Blog EntryFemale, the SinnerMar 11, '06 4:13 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

 

Tahukah Anda dari mana kata “female” dalam bahasa Inggris berasal?  Tidak diragukan lagi bahwa bangsa Inggris – sebagaimana bangsa-bangsa Eropa lainnya – menerima pengaruh bahasa yang sangat besar dari pendahulunya, yaitu bangsa Yunani.  Kata “female” sendiri berakar dari kata “femina” dalam bahasa Yunani.

 

Lalu apakah arti kata “femina” itu sendiri?

 

Kata ini berasal dari dua kata, yaitu “fe” dan “minus”.  Fe” artinya “fides” atau “faith”, yang bisa diterjemahkan sebagai “kepercayaan atau iman”.  Adapun kata “minus” bisa dengan mudah kita kenali maknanya sebagai “kurang”.  Dengan demikian, “femina” artinya adalah “seseorang yang imannya kurang” (one with less faith).  Perempuan senantiasa dianggap sebagai gender yang lebih lemah imannya daripada laki-laki.

 

Don’t look at me!  Ask the Greeks!

 

Bangsa Eropa jaman dahulu menganggap kaum perempuan sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia.  Anggapan ini terus lestari, setidaknya hingga abad ke-17.  Sejak awal penciptaannya, perempuan memang dianggap tidak sesempurna laki-laki.  Seorang penulis Jerman dari abad ke-17 bahkan pernah menulis : “Adalah sebuah kenyataan bahwa kaum wanita hanya memiliki iman yang lebih lemah (kepada Tuhan)...”.  Therefore, the female is evil by nature.  Demikian kesimpulan sang penulis tadi.

 

Konsep kaum hawa sebagai pendosa ini sebenarnya berasal dari pandangan umat Kristiani yang menganggap Eva bersalah karena tergoda oleh setan, dan akhirnya ikut menjerumuskan Adam dalam sebuah perbuatan dosa.  Saya tidak merasa berhak mengulas konsep dalam ajaran agama lain (karena memang kurang ilmunya), tapi saya bisa memastikan bahwa konsep semacam ini tidak dianut oleh Islam.

 

Pertama, Al-Qur’an tidak pernah menyebut-nyebut Hawa sebagai pendosa yang lebih besar daripada Adam as.  Jika kita mencermati kisah terjerumusnya Adam as. dan Hawa dalam perbuatan dosa dalam Q.S. al-A’raaf [7] : 11 – 25, jelas terlihat bahwa Iblis menggoda keduanya dan keduanya pula yang menjerumuskan dirinya masing-masing dalam perbuatan dosa tersebut.  Baik Adam as. maupun Hawa sama-sama bersalah.  Kisah yang serupa dalam redaksi yang berbeda dapat pula dijumpai pada surah Thaahaa (surah ke-20) dan pada bagian awal surah al-Baqarah (surah ke-2).  Dari keseluruhan referensi tersebut, kita tidak menemukan bukti di mana Allah menyalahkan Hawa sebagai oknum yang membantu Iblis dalam misinya menggoda Adam as.

 

Kedua, kalau pun benar Hawa telah tergoda duluan dan kemudian ikut ‘menghasut’ Adam as., maka hal itu belum tentu menjadikan Hawa sebagai pihak yang lebih berdosa.  Masalahnya, Adam as. telah lebih dahulu diciptakan, lebih banyak pengalaman, dan Allah SWT telah mengajarinya banyak hal.  Bahkan pengetahuan yang dimilikinya telah membuat para malaikat bertekuk-lutut (lihat misalnya pada surah Q.S. al-Baqarah [2] : 31 – 33).  Kita tidak menemukan bukti dalam Al-Qur’an bahwa Hawa juga diajarkan pengetahuan yang sama hebatnya dengan Adam as.  Dengan bekal pengetahuan yang jauh lebih besar, maka tanggung jawabnya pun pastilah lebih besar pula.

 

Dalam ayat ke-37 dari surah al-Baqarah, tanggung jawab Adam as. sebagai pemimpin bahkan terlihat lebih gamblang lagi.  Meskipun pada ayat sebelumnya dinyatakan bahwa keduanya telah digelincirkan oleh syaitan (yang artinya keduanya sama-sama termakan tipu daya Iblis), namun pada ayat ini Al-Qur’an mengisahkan bahwa Adam as. telah menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya dan Allah pun menerima taubatnya.  Adam as. sebagai pemimpin harus mempertanggungjawabkan perbuatan dosa itu, meskipun ia dan Hawa sama-sama berbuat kesalahan.

