assalaamu’alaikum wr. wb.
Sudahkah Anda menjadikan layar
televisi Anda sedikit berguna dengan menyaksikan sendiri kebenaran yang
telanjang itu ; bagaimana pun menyaksikannya?
Sudahkah Anda menjadikan televisi Anda itu sedikit bermanfaat dengan
memutar saluran yang tepat dan melihat perang yang kejam itu?
Apa yang Anda lihat ketika
seorang petugas polisi roboh dan punggungnya dilempar dengan sebongkah beton
besar? Apa yang Anda rasakan ketika
menyaksikan seorang polisi ditikam dengan sebilah pisau dan ususnya terburai ke
tanah? Apa yang meluncur dari lidah Anda
ketika melihat sendiri bagaimana panah-panah dan peluru itu beterbangan silih
berganti?
Inilah logika peperangan! Tidak ada logika sama sekali! Prajurit tidak dididik untuk memiliki
logika. Mereka hanya menuruti
perintah. Tidak ada yang boleh bertanya
mengapa sang komandan menempatkan mereka di daerah yang berbahaya seperti
itu. Tidak ada yang boleh memikirkan
alasannya, karena titah komandan adalah alasan yang cukup kuat untuk
segalanya. Bahkan mati pun sudah
sepantasnya.
Inilah logika peperangan! Baku
hantam terus terjadi di antara manusia-manusia yang tidak saling mengenal satu
sama lainnya, tidak saling memendam dendam, dan tidak saling membenci. Bahkan mungkin mereka akan saling mencintai
dan menjadi sahabat terbaik, kalau saja mereka tidak bertemu di medan
perang. Sayangnya, mereka bertemu di
Abepura. Pada saat yang paling salah.
Semuanya hanyalah politik. Barangkali polisi yang gugur dalam tugasnya
itu pun sama-sama membenci Freeport
karena telah menguras habis harta Indonesia. Barangkali orang Papua yang menikamnya pun
menyesal telah membunuh orang yang tidak mendapat duit secuil pun dari Freeport
yang dibencinya. Barangkali ini semua
hanya mimpi. Barangkali ini semua
benar-benar perlu dilakukan.
Tapi ini semua hanyalah
politik. Membunuh seorang petugas polisi
tidak akan mengubah apa pun. Membunuh
para pemuda gagah yang dikirim dari kampung halamannya menuju sebuah pulau nan
jauh di timur dengan mimpi membela negara adalah sebuah tindakan yang nyaris
sia-sia belaka. Freeport
tetap tegak berdiri. Papua tetap disedot
habis oleh Amerika.
...... dan para prajurit pun
saling berbunuhan.
Barangkali, di sela-sela napas
yang tersengal-sengal, di tengah-tengah kegiatan menahan sakit sementara para
dokter merawat luka-luka, para prajurit pun mendapatkan sedikit kesempatan
untuk berpikir. Untuk apakah semua
perang ini dilakukan? Siapakah yang harus
dibela sedemikian gigihnya? Di manakah orang-orang
yang hendak dibela itu berada? Cukup pantaskah
kita mempertaruhkan segalanya di sini?
Tapi mereka hanyalah prajurit. Kalau saja mereka tidak bertemu di Abepura, pada
saat-saat yang tidak seperti ini, barangkali mereka akan berteman, bersahabat, atau
bersaudara. Tapi ini Abepura. Dan ini politik.
Inilah saat yang paling salah.
wassalaamu’alaikum wr. wb.