 | Ruqyah? | Mar 14, '06 9:21 PM for everyone |
assalaamu'alaikum wr. wb.
Mendefinisikan Ruqyah
Ruqyah adalah fenomena tersendiri. Hal pertama yang paling menyentak pikiran adalah nama "ruqyah" sendiri yang artinya secara harfiah adalah "mantera" atau "jampi-jampi". Masalahnya, sejak dulu saya tidak percaya pada mantera atau jampi-jampi, dan saya tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari Islam. Adapun doa, jelas berbeda dengan mantera.
Perbedaan mencolok dari makna "doa" dan "mantera" itu sendiri, menurut saya, terletak pada 'otoritas' yang menjamin keberhasilan doa dan mantera tersebut dan konsekuensi yang dihasilkannya. Jika kita menyebut kata "doa", maka jelas otoritas penentunya adalah Tuhan, dan konsekuensinya adalah kita tidak dapat memastikan hasil dari doa tersebut. Segala keputusan ada di tangan Allah SWT. Tidak ada yang bisa mengintervensi-Nya. Allah dapat menolak untuk mengabulkan doa manusia untuk berbagai alasan, dan tidak ada yang bisa mencegah-Nya. Inilah ajaran Islam. Adapun kata "mantera" memberi kesan bagaikan sebuah kata sandi, yang jika disebutkan maka pasti akan tercapai tujuannya. Justru kata mantera inilah yang lebih dekat kepada kesan sihir dan ilmu hitam.
Tentu saja kita tidak boleh terpaku pada makna harfiahnya saja. Jika kita hanya memperhatikan arti harfiah seperti ini, maka "shalat" hanyalah serangkaian doa tanpa aturan gerakan, sedangkan "shaum" hanyalah menahan tanpa penjelasan lebih lanjut, karena memang demikianlah artinya. Kita perlu meneliti maksud di balik istilah tersebut.
Yang jelas, mantera sudah ada sebelum Rasulullah saw. memulai dakwahnya. Barangkali inilah alasan penamaan "ruqyah", agar tidak terlalu asing di telinga masyarakat Arab pada masa itu, meskipun definisinya (barangkali) berbeda. Tapi tetap saja, sekali lagi, saya tidak percaya Islam mengajarkan mantera.
Ada banyak alasan mengapa saya tidak mempercayai mantera, antara lain :
-
Kalau memang ada mantera, maka Rasulullah saw. adalah orang pertama yang menguasainya. Jalan hidup Rasulullah saw. yang berliku-liku justru menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan hal-hal instan semacam mantera. Kalau pun ada mukjizat yang terjadi secara instan, itu bukanlah hasil dari sebuah mantera, melainkan doa. Jadi urutannya adalah merendahkan diri di hadapan Allah, memohon kesediaan-Nya untuk melimpahkan mukjizat, dan jika Allah berkenan, maka dikabulkanlah permohonan itu. Harap dicatat, tidak semua doa manusia akan dijawab, apalagi secara instan.
-
Penggunaan sebagian ayat Al-Qur'an sebagai mantera sementara sisanya tidak sebagai mantera adalah suatu keanehan tersendiri. Apakah ayat-ayat itu berbeda nilainya? Sebagai seorang Muslim, saya tidak bisa menerima 'ketidakadilan' semacam ini. Setiap ayat Al-Qur'an memiliki hikmah yang mendalam dan semuanya pasti bermanfaat untuk dipikirkan.
-
Apakah Allah berkehendak memberikan solusi serba instan kepada manusia? Saya rasa tidak. Kita bisa lihat sendiri pada ajaran-ajaran Islam yang jelas menekankan pada proses, bukan hasil. Konsep mantera sebenarnya justru menunjukkan seolah-olah Islam berorientasi pada hasil. Jika demikian, maka pastilah Islam akan menunjukkan penghargaannya pada 'kesuksesan mencari nafkah', bukan pada 'kelelahan mencari nafkah'.
Jadi bagaimanakah definisi ruqyah sebenarnya?
Para aktifis ruqyah sering merujuk pada berbagai riwayat di mana Rasulullah saw. merestui beberapa sahabat membacakan beberapa ayat Al-Qur'an untuk melawan bisa hewan atau menangani kesurupan. Jika memang riwayat ini bisa dipertanggungjawabkan alias shahih, tentu kita tidak perlu mempertanyakan lagi kevalidannya. Tapi lagi-lagi perlu dipertanyakan definisi dari ruqyah itu sendiri.
Kenyataannya, banyak orang yang pernah memanfaatkan ruqyah atau bahkan aktifis ruqyah sendiri yang tidak paham definisi ruqyah itu sendiri. Jawaban tipikal yang pertama diberikan adalah "memperdengarkan beberapa ayat Al-Qur'an (sesuai yang diriwayatkan pada hadits) kepada pasien sehingga gangguan pada dirinya (baik dari bisa hewan atau dari jin) bisa lenyap". Jika demikian, maka pertanyaan kemudian berkembang lagi : "jadi yang menyebabkan gangguan-gangguan itu lenyap apa?".
Dari sini, ada dua jawaban tipikal. Yang satu menjawab "ayat-ayat itulah yang memiliki kekuatan sehingga gangguan-gangguan itu pergi", kemudian yang lain menjawab "Allah SWT-lah yang mengusir gangguan-gangguan itu". Jawaban yang pertama sudah jelas salah. Ayat-ayat Al-Qur'an tidak memiliki kekuatan apa pun selain kekuatan kebenaran. Anda bisa membacakan ayat-ayat Al-Qur'an sementara peluru musuh menerjang, tapi jangan salahkan takdir jika maut tetap datang. Jawaban ini tidak bisa diterima, karena begitu banyak contoh yang menunjukkan bahwa pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an tidak bisa menolak musibah, meskipun ada juga sebagian kecil kasus yang menunjukkan bahwa terjadi sesuatu setelah ayat-ayat itu dibacakan.
Meski kedengarannya ideal, jawaban kedua pun bukannya tanpa masalah. Memang benar bahwa Allah SWT pastilah merupakan 'oknum' di belakang segala sesuatunya. Musibah adalah keputusan Allah, penyakit dan peperangan pun merupakan keputusan Allah, demikian juga kesembuhan dan perdamaian. Jawaban itu memang benar, tetapi rancu dengan perbuatannya sendiri. Kalau memang kita mengharapkan pertolongan Allah, maka mengapa ayat-ayat Al-Qur'an itu perlu dibacakan dengan cukup nyaring? Bukankah Allah Maha Mendengar? Semestinya, jika jawaban kedua ini yang dipergunakan, maka ruqyah tidak mesti diperdengarkan kepada 'pasien', tapi cukup dalam hati saja, asalkan khusyu'.
Masih ada masalah lain lagi. Kalau memang yang dimintai pertolongan adalah Allah SWT, maka mengapa harus ada ayat-ayat tertentu yang dibacakan? Bukankah doa (sekali lagi, bukan mantera) di luar ibadah-ibadah maudhu' tidak perlu menggunakan aturan-aturan yang kaku terhadap aspek-aspek redaksionalnya? Seharusnya, ruqyah tidak perlu dibatasi dengan bacaan-bacaan tertentu (meskipun dianjurkan mengikuti apa yang disunnahkan oleh Rasulullah saw.), karena Allah mengerti segala bahasa dan gerak-gerik dalam hati, bahkan ketika lidah belum selesai mengucap doa tersebut.
