assalaamu'alaikum wr. wb.
Kritik adalah suatu interaksi yang sangat umum terjadi di antara dua orang manusia. Semakin luas pergaulan kita, semakin sering pula kita menemui pola interaksi kritik ini. Dengan adanya perbedaan pola pikir dan selera, maka bisa dipastikan bahwa tidak seorang pun yang bisa menghindar dari kritik atau mengkritik.
Kritik yang baik sudah pasti diperlukan. Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan. Para Nabi dan Rasul pun membuat kesalahan. Nabi Adam as. melakukan kesalahan hingga 'terlempar' dari surga yang serba nyaman. Nabi Yunus as. melakukan kesalahan sehingga diuji dengan 'dikurung' di dalam perut ikan agar beliau bisa merenungkan kesalahannya. Nabi Musa as. ditegur beberapa kali oleh Khidhir karena ketidaksabarannya. Nabi Muhammad saw. pun jelas-jelas pernah berbuat salah, bahkan kritik terhadap dirinya dicantumkan dengan jelas dalam ayat-ayat Al-Qur'an, misalnya pada surah 'Abasa.
Bedanya, para Nabi dan Rasul selalu dipelihara dari kesalahan. Artinya, mereka selalu mendapat teguran langsung dari Allah SWT jika mereka telah bersalah. Dengan demikian, mereka segera menyadari kesalahannya, memohon ampun kepada-Nya dan Allah pun akan segera mengampuni mereka. Keberuntungan semacam ini tidak dinikmati oleh orang awam seperti kita. Kita membutuhkan orang lain untuk memberikan kritik, agar kita sadar akan kesalahan-kesalahan kita.
Masalahnya, kemuliaan kritik ini kemudian dicemari oleh sebagian manusia yang tidak paham cara melakukannya. Mereka berlindung di balik kalimat "katakanlah kebenaran meskipun kebenaran itu pahit". Masalahnya, mereka tidak teliti membaca kalimat tersebut. Yang (mungkin) terasa pahit adalah kebenaran itu sendiri, sedangkan cara penyampaiannya jelas tidak perlu dipahit-pahitkan.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan sebelum kita melancarkan kritik kepada orang lain. Saya akan menjelaskannya dengan cara sesederhana mungkin.
Menjadi Teman Baiknya. Tidak ada orang yang suka menerima kritik dari orang yang tidak dikenalnya. Tiba-tiba saja kita muncul, dan sekonyong-konyong kita menyampaikan sederetan kritik padanya. Siapa yang mau mendengarnya? Tidak ada. Kalaupun ada, pasti ia memiliki kedewasaan yang amat sangat hebat yang barangkali tidak dimiliki oleh satu dari sejuta manusia di dunia ini.
Kita harus ingat bahwa Rasulullah saw. mendapatkan predikat "al-Amin" jauh sebelum ia menerima jabatan Rasul. Kata "al-Amin" tidak hanya berarti "bisa dipercaya", namun bisa kita teliti lebih jauh lagi. Kata ini memiliki akar kata yang sama dengan "amanah", sehingga menyiratkan makna bahwa orang yang diberi predikat "al-Amin" pastilah bersifat amanah. Artinya, ia membuat semua orang merasa nyaman pada dirinya sehingga banyak yang percaya padanya. Berbagai urusan yang sensitif bisa dipercayakan padanya karena ia senantiasa membuat orang lain merasa nyaman dan tidak khawatir. Tidak ada yang khawatir akan dikhianati olehnya, karena beliau adalah sang "al-Amin".
Dengan demikian, kalau mau mengkritik si A, maka jadilah teman baiknya terlebih dahulu. Kita harus memiliki niat baik dalam penyampaian kritik tersebut, yaitu agar si A, teman baik kita itu, terhindar dari keburukan. Si A pun akan merasa nyaman menerima kritik dari seorang teman baiknya, ketimbang dari seseorang yang berasal entah dari mana. Ini adalah fitrah manusia.
Ukur Baik-Baik. Kesalahan itu bertingkat-tingkat. Mencuri pakaian yang sedang dijemur tentu tidak sama dengan korupsi milyaran rupiah. Membunuh kambing peliharaan tetangga pun tidak sebanding dengan membunuh sang tetangga. Demikian pula masalah-masalah khilafiyah tidak semestinya ditanggapi dengan tuduhan murtad dan semacamnya. Ini adalah suatu sikap yang berlebihan. Kritiklah kesalahannya apa adanya saja, tidak perlu dilebih-lebihkan. Pada kesalahan-kesalahan yang terjadi akibat ketidaksengajaan, saya rasa tidak perlu menyampaikan kritik secara panjang lebar dengan nada yang ketus.
Setiap orang pasti membuat kesalahan. Sebesar apakah kesalahannya, relatif dibandingkan dengan kebaikannya? Barangkali si A membuat sebuah kesalahan, namun kebaikannya seratus kali lebih besar daripada kesalahannya itu. Dengan demikian, tidak perlu kita membuatnya malu dengan mempersalahkannya di depan umum atau menghakiminya seolah-olah ia tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali. Sekali lagi, ukurlah baik-baik.
Setiap Muslim Adalah Cermin. Keadaan seorang Muslim adalah gambaran dari keadaan saudara-saudara seimannya. Jika si A berbuat bejat, maka saudara-saudara sesama Muslim di sekitarnya pun harus merasa bersalah karena gagal menjaga si A dari keburukan. Karena itu, ketika mengkritik seorang saudara seiman, maka sebenarnya kita sedang mengkritik diri sendiri. Oleh karena itu, tidak pantas kita memaki-makinya atau mencela sepuas hati, karena sesungguhnya saat itu kita sedang mencela diri sendiri.
