Blog EntryAbepuraMar 19, '06 10:53 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Sudahkah Anda menjadikan layar televisi Anda sedikit berguna dengan menyaksikan sendiri kebenaran yang telanjang itu ; bagaimana pun menyaksikannya? Sudahkah Anda menjadikan televisi Anda itu sedikit bermanfaat dengan memutar saluran yang tepat dan melihat perang yang kejam itu?

Apa yang Anda lihat ketika seorang petugas polisi roboh dan punggungnya dilempar dengan sebongkah beton besar? Apa yang Anda rasakan ketika menyaksikan seorang polisi ditikam dengan sebilah pisau dan ususnya terburai ke tanah? Apa yang meluncur dari lidah Anda ketika melihat sendiri bagaimana panah-panah dan peluru itu beterbangan silih berganti?

Inilah logika peperangan! Tidak ada logika sama sekali! Prajurit tidak dididik untuk memiliki logika. Mereka hanya menuruti perintah. Tidak ada yang boleh bertanya mengapa sang komandan menempatkan mereka di daerah yang berbahaya seperti itu. Tidak ada yang boleh memikirkan alasannya, karena titah komandan adalah alasan yang cukup kuat untuk segalanya. Bahkan mati pun sudah sepantasnya.

Inilah logika peperangan! Baku hantam terus terjadi di antara manusia-manusia yang tidak saling mengenal satu sama lainnya, tidak saling memendam dendam, dan tidak saling membenci. Bahkan mungkin mereka akan saling mencintai dan menjadi sahabat terbaik, kalau saja mereka tidak bertemu di medan perang. Sayangnya, mereka bertemu di Abepura. Pada saat yang paling salah.

Semuanya hanyalah politik. Barangkali polisi yang gugur dalam tugasnya itu pun sama-sama membenci Freeport karena telah menguras habis harta Indonesia. Barangkali orang Papua yang menikamnya pun menyesal telah membunuh orang yang tidak mendapat duit secuil pun dari Freeport yang dibencinya. Barangkali ini semua hanya mimpi. Barangkali ini semua benar-benar perlu dilakukan.

Tapi ini semua hanyalah politik. Membunuh seorang petugas polisi tidak akan mengubah apa pun. Membunuh para pemuda gagah yang dikirim dari kampung halamannya menuju sebuah pulau nan jauh di timur dengan mimpi membela negara adalah sebuah tindakan yang nyaris sia-sia belaka. Freeport tetap tegak berdiri. Papua tetap disedot habis oleh Amerika.

...... dan para prajurit pun saling berbunuhan.

Barangkali, di sela-sela napas yang tersengal-sengal, di tengah-tengah kegiatan menahan sakit sementara para dokter merawat luka-luka, para prajurit pun mendapatkan sedikit kesempatan untuk berpikir. Untuk apakah semua perang ini dilakukan? Siapakah yang harus dibela sedemikian gigihnya? Di manakah orang-orang yang hendak dibela itu berada? Cukup pantaskah kita mempertaruhkan segalanya di sini?

Tapi mereka hanyalah prajurit. Kalau saja mereka tidak bertemu di Abepura, pada saat-saat yang tidak seperti ini, barangkali mereka akan berteman, bersahabat, atau bersaudara. Tapi ini Abepura. Dan ini politik.

Inilah saat yang paling salah.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


fauziach wrote on Mar 20, '06
Sedih rasanya, kita turut berduka. Kita harus mengakui bahwa bangsa ini tidak mempunyai power untuk menentukan nasibnya sendiri. Para pemimpin kita begitu Hormat kepada Negara Asing terlebih lagi ketika Madam Condoleeza mau tandang, jauh hari sebelumnya para elite negara kita sudah menyiapkan segalanya. Dan begitu Ia tiba, langsung di kado Blok Cepu. Wow luar biasa! Semoga kasus Freeport tidak terulang lagi. Hanya karena Fundamental kita lemah, bisa diperdaya oleh orang lain. ..
akmal wrote on Mar 21, '06
exactly...!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help