Pada titik ini, biasanya saya akan dicap ingkar sunnah dan berbagai tuduhan yang keji. Padahal saya tidak pernah bermaksud demikian. Jika saja mereka mau bertanya sebelum menuduh, saya akan memaparkan beberapa poin berikut :
-
Diamnya Rasulullah saw. belum tentu menunjukkan bahwa hal yang didiamkan itu benar-benar disukainya. Islam juga mengajarkan berbagai hal dalam masalah perbudakan, namun perbudakan itu sendiri tidak disukai oleh Islam. Yusuf al-Qaradhawi berfatwa bahwa Islam pada prinsipinya melarang perbudakan. Hanya saja, jika larangan ini disampaikan secara gamblang, maka para pemuka kaum di masa itu tidak akan rela masuk Islam karena harus memerdekakan budak-budaknya. Sebagai gantinya, maka banyak sekali aturan dalam Islam yang mengharuskan untuk memerdekakan budak, misalnya sebagai 'denda' akibat melakukan beberapa jenis pelanggaran dalam ibadah. Jadi, diamnya Rasulullah saw. ketika menyaksikan para sahabatnya melakukan ruqyah belum bisa disimpulkan sebagai justifikasi terhadap ruqyah itu sendiri. Bisa jadi ada penafsiran lain atas sikap Rasulullah saw. ini. Jika ruqyah dilakukan bukan dengan ayat-ayat Al-Qur'an, bisa dipastikan Rasulullah saw. akan segera menghentikannya. Namun karena yang digunakan adalah ayat-ayat Al-Qur'an dan para sahabat tersebut memang tidak bermaksud buruk dengan melakukannya (tidak untuk tujuan syirik), maka beliau pun mendiamkannya. Ini pun adalah sebuah penafsiran.
-
Yang saya tidak setujui adalah konsep mantera, bukan ruqyah itu sendiri. Kita perlu menelaah ruqyah yang dilakukan oleh para sahabat dahulu kala. Dalam hemat saya, para sahabat yang di-tarbiyah langsung oleh Rasulullah saw. tidak akan mungkin terjebak dalam perilaku syirik seperti mantera. Pastilah ada maksud lain dalam praktek ruqyah tersebut, dan jelas tidak sekedar cuap-cuap beberapa ayat lalu masalah pun beres.
-
Ketika saya mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut tidak mengandung kekuatan (kecuali kekuatan kebenaran), maka bukan berarti saya mengingkari sunnah. Hanya saja perlu pemikiran ulang mengenai ruqyah itu sendiri. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa ayat-ayat Al-Qur'an memiliki kekuatan semacam itu. Jika benar demikian, maka tentu kaum orientalis yang juga banyak menghapal Al-Qur'an juga memiliki kekuatan untuk meruqyah. Menurut saya, ayat-ayat itu berfungsi untuk mengkondisikan diri manusia sehingga khusyu' kepada Allah SWT dan secara tidak langsung juga berfungsi sebagai doa, kemudian Allah pun berkenan mengabulkan doa tersebut. Kalau ayat-ayat itu mengandung kekuatan, maka orang-orang yang asal ucap pun bisa melakukan ruqyah. Padahal, kenyataannya tidak demikian, bukan?
Argumen ketiga adalah yang paling tidak terbantahkan (menurut saya). Ayat-ayat Al-Qur'an terbukti tidak membawa manfaat di tangan orang-orang fasik. Ayat-ayat itu tidak membuat kaum orientalis yang menghapalnya mendapatkan hidayah. Jadi jelaslah bahwa kekuatan bukanlah berasal dari ayat-ayat tersebut. Maka patahlah konsep mantera tadi.
Sayangnya, di lapangan, konsep mantera inilah yang banyak dipercaya oleh orang. Islam menjadi agama yang (seolah) serba instan. Padahal, segala sesuatu ada prosesnya. Saya jamin, mengucapkan ayat-ayat ruqyah seribu kali dengan hati yang dipenuhi kemusyrikan tidak akan membawa manfaat apa-apa. Sebaliknya, sebuah doa polos dengan bahasa hati yang tulus, kerendahan hati di hadapan Allah, dan meluncur dari kedalaman hati orang yang benar-benar bertakwa akan sampai juga kepada Allah, karena Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. Inilah konsep yang benar.
Aksi Segelintir Oknum
Seorang aktifis ruqyah yang bernama Perdana Ahmad (24) dijatuhi hukuman penjara selama dua bulan dengan masa percobaan lima bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Yogyakarta yang diketuai oleh Zubaidah S.H. Hukuman ini diberikan kepadanya lantaran terdakwa terbukti secara meyakinkan melanggar Pasal 310 KUHP jo Pasal 335 KUHP dengan tulisannya dalam buku yang berjudul "Membongkar Kesesatan Praktik Sihir pada Reiki, Tenaga Dalam dan Ilmu Kesesatan".
Dalam bukunya itu, Perdana Ahmad menyebut praktik pengobatan bio energi yang dilakukan pelapor, Syaiful M. Maghsri, dianggap menggunakan ilmu sihir jin dan setan. Padahal, menurut pelapor, dirinya dalam praktik pengobatan tersebut tidak pernah melakukan seperti apa yang dituduhkan Perdana Ahmad. Dalam sidang terpisah, Syaiful M. Maghsri juga dinyatakan sebagai terdakwa karena telah melakukan penganiayaan terhadap Perdana Ahmad.
Apa yang terjadi kemudian?
Kantor pengobatan alternatif bio energi di Yogyakarta pada hari Kamis (09/03) didatangi oleh sekitar 200 orang massa bersenjata tajam, bersorban dan bercadar, serta mengatasnamakan dirinya sebagai Laskar Jihad dan berbagai ormas lainnya. Massa langsung masuk dan mencari Syaiful M. Maghsri, bahkan sempat meneror karyawannya. Berbagai properti di tempat tersebut juga sempat dirusak. Aksi baru berhenti setelah kedatangan satu peleton Poltabes Yogyakarta.
Di Bantul, rumah Syaiful M. Maghsri pun tidak luput dari serangan. Rumahnya dilempari oleh bom molotov oleh orang-orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor dan mobil. Akibatnya, mobil sedan Syaiful rusak, kaca-kaca jendela pecah, dan atapnya terbakar. Seseorang yang menyebut dirinya sebagai 'simpatisan Perdana Ahmad' menyatakan dirinya bangga telah terlibat dalam aksi demikian. Pengakuan itu disampaikannya pada milis terapi ruqyah yang memang Perdana Ahmad aktif di dalamnya.
Demikianlah aksi sebagian orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai pembela ruqyah. Saya tidak hendak memojokkan para aktifis ruqyah karena kejadian ini, karena saya sendiri kenal beberapa orang aktifis ruqyah yang memiliki pemahaman yang lurus, tidak emosional, mampu mendefinisikan pemahamannya dengan baik, dan tidak kebablasan dalam bertindak atau berfatwa. Saya juga tidak hendak ikut campur dalam masalah antara Perdana Ahmad dengan Syaiful M. Mughsri. Silakan Anda menilai sendiri dari kejadian ini.
Yang jelas, meskipun orang-orang telah memberi gelar keulamaan, dan meskipun sudah banyak ayat Al-Qur'an dan Al-Hadits yang telah kita hapalkan, namun kebijaksanaan dan kedewasaan itu mutlak diperlukan. Sesungguhnya Rasulullah saw. tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq.
wassalaamu'alaikum wr. wb.
 | tulisannya bisa dijadikan bahan pemikiran & pertimbangan. tapi secara pribadi masih agak bingung sih. ntar baca berulang kali dulu kali ya.. |
 | akmal wrote on Mar 15, '06 tulisannya bisa dijadikan bahan pemikiran & pertimbangan. tapi secara pribadi masih agak bingung sih. ntar baca berulang kali dulu kali ya..  jelas perlu dipikirkan donk... rugi donk saya nulis panjang2 kalo gak dipikirin... hehehe... |
 | ruqyah.....
udah setengah abad aku hidup, dalam lingkungan islam baru akhir2 ini aja aku denger tentang ruqyah.
|
 | akmal wrote on Mar 15, '06 ruqyah.....
