Blog EntryMapan Dulu Atau ....?Apr 5, '06 9:33 AM
for everyone

assalaamu'alaikum wr. wb.

Seorang teman protes karena saya jarang menulis jurnal di multiply akhir-akhir ini.  Sebenarnya bukan kehabisan ide, tapi sedang menjaga konsentrasi ke hal-hal lain.  Masalahnya saya sering terbagi konsentrasinya karena tertarik mengamati berbagai macam hal yang berbeda-beda.  Anyway, untuk menanggapi protes keras tersebut, maka saya menulis artikel ini nyaris tanpa persiapan sebelumnya.  Mudah-mudahan sih tidak membosankan.  Untuk temanya, saya memilih seputar permasalahan yang selalu banyak tanggapan.  Apa ada tema lain yang lebih laris daripada tema pernikahan?

* * * * * * *

Yang namanya orang tua itu kadang-kadang serba salah kalau anaknya sudah minta dinikahkan.  Tapi anaknya juga merasa serba salah.  Kalau dua-duanya tidak mau mengerti bahwa mereka sama-sama serba salah, nah ini baru namanya runyam.  Tidak ada jalan lain selain kembali pada prinsip yang disepakati bersama.  Prinsip apa lagi kalau bukan agama?  Kalo orang tua dan anak sudah beda agama, nah ini baru runyam bin kacau balau!

Setahu saya sih, manfaat penting pernikahan itu adalah untuk menundukkan pandangan.  Kalau sudah punya pasangan yang sah, insya Allah godaan-godaan syahwat (baik yang hanya di mata atau yang berkelanjutan ke level yang lebih gawat) dari luar bisa ditangkis.  Paling tidak, mereka yang sudah menikah bisa menangkisnya lebih mudah daripada mereka yang belum menikah.  Itulah sebabnya mereka yang merasa sudah 'dirongrong' oleh gangguan-gangguan semacam itu tapi belum siap menikah (karena berbagai alasan) maka dianjurkan untuk ber-shaum saja.

Jadi ada alasan yang sangat bagus untuk menikah.  Masalahnya ya seputar gangguan-gangguan 'visual' itu tadi.  Sebelum masalah itu membesar sampai tidak lagi terkonsentrasi pada indera penglihatan, maka ada baiknya segera dicegah.  Cara pencegahannya sederhana saja : menikah!

Sederhana itu bukan berarti gampang.  Ada hal-hal lain yang harus diperhitungkan sebelum menikah.  Sekali lagi, yang namanya orang tua itu seringkali serba salah kalau anaknya sudah minta untuk dinikahkan, terutama kalau anaknya laki-laki.  Umumnya orang tua ingin anaknya mapan dulu, punya pekerjaan tetap, punya tabungan yang cukup, kalau perlu punya rumah sekalian, agar pernikahannya lancar-lancar saja.  Tapi dalam kebanyakan kasus, impian ini cuma sekedar impian saja.  Memang mapan itu bukan persoalan yang gampang.

Di sisi lain, orang tua juga tidak salah kalau memiliki harapan seperti itu.  Kemungkinan besar karena mereka pernah mengalami kesusahan dalam rumah tangganya karena masalah kemapanan itu.  Tentu saja orang tua yang baik tidak ingin anaknya merasa kesusahan seperti itu.  Tapi sekali lagi, biasanya ini cuma impian.  One way or another, semua rumah tangga pasti mengalami cobaan.  Rasulullah saw. dan 'Aisyah ra. saja pernah mengalami fitnah!

Kembali pada pokok permasalahan.  Kalau sudah jelas tujuan dari pernikahan itu sebenarnya, maka tentunya sudah jelas pula skala prioritas yang harus digunakan dalam menentukan pilihan.  Mapan dulu atau menikah dulu?  Tergantung.  Kalau memang sangat miskin sehingga untuk makan sendiri pun susah, barangkali lebih baik ia berkonsentrasi meningkatkan taraf hidupnya sedikit sambil rajin-rajin ber-shaum dan terus berdoa kepada Allah supaya dalam waktu dekat akan segera disiapkan oleh Allah untuk menikah.  Tapi kalau keadaannya tidak susah-susah amat, barangkali menikah tetap harus diprioritaskan.

