Blog EntrySedikit Pemikiran Tentang Khusyu'Mar 12, '06 7:06 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

 

Khusyu’ dalam shalat adalah impian setiap Muslim.  Keadaan semacam ini telah banyak diceritakan dalam kisah-kisah inspiratif dari masa lampau yang mengundang decak kagum.  Sebutlah misalnya tentang seorang sahabat Rasulullah saw. yang tubuhnya tertembus panah, kemudian ia minta agar panah tersebut dicabut ketika ia sedang shalat saja.  Ketika anak panah itu dicabut, ia seolah tidak merasakan sakit sama sekali lantaran khusyu’ dalam shalatnya.

 

Gerangan kondisi semacam apakah khusyu’ itu sebenarnya?  Apakah khusyu’ itu berarti tidak memikirkan apa pun selain shalat?  Apakah kita seharusnya tidak mempedulikan hal-hal duniawi ketika shalat?

 

Anggapan bahwa orang yang shalat dengan khusyu’ hanya memfokuskan pikirannya pada satu kegiatan (yaitu shalat) agaknya malah terbantahkan dengan berbagai teladan yang dilakukan sendiri oleh Rasulullah saw.  Beliau bahkan pernah melakukan shalat sambil mengasuh anaknya.  Ketika berdiri, anak itu digendongnya, dan ketika ruku’ atau sujud, anak itu pun diturunkannya.  Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa beliau telah membagi pikirannya ketika shalat.  Di lain pihak, kita tidak mungkin menuduh Rasulullah saw. telah melaksanakan shalat dengan tidak khusyu’.  Kalau beliau saja tidak khusyu’, lalu siapa yang bisa melakukannya?

 

Di lain kesempatan, Rasulullah saw. juga pernah mempersingkat shalat berjamaah yang dipimpinnya karena mendengar tangisan seorang anak.  Beliau mempersingkat shalat karena sadar bahwa sang ibu pastilah merasa khawatir karena mendengar tangisan anaknya.  Artinya, beliau sempat berpikir dan membuat keputusan penting ketika sedang melakukan shalat.  Sekali lagi, Rasulullah saw. adalah contoh terbaik dalam hal shalat khusyu’.  Hal ini tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

 

Jadi, bagaimanakah khusyu’ itu sebenarnya?

 

Memusatkan pikiran kepada satu hal dalam shalat agaknya tidaklah dimungkinkan.  Shalat itu sendiri terdiri dari berbagai gerakan dan bacaan.  Kita harus mengendalikan ucapan kita, membaca doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur’an menurut aturan tertentu, dan hal itu pasti menuntut pembagian konsentrasi.  Demikian pula pengaturan gerakan pastilah memerlukan kesadaran yang cukup.  Jika kita melepaskan kesadaran dalam segala hal, maka barangkali shalat kita akan tampak seperti tari-tarian orang yang menelan ekstasi atau orang yang sedang kesurupan.  Tapi shalat tidak seperti demikian.  Shalat adalah rangkaian perbuatan yang dilakukan secara teratur dengan penuh kesadaran.

 

Sebagai seorang hamba yang penguasaannya terhadap Al-Qur’an masih sangat minim, tidak ada pilihan lain bagi saya kecuali mengutip dua buah ayat yang sudah sangat terkenal mengenai shalat :

 

Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.  Dan sesungguhnya shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.  (Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menjumpai Rabb mereka dan sesungguhnya mereka akan kembali kepada-Nya.  (Q.S. al-Baqarah [2] : 45 – 46)

 

Hati saya sedikit terhibur karena Allah SWT sendiri mengatakan bahwa shalat itu berat (yang artinya memang seharusnya kita merasa bahwa shalat itu adalah suatu ibadah yang cukup kompleks).  Pada ayat ke-45 di atas, Allah menegaskan bahwa hanya orang-orang yang khusyu’ sajalah yang bisa mendapatkan manfaat terbesar dalam shalat.  Ayat selanjutnya memberi kita informasi yang kita butuhkan untuk memahami makna khusyu’ yang sebenarnya.

 

Cukup sederhana, ternyata.  Mereka yang khusyu’ ditandai oleh sebuah sifat : yakin bahwa dirinya akan menjumpai Allah (dalam shalat) dan suatu hari nanti akan kembali kepada-Nya.  Sederhana, tapi bukan perkara yang mudah.