udah setengah abad aku hidup, dalam lingkungan islam baru akhir2 ini aja aku denger tentang ruqyah.  komentarnya singkat, padat, menohok dan menarik... :)) makasih om... |
 | Akh Akmal.. coba baca artikel di link ini dech.. http://fatwa-ulama.com/baru/content/view/28/60/ --> 'ain = pandangan tajam penuh dengki... isinya tentang ruqyah.. saya juga sedang membaca kitab Syarah Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.. di sana juga diterangkan mengenai ruqyah.. hanya saja saya belum baca sampe bagian itu.. :D |
 | akmal wrote on Mar 15, '06, edited on Mar 15, '06 iya saya ngerti kok soal ain hasad... :)) |
 | akmal wrote on Mar 15, '06 sekali lagi saya tidak menggugat ruqyah, tapi PEMAHAMAN orang soal ruqyah... saya memandang ruqyah itu doa, bukan mantera... dengan demikian, poin terpentingnya bukanlah ayat2 yg dibacanya (meskipun tidak salah mengikuti bacaan2 yg diriwayatkan oleh periwayatan yg shahih), melainkan ke-KHUSYU'-annya... jadi sama saja dgn doa2 dan ibadah2 yg lain kan? |
 | sepengetahuan gw istilah ruqyah terangkat keatas sejak ada pemburu hantu deh :D, sblmnya boro2 tahu... tapi melihat orang diruqyah secara langsung sebulan yg lalu di rumah kakak gw :) |
 | akmal wrote on Mar 16, '06 lalu tanggapannya gimana mbak? |
 | pengetahuan gw masih sangat sedikit mal, gw ga berani menanggapi nanti ujung2nya gw lo ajak berdebat, keok gw :D. yg aku lihat ya waktu temennya ponakan di "sadarkan" (keknya lebih pas dibanding ruqyah kl emang secara harfiah artinya mantera), kakak gw membacakan beberapa ayat, tapi tidak dengan keras (seperti yg sering gw lihat di tv, biasanya bacaannya keras2) dan membuang "makhluk lain" yang entah gimana caranya :D memang agak sulit di mengerti, terutama oleh gw. tahu ahh mal..... |
 | akmal wrote on Mar 16, '06 hehe saya gak ngajak berdebat kok... seperti saya bilang, saya gak menggugat ruqyah, tapi pemahaman kita pada ruqyah... kalo yg mbak lihat itu tidak ada yg aneh2 ya syukurlah... insya Allah itu tergolong ruqyah yg benar... tapi ada juga yg salah kan? dari tulisan mbak sendiri sebenarnya secara implisit sudah terlihat bahwa mbak agak kurang sreg dgn sebagian praktek ruqyah... sebagian lho... :)) |
 | akmal wrote on Mar 16, '06 hehehe... :) memang banyak hal yg belum kita mengerti... |
 | kalo kasus SMU PGRI 2 Banjarmasin itu apa gara-gara ngobatinnya pake mantra ya makanya nggak sembuh-sembuh? |
 | akmal wrote on Mar 21, '06 wah gak tau ya kasus SMU PGRI 2 Banjarmasin itu... yg saya tau sih ada yg kesurupan masal di Padang, Banjarmasin, trus ada dua kota lagi apa ya? lupa euy... :)) saya gak tau masalahnya apa, jadi blum bisa ngasi penilaian sama sekali... :)) |
 | akmal wrote on Mar 21, '06 pengumuman, pengumuman....!!! seorang teman saya telah mengirimkan artikel ini ke milis terapi ruqyah... apa komentarnya???
saya dihubung2kan dengan JIL Malaysia....
yah, biar Allah SWT, para malaikat, mas Indra, mas Jonru, mas Budi, mas Ridha sekeluarga, mbak Tyo, mbak Dini dan temennya (aduh lupa namanya euy), dan segala hewan plus tetumbuhan yang ada di rumah mas Indra waktu itu jadi saksi deh... silakan menilai sendiri apakah saya ini ada koneksi sama JIL atau tidak... hahahaha... |
 | hi hi hi hi...kebiasaan org2 yg entah beneran simpatisan ruqyah atau cuma provokator bayaran yaitu mudah menuduh alias memfitnah...masak k'Akmal dianggap JIL ?? Ada2 aja aah...hi hi hi hi
|
 | mas akmal.. tanpa sengaja saya masuk ke site ini dan baca artikel ini. saya juga ikutan milis terapi ruqyah. yang dituduh ada hubungan sama JIL itu bukan mas Akmal tapi mas Fisip (bukan dituduh sih... dicurigai) kita percaya kok mas akmal gak ada hubungan sama JIL sa-encret-pun hehehe
yang saya lihat sih... orang melihat ruqyah setelah melihat para team pemburu hantu.. terus ada juga setelah melihat team Maunah Ilahi dan lain lain. tapi itu bukan ruqyah yang betul..kalau seperti itu sih saya juga nggak setuju dengan Ruqyah(mantra) mereka.
ingat ada "Ruqyah Syar iyah" ada juga "Ruqyah Syirkiyah" orang masih sering keliru antara Ruqyah Syar'iyah dengan Ruqyah Syirkiyah. kelihatannya sih sama-sama baca Alquran, pakai pakaian dan title Kiyai, ustadz dll tapi ada beberapa bagian yang tidak sama yang sebenarnya dilarang dalam Ruqyah Syariyah. seperti adanya deteksi2 energi...terawangan, dateksi penyakit pake tenaga metafisik.bersentuhan fisik langsung dengan non muhrim dll. itu yang disangka ruqyah Syar'iyah. maka wajar aja banyak orang curiga bahwa Ruqyah itu hubungannya sama sihir & mantera. padahalkan itu yng ruqyah syirkiyah |
 | akmal wrote on Apr 27, '06 saya tau kok definisi itu... saya cuma meng-clear-kan di sini bahwa kalau mau ruqyah, harap mengerti dulu lah konsepnya... silakan baca di atas deh, saya gak mendiskreditkan ruqyah kan? yg saya pertanyakan adalah KONSEP tentang ruqyah dlm benak kita...
analoginya gini deh... apakah shalat hanya sekedar serangkaian 'jurus' (gerakan2 tertentu) dan 'mantra' (bacaan2 tertentu), lantas kalau melaksanakannya kita PASTI terhindar dari perbuatan keji dan munkar? kalau konsepnya begini saya yakin banyak umat Islam yg ngamuk, termasuk juga saya... tentu saja shalat bukan sekedar 'jurus' dan 'mantra'... shalat yg seperti itu tdk menjamin kita bebas dari perbuatan keji dan munkar... bener gak? nah sama saja dgn ruqyah... walaupun arti harfiahnya adalah 'mantra', tapi ruqyah yg dibenarkan dalam Islam PASTILAH bukan sekedar 'mantra'... masih ada hal lain yg perlu diperhatikan dlm pelaksanaannya, misalnya niat dan tentu saja berkaitan erat dgn KONSEP tadi... apakah ruqyah dianggap sbg mantra yg pasti berhasil mengusir jin? kalo gitu malah jadi syirik donk... meskipun bacaannya sesuai periwayatan yg benar tp kalo konsepnya begitu tetap saja syirik jadinya... jadi ruqyah harus dipahami tdk ubahnya seperti doa... kita berdoa, tapi Allah-lah yg punya hak membuat keputusan... bacaan2 itu bukan mantra, tapi permohonan yg tulus kepada Allah...
