Blog EntryPart 7 : Lazy DaysFeb 20, '06 9:58 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

 

27.01.06

Kali ini giliran saya dan Pak Iwan yang beristirahat di hotel selama dua hari penuh.  Pekerjaan kami memang cukup ekstrem.  Meskipun yang lain juga memiliki tugas selama dua hari sebelumnya, tapi tidak ada yang bekerja non-stop seperti kami.  Karena itu, Egon merasa berkewajiban memberikan dua hari libur untuk kami.  Lagipula, penderitaan 28 jam itu akan kami alami lagi setelah libur ini.  Kami perlu menyimpan tenaga banyak-banyak.

 

Rencananya, dua hari ini akan dimanfaatkan oleh anggota tim survei yang lain untuk pergi ke dua daerah lainnya, yaitu Empang dan Plampang.  Pak Engkus, yang dua hari kemarin melakukan survei topografi di Dusun Omo, kini juga akan melakukan survei yang sama di Empang dan Plampang.  Bambang akan melakukan survei biologi (yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri, karena anggota tim lainnya berlatar belakang Teknik Sipil, bukan Biologi), sementara Egon akan keliling-keliling melakukan survei sosial-ekonomi terhadap masyarakat di sekitar kawasan pertambakan itu.

 

Setelah Subuh, meskipun sebenarnya belum puas tidur, tapi saya berusaha untuk tetap terjaga, sekedar untuk bersikap solider kepada rekan-rekan yang sedang kerepotan mempersiapkan survei.  Tidak ada yang bisa saya bantu, karena pikiran pun belum ‘On’ sepenuhnya, dan otot-otot di tubuh ini baru akan terasa lega kalau digilas dengan mesin giling. 

 

Sudah, tidak usah dipikirkan.  Namanya juga hiperbola.

 

Kira-kira pukul 08.30, mereka sudah pergi.  Tinggallah Pak Iwan di kamarnya dan saya pun bergolek malas di kamar.  Sialnya, ada jam-jam tertentu di mana saya tidak pernah bisa tidur, kecuali dalam keadaan lelah stadium lima.  Sekarang baru stadium tiga.  Saya tidak pernah tidur di waktu dhuha begini.  Maka pilihan jatuh pada televisi, satu-satunya hiburan yang ada di kamar.

 

Hotel yang kami diami ini memang lucu.  Televisinya hanya bisa menyiarkan satu saluran saja, itu pun terhubung dengan televisi yang sedang digunakan oleh sang pemilik hotel di rumahnya, tepat di sebelah hotel.  Jadi, kalau pemilik hotel sedang menyalakan RCTI, maka kami pun terpaksa menonton RCTI.  Kalau ia menonton acara di SCTV, maka kami pun tidak bisa memilih stasiun yang lain.

 

Dengan hati terluka, akhirnya saya pun terpaksa menonton acara-acara pilihan sang pemilik hotel, yang kebanyakan berupa acara gosip dan sinetron.  Lewat pengalaman ini, saya pun berubah pikiran tentang sinetron.  Sinetron itu ternyata tidak jelek.  Sinetron itu lebih tepat kalau disebut : buruk, berselera rendah, menghina intelektual penontonnya, memuakkan, dan barangkali juga bisa digolongkan sebagai najis kecil, sehingga setelah menontonnya saya harus berwudhu untuk membersihkan diri.

 

Tidak usah dipikirkan.  Saya memang gemar hiperbola.

 

Sekitar pukul 10.00, saya sadar bahwa saya memang tidak terlatih untuk malas-malasan di siang hari.  Saya punya dua tugas yang diamanatkan oleh Egon, yaitu mengambil peta Pulau Sumbawa dari Dinas Pertanahan Nasional (DPN) dan pergi ke warnet terdekat untuk mem-backup beberapa CD data yang diberikan oleh DPN kepada Egon dua hari sebelumnya.  Daripada batin saya tersiksa karena sinetron, lebih baik saya menyibukkan diri saja sejenak.  Jadi, saya mandi dan segera berangkat.

 

Saya pergi ke kantor DPN dengan menggunakan jasa ojek.  Di Sumbawa Besar, angkutan umum terbanyak adalah ojek motor.  Di sana-sini ada ojek.  Tidak terlalu mahal dan tidak beda jauh dengan tarif angkotnya.  Jadi, kalau tujuannya cukup jauh dari jalan besar, naik ojek adalah pilihan yang sangat bagus.

 

Sesampainya di DPN sudah pukul 12.00.  Kantor sudah ditutup untuk shalat Jum’at (di sini, waktu Zhuhur adalah sekitar pukul 13.00) dan para pegawai laki-lakinya sudah ‘lenyap’.  Maka saya pun mencari masjid terdekat dan menunaikan shalat Jum’at terlebih dahulu. 

