Blog EntryObrolan Pornografi dan PornoaksiMar 10, '06 11:44 AM
for everyone

assalaamu'alaikum wr. wb.

Suatu hari yang cerah di sebuah negeri kepulauan yang luas nan subur, di antara dua benua dan dua samudera, dua anak manusia terlibat obrolan yang seru tentang sebuah isu penting yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan hampir semua orang.  Waktu mengalir begitu saja, demikian pula pembicaraan mereka. 

"Ngapain sih repot-repot mikirin pornografi dan pornoaksi?"

"Lho, kok pake nanya segala?  Memangnya kenapa kalau saya mau mikirinNggak ngerugiin sampeyan, toh?"

"Kata siapa nggak rugi?  Kalau sampai dilarang bakal banyak yang rugi, tau!"

"Mungkin juga.  Tapi kalau tidak dilarang bakal lebih banyak lagi yang rugi!"

"Ah, yang bener!"

"Kamu juga yang bener dong!"

"Aku ngomong serius, lho!"

"Emang siapa yang ngajak guyon?"

"Kalau tidak boleh buka aurat, lalu nanti seniman tidak boleh menggambar tubuh telanjang lagi?  Tidak boleh memahat patung tanpa busana lagi?  Desainer tidak boleh merancang baju-baju minim lagi?"

"Bagus, kan?"

"Saya serius!"

"Lha saya juga serius!  'Kan masih banyak keindahan lain di dunia ini yang bisa dijadikan inspirasi bagi karya seni.  Memang tubuh telanjang itu indah tapi memamerkannya secara bebas itu tidak bertanggung jawab, Mas!  Bagaimana kalau yang melihatnya jadi terangsang?"

"Salah dia sendiri!"

"Kok salah?  Justru salah kalo dia nggak terangsang.  Berarti dia nggak normal!"

"Itu kan karya seni!  Keindahan!"

"Yang bilang nggak indah itu siapa, hah??  Indah sih jelas indah.  Tapi nggak halal.  Lagipula resikonya terlalu besar.  Kalaupun ada yang tidak terangsang, manusia macam itu minoritas banget!"

"Jadi perempuan tidak boleh buka aurat?"

"Jelas!"

"Tapi perempuan kan ingin nampak cantik?!"

"Jelas!"

"Saya serius!"

"Saya juga serius, monyong!  Wajar kalau perempuan ingin nampak cantik, tapi kan tidak perlu dengan membuka aurat.  Dengan menutup aurat pun mereka bisa cantik, kok!"

"Ah, masak??"

"Mas, manusia itu tergantung dalemnya, bukan luarnya.  Kalau dari dalam sudah cantik ya mau digimanain juga cantik.  Sebaliknya, kalau dari dalam sudah jelek ya mau diapa-apain juga tetap aja nggak mutu!"

"Jadi kalau laki-laki terangsang, itu salah perempuan?"

"Ya nggak selalu begitu.  Tapi kalau auratnya terbuka, ya berarti perempuannya juga salah."

"Itu kan namanya melemparkan kesalahan pada orang lain.  Perempuan kan tidak salah apa-apa.  Kalau ada laki-laki yang terangsang itu kan salah dia sendiri.  Perempuan sendiri biasa-biasa saja melihat laki-laki pake celana pendek, misalnya."

"Itu cara pikir yang tidak adil, Mas!"

"Kok bisa?"

"Ya jelas.  Hormon seksual laki-laki itu jauh lebih banyak daripada perempuan.  Tambahan lagi, laki-laki itu diberi kecenderungan untuk lebih agresif daripada lawan jenisnya.  Jadi sebuah godaan birahi yang dianggap kecil oleh perempuan bisa jadi terasa sangat besar bagi laki-laki.  Perempuan bisa saja cuek melihat laki-laki pake celana pendek, tapi kalau sebaliknya wah susah..."

"Lalu salah siapa dong?"

"Ya bukan salah siapa-siapa.  Memang begitu keadaannya."

"Tidak bisa ditawar-tawar?"

"Tawar saja sana sama Tuhan!  Kan Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan beserta spesifikasinya masing-masing.  Protes saja, kenapa laki-laki dikasih hormon seksual sedemikian banyak.  Emangnya enak terangsang sepanjang hari?"

"Kok sepanjang hari?"

"Sampeyan laki-laki atau bukan?"

"Saya laki-laki, tapi saya tidak merasa dirongrong oleh rangsangan seksual sepanjang hari."

"Kan banyak perempuan yang tidak menutup aurat di jalan-jalan?"

"Tapi saya tidak terangsang kok!"

"Yang beneeeeer....??"

"Bener!"

"Berani sumpah?  Berani dites pakai lie detector?"