begitu lho maksud saya... :)) kalo pemburu hantu sih dah jelas dukun berpakaian kyai itu mah... saya gak mau membicarakan mereka dan sejenisnya lah... hehe :)) |
 | waduh...takutnya jadi polemik nih... maaf ya. saya nggak bermaksud ke situ sebetulnya saya setuju kok (para pro ruqyah juga setuju) bahwa KONSEP Ruqyah itu BUKAN SEKEDAR "mantra". makanya walaupun namanya Ruqyah tetapi gak pernah ada yang mau pakai istilah mantra. para praktisi Ruqyah (yang benar) juga nggak pernah sesumbar bahwa dgn ruqyah Pasti berhasil mengusir jin. tapi harus berusaha yakin bahwa pertolongan Allah pasti ada jadi intinya sama dengan berdoa (tergantung Allah mengabulkan atau tidak) eh.... kok sama ya ...hehehe jadi yang berbeda apa?.... ooh yang beda itu sebagian orang yang menafsirkan ruqyah Hanya sebatas "mantera" ... kenapa begitu?...ya karena banyak hal sih ...salah satunya ya karena seperti itu..pengaruh dari dukun2 berpakaian kiyai (yg bawa2 nama ruqyah) jadinya banyak orang awam berpikiran bahwa ruqyah itu identik dengan mantera. begitu maksud saya.. jadi betul pendapat kang Akmal bahwa perlu diluruskan dulu KONSEP Ruqyah itu terutama kepada orang awam. para peruqyah yang handal pasti udah pada ngerti-lah konsep itu.... udah pada di-training dulu kok hehe.. |
 | akmal wrote on May 5, '06 ah belum tentu juga mas... soalnya sekarang banyak jg yg ngaku2 ruqyah tapi ujung2nya jinnya dimasukin ke botol lah, dimasukkan ke batu lalu dikubur lah, trus tiba2 ada sesajennya lah... saya bikin tulisan ini supaya org2 tdk lantas 'terpaku' sama nama ruqyah, tapi telaah dululah konsepnya... belum tentu yg menyebut dirinya 'ruqyah' itu ruqyah beneran, sebagaimana banyak jg yg menyebut dirinya Muslim padahal tdk benar2 beriman, kan?? |
 | ya itulah.. itulah yang disebut ruqyah Syirkiyah tapi yang jelas.. ruqyah Syar iyah itu ada ruqyah Syar iyah itu pasti dan harus sesuai dgn konsep seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW. kalo ujung2 nya jin dimasukin ke botol na itulah ruqyah syirkiyah itu |
 | akmal wrote on May 5, '06 jadi apa sih yg kita perdebatkan? hahaha :D |
 | nggak ada perdebatan kok kang... kita bincang- bincang biasa aja :) obrolan ringan aja saya rasa tulisan kang akmal ini merupakan masukan yang bagus untuk peruqyah. yah... siapa tahu aja masih ada praktisi ruqyah yang masih kurang pemahamannya tentang ruqyah syar'iyah. maklum manusia nggak ada yg sempurna. mudah mudahan ada praktisi ruqyah yang baca tulisannya kang Akmal ini. kalau saya sih bukan peruqyah/praktisi ruqyah .. saya mah orang awam aja yg lagi senang menyimak fenomena ruqyah ini. ;) |
 | akmal wrote on May 9, '06 hehehe saya senang kalo semua peruqyah bisa bersikap santai seperti Anda :) |
 | Dari dulu aku kepengen dirugyah tapi aku selalu ragu (aku takut disiksa) . |
 | akmal wrote on Nov 9, '06 Dari dulu aku kepengen dirugyah tapi aku selalu ragu (aku takut disiksa) .  hehehe tuh kan, kesan yg ada di mata (sebagian) masyarakat seperti itu... bahan evaluasi nih buat para aktifis ruqyah... :) |
 | Tulisannya bagus dan kritis....kekuatan mantra, setahu saya mantra itu syah - syah aja tergantung dipergunakan untuk apa...kalau untuk kebaikan tidak masalah tetapi kalau untuk keburukan itu yang jadi masalah....anggap saja mantra sebagai keilmuwan. Saya tidak menyalahkan jika banyak orang meragukannya dan menganggap mantra itu klenik...karena mereka menggunakan kaidah otak kiri bukan menggunakan otak kanan. kalau paranormal - paranormal (bukan hanya dipandang sebagai pekerjaan) menggunakan otak kanan lalu untuk mensosialisasikan mereka menggunakan kaidah otak kiri...Mantra sendiri menurut saya bukanlah instan, karena untuk bisa mendapatkan hasil dari sebuah mantra perlu banyak latihan dan itupun memakan waktu....Tidak ada sesuatupun yang instan memanglah benar, hanya saja ada yang lebih cepat tetapi jelas bukan instan. mantra bagi saya sifatnya netral nah yang menjadi buruk tidaknya adalah penggunaan mantra tersebut dan kepercayaan pada mantra tersebut. kalau mantra dijadikan sebagai sugesti dan keberhasilan mantra tersebut tetap diserahkan kepada Sang Pencipta ya tidak masalah...kalau masalah syrik sih jika menyekutukan Allah dan meyakini ada kekuatan lain selain dari-Nya. Asal ketika membaca mantra, di hati tetap mempercayai Sang Pencipta dan menjadikan mantra sebagai salah satu usaha untuk tercapainya tujuan kemudian menyerahkan diri kepada Sang Pencpta atas keberhasilan mantra tersebut ya bukanlah tindakan syirik, karena mempercayai bahwa kekuatan dari mantra tersebut berasal dai Sang Pencipta....kalau penggerak mantra tersebut adalah Jin ya tidak masalah, karena Jin juga berasal dari-Nya...bereskan...intinya mempercayai kekuatan dari-NYa. Jujur saja terapi ruqyah saya tidak setuju, karena seringkali tidak menggunakan pola pengetahuan yang luas...seringkali terapi tersebut untuk mengusir jin yang terdapat di dalam tubuh seseorang, tetapi mereka kadang lupa konsep dari Jin dan makhluk halus...kalau saja mereka banyak yang mengetahinya maka mereka tidak melakukan tindakan yang tergolong kasar pada terapi yang mereka lakukan. |
 | Bukankah dalam tubuh manusia terdapat Jin yang sering disebut sebagai Jin Korim dan itu memang ditugaskan oleh Sang Pencipta untuk mendampingi manusia...Jin itu banyak macamnya, Jin itu ada yang memiliki bentuk tetapi ada juga yang tidak memiliki bentuk...Memang bentuk seasli- aslinya Jin hanya Sang Pencipta yang mengetahuinya....yang tidak memiliki bentuk contohnya Jin Angin yang ditugaskan Sang pencipta untuk menggerakkan angin. Yang dihirup manusia bisa jadi Jin Angin bukan angin sebenarnya. Berbahaya tidak?...jelas tidak, karena Jin Angin akan keluar lagi lagipula mereka tidak berbahaya karena tugas mereka membantu pergerakan angin yang secara langsung membantu persediaan udara untuk bangsa manusia...Jin kok dimusuhi.....Terapi Ruqyah yang kasar tidak saya setujui, karena sering sekali terapi mereka menyakiti jasad....Jin itu bentuk yang asli adalah energi. Tindakan tolol terapi mengeluarkan Jin (energi) dengan menyakiti jasad ya dengan energi juga dong...Do'a juga punya energi karena berasal dari Sang Pencipta....Seringloh Jin yang terdapat di dalam tubuh manusia yang di ruqyah menololi Si Peruqyah dan yang diruqyah...karena sifatnya berbeda bo...Sifat Fisik dengan Non Fisik... |
 | FAFIRU ILALLAH,kembalilah kepada ALLAH SWT dan berdoalah hanya padaNya karena doa yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan oleh Dia dengan segera ataupun dengan tertunda. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini kalau kita sudah dekat dengan Yang Maha Kuasa.Semua yang ada itu bisa terjadi atas izin dan kekuasaan ALLAH SWT. |
 | Ass Wr Wb.. MAS Mohon ijin untuk ikut sharing..ya ,begini ..Saya sudah banyak membaca buku tentang Rugyah mulai dari judul dialog dengan jin muslim, cara islam mengobati gangguan sihir & jin,dll yang sejenis terakhir yang saya baca adalah 2 buku karangan Perdana Ahmad.."membongkar kesesatan Reiki..." & "Kesaksian para praktisi Ilmu metafisika (kisah kisah Pertaubatannya)".Saya juga pernah ikut menjadi pasien Rugyah massal di Masjid Agung Surabaya..tahun 2006 lalu dimana temanya "Membongkar campur tangan Jin dalam kehidupan Manusia"dan yang ikut kurang lebih 300 orang .sekedar mau check up gitu deh..( atau mungkin latah..). Kalau memang ada ayat2 tertentu yang khusus untuk RuQyah..apa benar ya.. ?? karena waktu di Masjid Agung itu seingat saya.saat selesai ceramah kemudian...saat Ustadz nya baru Ngomong .. Aja .."Hai..para Jin Yang ada dalam Tubuh Manusia..Bla..bla.."saya kok sudah Hoek..hoek mau muntah ( suaranya kayak sapi Di gorok ...).itu belum di bacakan ayat Qur"an lho.Jadi menurut saya pribadi sebagai orang awam lho ya...mungkin bangsa jin itu paham dan tahu pancaran energi kekuatan karisma dari Ustad (Peruqyah) yang diberikan oleh Allah.walaupun belum dibacakan ayat2 Ruqyah...So..Everything is depend on..The Man behind the Gun.. gitu deh.