 

Hal ini kemudian membawa kita pada berbagai konsekuensi.  Barangkali perlu dibuat berjilid-jilid buku untuk menjabarkan keseluruhan konsekuensi dari khusyu’ tersebut.  Yang jelas, mereka yang khusyu’ ditandai oleh sikap khidmatnya yang luar biasa ketika sedang melaksanakan shalat, karena mereka yakin bahwa mereka tengah ‘berjumpa’ dengan Rabb-nya, yaitu Dzat yang memiliki dirinya dan menjadi satu-satunya tempat kembali untuknya kelak.  Tentu saja masih banyak sikap lainnya yang akan muncul di luar shalat sebagai konsekuensi dari keyakinan ini, namun itu masalah lain lagi.

 

Sekarang kita telah memiliki sedikit gambaran mengenai sikap khusyu’ dalam shalat.  Konkretnya, kita harus meyakini bahwa ketika shalat kita sedang menghadap Allah SWT, bukan yang lain.  Dengan demikian, kita harus mengatur setiap ucapan dan gerakan kita.

 

Sebagai perbandingan, anggaplah Anda sedang berbincang-bincang dengan seorang ulama yang paling Anda hormati.  Bagaimanakah sikap Anda?  Tentu Anda akan mengatur ucapan Anda, khawatir kalau-kalau Anda akan memberikan kesan buruk di hadapannya.  Setiap kata yang mengalir dari mulut akan dipilih baik-baik dan diusahakan terucap dengan sejelas mungkin.  Tidak terburu-buru, tapi juga tidak terlalu lambat. 

 

Bagaimana dengan bahasa tubuh Anda?  Tentu saja Anda tidak akan bergerak serampangan.  Anda tidak akan mengobrol dengannya sekedar basa-basi.  Anda tentu akan berbincang-bincang dengan sangat serius dan tidak membuat gerakan yang tidak perlu.  Anda tidak akan menggaruk-garuk ketiak di hadapan seseorang yang amat dihormati, bukan?

 

Sekarang refleksikanlah sikap tersebut dengan shalat Anda!  Tentu saja Allah SWT jauh lebih mulia daripada ulama mana pun, bahkan Dia-lah Yang Maha Mulia, tidak ada bandingannya dengan apa pun.  Jika kita mengatur ucapan dan gerak-gerik kita di hadapan seorang ulama, lebih-lebih lagi di hadapan Allah!

 

Kita berdiri tegak untuk shalat dengan postur yang sempurna layaknya prajurit yang akan melaksanakan upacara bendera.  Kita bersiap untuk melakukan sesuatu yang amat formal.  Ketika akan bertemu Allah SWT, tentu saja kita dituntut untuk mengatur sikap.  Kita menundukkan wajah kita, menatap ke arah sujud karena rasa takut dan khidmat kepada Allah.  Kehadiran-Nya bisa dirasakan di seluruh ruangan, bahkan seluruh alam berkhidmat kepada-Nya.

 

Kemudian mulailah kita mengangkat tangan untuk takbiratul ihram.  Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu dilambat-lambatkan.  Gunakanlah waktu secukupnya untuk tetap merasakan kehadiran-Nya.  Setelah itu, mulailah membaca surah Al-Fatihah dan seterusnya dengan tertib.  Tidak boleh ada kata yang salah terucap, huruf yang tidak jelas makhraj-nya, kalimat yang tidak jelas maknanya, bacaan yang kita tidak mengerti maksudnya, dan penuturannya pun harus terlantun dengan indah bagaikan lagu.  Kita tengah berhadapan dengan Allah.

 

Setelah selesai membaca Al-Fatihah dan beberapa ayat tambahan, maka kita mulai melakukan ruku’.  Gerakan ini tidak dimulai jika bacaan kita belum selesai.  Sebaliknya, bacaan ruku’ pun tidak dilakukan sebelum kita benar-benar sampai pada posisi akhir ruku’ tersebut.  Segalanya harus tertib dan formal.  Di hadapan kita ada Allah Yang Maha Melihat.

 

Selanjutnya, setiap gerakan dan bacaan harus dilakukan dengan tertib, tidak saling mengejar dan memburu.  Selesaikan sebuah gerakan, baru membaca doa.  Selesaikan doa, baru melakukan gerakan berikutnya.  Tidak boleh ada overlap dalam sebuah ibadah formal.  Ini tidak main-main.  Demikian seterusnya hingga akhirnya kita mengucapkan salam sebagai tanda selesainya ibadah shalat.  Setiap rukun shalat harus ditunaikan sebaik mungkin, serapi mungkin, dan tertib.