Masalahnya, menikah adalah (salah satu) usaha untuk menundukkan pandangan.  Artinya pernikahan itu sendiri bukan hanya dilakukan untuk kepentingan biologis atau jasadi semata, melainkan juga kemapanan mental.  'Gangguan-gangguan visual' seperti yang kita bicarakan di awal tulisan nyata-nyata bisa mengganggu kinerja mental manusia, apalagi lelaki.  Sekarang, kalau mental masih labil, bagaimana mau mapan?

Saya melihat kecenderungan berpikir yang sangat memprihatinkan di masyarakat karena mengikuti gaya berpikir Barat.  Bagi mereka, mapan secara finansial itu mutlak sebelum menikah.  Karena itu, biasanya mereka baru menikah di usia 30-an, bahkan di negara-negara maju bisa sampai usia 40.  Memang mereka akhirnya bisa mapan secara finansial.  Tapi bagaimana dengan mentalnya?

Sebelum menikah, banyak di antara mereka yang sudah tergoda untuk melepaskan keperawanan dan keperjakaannya.  Seperti yang sudah saya bilang, seks itu bukan hanya kebutuhan biologis, tapi juga mental.  Karena ini adalah fitrah, jadi setiap manusia tidak mungkin menghindar dari kenyataan ini.  Kalau dipaksakan juga untuk menahan sampai usia yang cukup lanjut, maka besar kemungkinan ia akan terjerumus dalam dosa.  Memang ada saja orang yang baru menemukan jodohnya di usia 30-an, karena memang Allah menakdirkan demikian, tapi jumlahnya relatif sedikit dibandingkan mereka yang memang memilih untuk menikah di usia 'lanjut'.

Bicara soal mental, masih ada masalah lain.  Mencapai kemapanan itu bukan masalah yang mudah.  Perlu ketangguhan mental.  Katakanlah ia berhasil mencapai kemapanan di usia 35, lalu ia memutuskan untuk menikah.  Tapi sejak awal ia sudah berjuang sendirian untuk mencapai kemapanan tersebut.  Membuka diri bagi kehadiran orang lain untuk berjuang bersama tidak selalu mudah, apalagi pada orang-orang yang sudah terlanjur menjadi single fighter.  Akhirnya, pernikahan semacam ini seringkali tidak awet, apalagi di negara-negara Barat.

Kalau kita kembali pada tujuan awal dari pernikahan tersebut, maka saya bisa menyimpulkan bahwa seharusnya yang diutamakan memang bukan mapan, tetapi menikah dulu.  Justru menikah itulah yang diharapkan akan membantu manusia menjadi mapan, baik secara finansial, material maupun spiritual.  Laki-laki membutuhkan pasangan perempuan, demikian pula sebaliknya.  Inilah bentuk tim yang paling kuat yang bisa dibentuk oleh manusia.  Inilah tim yang sangat besar kansnya untuk mencapai kemapanan bersama.

Harapan saya sih, kalau saya jadi orang tua, tidak akan dengan mudahnya menolak permintaan anak untuk dinikahkan hanya karena alasan 'belum mapan'.  Justru anak itu harus dinikahkan supaya bisa buru-buru mapan.  Supaya indera penglihatannya diselamatkan dari neraka.  Siapa yang tidak ingin anaknya terselamatkan dari api neraka?  Pasti serba salah, sih.  Tapi siapa bilang jadi orang tua itu gampang?

* * * * * * *

Ucapan terima kasih saya sampaikan secara khusus pada CJ atas diskusi dan sharing-nya yang sangat-sangat-sangat bermanfaat.  Mudah-mudahan ilmu dari ente bisa saya sebarkan, jadi ente tinggal tunggu transfer pahalanya dari saya dan semua orang yang baca artikel ini, OK?

wassalaamu'alaikum wr. wb.


57 CommentsChronological   Reverse   Threaded
iprillia wrote on Apr 5, '06
Kesimpulannya : kapan?:)
array064 wrote on Apr 5, '06
akmal said
Apa ada tema lain yang lebih laris daripada tema pernikahan?
Kalau ga salah, ada dua hal yang ngga akan pernah ada habis2nya utk dibicarakan, yaitu ttg hal pernikahan dan ttg hal ghoib.
okalaksana wrote on Apr 5, '06
ayo kamu bisa!!!
tentangkami wrote on Apr 5, '06
*nunggu undagan dari akmal * :D
jonru wrote on Apr 5, '06
idem :)
simplyndah wrote on Apr 5, '06
Kalo untuk urusan ini mah udah ga' zamannya lagi diomongin
Yang penting DIPRAKTEKIIIIIIIIIIIIIIIIIN. :D
Undanganya ditunggu secepatnya ya bang Akmal!!!
gadissebrang wrote on Apr 5, '06
yang nulis ini blon nikah2 juga kan??
buruan donk :P
jangan lupa undangannya!!!
jonru wrote on Apr 5, '06
Kalo untuk urusan ini mah udah ga' zamannya lagi diomongin
Yang penting DIPRAKTEKIIIIIIIIIIIIIIIIIN. :D
SANGAT AMAT SETUJU BANGET SEKALI

