assalaamu’alaikum wr. wb.
Perang sudah dikobarkan sejak dulu. Pada era perang dingin, tidak ada yang ditakuti selain dua kekuatan raksasa yang mewakili dua ideologi besar di dunia ini, yaitu AS dan Uni Soviet. Pasca runtuhnya Uni Soviet – ketika satu persatu negara-negara jajahannya memisahkan diri – tinggallah AS sendiri di puncak kejayaannya. Tapi, duduk di sebuah singgasana juga menimbulkan masalah baru, yaitu merayapnya rasa takut akan jatuh. Semakin tinggi kita menempatkan diri, semakin keras pula jatuhnya. Hanya Allah-lah yang abadi di dunia ini.
Dunia menyaksikan betapa AS menjadi seperti kesurupan menghantam sana-sini. Bangsa itu terjebak dengan paranoianya sendiri. Tentu saja kehilangan sebuah mobil Jaguar tidak sama dengan kehilangan sebuah mobil minibus bobrok keluaran tahun 80-an. Karena terbiasa dengan hidup enak sebagai ‘pemimpin dunia’, kini AS menganggap semua orang hendak meruntuhkannya. Akibatnya, serangan pendahuluan (pre-emptive attack) menjadi ideologi baru. Karena ketakutannya sendiri, kini semua bangsa benar-benar memusuhinya.
Jangan pikir bahwa George W. Bush benar-benar disukai oleh rakyatnya sendiri. Jumlah pemilih di AS tidak sampai separuh dari jumlah total rakyatnya. Karena itu, bisa dibayangkan betapa kecil dukungan sebenarnya terhadap sang presiden. Bisa dibilang ia menang hanya karena dua hal : (1) lawan politiknya sama bodohnya atau bahkan lebih bodoh lagi, dan (2) rakyatnya sudah tidak peduli lagi pada keadaan bangsanya.
Poin kedua ini nampaknya lebih gamblang terlihat. Sekarang, rakyat AS disibukkan dengan gaya hidup kaum kapitalis. Mereka begitu sibuk mencari cara untuk bersenang-senang, hingga akhirnya mencoba banyak hal yang tidak bisa diterima akal. Jangan heran kalau pesta seks sudah menjadi hal yang biasa, sedangkan nyaris semua remaja di sana setidaknya pernah mencoba mengkonsumsi narkoba. Sementara sebagian manusia sudah merasa cukup senang dengan menyaksikan keindahan alam, mereka sudah tidak mampu merasakannya lagi. Mereka butuh banyak hal untuk membuat mereka senang.
Di luar segala kesenangan yang nampak memabukkan itu sebenarnya tersembunyi jiwa-jiwa yang tidak tahu harus mengiba kepada siapa. Mereka manghabiskan minggunya dalam setumpuk pekerjaan yang tidak dicintainya, bergaul dengan orang-orang yang tidak lagi merasa wajib bersikap menyenangkan kepada sesama, berusaha memenuhi target-target yang nampak kurang manusiawi, kemudian pulang ke rumah untuk menemui istri yang cuma bisa marah-marah dan anak yang tenggelam dalam permainan videogame-nya. Hiburan sehari-harinya? Menonton televisi, menyaksikan sejumlah manusia cantik dan tampan yang (kelihatannya) hidup serbaenak, serbamudah, dan serbasenang. Hanya dengan berlenggak-lenggok sedikit, jika punya wajah dan tubuh yang enak dilihat, mereka bisa hidup bergelimang harta. Dunia hiburan tidak lagi menghibur, melainkan justru menimbulkan sebentuk depresi baru bagi jiwa para penonton.
Tapi apakah benar para selebriti itu memiliki hidup yang enak? Mari lihat fakta-faktanya. Kate Moss tenggelam dalam narkoba. Brad Pitt dan Angelina Jolie tidak bisa hidup tenang karena banyak orang tidak bisa memaafkan mereka sebagai pasangan selingkuh. Paris Hilton selalu disorot media karena dua hal, yaitu fakta bahwa dirinya adalah calon pewaris kerajaan bisnis Hilton, dan karena banyak orang menganggapnya sebagai perempuan terbodoh di planet ini. Belum lagi paparazzi. Entah sudah berapa banyak orang yang sudah mereka buat jengkel. Inikah hidup yang kita idam-idamkan?
Kehidupan masyarakat AS sudah hancur sehancur-hancurnya. Apa pun kata kaum liberal, perempuan tetaplah perempuan. Jumlah pemerkosaan meningkat dari tahun ke tahun. Mereka yang tidak pernah diperkosa pun belum tentu memiliki hidup yang lebih menyenangkan. Sekarang, rata-rata remaja berumur 15 tahun di AS sudah tidak perawan dan perjaka lagi. Perempuan tetaplah perempuan. Meskipun melakukan hubungan seks secara sukarela, tetap saja mereka akan merasakan sakit bukan main ketika pacarnya memutuskan untuk meninggalkannya lagi. Apa pun pendapat kaum liberal, perempuan pasti menjadi korban dalam gaya hidup seperti ini.
Ketika perceraian sudah menjadi hal yang biasa, maka bisa dibayangkan bagaimana hancurnya hidup anak-anak di negara itu. Ketika kedua orang tuanya bertengkar, maka korban yang keadaannya paling menyedihkan adalah anak-anaknya sendiri. Ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, siapakah yang lebih depresi daripada anak-anak?