"Kenapa harus begitu?"

"Berani, nggak???"

"KENAPA???"

"BERANI  ATAU  TIDAK???"

Waktu terus berjalan, hari semakin larut.  Obrolan dua orang sahabat di waktu senggang memang bisa menghanyutkan siapa saja, apalagi kalau ditemani oleh secangkir teh manis hangat dan beranda yang nyaman.  Sementara itu, manusia-manusia pengumbar aurat terus berseliweran kesana-kemari dengan penuh sukacita.  Umat manusia ditertawakan karena kenaifannya.

wassalaamu'alaikum wr. wb.



18 CommentsChronological   Reverse   Threaded
indrayogi wrote on Mar 10, '06
hehehhee cerpen yang menarik....tehnya sedep jg tuh kayanya
akmal wrote on Mar 11, '06
jelas sedep donk kalo saya yg bikin... :)) cerpen? saya kan gak bisa bikin cerpen!!! piye toh??
pipietsenja wrote on Mar 11, '06
anda sendiri bagaimana? apakah setuju atau tidaaaaak?
akmal wrote on Mar 12, '06
setuju apa nih???? kalo sama RUU APP ya jelas setuju donks... :))
akmal wrote on Mar 12, '06
eh btw... akhirnya mbak pipiet baca jurnal saya... hahahaha :))
arvenda wrote on Mar 12, '06
guud guuud... seneng bacanya neh :D
pipietsenja wrote on Mar 12, '06
waaa.... iyalah...emang gak tauk terimakasih pa
kan dikau paling sering mampir di rumah mepetsawahku hehehe...
gutlaaaak!
dukung deh tuh aturan yang memang kita butuhkan sejak berabad laluuuuu
merdekaa... meeen!
akmal wrote on Mar 12, '06
haha lucu juga denger komentarnya mbak pipiet ini... :))
ivanalbar wrote on Mar 16, '06, edited on Mar 16, '06
Klo liat aurat gak terangsang ada dua 1. Berbohong...Jika kita sering melihat sesuatu yang merangsang/pornografi hampir dipastikan terangsang (kecuali tidak normal), tapi kalau sering lihat ambang rangsang saraf ke otak menjadi lebih tinggi hingga untuk mencapai rangsangan yang sama harus melihat gambar yang lebih porno/telanjang abis..klo sampe udah gitu baru masih gak terangsang berarti udah gak normal..2. atau Memang system syaraf dan hormonalnya sudah rusak, perlu dech ke dokter dimana ambang rangsang saraf (treshold sex) tinggi sekali (awalnya kalau kita normal nilai ambang batas renda) hikmahnya ambang rangsang saraf kita jaga dari hal-hal porno agar dipersiapkan buat bermesra-mesraan dengan isteri..bnyk skrg kawin cerai karena kerusakan sistem saraf dan hormonal hingga mereka tidak lagi menikmati rangsangan tapi hanya sebuah beban..
akmal wrote on Mar 16, '06
hehehe :))
ivanalbar wrote on Mar 17, '06
Mas akmal Banyak komentar tajam artikel ku tentang gangguan jiwa = pornografi, mungkin ada kritkan dan nasehat??
akmal wrote on Mar 19, '06
ntar deh saya baca2 dulu ya... :))
abhicom2001 wrote on Mar 22, '06
SAYA TIDAK SETUJU RUUAPP!!!

tidak setuju kalo ga segera di sah kan maksudnya, hihihih ;)
akmal wrote on Mar 23, '06
hihihi kocak juga si abhi ini... :))
syawel wrote on Oct 9, '07
kayak nya lebih cantik dan lebih terhormat dari pada takut ketinggalan zaman dan gak ngerangsang orang yang lewat
aguspaijo wrote on Dec 22, '07
barang yang masih tersegel tentu terjamin isinya daripada yang udah kebukasegelnya
g14060882 wrote on Oct 12, '08
Ya iyalah. kalau beli buku di TOKO, pasti ambil yang masih di segel, bukan yang udah ke buka segelnya apalagi udah "lecek". hihihi1
sahaita wrote on Jul 28, '09
Huuaaaaaah......di Indonesia tu banyak yang pinter ngomong, artis2 tuh sekalian disuruh telanjang aja dari pada mamerin aurat tapi hanya setengah2 trus mereka juga pandai berkilah wuah...wuah....puzziiing...kenapa mereka suka pamer auraaaaaat.........
Add a Comment
   



Ingin mengadakan kajian Pemikiran Islam di sekolah, kampus, atau di masjid lingkungan Anda? Hubungi INSIGHTS (Institute for Islamic Thoughts) melalui e-mail di islam.insights@gmail.com