|
 | akmal wrote on Oct 21, '07 Ass Wr Wb.. MAS Mohon ijin untuk ikut sharing..ya ,begini ..Saya sudah banyak membaca buku tentang Rugyah mulai dari judul dialog dengan jin muslim, cara islam mengobati gangguan sihir & jin,dll yang sejenis terakhir yang saya baca adalah 2 buku karangan Perdana Ahmad.."membongkar kesesatan Reiki..." & "Kesaksian para praktisi Ilmu metafisika (kisah kisah Pertaubatannya)".Saya juga pernah ikut menjadi pasien Rugyah massal di Masjid Agung Surabaya..tahun 2006 lalu dimana temanya "Membongkar campur tangan Jin dalam kehidupan Manusia"dan yang ikut kurang lebih 300 orang .sekedar mau check up gitu deh..( atau mungkin latah..). Kalau memang ada ayat2 tertentu yang khusus untuk RuQyah..apa benar ya.. ?? karena waktu di Masjid Agung itu seingat saya.saat selesai ceramah kemudian...saat Ustadz nya baru Ngomong .. Aja .."Hai..para Jin Yang ada dalam Tubuh Manusia..Bla..bla.."saya kok sudah Hoek..hoek mau muntah ( suaranya kayak sapi Di gorok ...).itu belum di bacakan ayat Qur"an lho.Jadi menurut saya pribadi sebagai orang awam lho ya...mungkin bangsa jin itu paham dan tahu pancaran energi kekuatan karisma dari Ustad (Peruqyah) yang diberikan oleh Allah.walaupun belum dibacakan ayat2 Ruqyah...So..Everything is depend on..The Man behind the Gun.. gitu deh.
 soal prinsip man behind the gun saya setuju mas... karena ayat-ayat Al-Qur'an tidak akan ada gunanya di tangan mereka yg gak beriman... dan memang ada orang2 tertentu yg punya kualitas diri hebat sehingga musuh2 Allah takut menghadapinya, contohnya Umar ra. kan dijauhi oleh bangsa jin tuh... |
 | just curious, selain malaikat dan jin, ada makhluk halus lain gak ya? |
 | Assalamu'alaikum. Saya akan menanggapi tulisan akmal ini, jika kita kaji tulisan Akmal ini sama sekali tidak ilmiah?? bagaimana saya katakan tidak ilmiah??? Coba para pembaca sekalian melihat uraiannya sama sekali tidak ada rujukan satu pun, Jika mengutip dari Al-Qur'an sebutkanlah surat apa dan ayat berapa, jika dari Al-Hadits sebutkan perawinya siapa dan sanadnya apakah shahih, hasan atau dhaif. jika mengutip rujukan fatwa ulama sebutkan siapa ulamanya, apa kitabnya, diakui tidak oleh ulama uang lain. Tulisan Akmal ini sangat lemah untuk dijadikan rujukan apalagi jika ingin mengkritisi ruqyah dari sisi syari'at sebab tidak terpenuhinya kategori tulisan ilmiah yang berbobot. dan maaf tulisan akmal ini cuma pelampiasan emosi sesaat dan penuh dengan opini yang sangat begitu awam ilmu syar'inya. wahai Akmal, antum bukanlah seseorang yang bisa memberikan fatwa (begitu pula dengan halnya saya pribadi yang dhaif ini), sebab antum bukan ulama (begitu pula saya), tidak hafal Al-Qur'an dan Al-Hadits, hari-hari tidak bergelut didunia da'wah. Maka jangan antum menuliskan sesuatu opini yang antum sendiri tidak tahu ilmunya. Carilah rujukan dahulu jika hendak menulis, ngaji dan taklim dulu yang rajin pada ulama yang shahih, perbaiki amal ibadah, jangan sering berbuat bid'ah apalagi syirik maka tulisan antum akan diakui oleh masyarakat. Mengenai kasus pengadilan yang saya dulu menjadi terda'wa, perlu saya konfirmasikan DEMI ALLAH YANG MEMEGANG NYAWA SAYA, SAYA TIDAKLAH DIPENJARA!!!! melainkan hukuman percobaan 5 bulan dan jika berbuat kriminal selama 5 bulan maka saya akan dipenjara 2 bulan. makanya tanya dulu dengan pengacara atau praktisi hukum sebelum langsung memfonis seseorang. Mengenai akses setelah putusan sidang dimana 200 orang lebih umat Islam (terdiri dari Gerakan pemuda ka'bah, Front pembela islam, Mujahidin Lasykar JIhad dan ormas islam lainnya) yang menghancurkan tempat-tempat maksiyat dan syirik, itu disebabkan sangat resahnya umat Islam atas kesyirikan yang meraja lela yang di sebarkan Syaiful. Dampak positifnya, usaha syirik Syaiful sepi (saya dengar khobar sekarang usahanya berubah jadi yayasan pendidikan umum, alhamdulillah semoga Allah memberikan hidayah pada Syaiful), sebab masyarakat tidak percaya lagi dengan gembar-gembor kehebatan ilmu tenaga dalamnya, ilmu metafisiknya, ilmu bioenergi. sebab tidak ada bukti klaim pagaran tenaga dalam yang bisa melindungi fasilitas syiriknya, tidak ada bukti kekuatan energi tenaga dalam yang bisa memantalkan ikhwan2 yang bertakbir, tidak ada kekebalan/kesaktian atau ilmu silat yang ditunjukkan pengawal dan murid2 sang maha guru TD,TM itu sebab mereka lari tunggang langgang atau babak belur. tidak ada ilmu "melihat masa depan" yang bisa memprediksi kejadian tersebut. tidak ada ilmu "penggempur sukma" yang bisa mempengaruhi jiwa gabungan ormas islam tersebut untuk takut membela Tauhid. Aparat keamanan pun tidak memperpanjang kasus tersebut karena segan dengan kuatnya Persatuan Umat Islam. Jikapun kalian para anggota HI mencela perbuatan umat islam tersebut maka hisabnya ada ditangan Allah, Allah-lah yang akan menimbang amal perbuatan mereka. Kami hanyalah hamba-hamba-Nya yang maha lemah yang tidak luput dari salah dan dosa. Alhamdulillah hingga saat ini ormas2 Islam selalu mendukung para praktisi ruqyah untuk berda'wah tauhid dan akan membantu jika ada oknum2 yang secara frontal dan brutal hendak menghentikan da'wah tauhid yang kami bawa. Saya mohon maaf jika ada kata yang salah, Segala kekurangan hanya milik saya dan Kesempurnaan hanya milik Allah Ta'ala Wassalamu'alaikum. Perdana Akhmad S.Psi seorang yang dhaif Kunjungi http://ruqyah-online.blogspot.com dan http://ruqyah-online.forumotion.com |
 | rukyah bukannya memang rasul juga sudah mencontohkan? ah de akmal ini ada-ada saja. |
 | akmal wrote on May 1, '08 rukyah bukannya memang rasul juga sudah mencontohkan? ah de akmal ini ada-ada saja.  belum baca artikelnya ya? |
 | togie wrote on Mar 17, '08 Sudah baca yang di rukyah-online. Tanggapan saya : GAK NYAMBUNG
Mari kita lihat : rukyah online menulis : Anda tetap tidak percaya islam mengajarkan Ruqyah yang secara bahasa berarti mantera yang sudah dijelaskan keshahihannya oleh Rasulullah, para shahabat, para ulama.
rukyah online menulis lagi :
1.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ul Fatawa 10/195 : “Ruqyah (jampi/mantra) artinya memohon perlindungan. Al Istirqa’ adalah memohon dirinya agar diruqyah. Ruqyah termasuk bagian dari doa.”
2. Sa’ad Muhammad Shadiq dalam Shira’Bainal Haq wal Bathil halaman 147 berkata : “Ruqyah (jampian/mantra) pada hakekatnya adalah berdoa dan tawassul untuk memohon kepada Allah kesembuhan bagi orang yang sakit dan hilangnya gangguan dari badannya.”
