assalaamu'alaikum wr. wb.
Seorang bayi ditemukan tergeletak dalam keadaan sudah menjadi mayat di sebuah sungai. Warga menemukannya menyangkut di tumpukan sampah di kaki jembatan. Sebagian anggota tubuhnya sudah hilang karena dimangsa binatang. Ditemukan pula dua buah luka tikaman di belakang leher dan dadanya. Bayi itu memang sengaja dibunuh, dan memang sengaja dibuang.
Seorang bayi lainnya dijual dengan harga tiga ratus ribu rupiah. Sekedar cukup untuk makan beberapa minggu lamanya. Demikianlah harga kesusahan selama sembilan bulan, air mata yang menetes ketika ia lahir, dan kesempatan untuk menggenggam jemari kecilnya. Tiga ratus ribu rupiah adalah harga yang dianggap pantas untuk menggadaikan status seumur hidup sebagai seorang ibu. Perempuan itu telah menjual kesempatannya untuk menikmati tawa renyah anaknya semasa kecil, kesempatan untuk melihatnya berdiri untuk pertama kalinya, mengucapkan kata pertamanya, mengantarnya ke sekolah untuk pertama kalinya, dan menyaksikan keajaiban jatuh-bangun dalam hidup anaknya. Hanya untuk tiga ratus ribu rupiah, ia mengabaikan segala kemungkinan dan melupakan semua kebahagiaan yang bisa diperolehnya. Anaknya memang benar-benar sengaja dijualnya.
Dua orang anak warga negara Indonesia yang tinggal di Kanada bersama ibunya kerap disiksa oleh sang ibu hanya karena hal-hal yang sangat sepele. Ibunya mengharapkan segalanya serba sempurna. Kedua anak itu sudah sejak lama memiliki kewajiban untuk menjadi juara, agar piala-piala mereka dapat dipajang dan dibanggakan oleh sang ibu kepada orang lain. Mereka menjalani hidup dengan jadwal serba ketat, nyaris tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup. Ibunya ingin anak-anaknya selalu jadi yang terbaik.
Dan apakah komentar mereka terhadap ibu kandungnya sendiri? "Kami benci ibu."
Sebagai seorang Muslim, saya harus percaya bahwa anak-anak itu adalah makhluk-makhluk tak bersalah. Mereka adalah makhluk yang paling suci hatinya, bersih dari segala kepalsuan. Bukan berarti segala tindakan mereka bisa dibenarkan. Hanya saja, seorang anak tidak akan melakukan suatu tindakan tanpa alasan yang jelas.
Alasan apakah yang telah membuat kedua anak itu dengan gamblangnya menyatakan kebencian pada ibunya sendiri? Apakah saya dapat memberi cap 'durhaka' pada mereka? Apakah saya bisa menyalahkan mereka karena rasa benci yang terkumpul setelah bertahun-tahun dijadikan aset oleh ibunya? Dapatkah saya mengabaikan semua alasan dan menganggap bahwa prinsip "surga ada di bawah telapak kaki ibu" masih berlaku dalam kasus ini?
Kadang-kadang orang tua lupa bahwa anak-anaknya adalah manusia, sama seperti mereka. Mereka bukanlah aset yang boleh kita eksploitasi seenaknya untuk membuat kita bangga. Mereka adalah manusia, dan semua manusia adalah milik Allah. Tugas mereka adalah beribadah kepada-Nya, bukan memperjuangkan harga diri kita.
Kadang kita lupa bahwa mereka pun memiliki hak sebagaimana manusia lainnya. Mereka berhak dimaafkan jika berbuat salah, karena keliru itu wajar. Mereka berhak diperlakukan dengan baik, karena mereka pun memiliki perasaan. Mereka berhak atas pendidikan yang baik, karena Allah telah menitipkannya pada kita.
Tidakkah engkau berpikir?
Tidakkah engkau ingat masa kecilmu dahulu, ketika engkau selalu mengotori pakaian sementara ibumu menyuapimu dengan sabar? Tidakkah engkau ingat ketika sebentar-sebentar orang-orang dewasa di sekitarmu harus mengganti celanamu karena engkau selalu ngompol? Ingatkah betapa lama waktu yang engkau butuhkan untuk belajar kencing di kamar mandi, dan bukan di dalam celana sendiri? Ingatkah ketika orangtuamu pertama kali memperbolehkanmu memegang gelas sendiri, lalu engkau lalai dan memecahkan gelas itu?
Ingatkah engkau bahwa sejak kecil dirimu selalu dikelilingi oleh orang-orang sabar?
Lalu apa harapanmu sekarang? Apakah engkau berniat membina rumah tangga yang serba menyenangkan tanpa susah sama sekali? Apakah engkau berniat menikah tanpa anak? Apakah semua kesusahan itu tidak sebanding dengan segala kebahagiaan yang mungkin engkau dapat karena kehadiran anak-anak itu?
Saya tidak dapat mengerti bagaimana kebencian bisa begitu mendominasi hati manusia. Begitu besarnya amarah sehingga orang tua bisa menyakiti anaknya sendiri. Bukankah tugas orang tua adalah melindungi anaknya - apa pun yang terjadi? Bukankah di sana letak kemuliaan orang tua? Jika engkau cabut kemuliaan tersebut, maka apa lagi yang tersisa dari dirimu selain seorang manusia yang sudah cukup dewasa untuk beranak-pinak? Apakah engkau memang sejenis binatang yang mengusir anaknya dari sarang setelah tumbuh dewasa?
Keinginan pribadi. Semuanya adalah demi keinginan pribadi. Anak-anak pun menjelma budak belian yang bertugas memberikan kesenangan pada majikannya, yaitu orang tuanya sendiri. Kita berharap anak kita begini dan begitu. Kita ingin ia segera belajar berjalan, tapi kita tidak mau mengobatinya dengan sabar ketika ia terluka. Kita ingin ia segera bicara, tapi kita tidak sabar menanggapi segala pertanyaannya. Kita ingin anak kita kuat, namun tidak mau setia menemaninya dalam segala kesusahan. Tidak ada lagi senyum dan air mata untuk mereka. Segalanya dikorbankan demi keinginan pribadi kita sebagai orang tua.
Sebenarnya, binatang macam apakah kita ini?
wassalaamu'alaikum wr. wb.