assalaamu'alaikum wr. wb.
Tidak banyak yang tahu, saya sedang menghadapi masalah yang cukup besar akhir-akhir ini. Barangkali kalau saya ceritakan, banyak orang yang akan tertawa keras-keras karena menurut mereka itu bukan masalah sama sekali. Tapi buat saya, ini benar-benar berat!
Dan berhubung saya ini orangnya sangat sangat sangat introvert (ternyata sifat saya yang satu ini sudah diketahui oleh mbak Rika sesuai dengan isiannya pada johari window saya), jadi maafkanlah kalau saya tidak bisa menceritakan masalah ini pada orang lain. Setidaknya belum bisa. Paling tidak ketahuilah bahwa masalah dalam kepala saya ini cukup berat rasanya. Mungkin biasa-biasa saja buat orang lain, tapi tidak buat saya.
Solusinya sebenarnya sangat sederhana, tapi ada saja yang menghalangi saya untuk mencapainya. Padahal masalah ini sangat krusial buat saya. Saya benar-benar perlu memecahkan masalah ini. Solusinya ada di depan mata, tapi jangkauan saya tidak sepanjang itu. Saya merasa sangat gemas dibuatnya.
Kadang-kadang saya seperti hilang akal menghadapi masalah seperti ini. Saya terbiasa menggunakan akal, dan saya terbiasa dengan masalah-masalah yang logis yang selalu bisa dicari pemecahannya. Tapi kenyataannya, ada masalah-masalah yang memang hanya bisa dipecahkan dengan waktu. Kita hanya perlu pasrah menunggu datangnya 'tangan Tuhan' yang akan menyelesaikannya begitu saja.
Kedengarannya sungguh tidak realistis, terlalu banyak bermimpi, terlalu bersikap pasif, tapi ini benar-benar terjadi. Kelihatannya Allah memang sengaja membombardir saya dengan berbagai masalah semacam ini. Saya bisa memikirkannya jungkir balik, tapi pemecahannya tidak kunjung didapat. Ketika saya sudah pasrah dengan keputusan Allah, tiba-tiba saja masalah itu terpecahkan DENGAN MUDAHNYA! Barangkali memang saya sedang diajarkan untuk memahami keterbatasan akal manusia dan segera tunduk pada kehendak Allah. Memang ikhlas itu adalah pelajaran yang bukan main susahnya. Dan saya adalah murid yang bukan main bodohnya.
Sekarang pun saya masih belajar. Saya harus belajar menerima kenyataan bahwa saya tidak memegang kendali apa pun dalam hidup saya sendiri. Memang saya wajib berusaha, tapi mengakui kelemahan diri di hadapan Allah pun adalah kewajiban yang tidak kalah pentingnya. Kelihatannya untuk urusan yang terakhir ini saya agak lambat dalam mempelajarinya.
Bagaimana pun, saya sudah kapok untuk mengeluh. Seberat apa pun masalah, toh pemecahannya hanya seperti membalikkan telapak tangan saja kalau memang Allah berkehendak. Walaupun berat, saya akan memaksakan diri untuk tidak mengeluh. Saya tidak ingin menyesal seperti kejadian tempo hari, ketika saya merasa benar-benar telah mengkhianati Allah. Saya merasa putus asa. Kedengarannya biasa memang, tapi buat saya itu adalah sebuah pengkhianatan yang besar.
Anda tidak tahu betapa saya pernah menghabiskan waktu begitu lama hanya untuk menyelesaikan satu rakaat ketika shalat. Saya bahkan tidak mampu menyelesaikan bacaan surah An-Naas. Waktu itu saya tengah terjangkiti virus putus asa. Shalat pun jadi kurang berkualitas karena asal-asalan. Ternyata, surat yang (sangat) pendek yang saya pilih justru menohok langsung ke sasaran!
Masih ingatkah dengan surah An-Naas? Masih ingatkah bagaimana kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah, hingga nama-Nya disebutkan sampai tiga kali? Semua itu 'hanya' untuk mengatasi perasaan was-was di dalam hati akibat perbuatan syetan. Bukan berarti ada jin yang membisiki saya, karena syetan itu adalah sifat jahat yang dimiliki oleh jin dan manusia. Dengan kata lain, bisa jadi syetannya adalah saya sendiri! Surat pendek yang saya pilih dengan malas-malasan itu justru memberikan jawaban kepada semua permasalahan saya. Selama ini, kalau ada masalah, saya seringkali lupa meminta perlindungan kepada Allah.
Saya yakin Allah tidak sedang mendiskreditkan akal saya. Allah hanya ingin saya sadar bahwa dunia tidak berputar mengelilingi saya. Itu saja. Dan mengakui hal tersebut memang tidak mudah. Demi Allah, tidak mudah.
Apa pun yang terjadi sekarang, saya sudah kapok mengeluh. Saya tidak mau lagi menjadi pengkhianat. Disebut-sebut oleh orang lain sebagai pengkhianat adalah sebuah masalah yang jauh lebih mudah daripada menyadari diri sebagai pengkhianat sejati. Saya tidak mau melihat wajah seorang pengkhianat di dalam cermin. Not again.
Maaf, saya perlu menuliskan semua ini, sekedar untuk menguatkan tekad saya. Saya bertekad tidak akan mengeluh. Demi Allah, semua solusi hanya ada di sisi-Nya saja.
wassalaamu'alaikum wr. wb.