3. Didalam fatwa nomor 8016 tertanggal 22/1/1405 dari badan Riset ilmu, Fatwa, Da’wah dan bimbingan agama, kerajaan Saudi Arabiya, disebutkan, ”Boleh menjampi dengan membacakan Al-Qur’an, dzikir-dzikir, dan doa-doa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melindungi diri dari kejahatan jin dan setan, atau untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan jin dan setan tersebut.”
Kan..? Setiap kata rukyah diberi tanda dalam kurung (jampi) - tanda ini ditambah-tambahi sendiri. Padahal bila kita teruskan membaca, bisa disimpulkan bahwa rukyah adalah doa (bukan jampi). Padahal lagi, tulisannya bang akmal intinya membedakan antara jampi/mantera dengan doa. Maka, kalau setuju dengan rukyah online, berarti boleh bila kita menyimpulkan bahwa doa adalah sama dengan jampi atau mantera. Disini, kiranya rukyah online (agar ilmiah) memberikan dalil yang menyebutkan bahwa mantera dan doa adalah sama.
Oh, bicara soal ilmiah-ilmiahan. Daku ada pertanyaan, mohon dijawab (Tapi maap, OOT) :
A : Ada manusia yang ganteng (Bila berwajah bak bulan purnama seperti wajah saya) B : Ada manusia yang tidak ganteng (Bila wajahnya tidak mirip dengan wajah saya)
Dari kedua pernyataan tersebut, logiskah, masuk akalkah, ilmiahkah bila ada ada orang yang menyimpulkan bahwa :
C : Semua manusia itu ganteng..?
NB : Buat bang perdana ahmad, mohon pernyaan ini jangan ditambah-tambahi dulu. Biar objektif. Saya sudah berusaha membuat perumpamaan yang mirip (yang ada syaratnya) |
 | Maaf ikut nimbrung.. Yg saya perhatikan, para pe-ruqyah maupun guru-gurunya selalu kukuh mempertahankan dalih-dalihnya dgn fatwa-fatwa maupun hadits, padahal sumber hukum di atas segala sumber hukum Islam adlh Al Qur'an. Al Qur'an-lah yg dijamin oleh Allah kebenarannya, pun Al Qur'an tidak dapat ditiru/dipalsukan karena tata bahasa maupun susunan kata-nya yg demikian tinggi sehingga mustahil bagi seseorang untuk dapat membuat yg menyerupainya. Inilah yg diselidiki oleh ilmuwan non muslim yg pada akhirnya mereka mengakui bahwa Al Qur'an itu bukanlah buatan Muhammad, karena tidak mungkin Muhammad dapat membuat untaian-untaian kata/kalimat seperti itu, dgn sendirinya segala acuan hukum-hukum lain harus selaras dgn Al Qurán, baru dapat dikatakan "benar". Segala macam fatwa-fatwa yg dibuat oleh siapapun, bukanlah kebenaran yg mutlak, karena merupakan ijtihad pemikiran seseorang, sehebat-hebatnya seseorang itu, tidak tertutup kemungkinan utk melakukan kesalahan, karena itu sudah semestinya kita kaji ulang dan kita kembalikan pada pedoman kebenaran yg mutlak, yakni Al Qur'an. Jadi, sebenarnya bukan hikmatul iman itu ingkar sunnah (hadits), tapi sunnah yg bagaimana dulu? Sunnah yg sesuai Al Qur'an sudah pasti & memang wajib utk diterima siapapun juga yg merasa dirinya muslim. Rasulullah SAW sendiri adlh Al Qur'an hidup, Al Qur'an berjalan. Beliau adlh manifestasi dari Al Qur'an itu sendiri. Saya kira tiada seorg muslim pun yg mengingkari ini. Hikmatul Iman tidak mengingkari sunnah Rasulullah SAW, hanya saja jika sunnah itu tidak sesuai dgn pengajaran Al Qur'an, apakah itu memang berasal dari Muhammad Rasulullah SAW? Inilah yg dipertanyakan. Sebab itu hendaknya segala sesuatunya kita kembalikan pada acuan yg mutlak benar, yakni Al Qur'an. Dan utk dapat memahami ayat-ayat Al Qur'an itu butuh daya pikir, karena Al Qur'an bukanlah semisal text-book materi kuliah yg penjelasannya gamblang ttg suatu pengetahuan. Ayat-ayat Al Qur'an itu mesti dipikir & dikaji secara mendalam utk dipahami dgn benar maknanya. Orang arab yg bahasa sehari-harinya bahasa arab pun belum tentu bisa memahami Al Qur'an dgn benar. Jadi, apakah yg sering disebut-sebut sebagai ulama-ulama itu mengklaim dirinya yg paling benar tentang ajaran Islam yg begitu luas?
Q.S Yunus : 36 Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Sebaiknya segala sesuatu kita letakkan kembali pada porsinya, sesuai kapasitasnya.
Sedangkan Rasulullah SAW sendiri tdk segan utk bertanya & meminta pendapat pada orang yg dianggap lebih paham & lebih tahu dari pada beliau.
Q.S An Nahl : 43 Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka --bertanyalah-- kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika --kamu tidak mengetahui--,
Rasul Musa AS pun belajar pada Khidhr ttg pengetahuan yg tidak diberikan Allah SWT kepadanya.
Q.S Al Kahfi : 66 Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Rasul Sulaiman AS pun meminta bantuan utk memindahkan singgasana ratu Balqis kepada para pembesar kerajaannya (golongan jin & manusia), yg beliau kumpulkan dalam sebuah forum (mustahil terjadi jika tidak bisa saling melihat & berkomunikasi! Spt kita ketahui soal melihat jin saja sudah jadi perdebatan yg panjang tiada habisnya), yg sekaligus juga mengajarkan bahwa kemampuan manusia jauh melampaui kemampuan jin.
Q.S An Naml : 38 Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?".
Q.S An Naml : 39 Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".
Q.S An Naml : 40 Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (ayat ini sekaligus menunjukkan ttg seseorang yg mempunyai kemampuan/ilmu yg dipelajarinya dari Al Kitab! Apa yg bisa dia lakukan utk melakukan pekerjaan luarbiasa dlm waktu yg sekejap mata itu..membaca mantra?..butuh waktu berapa lama?)
Ingat fenomena orang-orang barat yg masuk Islam itu karena mereka orang-orang yg pandai berpikir, menggunakan akalnya sehingga mereka menemukan kebenaran yg ada dalam Al Qur'an, bukan karena dogma atau doktrin yg tidak bisa dijelaskan. Jgn mengatakan sesuatu itu adlh hal-hal yg tidak bisa dinalar hanya karena daya pikirnya yg belum bisa mencapai ke sana. Saya yakin pada saatnya nanti semua mu'jizat yg dilakukan para Rasul pun akan bisa dijelaskan dengan pengetahuan kenapa hal itu bisa terjadi, jika perkembangan pengetahuan memang sudah sampai ke sana. Kita tentu masih ingat saat dulu ada ilmuwan berkata bahwa bumi itu bulat, dia dianggap sesat. Kemudian saat ada seorang ilmuwan berkata bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dia dianggap sesat hingga dihukum mati oleh gereja.
Apakah kita tidak percaya bahwa pengetahuan manusia itu bisa melampaui malaikat?
Q.S Al Baqarah : 31 Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"
Q.S Al Baqarah : 32 Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Q.S Al Baqarah : 33 Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Kalau pihak ruqyah mengatakan bahwa akmal ini alergi atau phobia dgn kata "ruqyah" karena dianggap telah berprasangka buruk sebelumnya, saya juga bisa bilang para pihak ruqyah ini pun alergi atau phobia dgn kata "tenaga dalam & tenaga metafisika" karena telah berprasangka buruk sebelumnya. akuilah secara jujur dan adil. Apakah contoh-contoh praktisi tenaga dalam & tenaga metafisika yg kalian tangani yg kalian anggap sesat karena menggunakan jin itu, dianggap mewakili seluruh perguruan bela-diri tenaga dalam/tenaga metafisika semuanya? Di mana itu azas mencari tahu kebenarannya, meneliti & bertabayyun? Biar kalian tahu bahwa ilmu Allah SWT itu amat luas, melampaui apa yg dapat diduga oleh siapapun.