 

Seusai shalat, saya pergi ke warung mie ayam untuk mengisi perut sedikit.  Lagipula, menurut perhitungan saya, seharusnya waktu istirahat shalat Jum’at juga termasuk waktu makan siang.  Apa dinyana, ketika saya kembali ke kantor itu pada pukul 14.00, kantor itu malah kosong melompong.  Saya mengutuk diri sendiri karena lupa pada kebiasaan di Sumbawa ini.

 

Di Sumbawa, sekitar pukul 13.00 sampai 16.00, biasanya orang-orang menutup toko-tokonya dan membukanya kembali setelah itu.  Alasannya : tidur siang.  Kantor-kantor pemerintah pun kadang mengikuti ritme hidup yang seperti ini.  Harusnya saya ingat, karena baru beberapa hari yang lalu Pak Salamuddin menceritakannya.

 

Apa boleh buat, maka saya beralih pada misi berikutnya, yaitu mem-backup CD di warnet terdekat.  Sekalian membuka e-mail saya yang pasti sudah menumpuk, juga melihat-lihat apa yang terjadi dengan homepage saya di multiply ini. 

 

Saya menemukan sebuah warnet yang ternyata tidak terlalu jauh dari hotel.  Inilah satu-satunya warnet di Sumbawa Besar.  Namanya juga tidak ada persaingan, mereka pun memasang tarif seenaknya.  Rp 11.000,- per jam!  Perampokan besar-besaran.  Di Bandung, dengan biaya segitu, kita bisa browsing hampir tiga jam lamanya.  Yah, apa boleh buat!

 

Sekembalinya di hotel, kantuk kembali datang.  Saya tidur nyenyak sampai pukul 17.00.  Setelah itu, saya mengaso bersama Pak Iwan menunggu rekan-rekan lainnya datang.  Tapi sampai malam pun mereka belum datang.  Kami terpaksa makan malam duluan.  Mereka baru tiba pukul 21.00, karena memang lokasi Empang cukup jauh dari Sumbawa Besar ini.

 

 

28.01.06

Ini adalah hari bermalas-malasan yang terakhir, dan akan saya manfaatkan sebaik-baiknya!  Saya sudah mengatur jadwal dengan baik untuk hari ini.  Saya tidak akan mengulangi kesalahan bodoh kemarin.  Saya harus tiba di kantor DPN pada pukul 10.00 agar tidak keduluan lagi dengan waktu istirahat mereka.  Oya, di Sumbawa ini instansi-instansi pemerintah masih menggunakan enam hari kerja dalam seminggu.

 

Urusan di DPN bisa dikatakan lancar, meskipun saya harus menunggu beberapa lama.  Pada dasarnya orang-orang di Sumbawa memang ramah-ramah.  Kami sangat dibantu oleh para pegawai di DKP dan DPN.  Survei ini akan jauh lebih rumit andaikata kami tidak mendapatkan bantuan dari mereka.

 

Pada pukul 12.00 saya sudah tiba kembali di hotel dengan membawa sebuah peta berukuran A0 dari DPN.  Menunggu waktu Zhuhur, saya mencicipi sop kambing di sebelah hotel yang direkomendasikan oleh Pak Salamuddin.  Enak dan relatif murah (dibandingkan harga di Pulau Jawa). 

 

Setelah Zhuhur, saya kembali pada jadwal yang telah saya atur sebelumnya : tidur siang!  Tidur dan tidur lagi.  Bangun sejenak untuk shalat Ashar, lalu langsung tidur lagi.  Pukul 18.00 akhirnya rasa kantuk sudah hilang sepenuhnya (perlu saya ingatkan bahwa Maghrib di Sumbawa jatuh pada sekitar pukul 19.00 waktu setempat).  Saya membantu Pak Iwan memasukkan data dan berdiskusi sedikit untuk mengatur rencana survei 28 jam berikutnya.

 

Sekitar pukul 21.00, Egon dkk. sampai kembali di hotel.  Dengan tidur malam ini, istirahat sudah cukup.  Rasanya saya sudah siap untuk kerja berat dua hari besok.

 

Another twenty-eight hours...  Debur ombak, kicauan burung, pasir pantai, langit penuh bintang, menyusuri sungai semalaman, menghirup udara segar, menonton biawak yang berenang-renang ke tepian.  Tanpa sinetron.  La vita e bella!

 

- Bersambung ke bagian berikutnya –

 

NB : Kalo bingung, baca dari awal aja ya...

 

wassalaamu’alaikum wr. wb. 

