kami masih diombang-ambing arus Sungai Omo. Masih gelap dan sunyi. Semua orang sudah terlelap agaknya. Kecuali kami.
Setiap tiga ratus meter kami berhenti untuk mengambil sampel air. Pekerjaan mudah yang kini terasa sangat berat dan membosankan. Air sedang pasang-pasangnya dan arus cukup kencang di bagian yang lebih dalam, membuat pengambilan sampel menjadi lebih sulit lagi. Dingin, mengantuk, gelap, bosan dan lelah. Kurang apa lagi? Padahal kami baru bekerja kurang dari tiga belas jam.
Hanya ada tiga hal yang menghibur kami malam itu : udara segar, langit yang cerah, dan selera humor yang sangat tinggi. Kami bisa menertawakan apa saja. Mungkin ini akibat dari kelelahan juga. Kami harus bersyukur diberikan refleks untuk bergembira ketika menghadapi stres seperti ini. Tidak semua orang bisa menertawakan keadaan dirinya sendiri.
Lewat pukul dua, arus semakin deras ke arah hilir. Air surut jauh lebih cepat daripada pasangnya. Dalam waktu kurang dari satu setengah jam, air sudah mencapai titik terendahnya. Kini, perahu kami tidak bisa bergerak seenaknya di sungai. Kami harus mencari tempat-tempat yang cukup dalam agar perahu tidak kandas.
Sebaik apa pun kami berusaha, sesekali kandas juga.
Para pelaut tangguh keturunan Bugis ini mengatasi berbagai masalah dengan baik. Jika perahu kandas, mereka berkoordinasi dengan sangat baik satu sama lainnya, lalu menggunakan batang-batang bambu yang panjang untuk mendorong perahu agar bergeser ke arah yang lebih dalam. Yang lain menggunakan jangkar dan tali untuk menarik perahu ke posisi yang pas. Tanpa koordinasi, kegiatan semacam ini cukup mengundang frustasi. Adakalanya pula salah seorang dari mereka terpaksa menceburkan diri untuk mendorong perahu.
Sedikit banyak, saya belajar juga seluk-beluk perahu. Mesinnya cukup sederhana. Tinggal diengkol, lalu ada tali yang berfungsi seperti pedal gasnya, dan ada pula tali lain yang berfungsi untuk mematikan mesin. Untuk manuvernya tinggal menggunakan batang kemudi di bagian belakang perahu. Kesulitan tertinggi adalah keterbatasan penglihatan pada waktu malam, karena bagaimana pun perahu tidak boleh sampai menabrak batang pohon besar. Selain itu, arus pada waktu surut juga bisa menyeret perahu seenaknya kalau kita tidak waspada.
Di awal survei, berdiri tegak di atas perahu pun cukup sulit buat saya. Sekarang, berlari-lari pun saya bisa. Saya sudah semakin terbiasa dengan ombak yang menggoyang-goyangkan perahu. Beruntung, saya tidak pernah mabuk laut.
Ketika waktu Subuh datang, kami merapat di muara untuk menunaikan shalat. Sungai sedang mencapai puncak surutnya. Garis pantai telah berubah semakin jauh ke arah laut. Orang yang biasa hidup di daerah yang relatif tinggi seperti saya bisa terkejut melihat betapa besarnya pengaruh pasang-surut terhadap garis pantai.
Demikianlah kami meneruskan survei hingga pukul lima sore hari. Sesekali Pak Iwan berbaik hati menggantikan tugas saya, dan saya pun memanfaatkan waktu untuk tidur di sebuah perahu yang tidak digunakan di pantai. Kayunya keras dan tidak nyaman di punggung, dan saya tidak bisa membaringkan seluruh tubuh di sana.
Peduli amat. Saya sudah sangat mengantuk.
Saya diajari oleh orangtua untuk selalu siap menghadapi segala kemungkinan. Apa pun yang terjadi, saya harus siap. Kalau keadaan memaksa, tidak ada waktu untuk protes dan bermanja-manja. Bahkan memikirkan yang enak-enak pun sebaiknya ditunda dulu. Saya rasa itulah ilmu yang paling aplikatif dalam survei ini. Ketika menjalaninya, saya tidak merasa berat sama sekali, karena memang otak saya sudah terlatih untuk tidak terlalu memikirkannya. Lebih baik segera beradaptasi.
Dalam keadaan normal, tidur selama sejam dan langsung bangun untuk kembali bekerja sudah pasti hanya akan membuat sakit kepala. Tapi alhamdulillaah hal tersebut tidak terjadi kini. Tubuh dan pikiran saya bisa beradaptasi dengan baik terhadap beban kerja yang luar biasa ajaib ini.
Pukul empat sore, semangat berkobar kembali. Tentu saja karena kami menyadari bahwa waktu berakhirnya survei sudah sangat dekat. Begitulah psikologis manusia. Bersemangat di awal dan di akhir. Di tengah-tengah, jarang sekali ada yang bisa mempertahankan semangat yang sama hebatnya dengan di awal dan di akhir.
Kami kemudian kembali ke desa, menyelesaikan segala jenis pembayaran tenaga lokal, menyeruput sekedar teh manis atau kopi yang disajikan oleh tuan rumah, dan menunggu jemputan sambil terkantuk-kantuk. Sekitar pukul tujuh malam, Egon datang menjemput bersama anggota tim survei lainnya. Bukan main leganya saya mendengar bunyi mesin mobil Kijang sewaan yang bobrok itu.
Jok mobil adalah benda ternyaman yang pernah saya duduki dalam tiga puluh jam terakhir. Mobil melesat menuju Sumbawa Besar. Karena kurang gizi, menurut Egon kami harus makan sop dan sate kambing yang letaknya tidak seberapa jauh dari hotel. Tentu saja kami setuju.
Apa dinyana, ternyata ibu-ibu penjual sop dan sate kambing itu mengenali bahasa Sunda yang kami gunakan. Jarang sekali ada yang mengetahui bahasa Sunda di Sumbawa, karena pendatang terbanyak di sini adalah orang-orang Jawa Timur. Ternyata ibu itu pernah tinggal lama di Bogor. Wah, dunia memang tidak selebar daun kelor.
Setelah makan dengan amat lahap (cenderung rakus), kami segera kembali ke hotel. Apa lagi yang harus dilakukan selain mandi sepuasnya dan tidur nyenyak? Egon dan kawan-kawan lainnya masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Saya tidak peduli. Pak Iwan juga tidak peduli. Kami tidur nyenyak.
- Bersambung ke bagian berikutnya -
NB : Kalo bingung, baca dari awal aja ya...
wassalaamu’alaikum wr. wb