Blog EntryKendaliFeb 6, '05 11:34 PM
for everyone
assalaamu'alaikum wr. wb.

Membiarkan seekor kuda di padang rumput sangat mudah, membunuhnya pun tidak sulit. Tanamkan saja peluru di kepalanya, ia akan segera takluk. Tapi mengendalikan seekor kuda yang tadinya liar, itulah lambang kerasnya kehidupan seorang koboi.

Menjadi seorang pengecut atau seorang pembunuh berdarah dingin berarti melepaskan diri dari segala tanggung jawab sebagai hamba Allah SWT. Kita bisa saja dengan mudah menumpahkan segala emosi yang muncul di dada, melampiaskan kemarahan pada siapa saja yang muncul di depan mata. Kita pun bisa selalu lari dari segala masalah, mengabaikan segala kenyataan, atau bunuh diri sekalian. Tapi orang-orang besar tidak dibesarkan dengan cara demikian.

Tidak ada manusia yang menjadi besar, kecuali ia dibesarkan oleh konflik. Setiap konflik yang mewarnai hidupnya adalah ajang uji kelayakan baginya untuk naik tingkat, naik derajat dan naik level ke posisi yang lebih tinggi. Tidak ada kenaikan tingkat tanpa uji kelayakan yang sesuai. Tidak ada promosi dan kenaikan gaji tanpa prestasi dan konsistensi.

Seiap situasi adalah ujian. Keberhasilan menguji kita dengan sebuah godaan untuk bersikap takabbur. Kegagalan menguji keberanian kita untuk menghadapi kenyataan dan kebesaran hati untuk memulai semuanya kembali. Kalau malas memikirkan ujian, bertindaklah semaunya.

Tidak ada susahnya memperoleh makanan ketika lapar. Selalu ada pilihan untuk merampasnya dari orang lain. Tidak ada sulitnya untuk 'menikmati' amarah ketika ia datang merasuki pikiran. Kita bisa melayangkan pukulan pada siapa saja, dan tidak perlu peduli pada akibatnya.

Hal tersulit dalam hidup manusia adalah memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Kita punya hak untuk marah, sedih dan senang, tapi di sisi lain, kita pun wajib untuk mengendalikannya. Kita pun wajar merasa lapar, lelah dan bosan, tapi wajib pula menolak untuk dikendalikan olehnya.

Umat Islam sudah sejak jauh-jauh hari diajarkan untuk mengendalikan dirinya sendiri. Senyenyak apa pun tidur, dia harus bangun di pagi yang dingin untuk melaksanakan shalat Subuh. Segiat apa pun bekerja, ia harus berhenti lagi untuk Zhuhur. Di akhir pekerjaan, ia menunaikan shalat Ashar. Menjelang malam, ia kembali shalat Maghrib, dan sebelum waktunya tidur, ia pun shalat Isya.

Setelah 11 bulan makan kenyang, tiba Ramadhan. Setiap Muslim yang sehat harus segera meninggalkan kebiasaannya dan bershaum. Musim panas, musim dingin, semuanya harus dihadapi dengan hati lapang ketika bershaum. Tidak ada keluhan sama sekali.

Seorang Muslim boleh marah, tapi haram memaki. Seorang Muslim boleh menangis, tapi najis baginya untuk mengutuki nasib. Seorang Muslim pun wajar merasa senang dan bahagia, tapi tidak boleh lalai.

Kita menyaksikan kekejaman film-film India dan Mandarin yang nyaris selalu diwarnai oleh unsur balas dendam. Bagi sebagian orang, amarah harus dilampiaskan dengan cara yang sesadis mungkin, sekalian untuk menikmati egonya sendiri. Revenge is so sweet in the movies...

Kita juga melihat sinetron-sinetron Indonesia yang gemar sekali menjadikan tokoh utamanya sebagai objek kekejaman orang lain. Kenyataannya, orang-orang melankolis merasakan sedikit kebahagiaan dalam penderitaannya. Dengan penderitaan, mereka merasa diperhatikan dan dikasihani oleh orang lain. Itulah sebabnya Indonesia terus menerus jadi bangsa yang mengemis belas kasihan bangsa lain.

Film-film Hollwood lain lagi. Mereka dengan gigih memperlihatkan segala kesenangan hidup mereka, seolah-olah semua warga AS merasa bahagia dalam hidupnya. Seolah-olah mereka hidup dalam suasana yang begitu menyenangkan, mengabaikan fakta-fakta tingginya tingkat pemerkosaan dan perceraian, tingginya tingkat obesitas, tingginya jumlah penderita kanker akibat fast food, dan tingginya tingkat kriminal secara keseluruhan. Mereka berusaha keras mengajak kita untuk bersenang-senang dengan cara mereka, supaya kita pun bisa merasakan pahitnya cara hidup mereka.

Umat Islam tidak boleh mudah marah, karena marah tidak pernah menyelesaikan masalah, tidak pula memuaskan. Kita pun tidak boleh larut dalam sedih, karena waktu tidak boleh terbuang percuma. Ketika senang, kita pun tidak berlebihan, karena segala kesenangan pasti menemui akhirnya.

Umat Islam adalah umat yang paling siap menghadapi segala kesulitan hidupnya. Kita diajarkan untuk selalu bersikap realistis dan mampu mengendalikan diri dalam segala situasi, seberat apa pun. Tidak ada masalah yang tidak terpecahkan oleh Allah, dan tidak ada kekhawatiran di sisi Allah. Tidak ada umat lain yang dianugerahi hal semacam ini.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help