22 CommentsChronological   Reverse   Threaded
kpuspita wrote on Feb 20, '06
akmal said
Setelah Zhuhur, saya kembali pada jadwal yang telah saya atur sebelumnya : tidur siang! Tidur dan tidur lagi. Bangun sejenak untuk shalat Ashar, lalu langsung tidur lagi.
He..he....kirain disiplin dengan jadwal apa..eh ternyata tidur dan tidur....
akmal wrote on Feb 20, '06
lho? kalo sudah bertekad tidur ya harus tidur donk... itu namanya disiplin! apalagi kalo gara2 kurang tidur, kerja besoknya jadi terhambat... wah, gawat kan? hohohoho... :))
kpuspita wrote on Feb 20, '06
akmal said
kalo sudah bertekad tidur ya harus tidur donk...
Wow...ternyata tidur juga perlu tekad yach ...he..he.....
akmal wrote on Feb 21, '06
jelas donk... hidup ini harus penuh semangat!!!! :))
diansya wrote on Feb 21, '06
Selesai sudah baca perjalanannya. Menarik sekali ternyata hehe..selama ini dicuekin soalnya. Ditunggu lanjutannya.
akmal wrote on Feb 21, '06
weits enak aja udah selesai.. masih banyak bow... :)) kan saya survei ampe tanggal 31 Januari gitu lho... :p
arvenda wrote on Feb 21, '06
waks! masih panjang ya critanya?
gak jadi baca aah...
( .................. *kabur)
akmal wrote on Feb 21, '06
hahaha kok takut.... :p
diansya wrote on Feb 22, '06
akmal said
weits enak aja udah selesai.. masih banyak bow... :)) kan saya survei ampe tanggal 31 Januari gitu lho... :p
Lahh..
kan dibawah tertulis "ditunggu lanjutannya.."
Bakalan ada yang ge-er dah..
akmal wrote on Feb 22, '06
oh iya jg ya... hohohoho.... :)
ucix wrote on Feb 22, '06
ck ck ck ck
akmal wrote on Feb 22, '06
kok ckckck? kayak cicak aja... hehehe
rikaadinda wrote on Feb 22, '06
akmal said
Sudah, tidak usah dipikirkan. Namanya juga hiperbola.
tidak bisa! harus dipikirin! *berpikir keras*
akmal wrote on Feb 22, '06
plizzz deh (nyari2 kulkas kok gak ada ya di deket2 sini?) :p
vin4 wrote on Feb 23, '06
1. kebiasaan tidur jam 1 ampe jam 4 --> hihihihi boljug tuh ya u/diterapkan di kantor
2. 11 rb????!!!!!!!!!!!!!!! aksesnya gmn, memuaskan??
akmal wrote on Feb 23, '06
vin4 said
1. kebiasaan tidur jam 1 ampe jam 4 --> hihihihi boljug tuh ya u/diterapkan di kantor
2. 11 rb????!!!!!!!!!!!!!!! aksesnya gmn, memuaskan??
1. itu bukan kebiasaan, itu mah cuma gara2 stamina blum pulih aja abis survei 28 jam
2. sebelas ribu itu SANGAT TIDAK MEMUASKAN... tapi berhubung cuma satu2nya jadi ya konsumen gak boleh protes... warnetlah yg pegang kendali... :p
vin4 wrote on Feb 23, '06
yee Uda ih GR mulu..
kemaren mslh kulkas skrg GR-an mulu.. kebiasaan no.1 itu mksdnya kebiasaan org Sumbawa.. yeee =P bukan ngomentarin yg abis survei 28 jam *=P lagi*

bukannya bekel atuh satu warnet ke sana.. hohohohohoo
*ngabuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrr*
akmal wrote on Feb 23, '06
ciaaat!!! (lempar kulkas empat pintu yg kemaren dilempar ama mbak rika ke arah si vina)....

gedubrak! grompyang! jeleguuurrr...!!!!
vin4 wrote on Feb 23, '06
hyyyyaaaaaaat *dgn sigapnya dirikuw menghindar, g sia2 ternyata =P *, bayangin pelem Matrix ya.. yg bagian dia ngehindar dr peluru itu.

yeeee itu, kalo bunyinya kayak gitu berarti, kenanya ama Uda tuuuhhh.. noh lihat noh..
kulkasnya kan empat pintu? terusan lagi dia punya teknologi canggih yaitu bisa berfungsi kayak bumerang getu

*makin ngaco*
akmal wrote on Feb 23, '06
yg lebih ngaco dari vina? yg lebih mahal banyak...! (ingat iklan sebuah produk obat nyamuk hahaha)
vin4 wrote on Feb 23, '06
=P yg lebih ngaco? yaa Uda laaaaaaah *keukeuh*
akmal wrote on Feb 23, '06
:p :b :d :q
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help