Q.S Al Baqarah : 269 Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.
Tahukah kalian para peruqyah yg dimaksud dgn "..kepada siapa yg Dia kehendaki..?" Jika tidak tahu..tanyakanlah kepadaNya! Sebab hanya Dia SWT yg paling tahu ttg "siapa yg Dia kehendaki" yg dimaksud oleh ayat itu.
sebetulnya bukanlah hikmatul iman yg memulai melontarkan bola api ttg ruqyah spt yg selalu dipersangkakan demikian, tetapi orang-orang ruqyah-lah yg memulai konflik itu dgn mengatakan bahwa mempelajari tenaga dalam, tenaga metafisika termasuk latihan pernapasan adlh sesat, bahkan syirik karena dibantu oleh jin. Tanpa meneliti & bertabayyun & membuktikan sendiri pada perguruan-perguruan bela diri yg ada, langsung memukul-rata / menggeneralisir semuanya. Terlebih lagi informasi itu lantas disebarkan secara meluas di masyarakat, sehingga timbul keresahan.Hal itulah yg tidak bisa diterima oleh hikmatul iman, karena merasa difitnah. Silakan di-cek artikel bahasan ttg ruqyah itu kapan mulai ada di milis hikmatul iman? Lebih dulu mana dgn penyebaran ajaran para peruqyah yg mengatakan bahwa tenaga dalam, tenaga metafisika dan pernapasan itu sesat bahkan syirik karena menggunakan jin?
Q.S An Nisaa' : 49 Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.
Q.S Az Zukhruf : 36 Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syaitan maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
Q.S Al Insaan : 29 Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.
Q.S 'Abasa : 12 maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
Q.S Al Baqarah : 2 Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
Tiada pengajaran sebaik Al Qur'an. Tiada pengajaran yg lebih benar daripada Al Qur'an. Semoga Allah SWT Yang Maha Pemurah, merahmati kita semua & memimpin kita di jalanNya. Amin. Salam |
 | dickyzainal wrote on Oct 12, '08, edited on Oct 12, '08 " Mantra " menjadi pilihan karena gampang dan tidak perlu berpikir , jadi terima kasih kepada mereka yang sudah mengajarkan umat islam menjadi " mundur ". Kita pakai jalan lain saja , kita dakwah dengan contoh , misalnya ketika umat butuh pupuk kita beri mereka cara membuat pupuk organik yang tidak merusak tanah , ketika umat butuh obat kita beri mereka cara mengobati diri sendiri dan orang lain , ketika umat butuh bahan bakar kita beri mereka cara membuat bahan bakar dari air , dan banyak lagi seperti yang sudah kita jalankan selama ini . Alhamdulillah cara itu bisa lebih terasa di masyarakat , juga membuat mereka jadi banyak berpikir , juga bisa membedakan mana yang hanya NATO dan mana yang Action . |
Comment deleted at the request of the author.
 | waduh2 seru juga yah :>, yang jelas umat islam harus berpegang pada Al Qur'an dan Hadits (yang shahih). |
 | Afhwan...artikelnya bagus unk di baca dan dijadikan pembelajaran..."Sungguh AKu LAhir Kemuka Bumi Sebagai Pembawa RAchmat BAgi Sekalian ALam Bukan Sebagai PEmbawa LAknat..."
Islam Adalah agama RAchmat BAgi Sekalian ALam...
ISlam BUkanlah Terorist...
Islam Bukanlah Kekerasan...
Without Chaossssssssssss............. |
 | hallo teman-teman semuanya, Gw riyan dari Hikmatul Iman Indoensia Ranting UNINUS Bandung
baru baru tadi aku post Comment seperti ini ke pihak Perdana Ahmad : "Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Saya Riyan dari Hikmatul Iman Indonesia, salam sejahtera buat semuanya (dari anak-anak HI maupun untuk Pak Perdana Ahmad), semoga semua dalam perlindungan allah swt.
disini saya tidak akan menghujah anda salah ataupun HI salah,
Perdana Ahmad Punya versi tersendiri terhadap Hikmatul Iman Indonesia, Hikmatul Iman pun sama sebaliknya punya persepsi tersendiri terhadap Ruqiyah.
Kalo kalian terus-terusan merasa diri paling benar dari HI maupun dari Perdana Ahmad : 1. Kapan umat islam mau bersatu. 2. kapan bangsa indonesia bisa berjaya 3. kapan kerukunan beragama bisa terwujud
Allah dan Rasulnya pun sudah menjelaskan yang secara garis besarnya, janganlah kalian saling menghina/menghujah, belum tentu yang kalian hujah atau hinah itu salah mungkin bisa jadi lebih baik di sisi Allah.
Saya tidak mengatakan yang lebih baik itu Perdana Ahmad ataupun Hikmatul Iman, tetapi hanyalah allah yang mengetahuinya.
sebaiknya jika memang menurut Perdana Ahmad bahwa Hikmatul Iman Indonesia itu adalah Sesat dan syirik, ya sebaiknya janganlah kalian mempublikasikannya, masih banyak perguruan-perguruan beladiri di indonesia tidak harus Hikmatul Iman.
sebaliknya terhadap seluruh Ers Hikmatul Iman, janganlah kita merasa bangga dan benar terhadap ilmu yang telah kita pelajari, kalaupun Perdana Ahmad itu dari pihak ruqiyah begini dan begitu, ya sudah kita biarkan saja, mereka ingin bicara apa pun tentang HI.
Perjalanan kita masih panjang.....
Kita sebagai orang HI tidak mengamalkan ilmu yang telah di ajarkan juga berdosa, Ruqiyah nya perdana Ahmad sebaiknya menyibukan diri untuk mengobati pasien saja.
sendiri-sendiri saja lah, Perdana ahmad punya amalan sendiri Hikmatul iman pun sama.
OK
STOP Perdebatan ini, jangan ada lagi penghujahan dan penhinaan sesama Muslim, mungkin Perdana Ahmad Mengatakan kita syirik, ya saya hanya berpesan kepada Perdana Ahmad, ingat pesan Allah dan rasulnya "janganlah kalian saling menghujah/menghina belum tentu yang kalian hujah/hina itu bersalah."
Sudah saja kita hentikan perdebatan antara Tim Ruqiyah dengan barudak Hikmatul Iman, dengan alasan : NGGA AKAN ADA HABISNYA
lebih baik kita menyibukan dengan urusan pribadi, kita mendingan hidup masin masin aja, kita ya kita, mereka-ya mereka.
yang penting udah di kasih tau kalo ruqiyah itu adalah jampe jampe atau mantra. ya merekanya juga tetep keukeuh kalo mereka benar, terus mereka bilang HI menggunakan Jin, kita keukeuh kita ngga pake JIN.
terus kapan beresnya kalo gitu terus ?
capeeek dech |
 | nidlol wrote on Aug 24, '09, edited on Aug 24, '09 Assalamu'alaikum, Mas Akmal, warahmatullah.
Apa kabar? Tidak sengaja pagi ini saya membaca artikel Antum tentang ruqyah ini, dan tentu saja artikel ini menyisakan banyak tanda tanya yang perlu dijawab.
Pertama; secara mendasar "ruqyah" memang berarti "mantra" (al-`audzah). Pengertian generiknya adalah bacaan-bacaan yang digunakan untuk mengobati dan melindungi seseorang atau mengusir dan menyerang sesuatu. Jadi pada dasarnya, ruqyah ini adalah obat, tetapi berupa bacaan-bacaan dan kadang juga disalurkan melalui media air minum dan semisalnya. Kalaupun ingin dibedakan antara "doa" dengan "ruqyah", maka perbedaannya adalah selayaknya perbedaan antara "berdoa" dengan "berobat". Dua-duanya adalah sarana untuk mengharapkan kesembuhan dari Allah Swt. Dan dua-duanya ditujukan untuk penyakit fisik maupun non-fisik.