 

Sebagai tambahan, baik juga disimak kisah pada Q.S. Thaahaa [20] : 120 – 121.  Pada ayat ke-120, dengan jelas dinyatakan bahwa syaitan memberi inspirasi pada Adam as. untuk berbuat dosa.  Anggaplah memang benar syaitan telah menggoda Hawa terlebih dahulu, tapi hal itu tidak menghapus fakta bahwa syaitan juga telah berhasil menggoda Adam as.  Pada ayat berikutnya, dijelaskan bahwa keduanya (Adam as. dan Hawa) sama-sama melanggar perintah Allah, namun di akhir ayat yang sama juga diberi penekanan bahwa Adam as.-lah yang telah mendurhakai Allah dengan perbuatannya itu.  Inilah resiko sebagai seorang pemimpin. 

 

Ketiga, Islam tidak mengenal dosa turunan, apalagi dosa gender.  Hanya karena Hawa telah berbuat dosa, bukan berarti setiap perempuan (hanya karena dilahirkan sebagai perempuan) juga dianggap sebagai pendosa.  Lagipula, Allah SWT bukan pendendam.  Masalah dosa Adam as. dan Hawa telah lama lewat, dan berulang kali dijelaskan dalam Kitab Suci-Nya yang mulia bahwa keduanya telah diampuni.  Tidak ada alasan mengapa Allah harus memperpanjang masalah dengan menimpakan dosa kepada seluruh perempuan di dunia ini.

 

Keempat, ‘dilemparkannya’ Adam as. dan Hawa memang sudah menjadi rencana Allah sejak dulu.  Sebelum keduanya diciptakan, Allah telah bercerita kepada para jin dan malaikat bahwa Dia hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi.  Tugas Adam as. dan keturunannya memang bukan di surga, melainkan di bumi.  Hal ini mempertegas kembali pernyataan pada poin ketiga yang menunjukkan bahwa Allah bukanlah pendendam.

 

Kelima, dalam kesempatan apa pun, Al-Qur’an tidak pernah mendiskreditkan perempuan dan tidak pernah menutup peluang seorang perempuan menjadi seorang shalihah sejati.  Kita bisa menengok pada Q.S. at-Tahriim [66] : 10 – 11.  Pada ayat ke-10, Allah SWT menjadikan istri Nuh as. dan istri Luth as. sebagai perumpamaan perempuan-perempuan yang kafir.  Pada ayat berikutnya, Allah pun menjadikan istri sang Fir’aun (yang membujuk Fir’aun agar menyelamatkan Musa as.) sebagai perumpamaan perempuan-perempuan yang beriman.  Dapatkah Anda menarik pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan yang amat indah ini?

 

Bayangkan!  Meskipun sama-sama bersuamikan seorang Nabi yang tidak diragukan kesalehannya, namun istri Nuh as. dan istri Luth as. tetap berada dalam kekafirannya hingga akhir hayat, dan Allah pun menghinakannya dengan Al-Qur’an.  Di sisi lain, meskipun bersuamikan seorang pemimpin lalim yang menganggap dirinya setara dengan Tuhan, namun istri Fir’aun bisa menjaga keimanannya di dalam hati dan Allah tidak lupa untuk memberinya penghargaan dengan Al-Qur’an.  Kisahnya dibaca oleh umat Islam hingga akhir jaman. 

 

Demikianlah perempuan dalam pandangan Islam yang sebenarnya.  Mereka adalah hamba-hamba Allah yang sama-sama memiliki akal seperti kaum lelaki.  Mereka memiliki berbagai pilihan dalam hidupnya dan bisa menentukan nasibnya sendiri.  Ada perempuan yang dikelilingi oleh orang-orang saleh namun ia sendiri tetap dalam kekafiran, namun ada pula perempuan yang dikawini oleh laki-laki bejat namun ia tetap dalam keimanannya.  Laki-laki atau perempuan, jika ia tunduk pada perintah Allah SWT, maka Allah tidak akan lalai memberinya ganjaran yang jauh lebih besar daripada amal-amalnya seumur hidup.  Sungguh, Allah Maha Teliti, Maha Melihat, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

 

wassalaamu’alaikum wr. wb.



fitrtanjuang wrote on Mar 11, '06
Setuju bang. Tetap Adam yang lebih besar tanggung jawabnya. Lagipula, dosa tsb memang 'strategi' Allah aja agar Adam nggak protes waktu diturunkan ke dunia...wallahu a'lam.