*provokator mode = on*

hehehehehe.. :)
indrayogi wrote on Apr 5, '06
jonru said
*provokator mode = on*
mau dong di provokatorin juga ! hahaha
Comment deleted at the request of the author.
indrayogi wrote on Apr 5, '06, edited on Apr 5, '06
Akmal wrote: Saya melihat kecenderungan berpikir yang sangat memprihatinkan di masyarakat karena mengikuti gaya berpikir Barat. Bagi mereka, mapan secara finansial itu mutlak sebelum menikah.

Bener nih mal, dan paradigma ini sudah terlanjur terbentuk dari kapan ya di Indo ?. Rasulullah memang menyatakan yang boleh menikah itu mesti yang sudah siap tapi ngga mengatakan mesti kaya dan punya ini itu dulu. Dan yang sangat disayangkan lagi kalo ortu si pasangan masih menggunakan paradigma Barat tadi huhuhu, huhuhu senyum aja dah kalo udah gitu
rikaadinda wrote on Apr 5, '06
hehe.. aku tahu kpn akmal bakal nikah..
laurakhalida wrote on Apr 5, '06
tapi yang terjadi di saya lain lagi, ortu malah ngerti kalau calon masih belum mapan (yang pernting dia punya prospek ke depan kan, misalnya pendidikan, tanggung jawab, kemauan untuk usaha, dll) dan di saat sayanya siap hidup susah, tetap saja ikhwannya nggak pede ama diri sendiri. melihat rumah saya yang rada besar di Cimanggis, dia keder. itulah kadang saya mikir, ikhwan ini pilih2 ya? habis dia merasa punya kendala tapi nggak mengkomunikasikan kendala itu ma saya. dia langsung ambil kesimpulan kalau problem dalam diri dia ngerinya bakal ngerepotin pasangannya kelak. atpi apa kendalanya nggak disampaikan. kalau mau adil kan komunikasikan dengan saya, kasih saya kesempatan untuk analisa, bener nggak sih saya nggak bisa menyesuaikan diri dengan problem dia. padahal pendidikannya lebih tinggi dari saya, tapi nggak pede. itu yang saya kecewakan dari dia, nggak pede dengan kualitas dirinya sendiri. yah mungkin ini cara Allah menunjukkan mungkin dia nggak baik buat saya, atau... sayanya yang ngak baik untuk dia....
dwiswandi wrote on Apr 6, '06
wah..wah..wah...
sebenarnya bicara masalah nikah, saya juga sensi nich....
deudeuch...
sensi...
"Menanti sebuah jawaban...."
JawabanNya atas sebuah pertanyaanku...
Pertanyaan yang juga tersimpan dalam hati para the jombloers....
=D
akmal wrote on Apr 6, '06
busyret banyak amat reply-nya!!!!
ti2n wrote on Apr 6, '06
hhmm... tema nikah memang selalu menarik... terutama bagi para jomblo-wan dan jomblo-wati... hehehehe

:D
akmal wrote on Apr 6, '06, edited on Apr 6, '06
bales sekaligus aja deh.. hahaha

buat mbak iprilia : soon.... :)

buat mas hendra : bedanya kalo yg ghoib itu mengundang perdebatan panas, kalo tema pernikahan bikin semuanya jadi tersenyum diam2 di depan monitor hahahaha

buat mas oka : yoi donk insya Allah pasti bisa :))

buat mbak ida : sabar2 aja deh ya... hahaha

buat mas jonru yg aneh : jadi provokator nih? hahaha

buat mbak indah : hayo atuh kamu jg kudu praktek!!! :p

buat eka : aku masih pundung sama kamuh tp siap2 aja diundang ke Bogor ya..

