assalaamu’alaikum wr. wb.
Tahukah Anda dari mana kata “female” dalam bahasa Inggris berasal? Tidak diragukan lagi bahwa bangsa Inggris – sebagaimana bangsa-bangsa Eropa lainnya – menerima pengaruh bahasa yang sangat besar dari pendahulunya, yaitu bangsa Yunani. Kata “female” sendiri berakar dari kata “femina” dalam bahasa Yunani.
Lalu apakah arti kata “femina” itu sendiri?
Kata ini berasal dari dua kata, yaitu “fe” dan “minus”. “Fe” artinya “fides” atau “faith”, yang bisa diterjemahkan sebagai “kepercayaan atau iman”. Adapun kata “minus” bisa dengan mudah kita kenali maknanya sebagai “kurang”. Dengan demikian, “femina” artinya adalah “seseorang yang imannya kurang” (one with less faith). Perempuan senantiasa dianggap sebagai gender yang lebih lemah imannya daripada laki-laki.
Don’t look at me! Ask the Greeks!
Bangsa Eropa jaman dahulu menganggap kaum perempuan sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia. Anggapan ini terus lestari, setidaknya hingga abad ke-17. Sejak awal penciptaannya, perempuan memang dianggap tidak sesempurna laki-laki. Seorang penulis Jerman dari abad ke-17 bahkan pernah menulis : “Adalah sebuah kenyataan bahwa kaum wanita hanya memiliki iman yang lebih lemah (kepada Tuhan)...”. “Therefore, the female is evil by nature.” Demikian kesimpulan sang penulis tadi.
Konsep kaum hawa sebagai pendosa ini sebenarnya berasal dari pandangan umat Kristiani yang menganggap Eva bersalah karena tergoda oleh setan, dan akhirnya ikut menjerumuskan Adam dalam sebuah perbuatan dosa. Saya tidak merasa berhak mengulas konsep dalam ajaran agama lain (karena memang kurang ilmunya), tapi saya bisa memastikan bahwa konsep semacam ini tidak dianut oleh Islam.
Pertama, Al-Qur’an tidak pernah menyebut-nyebut Hawa sebagai pendosa yang lebih besar daripada Adam as. Jika kita mencermati kisah terjerumusnya Adam as. dan Hawa dalam perbuatan dosa dalam Q.S. al-A’raaf [7] : 11 – 25, jelas terlihat bahwa Iblis menggoda keduanya dan keduanya pula yang menjerumuskan dirinya masing-masing dalam perbuatan dosa tersebut. Baik Adam as. maupun Hawa sama-sama bersalah. Kisah yang serupa dalam redaksi yang berbeda dapat pula dijumpai pada surah Thaahaa (surah ke-20) dan pada bagian awal surah al-Baqarah (surah ke-2). Dari keseluruhan referensi tersebut, kita tidak menemukan bukti di mana Allah menyalahkan Hawa sebagai oknum yang membantu Iblis dalam misinya menggoda Adam as.
Kedua, kalau pun benar Hawa telah tergoda duluan dan kemudian ikut ‘menghasut’ Adam as., maka hal itu belum tentu menjadikan Hawa sebagai pihak yang lebih berdosa. Masalahnya, Adam as. telah lebih dahulu diciptakan, lebih banyak pengalaman, dan Allah SWT telah mengajarinya banyak hal. Bahkan pengetahuan yang dimilikinya telah membuat para malaikat bertekuk-lutut (lihat misalnya pada surah Q.S. al-Baqarah [2] : 31 – 33). Kita tidak menemukan bukti dalam Al-Qur’an bahwa Hawa juga diajarkan pengetahuan yang sama hebatnya dengan Adam as. Dengan bekal pengetahuan yang jauh lebih besar, maka tanggung jawabnya pun pastilah lebih besar pula.
Dalam ayat ke-37 dari surah al-Baqarah, tanggung jawab Adam as. sebagai pemimpin bahkan terlihat lebih gamblang lagi. Meskipun pada ayat sebelumnya dinyatakan bahwa keduanya telah digelincirkan oleh syaitan (yang artinya keduanya sama-sama termakan tipu daya Iblis), namun pada ayat ini Al-Qur’an mengisahkan bahwa Adam as. telah menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya dan Allah pun menerima taubatnya. Adam as. sebagai pemimpin harus mempertanggungjawabkan perbuatan dosa itu, meskipun ia dan Hawa sama-sama berbuat kesalahan.
