assalaamu'alaikum wr. wb.
Saya memiliki sebuah impian. Saya tidak bisa memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya, sehingga mustahil untuk menceritakannya. Tetapi Anda bisa merasakannya. Dan saya memang ingin Anda ikut merasakannya. Saya akan membuat Anda memahaminya.
Barangkali sebagian di antara Anda bertanya-tanya mengapa saya selalu menulis dengan penuh emosi. Jawabannya sederhana saja : karena memang pekerjaan ini melibatkan emosi yang sangat intens. Karena impian itu memang emosional. Karena saya hendak membuat Anda memahami impian saya.
Impian bukanlah sekedar keinginan. Impian adalah sesuatu yang begitu ingin kita wujudkan hingga kita mau melakukan begitu banyak hal yang nyaris tidak masuk akal untuk mewujudkannya. Orang-orang tertentu rela menghabiskan banyak waktu, tenaga, uang, bahkan nyawa pun digadai demi impian nan agung. Karena ia memang demikian bernilai, maka ia pun disebut 'impian'.
Saya memiliki alasan-alasan emosional dalam mengejar impian saya, demikian pula orang lain. Barangkali Anda tidak tahu bahwa ketika saya menulis, bukan hanya otak dan jemari saya saja yang bergerak cepat. Jantung saya berdegup kencang, sekujur tubuh saya merinding, air liur membasahi mulut, napas memburu, dan seluruh molekul dalam tubuh saya ikut bergetar. Berani sumpah saya bisa merasakan adrenalin saya terus-menerus terpompa! Saya tidak sedang membicarakan hal yang remeh-temeh. Saya ingin Anda merasakan impian saya.
Saya tidak sedang main-main di depan layar komputer. Menulis adalah sebuah pekerjaan yang sangat emosional bagi saya. Saya sungguh-sungguh merasa kelelahan secara fisik dan mental setelah menyelesaikan sebuah tulisan, tapi juga sekaligus lega. Mengejar impian adalah sebuah kebutuhan bagi saya. Saya tak tahu apa jadinya saya jika tidak lagi tergerak untuk mengejar impian, atau bahkan tidak lagi memiliki impian. Allah menciptakan saya dengan sebuah tujuan, bukan sekedar main-main.
Prajurit perang Badar memiliki sebuah impian. Begitu kuatnya impian itu sehingga mereka tidak pernah menghentikan langkah mereka menerjang musuh, apalagi berbalik mundur. Mereka lari dengan mengabaikan kelebat pedang dan tombak, di bawah hujan anak panah. Satu-dua anak panah yang menancap di tubuh tidak akan membuat molekul-molekul tubuh yang telah terhipnotis oleh impian itu menjadi surut. Satu-dua tusukan tombak tidak akan mengenyahkan nyawa, bahkan mereka tidak pernah mati sampai sekarang. Mereka tidak lagi bersama kita, tapi impiannya terus hidup.
Impian adalah sesuatu yang menggerakkan seluruh sel dalam tubuh manusia ke suatu arah tertentu. Impian membuat Anda mengatupkan kedua rahang Anda rapat-rapat, membuat sorot mata Anda terfokus ke satu arah, dan ketika tubuh telah mulai bergerak, tidak ada lagi yang bisa menghentikannya.
Impianlah yang membuat Bilal ra. menolak murtad meskipun disiksa sedemikian rupa. Impianlah yang membuat keluarga Yasir ra. rela menjemput gelar syuhada pertama. Impian pula yang membuat alm. Syaikh Ahmad Yassin berjuang tak kenal lelah meskipun tubuhnya nyaris hancur didera siksaan oleh musuh-musuhnya. Jangan tanya pula mengapa Hasan al-Banna mau bersusah payah menggempur musuh-musuh Islam dengan resiko dimusuhi bangsa sendiri dan menemui syahid di usia muda. Jawabannya hanya satu : beliau memiliki impian.
Saya tidak bisa menceritakan impian saya dengan lugas, namun ia terpatri dengan kuat dalam hati. Ketika saya mengetik, seolah-olah keadaan sekitar saya berguncang dengan kerasnya akibat getaran-getaran dalam hati yang memaksa saya untuk bergerak menjemput impian itu. Jangan tanya mengapa saya begitu emosional. Saya benar-benar terpaksa.
Dapatkah Anda merasakan impian saya?
wassalaamu'alaikum wr. wb.