buat mas indra yg minta dipanas-panasin : fuuuh fuuuh fuuuh (ceritanya lagi niup-niup nih biar apinya nyala) wakakaka

buat mbak rika : kalo dah tau mah mending buka praktek dukun aja mbak... hahaha wong saya aja blum tau kok...

buat mbak laura : memang laki2 itu cenderung mikirin yg gak enak2nya, apalagi utk urusan nikah... harap dimaklumi aja, soalnya emang begitu laki2 biasanya dididik baik oleh ortu, lingkungan, ataupun kehidupan.... waduh! story of my life...

buat mas dwiswandi yg masih bayi (haha) : sama2 mendoakan yuk mas.. :))

buat mbak titin yg jarang2 reply ke jurnal sayah : AKHIRNYA REPLY JUGA hahahaha
ti2n wrote on Apr 6, '06
akmal said
buat mbak titin yg jarang2 reply ke jurnal sayah : AKHIRNYA REPLY JUGA hahahaha
aih.. kena sentil deh saya ^_^;
jonru wrote on Apr 6, '06
hiks.. mas akmal
yang rhs kok dibahas jugah :(
aisyahputri wrote on Apr 6, '06
kalo orang tuanya ngebolehin, tapi justru si anak yag gak mau gimana?
*kalo ini kasusnya anaknya masih sekolah*
meelina wrote on Apr 6, '06
Hehe stuju tuh sama yg dibilang. Rejeki orang single sama orang sudah nikah pasti beda. Karena smua dah diatur ma Allah. Harta benda yang sifatnya sementara itu bisa dicari slama masih dikasih kehidupan ma Allah. Smua trgantung kita. Jadi inget sama Ibuku yg pernah crita makan sepiring berdua ( hehe waktu awal2 mreka baru nikah ga brgantung ma orang lain ( keluarganya ) tinggal ngontrak punya piring 5 pecah tinggal dua dah gitu ga brapa lama kemudian pecah lagi 1 eh jdnya hr itu sampe bs beli piring lg makannya spiring b2). hehe Alhamdulillah krn dr awal mrk udah berkomitmen jd smua bisa dilalui ampe skarang ini. Kalo Sabar, tawakal dan berusaha pasti slalu ad jalan dr Allah. Asal dua-duanya sama2 tanggung jawab sama pilihan hidupnya.
akmal wrote on Apr 6, '06
ti2n said
aih.. kena sentil deh saya ^_^;
ini membuktikan bahwa memang mbak titin sedang merencanakan hidup baru atau sudah ada manuver2 tersembunyi yg sudah terjadi menuju ke arah sana, sesuai dgn kecurigaan beberapa rekan MPers setelah membaca jurnal mbak titin yg terakhir hahahaha....
dwiswandi wrote on Apr 6, '06
ti2n said
aih.. kena sentil deh saya ^_^;
sentil sini - sentil sana...
yang tersentil harus bijaksana.....
( jargon Republik BBM )
=D

Iya nich mas akmal...sama2 ngedoain yach...
biar lekas dapet..
=D
Comment deleted at the request of the author.
akmal wrote on Apr 6, '06
kalo orang tuanya ngebolehin, tapi justru si anak yag gak mau gimana?
*kalo ini kasusnya anaknya masih sekolah*
tergantung... anak cowo bukan? kalo anak cowo sih baca aja jawaban saya buat mbak laura... :)) kalo anak cewe gak tau ya, dari lahir saya jadi cowo sih... :))
akmal wrote on Apr 6, '06
meelina said
Hehe stuju tuh sama yg dibilang. Rejeki orang single sama orang sudah nikah pasti beda. Karena smua dah diatur ma Allah. Harta benda yang sifatnya sementara itu bisa dicari slama masih dikasih kehidupan ma Allah. Smua trgantung kita. Jadi inget sama Ibuku yg pernah crita makan sepiring berdua ( hehe waktu awal2 mreka baru nikah ga brgantung ma orang lain ( keluarganya ) tinggal ngontrak punya piring 5 pecah tinggal dua dah gitu ga brapa lama kemudian pecah lagi 1 eh jdnya hr itu sampe bs beli piring lg makannya spiring b2). hehe Alhamdulillah krn dr awal mrk udah berkomitmen jd smua bisa dilalui ampe skarang ini. Kalo Sabar, tawakal dan berusaha pasti slalu ad jalan dr Allah. Asal dua-duanya sama2 tanggung jawab sama pilihan hidupnya.
nah yg kayak2 gini ini yg bakal jadi the sweetest memory... Rasulullah saw. jg gak bisa ngelupain Khadijah ra. (meskipun dah punya 'Aisyah ra. yg lebih muda, lebih pintar dan katanya lebih cantik) krn masa2 sulit kayak gitu... dahsyaaattt... :))
akmal wrote on Apr 6, '06
sentil sini - sentil sana...
yang tersentil harus bijaksana.....
( jargon Republik BBM )
=D