Akhirnya, pernikahan menjadi sebuah pilihan yang kurang disukai. Mereka cenderung menunda-nunda pernikahan hingga di atas umur 30. Pernikahan tidak lagi bermakna, karena tanpa nikah pun mereka sudah melakukan hubungan intim dengan bebasnya, bahkan hidup bersama. Mereka malas punya anak karena takut akan mempersulit hidupnya. Padahal, ada sedemikian banyak manusia lain di dunia ini yang menganggap bahwa anak-anak akan membahagiakan hidup mereka. Tapi mereka tidak memahaminya. This is american way of life!
Kini, apa yang mereka dapatkan setelah sukses menginvasi Afghanistan dan Irak? Perlawanan dari rakyatnya sendiri! Persis seperti ‘kesuksesan’ perang Vietnam yang dijawab dengan gelombang demo rakyat AS sendiri. Ibu-ibu mengamuk karena anak-anaknya dikirim ke Irak hanya untuk menemui ajalnya sendiri. Padahal tidak ada bukti bahwa Irak berencana mengirim senjata pemusnah masal ke AS. Tidak ada bukti bahwa Irak bisa mengancam kehidupan di AS. Anak-anak mereka dikirim ke sana hanya agar George W. Bush bisa mendapatkan lebih banyak minyak.
Kekejaman tentara AS yang diabadikan oleh berbagai rekaman video dan foto bahkan mengundang gelombang kebencian yang lebih besar lagi. Sekarang semua orang merasa terancam dengan arogansi Amerika. Bahkan Inggris yang dulu menjadi sekutunya kini mulai merasa terancam. Jika AS terus dibiarkan merajalela, apa jaminannya ia akan membiarkan negara-negara lain hidup tenang? Bangsa-bangsa Eropa yang biasanya selalu kompak dengan keturunannya di AS kini tidak lagi mendukung sepenuhnya. Kepemimpinan George W. Bush berhasil menanamkan citra pada bangsa Amerika sebagai bangsa yang paling dibenci di dunia.
Sesungguhnya, gelombang yang mereka ciptakan kini tengah berbalik arah. AS yang begitu gemar memojokkan Islam kini harus menghadapi kenyataan bahwa Islam-lah agama yang paling pesat perkembangannya di sana. Hanya dengan cara bagi-bagi Al-Qur’an secara gratis di tempat-tempat umum saja, sudah banyak yang memutuskan untuk masuk Islam. Ini adalah sebuah kenyataan statistik.
Eropa pun kini mengalami hal yang kurang lebih sama. Mereka menghina Rasulullah saw. dengan menampilkan karikatur-karikatur nista, namun justru muncul aksi solidaritas yang begitu mengerikan di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan Denmark – negara yang memulai penghinaan ini – mengalami kerugian besar. Aksi demonstrasi terjadi di mana-mana, kadang anarkis, namun kebanyakan justru mengundang simpati masyarakat dunia. Islam menjadi pusat perhatian semua orang. Keinginan mereka untuk menyingkirkan umat Islam dari pergaulan dunia telah gagal total.
Kita bisa melihat gejala semacam ini dimana-mana. Kota Padang yang pernah diguncang pemurtadan paksa kini berubah menjadi sangat religius. Setiap murid sekolah diwajibkan mengenakan pakaian yang menutup auratnya. Kaum liberalis yang menyangka dirinya paling pintar sedunia kini mendapatkan perlawanan dari mana-mana. Ketika Ulil Abshar Abdalla menghina MUI, Muhammadiyah dan NU bersatu-padu mengusirnya. Umat Islam menunjukkan persatuannya justru ketika menghadapi musuh bersama semacam ini.
Pergerakan Islam muncul dimana-mana, apalagi di dunia politik. Tidak ada yang bisa mencegahnya. Ketika Jusuf Kalla mendiskreditkan nama-nama besar seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb dan Abdullah ‘Azzam, maka sekonyong-konyong semua aktifis Islam mengingkari ucapannya itu. Semua orang tahu bahwa aksi terorisme di Indonesia hanyalah rekayasa untuk menyudutkan umat Islam. Rekayasa siapa? Tanya saja pada Israel, biangnya adu domba di dunia ini.
Sementara semua majalah berlomba menampilkan perempuan-perempuan tidak tahu malu berbikini, sekarang malah muncul gelombang dukungan terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Semakin keras mereka berusaha, semakin kuat pula umat Islam memasang kuda-kudanya. RUU ini masih diperjuangkan, dan dengan intrik-intrik politik tertentu, bisa saja gagal digolkan. Akan tetapi, gelombang dominasi Islam akan terus berlanjut. Ini barulah awal dari segalanya.
Sekarang apa lagi yang kita tunggu? Hamas yang begitu dibenci oleh Zionis dan AS justru menang mutlak pada pemilu di Palestina. Ikhwanul Muslimin yang ratusan aktifisnya dipenjara tanpa pengadilan malah muncul sebagai oposisi paling berbahaya. Iran berdiri tegar tanpa takut menghadapi setiap celaan musuh-musuhnya. PKS yang difitnah disana-sini kini terlihat sebagai satu-satunya partai berhaluan Islam yang benar-benar eksis di percaturan politik nasional. Hizbut Tahrir yang dianggap ekstremis malah menjamur di banyak negara. Gelombang penolakan jilbab menghadapi perlawanan dimana-mana. Salam disebarkan dimana-mana, jilbab panjang pun menjadi biasa.
Sebentar lagi Islam akan kembali pada kejayaannya. Dengan atau tanpa kita. Anda bisa bergabung dalam barisan, atau duduk di tribun penonton. Atau barangkali Anda ingin menjadi penghalang yang akan segera dilibas?
wassalaamu’alaikum wr. wb.