Memang, secara tradisional, kita-ketika mendengar kata-kata "mantra" atau "jampi", bayangan kita biasanya langsung melesat pada mantra-mantra dan jampi-jampi klenik para tukang sihir atau tukang tenung yang penuh dengan amalan syirik. Tapi itu bukan makna generik dari kata "ruqyah" itu sendiri.
Statemen Antum: "Masalahnya, sejak dulu saya tidak percaya pada mantera atau jampi-jampi, dan saya tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari Islam" bukanlah sebuah argumen, sebab sekedar "anggapan" tidak bisa dijadikan sebagai pijakan dalam menentukan status syar'i sebuah perkara. Yang bisa dijadikan pijakan adalah argumen informatif (Quran-Hadits), argumen empiris (kenyataan di lapangan), atau argumen rasional (analisa logis).
Kemudian Antum menyebutkan tiga alasan mengapa tidak mempercayai mantera; yaitu (1) Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan mantera; (2) Yang digunakan untuk mantra hanya sebagian ayat Al-Quran saja; dan (3) Penggunaan mantra adalah solusi yang serba instan.
Jujur, dan terus terang, ini alasan-alasan yang sangat lemah. Pertama; Rasulullah saw justru tegas-tegas membolehkan pemberian ruqyah, bahkan mengambil upah dari pemberian ruqyah (berupa kambing dan ikut memakannya), serta bahkan beliau sendiri melakukan "ruqyah mandiri" sewaktu beliau terkena sihir dan diajari oleh Jibril as (membaca Al-Mu`awwidzatain). Jadi sejarah dan hadits yang mana yang menyatakan Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan ruqyah (yang syar'i tentunya)? Beliau memang menyinggung bahwa salah satu ciri orang yang masuk Syurga tanpa dihisab itu adalah "laa yastarquun" (tidak meminta diruqyah), tetapi ini sama sekali tidak menunjukkan larangan, dan obyeknya adalah "orang-orang yang meminta ruqyah", bukan "orang-orang yang memberi ruqyah" maupun "yang diruqyah tanpa permintaan".
Kedua; Barangkali memang ada orang-orang yang menganggap bahwa tidak semua ayat Al-Quran bsia dipakai ruqyah, tapi kesalahannya terletak pada orang itu, bukan pada konsep ruqyah yang asli. Dalam konsepnya yang murni, tidak ada pembedaan bahwa ada ayat-ayat tertentu yang tidak bisa dipakai ruqyah. Bisa saja kita meruqyah seseorang menggunakan ayat-ayat tentang hukum hutang-piutang maupun ayat-ayat tentag hukum warisan. Tidak ada masalah. Yang sebenarnya berlaku adalah bahwa ada "perjenjangan keutamaan antara ayat-ayat Al-Quran", dan ini jelas logis serta selaras dengan seluruh ajaran Islam. Dalam hadistnya, Rasulullah menyatakan bahwa Ayat Kursi adalah ayat yang terbaik, Surat Al-Ikhlah sepadan dengan sepertiga Al-Quran, membaca Al-Baqarah bisa mengusir Syetan di rumah. Beliau juga mengiyakan ajran yang diterima Abu Hurairah ra. dari seorang Jin bahwa kalangan mereka bisa diusir dengan Ayat Kursi. Ini sama sekali bukan menyepelekan ayat-ayat maupun surat-surat yang lain, akan tetapi memang ada perjenjangan keutamaan antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam Al-Quran, serta ada jeda tingkat kesesuaian (konteks). Ketika kita ingin mengusir Jin dan mengobati sihir, maka sangatlah relevan kalau yang kita pakai adalah ayat-ayat Jin, sebagaimanya ketika kita ingin memerangi orang Kafir, maka sangatlah efektif kalau ayat-ayat yang kita perdengarkan ke mereka adalah yang berisi argumen kesesatan mereka.
Ketiga; Kalau kita merenungi dengan mendalam, Islam memang menganjurkan solusi dan langkah-langkah yang "sesingkat mungkin dan sesederhana mungkin". Kalaulah ini yang Anda maksud dengan "instan", maka memang Islam menganjurkan solusi yang instan. Islam juga selalu lebih berorientasi pada "hasil" dari pada "proses" (ini sudah aksiomatik dalam dunia Ushul Fiqih). Itulah mengapa Rasulullah saw tidak perlu "bisa baca-tulis" (karena dengan instan beliau bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat). Itulah mengapa Rasulullah mensyariatkan rukyat (bukan hisab yang kala itu sangat rumit dan sulit). Itulah mengapa Rasulullah membanggakan dzikir beliau "subhaanallaahi wa bihamdih 'adada khalqih wa ridhaa nafsih wa zinata `arsyih wa midaada kalimaatih" yang dengan tegas beliau nyatakan bahwa membaca dzikir itu 3x adalah menyamai dzikir-dzikir panjang yang dilantunkan oleh istri beliau dalam waktu yang sangat lama semenjak pagi hari.
Jadi kesimpulannya:
Ruqyah adalah bacaan-bacaan berisi dzikir dan doa (terutama dari Al-Quran) yang dimaksudkan sebagai terapi untuk mengobati pasien, baik untuk penyakit fisik (misalnya disengat ular) maupun non-fisik (misalnya diserang Jin). Islam membolehkan ruqyah dengan syarat-syarat tertentu, dan Rasulullah saw serta pada shahabat pun telah meneladankannya.
Nah, terkait dengan tanda tanya Antum: "Jadi yang menyebabkan gangguan-gangguan itu lenyap apa?"
Jawabannya sudah gamblang:
"Yang menyebabkan gangguan-gangguan itu lenyap adalah bacaan-bacaan tadi (selayaknya sebuah pengobatan) atas izin Allah Swt. Atau secara langsung Allah Swt melenyapkannya tanpa melalui faktor bacaan tadi."
Tidak ada yang bermasalah dengan jawaban ini. Mirip dengan ketika Anda mengobati flu menggunakan kapsul atau pijat refleksi, lantas Anda sembuh. Apa yang menyebabkan flu Anda lenyap? Tentu saja obat atau pijitan tadi, atas izin Allah. Atau Allah langsung menyembuhkan Anda tanpa melalui obat/pijitan tadi.
Tidak berbeda halnya dengan ketika Anda lapar atau haus, lantas Anda makan atau minum. Apa yang menyebabkan rasa lapar atau haus Anda lenyap? Setali tiga uang.
Sebagaimana disebutkan dalam Sunan Ibni Majah, Rasulullah saw pernah ditanya: "Bagaimana halnay dengan obat yang kita pakai untuk berobat dan bacaan yang kita pakai untuk meruqyah; apakah itu bisa menolak sesuatu takdir Allah?" Jawab Rasul saw: "Itu adalah bagian dari takdir Allah."
Jadi Allah menakdirkan seseorang sembuh melalui obat atau bacaan tersebut, sebagaimana Allah menakdirkan seseorang kenyang melalui makanan dan minuman, serta menakdirkan seseorang masuk Syurga atau Neraka melalui amalan baik atau buruk.
Nah.. sekian dulu tanggapan dan jawaban dari saya. Sepertinya sudah cukup mewakili. Mohon bisa dipahami, dan kalau ada yang salah silakan dikoreksi, atau kalau ada yang perlu ditanyakan lagi, silakan disampaikan permasalahannya.
Wallaahu a'lam.
Akhukum di Mesir. |
 | sebenarnya saudara akmal ini berbeli belit. kalo emang mengakui adanya ruqyah ya.. akui secara pribadi jangan bikin orang dibikin bingung dengan tulisan yang antara mengakui dan tidak. atau jika tidak mengakui ya... diuangkapkan dalil dalilnya. jadi anda harus jelas mengakui adanya ruqyah atau tidak? karena mulai dari tulisan sampe tanggapan anda ngambang semua. maksud anda sebenarnya apa sih? bikin rame aja..... seneng bener cari perdebatan. |
|
Ingin mengadakan kajian Pemikiran Islam di sekolah, kampus, atau di masjid lingkungan Anda? Hubungi INSIGHTS (Institute for Islamic Thoughts) melalui e-mail di islam.insights@gmail.com
|