assalaamu’alaikum wr. wb.
Kesurupan masal terjadi di mana-mana. Diawali dari para remaja putri siswi di berbagai sekolah. Sebagian besar korban adalah perempuan (entah mengapa). Baru-baru ini juga hal yang sama terjadi sebuah pabrik, lagi-lagi menimpa kaum perempuan. Dalam beberapa minggu saja, seolah-olah seluruh Indonesia menghadapi musuh yang lebih cepat berjangkit daripada flu burung : kesurupan!
Selidik punya selidik, ada saja alasan yang muncul mengapa banyak jin gemar membuat manusia kesurupan. Dalam sebagian besar kasus, masalahnya sederhana saja. Pohon tempat tinggal mereka ditebang secara ‘semena-mena’ oleh manusia. Akibatnya, korban berjatuhan dari pihak jin. Bisa ditebak, aksi pembalasan pun muncul dalam bentuk kesurupan masal.
Sungguh menggelikan bagaimana manusia bisa percaya pada jin yang mengganggu manusia. Mereka mengajak bicara para jin yang membuat manusia kesurupan dan menganggap informasi yang diperoleh darinya itu benar. Sedangkan manusia pun tidak bisa dipastikan kejujurannya. Bagaimana cara mereka menjamin kebenaran informasi yang didapat dari kaum jin yang wajahnya tidak terlihat itu? Entahlah.
Buku ‘Dialog Dengan Jin Muslim’ yang sempat menjadi best seller pun menggunakan logika yang sama. Status ‘muslim’ dari jin yang diajak bicara pun hanya merupakan sebuah asumsi. Jika ia bicara jujur, maka berarti ia memang jin muslim. Tapi siapa yang bisa menjamin? Apa benar jin muslim akan tega membuat manusia kesurupan dan membahayakan aqidahnya?
Di negeri serba mistis ini, sudah sejak lama jin dianggap lebih sakti mandraguna daripada manusia. Padahal ini adalah sebuah asumsi yang tidak pernah terbukti. Adakah manusia yang mati dibunuh oleh jin? Tidak ada. Adakah manusia yang mati dicekik pocong? Tidak ada. Adakah manusia yang dibantai oleh kuntilanak? Tidak ada. Kalau ada manusia yang dikejar jin lalu lari ketakutan dan jatuh ke jurang karena panik, itu lain soal.
Tidak ada bukti nyata bahwa jin bisa menyakiti manusia secara fisik. Kalau pun ada aksi-aksi sihir dan teluh oleh para dukun, maka jelas bahwa jin baru bisa melakukan sedemikian rupa setelah bekerja sama dengan manusia. Dengan kata lain, jelaslah bahwa manusia adalah makhluk yang lebih superior daripada jin.
Umat Islam ingat sepenuhnya kisah setelah Adam as. diciptakan, lalu malaikat dan jin disuruh bersujud semuanya. Bahkan malaikat pun tidak lebih superior daripada manusia. Akan tetapi, nampaknya keimanan terhadap informasi Al-Qur’an ini hanya berputar di sekitar lidah saja, tidak sampai pada hati terdalam dan perbuatannya. Pada kenyataannya, manusia masih takut pada jin, makhluk Allah yang lebih rendah.
Saya dibesarkan di keluarga yang menjunjung tinggi rasionalitas. Sejak kecil saya sudah dikondisikan untuk tidak percaya pada hal-hal yang berbau mistis. Ditambah dengan sifat dasar saya yang memang nakal dan suka menantang bahaya, maka saya pun sering bereksperimen dengan hal-hal yang membuat kebanyakan orang takut.
Saya pernah menemui sebuah pohon besar yang di bawahnya terdapat sebuah meja penuh sesajen buah-buahan, beras, dan kopi. Menurut para penduduk sekitar, siapa saja yang berani mengganggu sesajen itu tidak akan menemui hari esok. Jadi saya ambil sebuah apel dari meja itu dan melemparnya ke arah sungai. Tidak ada yang terjadi pada saya. Sampai hari ini.
Di lain waktu, di masa kecil dahulu, ada pula pohon keramat lainnya tidak seberapa jauh dari rumah. Menurut kasak-kusuk, pohon itu ada penunggunya, sehingga tidak ada yang berani mendekat. Saya tidak hanya mendekat, saya bahkan memanjatnya dan menikmati pemandangan dari atas salah satu dahannya. Setelah puas bermain-main, saya tidak lupa mengencinginya, lalu pulang begitu saja. Namanya juga anak kecil. Tapi saya baik-baik saja.
Dan siapa bilang tidak boleh berpakaian warna hijau di pantai Pelabuhan Ratu? Nyi Roro Kidul tidak memiliki wibawa apa pun di mata saya. Saya berenang dengan celana berwarna hijau, toh kembali dengan selamat. Saat itu, ada beberapa penduduk sekitar yang melihat dengan tatapan ketakutan, seolah-olah ombak pasti datang untuk menelan apa pun yang berwarna hijau. Terlalu berlebihan. Barangkali jin-jin di lautan sana hanya gemar cincau, tapi kita melebih-lebihkannya.
Semuanya adalah hiperbola. Manusia tidak seharusnya tunduk pada jin. Tidak mungkin jin akan tergusur hanya karena kita menebang sebuah pohon. Jika memang dimensi manusia dan jin itu sama, maka ketika kita berjalan pun kita bisa menginjak bayi jin yang sedang belajar merangkak. Ketika kita buang angin, bisa jadi kita tengah bertindak tidak sopan di hadapan seorang kakek jin. Dari sekian banyak kemungkinan persinggungan antara manusia dengan jin, mengapa mereka hanya marah ketika pohon-pohon tertentu ditebang? Sungguh tidak masuk akal. Terlalu berlebihan.
Saran saya, jika ada pohon yang dianggap keramat, tebang saja sekalian! Ajaklah warga sekampung untuk melakukannya bersama-sama. Kalau perlu lengkapilah dengan aksi meludah bersama ke arah pohon terlaknat yang mengundang khurafat itu.
Takut sama jin? Aih, gengsi!
wassalaamu’alaikum wr. wb.