assalaamu'alaikum wr. wb.
Seorang teman protes karena saya jarang menulis jurnal di multiply akhir-akhir ini. Sebenarnya bukan kehabisan ide, tapi sedang menjaga konsentrasi ke hal-hal lain. Masalahnya saya sering terbagi konsentrasinya karena tertarik mengamati berbagai macam hal yang berbeda-beda. Anyway, untuk menanggapi protes keras tersebut, maka saya menulis artikel ini nyaris tanpa persiapan sebelumnya. Mudah-mudahan sih tidak membosankan. Untuk temanya, saya memilih seputar permasalahan yang selalu banyak tanggapan. Apa ada tema lain yang lebih laris daripada tema pernikahan?
* * * * * * *
Yang namanya orang tua itu kadang-kadang serba salah kalau anaknya sudah minta dinikahkan. Tapi anaknya juga merasa serba salah. Kalau dua-duanya tidak mau mengerti bahwa mereka sama-sama serba salah, nah ini baru namanya runyam. Tidak ada jalan lain selain kembali pada prinsip yang disepakati bersama. Prinsip apa lagi kalau bukan agama? Kalo orang tua dan anak sudah beda agama, nah ini baru runyam bin kacau balau!
Setahu saya sih, manfaat penting pernikahan itu adalah untuk menundukkan pandangan. Kalau sudah punya pasangan yang sah, insya Allah godaan-godaan syahwat (baik yang hanya di mata atau yang berkelanjutan ke level yang lebih gawat) dari luar bisa ditangkis. Paling tidak, mereka yang sudah menikah bisa menangkisnya lebih mudah daripada mereka yang belum menikah. Itulah sebabnya mereka yang merasa sudah 'dirongrong' oleh gangguan-gangguan semacam itu tapi belum siap menikah (karena berbagai alasan) maka dianjurkan untuk ber-shaum saja.
Jadi ada alasan yang sangat bagus untuk menikah. Masalahnya ya seputar gangguan-gangguan 'visual' itu tadi. Sebelum masalah itu membesar sampai tidak lagi terkonsentrasi pada indera penglihatan, maka ada baiknya segera dicegah. Cara pencegahannya sederhana saja : menikah!
Sederhana itu bukan berarti gampang. Ada hal-hal lain yang harus diperhitungkan sebelum menikah. Sekali lagi, yang namanya orang tua itu seringkali serba salah kalau anaknya sudah minta untuk dinikahkan, terutama kalau anaknya laki-laki. Umumnya orang tua ingin anaknya mapan dulu, punya pekerjaan tetap, punya tabungan yang cukup, kalau perlu punya rumah sekalian, agar pernikahannya lancar-lancar saja. Tapi dalam kebanyakan kasus, impian ini cuma sekedar impian saja. Memang mapan itu bukan persoalan yang gampang.
Di sisi lain, orang tua juga tidak salah kalau memiliki harapan seperti itu. Kemungkinan besar karena mereka pernah mengalami kesusahan dalam rumah tangganya karena masalah kemapanan itu. Tentu saja orang tua yang baik tidak ingin anaknya merasa kesusahan seperti itu. Tapi sekali lagi, biasanya ini cuma impian. One way or another, semua rumah tangga pasti mengalami cobaan. Rasulullah saw. dan 'Aisyah ra. saja pernah mengalami fitnah!
Kembali pada pokok permasalahan. Kalau sudah jelas tujuan dari pernikahan itu sebenarnya, maka tentunya sudah jelas pula skala prioritas yang harus digunakan dalam menentukan pilihan. Mapan dulu atau menikah dulu? Tergantung. Kalau memang sangat miskin sehingga untuk makan sendiri pun susah, barangkali lebih baik ia berkonsentrasi meningkatkan taraf hidupnya sedikit sambil rajin-rajin ber-shaum dan terus berdoa kepada Allah supaya dalam waktu dekat akan segera disiapkan oleh Allah untuk menikah. Tapi kalau keadaannya tidak susah-susah amat, barangkali menikah tetap harus diprioritaskan.
