assalaamu'alaikum wr. wb.
"Ah, Kimia emang sialan!"
"Sialan kenapa?"
"Nggak masuk akal! Nggak realistis!"
"Kalo nggak realistis ya bukan sains dong..."
"Pokoknya sialan!"
"Kok marah-marah, sih?"
"Soalnya nggak masuk akal!"
"Nggak masuk akal gimana?"
"Soalnya aku nggak ngerti!"
"Kalo kamu nggak ngerti berarti nggak masuk akal, gitu?"
"Terus?"
"Mau saya kasi nasihat?"
"Boleh."
"Percayalah, dunia tidak berputar mengelilingi kamu."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, apa yang kamu alami itu tidak selalu relevan dengan kenyataan. Dengan kata lain : subjektif!"
"Tidak nyata bagaimana?"
"Begini. Apa yang kamu rasakan itu bisa jadi hanya kamu yang merasakannya. Orang lain belum tentu. Itu harus kamu sadari betul-betul. Kamu ya kamu. Hanya ada satu kamu. Orang lain ya lain pula urusannya."
"Jadi salah siapa?"
"Salah apanya?"
"Salah siapa kalau saya berpikiran begitu?"
"Tergantung."
"Kok tergantung?"
"Menurut kamu, siapa yang salah?"
"Guru Kimia."
"Kenapa?"
"Pertama, dia jarang masuk. Kedua, dia mengajar seperti tidak peduli pada murid-muridnya. Dengan kata lain, dia tancap gas terus sementara murid-muridnya belum paham betul apa yang dibicarakannya. Ketiga, gaya ngajarnya gak enak!!!"
"Jadi kesimpulan sementaranya, guru itu yang salah?"
"Iya dong!"
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"...................?"
"Anggaplah guru itu seburuk yang kamu katakan. Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Sulit juga menjawabnya."
"Kalaupun kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan, apakah kamu sudah melakukannya?"
"Belum, sih..."
"Kalaupun kamu sudah melakukan sesuatu, apakah apa yang kamu inginkan langsung terlaksana?"
"Sepertinya mustahil ada solusi instan begitu."
"Lalu?"
"...................."
"Lalu kamu akan mengomel sendirian, begitu?"
"...................."
"Begini, ya. Kamu itu sebenarnya punya banyak pilihan. Kamu bisa diam saja dan pasrah dengan nasib, kamu bisa mengomel di belakang seperti sekarang, dan kamu bisa juga mencegat guru itu di jalanan lalu menggebukinya. Atau....."
"Atau apa?"
"Ada alternatif lain, kan?"
"Alternatif yang mana?"
"Belajar itu kan bukan hanya dari guru. Masih ada buku, kamu bisa belajar otodidak, atau bertanya pada teman yang lebih pintar soal Kimia."
"Enak di dia, dong...!"
"Mungkin memang enak."
"Rugi di saya, dong...!"
"Kenapa rugi?"
"..................."
"Kamu kan dapat ilmu, dan tujuan kamu tercapai. Tidak bisa dibilang rugi, kan?"
"Lalu guru itu?"
"Ada apa dengan guru itu?"
"Guru itu gimana? Dia tetap seperti itu, dong?"
"Mungkin. Mungkin juga tidak."
"Lalu?"
"Apa urusannya dengan kamu?"
"Kan saya sedang kesal pada kelakuannya."
"Sekali lagi : apa urusannya dengan kamu?"
"Maksudnya apa, sih?"
"Dia berubah atau tidak, apa urusannya dengan kamu? Kalau dia berubah ya syukur alhamdulillaah. Kalau dia tidak mau berubah ya biarkan saja. Toh kelak dia akan mempertanggungjawabkan kelakuannya yang menzalimi murid-muridnya."
"Kalau saya tidak rela?"
"Kenapa harus tidak rela? Manusia itu masuk neraka sendiri-sendiri, masuk surga juga sendiri-sendiri. Kalau dia mau terus dalam kelakuannya yang menyimpang itu, ya biarkan saja. Kamu tidak perlu terpengaruh, kan? Memangnya kamu mau ikut-ikutan rugi? Hanya karena kesalahannya, lalu kamu mau jadi orang yang tidak mengerti Kimia seumur hidup? Hanya karena kesalahan seorang manusia yang menyebalkan, lalu kamu rela dirusak hidupnya? Apa hanya segitu penghargaan terhadap dirimu sendiri?"
"Wah...."
wassalaamu'alaikum wr. wb.