Dengan kesadaran semacam ini, maka ketika menyampaikan kritik kita akan cenderung merasakan empati dan bahkan barangkali kitalah yang akan meminta maaf pada orang yang akan kita kritik. Ketimbang ucapan "Kamu seharusnya berbuat begini dan begini", barangkali sahabat kita akan lebih senang mendengar ucapan "Maaf, seharusnya saya memperingatkan kamu untuk begini dan begini. Ini kesalahan saya juga, karena itu mari kita perbaiki sama-sama". Dijamin, persahabatan Anda akan jauh lebih bermakna!
Tidak Semua Orang Beruntung. Anda harus ingat bahwa tidak semua orang beruntung hidup dalam komunitas yang Islami dan besar dalam keluarga yang Islami pula. Karena itu, kasihanilah mereka yang tidak tergerak hatinya untuk shalat. Sebenarnya keluarga dan lingkungannya punya andil dalam kesalahan itu. Kita harus kasihan padanya, bukan malah menghakiminya sedemikian rupa.
Lagipula, sebenarnya setiap manusia memiliki fitrah berupa kecenderungan pada kebenaran. Semua orang ingin menjalani hidup yang baik sesuai aturan agama. Tidak ada orang yang dengan sengaja menjerumuskan dirinya sendiri dalam keburukan. Sebenarnya mereka ingin segera kembali ke jalan yang lurus, namun dirinya telah terbiasa dengan cara hidup dan logika yang salah. Mereka pun tengah bertempur dengan dirinya sendiri. Hargailah perlawanan mereka dan hargailah setiap kemajuan yang bisa mereka lakukan, meskipun kecil dan masih jauh dari keadaan ideal yang kita inginkan.
Anda Tidak Tahu. Percayalah, Anda tidak tahu apa yang dialami seseorang dalam hidupnya. Jika seseorang berbuat suatu kesalahan, belum tentu ia melakukannya dengan sengaja. Oleh karena itu, sebelum mengkritik, bersikaplah hati-hati. Bertanyalah terlebih dahulu mengapa ia berbuat begini dan begitu. Barangkali ia tidak sadar telah melakukannya. Barangkali ia tidak tahu bahwa hal itu dilarang oleh agama. Apakah manusia diharuskan bertanggung jawab atas hal-hal yang dilakukannya secara tidak sengaja? Tentu saja tidak!
Dengan memelihara prasangka baik pada dirinya, maka dengan sendirinya Anda pun akan terlatih untuk menyampaikan kritik dengan cara yang halus. Tidak ada manfaatnya menyakiti hati orang yang akan dikritik, karena cara itu justru membuat kritik semakin jauh dari tujuan awalnya.
Memangnya Anda Bisa? Tahu diri adalah sebuah prinsip yang harus dipegang erat-erat oleh setiap Muslim. Kita harus mempertimbangkan kapabilitas diri kita sendiri sebelum mengkritik. Pantaskah orang awam yang baru hapal satu-dua ayat mencela seorang ulama terkemuka yang dikenal berjasa? Tentu tidak. Bukan berarti ulama itu tidak mungkin salah. Masalahnya adalah si pengkritik (atau lebih tepatnya si pencela) tidak mampu berbuat lebih baik daripada sang ulama. Simaklah dialog di bawah ini :
"Anda tidak boleh begitu dong! Itu salah! Pokoknya salah!"
"Kalau memang Anda tahu solusinya, silakan gantikan saya sekarang juga. Saya ikhlas, kok!"
"Ah, tidak bisa! Itu kan bukan tugas saya!"
Menyebalkan sekali bukan? Memang sangat memuakkan melihat orang yang cuma bisa mengkritik namun tidak pernah mau repot seperti dalam dialog di atas. Kalau masalah cela-mencela ia mau ikut, tapi kalau diajak menyelesaikan solusi dia menghindar jauh-jauh. Maukah Anda menerima kritik dari orang semacam ini? Kalau mau, berarti Anda memang berjiwa besar. Tapi tidak semua orang berjiwa besar.
Lakukan yang Perlu-Perlu Saja. Kalau mau mengkritik si A, maka sampaikanlah pada si A saja. Tidak perlu overacting dengan menyebarkannya ke media massa. Jika yang dikritik adalah metode berpikirnya dalam pembuatan suatu fatwa, maka tidak perlu membawa-bawa masalah yang tidak ada relevansinya dengan hal tersebut, misalnya hal-hal pribadinya yang sebenarnya adalah masalah selera.
Kalau ingin menyampaikan suatu masalah, maka sampaikanlah apa adanya saja. Tidak perlu ditambah-tambah, dan jangan dikurang-kurangi. Tidak perlu berputar kemana-mana dan tidak perlu menyinggung hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan topik pembicaraan saat itu. Apa adanya sajalah.
* * * * * * *
Kritik adalah suatu fenomena yang tidak dapat dihindari dalam hidup kita. Karena itu, alangkah baiknya jika kita mempelajari cara terbaik dalam memberikan kritik. Bahkan seorang manusia terbaik sekaliber Rasulullah saw. pun tidak selalu diterima kritiknya oleh orang lain, padahal ia memiliki karakter yang amat menyenangkan, membuat orang merasa nyaman, dan tutur katanya amat halus. Apa lagi alasan untuk tidak mempelajari metode mengkritik?
wassalaamu'alaikum wr. wb.