Tapi kalau female = minus iman, male = apa dong?...minus aja...hahaha
ladymotts wrote on Mar 11, '06
huehehe... aku juga kepikiran gitu ..
akmal wrote on Mar 12, '06
haha ya gak tau... saya kan bukan orang Yunani... tanya tuh sama orang Yunani... tapi denger2 sih istilah 'male' muncul belakangan setelah 'femina', dan katanya gak ada hubungannya sama bahasa Yunani... tapi gak tau ah... bodo amat... orang Yunani memang gila... hahahahaha....
cepshadur wrote on Mar 12, '06
Setuju bang. Tetap Adam yang lebih besar tanggung jawabnya. Lagipula, dosa tsb memang 'strategi' Allah aja agar Adam nggak protes waktu diturunkan ke dunia...wallahu a'lam.
hi,,,hi,,hii
emangnya pas nabi Adam di sorga udah ada itung-itungan dosa ??
koq gusti Alloh maen licik-licikan gitu pake strategi,segala
fitrtanjuang wrote on Mar 12, '06
hi,,,hi,,hii
emangnya pas nabi Adam di sorga udah ada itung-itungan dosa ??
koq gusti Alloh maen licik-licikan gitu pake strategi,segala
Nggak tau juga mas...
Aku tidak mengatakan Allah licik. Tapi manusia khan suka membantah. Bayangkan aja Adam yang sudah enak2 di surga lalu disuruh turun ke dunia....

Kalau bukan dosa waktu itu, tentu nggak ada kalimat tobat dari Adam setelah itu.
Tapi kalau sorga, lalu kenapa ada pohon larangan segala ya??
Wallahu a'lam
akmal wrote on Mar 12, '06
saya tidak tau deh rencana Allah bagaimana... yg jelas ditempatkannya Nabi Adam as. di bumi memang sudah direncanakan sebelum Adam as. diciptakan kan? jadi terlepas dari 'hukuman', maka hal itu bukan suatu hal yg di luar rencana Allah...

emang ada gituh hal yg di luar rencana Allah?? :))

anyway, soal pohon larangan banyak penafsiran sih... ada yg menafsirkan bahwa itu bukan pohon beneran, tapi sebuah istilah saja...
papaemarvel wrote on Apr 23, '06
maaf ya mas akmal, di dalam kristen juga tidak mengenal "dosa turunan". Sebab jika kita sudah bertobat, dosa itu sudah diampuni. Apalagi ada istilah dosa gender. Bukan untuk berdebat, tapi sebagai pengetahuan saja.
wikan wrote on Apr 23, '06
Dari online etymology (http://www.etymonline.com)
(etymology adalah ilmu yang mempelajari asal muasal kata)

female (n.) Look up female at Dictionary.com
c.1315, from O.Fr. femelle, from M.L. femella "a female," from L. femella "young female, girl," dim. of femina "woman" (see feminine). Sense extended in V.L. from humans to female of other animals. Spelling alt. late 14c. on mistaken parallel of male. Reference to sockets, etc., is from 1669.

penjelasan : female berasal dari bahasa Prancis kuno femelle, artinya wanita muda, gadis.

feminine Look up feminine at Dictionary.com
c.1384, "of the female sex," from O.Fr. feminin, from L. femininus "feminine" (in the grammatical sense at first), from femina "woman, female," lit. "she who suckles," from base of felare "to suck, suckle" (see fecund). Sense of "woman-like, proper to or characteristic of women" is recorded from c.1440. Feminism is from 1851, but meant at first "state of being feminine;" sense of "advocacy of women's rights" is 1895. Feminist is 1894, from Fr. féministe (1872).

penjelasan : feminine berarti "dari jenis kelamin perempuan" berasal dari bahasa Prancis kuno "feminin", dari bahasa Latin femininus, femina berarti orang yang menyusui.

female itu umum digunakan untuk manusia (perempuan) maupun binatang (betina).

kalau "femina" itu majalah ibu saya jaman dulu :)
akmal wrote on Apr 27, '06
secara terbuka memang di Kristen tdk disebutkan yg namanya dosa gender... tapi cerita soal 'Adam and Eve' versi Kristen memang menyebutkan bahwa Eve duluan tergoda sama bujukan Iblis dan kemudian ikut mengajak Adam melanggar perintah Tuhan... cara berpikir ini kemudian terbawa2 kemana-mana, dan pada kenyataannya memang perempuan dijadikan manusia kelas dua pada masa lalu di Eropa pada masa pra-Renaissance...

lalu asal-muasal kata "femina" sendiri memang sulit dirunut... belum tentu pemaparan seperti yg saya tulis benar, tapi belum tentu juga yg dari online etymology itu benar... yg jelas pendapat bahwa perempuan adalah makhluk yg imannya lebih lemah itu memang benar2 pernah diungkapkan oleh seorang penulis Jerman dari abad ke-17 tadi... saya lupa namanya, nanti saya cek lagi ya... bukunya masih ada kok di rumah... :))

kenapa saya bilang online etymology dan sumber2 lainnya belum tentu benar? ya tentu saja, karena kan mereka belum ada saat kata "femina" itu digunakan utk pertama kalinya... tul gak?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help