assalaamu’alaikum wr. wb.
29.01.06
Bangun pagi, mandi, menyantap nasi goreng dan teh manis panas yang sudah disediakan oleh hotel, dan kami pun siap untuk pergi. Saya dan Pak Iwan langsung diantarkan ke Dusun Omo untuk kembali menjalani survei dua puluh delapan jam yang kedua. Rasanya ingin bermalas-malasan dan berangkat agak siang, tapi kami tidak ingin pekerjaan ini selesai menjelang Maghrib seperti tempo hari. Kalau kita memulai survei pukul sepuluh, maka semuanya akan selesai pada sekitar pukul dua siang keesokan harinya. Maghrib bisa kami lalui dengan tenang, lalu segera tidur setelah makan malam.
Begitulah rencananya.
Pukul sepuluh kami sudah tiba di Dusun Omo. Kepala saya agak sakit. Matahari bersinar cerah. Nampaknya tidak ada yang akan mengganggu kerja kami hari ini, kecuali sakit kepala ini. Mudah-mudahan tidak bertambah parah. Saya lupa bawa obat. Dasar bodoh.
Kami agak terlambat memulai survei, yaitu sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Saya memulai survei dalam keadaan sangat tidak nyaman. Saya sama sekali tidak terbiasa dengan sakit kepala. Jarang sekali saya mengalaminya. Dalam setahun biasanya hanya beberapa kali saja saya menderita sakit kepala begini. Oh, kenapa harus hari ini?
Dalam keadaan ini, tentu saja semangat saya menurun tajam. Untuk tersenyum saja sudah cukup sulit. Tentu saja hal ini mempengaruhi para anak buah kapal, dan ini jelas-jelas salah saya. Seharusnya masalah ini tidak menyeret orang lain yang tidak ada hubungannya. Inilah kesulitan menjadi pemimpin.
Entah bagaimana cara mengatasinya (atau menutupinya). Kepala saya sakit sekali, dan terik matahari semakin menambah-nambah penderitaan saja. Sepertinya matahari sedang mengejek saya. Tapi apa iya saya tega berburuk sangka kepada matahari? Dia cuma menjalankan tugasnya.
Lalu apa tugasnya? Menyiksa dan menertawakan saya?
Tentu tidak. Saya membayangkan Allah memerintahkan matahari untuk bersinar sekencang-kencangnya supaya saya bisa berlatih sebelum pergi ke Masjidil Haram. Dengan kata lain, waktu untuk menunaikan ibadah haji sudah dekat! Ah, betapa baiknya bola api raksasa yang satu ini. Sakit kepala saya tidak berkurang, tapi setidaknya saya bisa sedikit tersenyum.
Bagaimana pun, saya harus meminta Pak Iwan untuk menggantikan saya setelah tiga putaran dari muara ke peelschaal ketiga. Kepala saya terlalu sakit rasanya. Saya harus berbaring sejenak.
Matahari menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Sangat sempurna. Bahkan di bawah rindangnya pohon pun cahaya teriknya bisa mencapai tubuh saya. Angin yang bertiup pun dipanaskannya dengan baik. Ya Allah, kalau memang ini adalah latihan untuk menunaikan ibadah haji, maka saya bersaksi bahwa hamba-Mu yang satu itu – si bola api raksasa nun jauh di sana – telah menjalankan tugas yang Engkau berikan dengan tanpa cacat. Kalau saja ia adalah seorang manusia, maka ia pasti bergelar mujahid.
Tapi saya harus berusaha beradaptasi. Satu putaran survei biasanya akan diselesaikan dalam waktu kira-kira satu setengah jam. Artinya, saya punya waktu satu setengah jam sebelum Pak Iwan kembali ke muara. Waktu itu bisa digunakan untuk istirahat. Maka saya pun berbaring di atas sebuah perahu yang sudah seringkali saya jadikan tempat tidur.
Saya tetap tidak bisa tidur. Kepala ini masih sangat sakit. Tapi setidaknya saya sudah mendapatkan sedikit istirahat. Saya harus kuat. Berulang kali saya tanya pada diri sendiri : “Mau pergi ke Masjidil Haram, nggak? Kalo mau, jangan manja!!!” Saya tidak akan manja. Saya benci orang yang gampang mengeluh.
Saya bersyukur waktu Maghrib akhirnya tiba dan si raja siang akhirnya benar-benar kembali ke peraduannya. Waktu belajar saya dengannya sudah habis, untuk hari ini. Kepala saya masih sakit, tapi setidaknya sudah tidak panas terik lagi.
Selepas Maghrib, Egon dan Bambang datang berkunjung ke muara sambil membawakan nasi bungkus untuk makan malam dan setumpuk makanan kecil untuk ‘cemilan’. Makan malam cukup mengurangi rasa sakit di kepala. Entah bagaimana mekanismenya, tapi memang demikian yang terjadi. Beban pun berkurang karena sekarang ada dua orang teman tambahan untuk diajak mengobrol dan bercanda-canda.
Egon memang berniat untuk menginap dan membantu survei malam ini, tetapi Bambang harus kembali ke hotel untuk menyelesaikan pekerjaannya. Saya berhasil meyakinkan Bambang untuk ikut survei satu putaran saja setelah makan malam. Saya katakan padanya bahwa pemandangan malam hari di sepanjang sungai ini luar biasa. Dia cuma tertawa saja.
Tentu saja mata tidak akan berbohong. Akhirnya malah Bambang yang terlihat sangat menikmati perjalanan itu. Ia memang gemar jalan-jalan ke alam bebas. Saya rasa ia merasa sedikit iri karena tidak bisa semalaman menyusuri sungai. Udara sangat menyegarkan, dan langit begitu cerah. Bahkan orang yang sedang sakit kepala pun bisa merasakan keindahan ini.
Setelah satu putaran survei, Bambang pun kembali ke dusun dan pulang ke hotel bersama Pak Salamuddin. Saya minta Egon untuk menggantikan saya melakukan survei malam ini, karena kepala saya sangat sakit. Kalau besok pagi masih sakit juga, saya khawatir tidak bisa melanjutkan survei dengan baik. Karena memang Egon datang untuk membantu survei, maka ia setuju saja menggantikan saya malam itu.
Jadi, Egon mengecek salinitas sungai, sementara saya berbaring di bagian tengah perahu. Tanpa atap dan penerangan. Terombang-ambing arus sungai, dihibur oleh riak air. Saya pun tertidur seperti bayi yang ditimang-timang ibunya.
- Bersambung ke bagian selanjutnya -
NB : Kalo bingung, baca dari awal aja ya...
wassalaamu’alaikum wr. wb.