Sebagai tambahan, baik juga disimak kisah pada Q.S. Thaahaa [20] : 120 – 121. Pada ayat ke-120, dengan jelas dinyatakan bahwa syaitan memberi inspirasi pada Adam as. untuk berbuat dosa. Anggaplah memang benar syaitan telah menggoda Hawa terlebih dahulu, tapi hal itu tidak menghapus fakta bahwa syaitan juga telah berhasil menggoda Adam as. Pada ayat berikutnya, dijelaskan bahwa keduanya (Adam as. dan Hawa) sama-sama melanggar perintah Allah, namun di akhir ayat yang sama juga diberi penekanan bahwa Adam as.-lah yang telah mendurhakai Allah dengan perbuatannya itu. Inilah resiko sebagai seorang pemimpin.
Ketiga, Islam tidak mengenal dosa turunan, apalagi dosa gender. Hanya karena Hawa telah berbuat dosa, bukan berarti setiap perempuan (hanya karena dilahirkan sebagai perempuan) juga dianggap sebagai pendosa. Lagipula, Allah SWT bukan pendendam. Masalah dosa Adam as. dan Hawa telah lama lewat, dan berulang kali dijelaskan dalam Kitab Suci-Nya yang mulia bahwa keduanya telah diampuni. Tidak ada alasan mengapa Allah harus memperpanjang masalah dengan menimpakan dosa kepada seluruh perempuan di dunia ini.
Keempat, ‘dilemparkannya’ Adam as. dan Hawa memang sudah menjadi rencana Allah sejak dulu. Sebelum keduanya diciptakan, Allah telah bercerita kepada para jin dan malaikat bahwa Dia hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tugas Adam as. dan keturunannya memang bukan di surga, melainkan di bumi. Hal ini mempertegas kembali pernyataan pada poin ketiga yang menunjukkan bahwa Allah bukanlah pendendam.
Kelima, dalam kesempatan apa pun, Al-Qur’an tidak pernah mendiskreditkan perempuan dan tidak pernah menutup peluang seorang perempuan menjadi seorang shalihah sejati. Kita bisa menengok pada Q.S. at-Tahriim [66] : 10 – 11. Pada ayat ke-10, Allah SWT menjadikan istri Nuh as. dan istri Luth as. sebagai perumpamaan perempuan-perempuan yang kafir. Pada ayat berikutnya, Allah pun menjadikan istri sang Fir’aun (yang membujuk Fir’aun agar menyelamatkan Musa as.) sebagai perumpamaan perempuan-perempuan yang beriman. Dapatkah Anda menarik pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan yang amat indah ini?
Bayangkan! Meskipun sama-sama bersuamikan seorang Nabi yang tidak diragukan kesalehannya, namun istri Nuh as. dan istri Luth as. tetap berada dalam kekafirannya hingga akhir hayat, dan Allah pun menghinakannya dengan Al-Qur’an. Di sisi lain, meskipun bersuamikan seorang pemimpin lalim yang menganggap dirinya setara dengan Tuhan, namun istri Fir’aun bisa menjaga keimanannya di dalam hati dan Allah tidak lupa untuk memberinya penghargaan dengan Al-Qur’an. Kisahnya dibaca oleh umat Islam hingga akhir jaman.
Demikianlah perempuan dalam pandangan Islam yang sebenarnya. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang sama-sama memiliki akal seperti kaum lelaki. Mereka memiliki berbagai pilihan dalam hidupnya dan bisa menentukan nasibnya sendiri. Ada perempuan yang dikelilingi oleh orang-orang saleh namun ia sendiri tetap dalam kekafiran, namun ada pula perempuan yang dikawini oleh laki-laki bejat namun ia tetap dalam keimanannya. Laki-laki atau perempuan, jika ia tunduk pada perintah Allah SWT, maka Allah tidak akan lalai memberinya ganjaran yang jauh lebih besar daripada amal-amalnya seumur hidup. Sungguh, Allah Maha Teliti, Maha Melihat, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
wassalaamu’alaikum wr. wb.