 

Barangkali sahabat yang tertusuk anak panah tadi juga merasa sakit ketika anak panah itu dicabut dari tubuhnya ketika shalat.  Hanya saja, ia begitu merasa takut di hadapan Allah dan berusaha sedemikian kerasnya untuk bersikap tertib ketika shalat.  Ia tidak berani untuk sekedar mengaduh atau meringis kesakitan.  Ia tahu persis bahwa shalat adalah ibadah yang bukan main-main.  Ini ibadah serius.

 

wassalaamu’alaikum wr. wb.



cepshadur wrote on Mar 12, '06
kira-kira sama enggak ,,,
khusyu,,,,
konsentrasi,,,
serius,,,
dengan mengerti / meresapi
akmal wrote on Mar 12, '06
hmmm tipis2 bedanya, tapi mirip2... :) saya juga belum mengerti sepenuhnya, jadi masih belajar... yg terbaik yg bisa saya lakukan sekarang adalah menghayati keberadaan Allah dan mengatur tindakan serta ucapan dlm shalat agar bisa melakukannya sebaik mungkin... sejauh ini baru segitu aja sih...

minim banget ya? :)
farranasir wrote on Mar 13, '06
seru-nya kalo jadwal kuliah mepet. jam 12.30 baru keluar, belom makan dan harus masuk lagi jam 1
wadah... sholatnya ngacir...
teori sih mudah, tapi praktiknya susah, mas.
bahkan ada yang bilang, "saya ikut pelatihan sholat khusyu' kok malah nggak khusyu'?"
??
akmal wrote on Mar 13, '06
seru-nya kalo jadwal kuliah mepet. jam 12.30 baru keluar, belom makan dan harus masuk lagi jam 1
wadah... sholatnya ngacir...
teori sih mudah, tapi praktiknya susah, mas.
bahkan ada yang bilang, "saya ikut pelatihan sholat khusyu' kok malah nggak khusyu'?"
??
Allah saja sudah bilang shalat itu berat... masak sih kita mo bilang gampang? hehehe... :))
3misi wrote on Oct 8, '06
menambahkan, coba lihat kembali hadist Nabi SAW. yang menerangkan bahwa Barang siapa yang melakukan sholat dua rakaat dan tidak memikirkan dunia, maka akan diampuni dosa - dosanya yang telah lalu. di samping itu coba perhatikan hadist Nabi SAW. yang menerangkan bahwa ketika seseorang melakukan sholat maka Allah menghadapkan Wajah-Nya hingga orang tersebut memalingkan wajahnya dari Allah SWT. Nabi SAW. adalah orang paling khusyu meskipun Beliau melakukan hal lain dalam sholatnya, tetapi hatinya tak pernah berpaling. begitu pula kaitannya dengan yang kedua,berpaling dari Allah SWT. bukan berarti tak memikirkan yang lainnya, bagaimana dengan melakukan sesuatu karena Allah SWT. apakah bisa dikatakan dengan berpaling???
intinya klo belum sanggup seperti Nabi SAW. ya sholat yang khidmat, tenang,sadar,dan mencoba selalu mengingat Allah SWT, liat tentang tujuan sholat.
akmal wrote on Oct 8, '06
3misi said
menambahkan, coba lihat kembali hadist Nabi SAW. yang menerangkan bahwa Barang siapa yang melakukan sholat dua rakaat dan tidak memikirkan dunia, maka akan diampuni dosa - dosanya yang telah lalu. di samping itu coba perhatikan hadist Nabi SAW. yang menerangkan bahwa ketika seseorang melakukan sholat maka Allah menghadapkan Wajah-Nya hingga orang tersebut memalingkan wajahnya dari Allah SWT. Nabi SAW. adalah orang paling khusyu meskipun Beliau melakukan hal lain dalam sholatnya, tetapi hatinya tak pernah berpaling. begitu pula kaitannya dengan yang kedua,berpaling dari Allah SWT. bukan berarti tak memikirkan yang lainnya, bagaimana dengan melakukan sesuatu karena Allah SWT. apakah bisa dikatakan dengan berpaling???
intinya klo belum sanggup seperti Nabi SAW. ya sholat yang khidmat, tenang,sadar,dan mencoba selalu mengingat Allah SWT, liat tentang tujuan sholat.
ya begitulah, memang khusyu' itu masih sangat misterius buat kita semua... saya sendiri belum mengerti kecuali sedikit sekali... makanya utk sementara saya fokuskan pada rukun shalat dan ketertiban pelaksanaannya dulu... dari sini secara gak langsung juga berarti konsentrasinya akan bagus... tapi yah, saya rasa belum mencapai makna khusyu' yg sebenarnya...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help