Masalahnya, menikah adalah (salah satu) usaha untuk menundukkan pandangan. Artinya pernikahan itu sendiri bukan hanya dilakukan untuk kepentingan biologis atau jasadi semata, melainkan juga kemapanan mental. 'Gangguan-gangguan visual' seperti yang kita bicarakan di awal tulisan nyata-nyata bisa mengganggu kinerja mental manusia, apalagi lelaki. Sekarang, kalau mental masih labil, bagaimana mau mapan?
Saya melihat kecenderungan berpikir yang sangat memprihatinkan di masyarakat karena mengikuti gaya berpikir Barat. Bagi mereka, mapan secara finansial itu mutlak sebelum menikah. Karena itu, biasanya mereka baru menikah di usia 30-an, bahkan di negara-negara maju bisa sampai usia 40. Memang mereka akhirnya bisa mapan secara finansial. Tapi bagaimana dengan mentalnya?
Sebelum menikah, banyak di antara mereka yang sudah tergoda untuk melepaskan keperawanan dan keperjakaannya. Seperti yang sudah saya bilang, seks itu bukan hanya kebutuhan biologis, tapi juga mental. Karena ini adalah fitrah, jadi setiap manusia tidak mungkin menghindar dari kenyataan ini. Kalau dipaksakan juga untuk menahan sampai usia yang cukup lanjut, maka besar kemungkinan ia akan terjerumus dalam dosa. Memang ada saja orang yang baru menemukan jodohnya di usia 30-an, karena memang Allah menakdirkan demikian, tapi jumlahnya relatif sedikit dibandingkan mereka yang memang memilih untuk menikah di usia 'lanjut'.
Bicara soal mental, masih ada masalah lain. Mencapai kemapanan itu bukan masalah yang mudah. Perlu ketangguhan mental. Katakanlah ia berhasil mencapai kemapanan di usia 35, lalu ia memutuskan untuk menikah. Tapi sejak awal ia sudah berjuang sendirian untuk mencapai kemapanan tersebut. Membuka diri bagi kehadiran orang lain untuk berjuang bersama tidak selalu mudah, apalagi pada orang-orang yang sudah terlanjur menjadi single fighter. Akhirnya, pernikahan semacam ini seringkali tidak awet, apalagi di negara-negara Barat.
Kalau kita kembali pada tujuan awal dari pernikahan tersebut, maka saya bisa menyimpulkan bahwa seharusnya yang diutamakan memang bukan mapan, tetapi menikah dulu. Justru menikah itulah yang diharapkan akan membantu manusia menjadi mapan, baik secara finansial, material maupun spiritual. Laki-laki membutuhkan pasangan perempuan, demikian pula sebaliknya. Inilah bentuk tim yang paling kuat yang bisa dibentuk oleh manusia. Inilah tim yang sangat besar kansnya untuk mencapai kemapanan bersama.
Harapan saya sih, kalau saya jadi orang tua, tidak akan dengan mudahnya menolak permintaan anak untuk dinikahkan hanya karena alasan 'belum mapan'. Justru anak itu harus dinikahkan supaya bisa buru-buru mapan. Supaya indera penglihatannya diselamatkan dari neraka. Siapa yang tidak ingin anaknya terselamatkan dari api neraka? Pasti serba salah, sih. Tapi siapa bilang jadi orang tua itu gampang?
* * * * * * *
Ucapan terima kasih saya sampaikan secara khusus pada CJ atas diskusi dan sharing-nya yang sangat-sangat-sangat bermanfaat. Mudah-mudahan ilmu dari ente bisa saya sebarkan, jadi ente tinggal tunggu transfer pahalanya dari saya dan semua orang yang baca artikel ini, OK?
wassalaamu'alaikum wr. wb.