Iya nich mas akmal...sama2 ngedoain yach...
biar lekas dapet..
=D
TAUFIK SAVALAS 4 PRESIDENT !!!!

:D
akmal wrote on Apr 6, '06
laku jg tulisan tanpa rencana ini ya.... :))
ti2n wrote on Apr 6, '06
semoga yang nulis juga segera laku ;-)
*ato malah udah nih??! :p*
prajuritkecil wrote on Apr 6, '06
AYO Akmal.....CEPAT NIKAH SANA...!!!!
togie wrote on Apr 6, '06
Selamat menempuh hidup baru bang...
Horas Bah..
akmal wrote on Apr 6, '06
ti2n said
semoga yang nulis juga segera laku ;-)
*ato malah udah nih??! :p*
saya mah dah laku ti baheula oge... (ngajak basa sunda dgn asumsi mba titin org sunda) :p
akmal wrote on Apr 6, '06
AYO Akmal.....CEPAT NIKAH SANA...!!!!
galak amat ibu2 yg satu ini... :p sedang direncanakan tauuuuuuuuuu...!!!! kerja di Aceh aja ampe ditolak demi agenda nikah, tau gak? hahahaha rahasia perusahaan dibeberkan akhirnya euy....
akmal wrote on Apr 6, '06
togie said
Selamat menempuh hidup baru bang...
Horas Bah..
Horas juga bos!!!! :))
akmal wrote on Apr 6, '06
dalam waktu 2 hari, jurnal ini sudah dibuka oleh 34 orang MPers sebanyak 131 kali... hahaha.... laris maniiiissssss...!!!!
ti2n wrote on Apr 6, '06
akmal said
kerja di Aceh aja ampe ditolak demi agenda nikah, tau gak?
ooo gituu.... *angguk-angguk*
jadi kapan undangannya mo disebar...?
akmal wrote on Apr 6, '06
segera setelah tanggalnya pasti donk... gimana seh???? hahaha
indrayogi wrote on Apr 6, '06
AYO Akmal.....CEPAT NIKAH SANA...!!!!
pppfftt.....tegas dan lugas ! makasih mba Ira
simplyndah wrote on Apr 6, '06
Buktikan...buktikan....!!!!!!!!!!!
NATO....No Action Talk Only
(en d war is bigan) :D
pandri wrote on Apr 7, '06
ternyata tidak semudah mampu=menikah, belum mampu=puasa yah: ;)
yang jadi pertanyaan sekarang ada pada "ukuran" mapannya yang seperti apa?
kalo menunggu punya rumah & mobil bisa jadi bujang lapuk! he*
tergantung "nrimo-nya" calon istri juga ding :)

wass.
akmal wrote on Apr 7, '06
oohohoho ada yg ngajak perang nih... :D
akmal wrote on Apr 7, '06
pppfftt.....tegas dan lugas ! makasih mba Ira
seneng ya kalo ada yg nyepet gw.... hahaha tunggu pembalasanku!!!
indrayogi wrote on Apr 7, '06
Mal....memaafkan lebih dulu itu merupakan perbuatan yang disukai oleh Rasul lhoooo....uheuheuheuh..
akmal wrote on Apr 7, '06
iya tapi qishash itu adalah hak segala bangsa hahahahahahaha.....
indrayogi wrote on Apr 7, '06
dih parah bener udah maen qishash aja ni orang huhuhuh
akmal wrote on Apr 7, '06
yoi donks kudu galak saeutik, mun henteu bisi ditindas wae hahaha
prajuritkecil wrote on Apr 7, '06
pppfftt.....tegas dan lugas ! makasih mba Ira
eh tolong ya...!!! itu juga perintah buat dikauw.... jangan merasa bebas tugas....!!!!!
prajuritkecil wrote on Apr 7, '06
pandri said
ternyata tidak semudah mampu=menikah, belum mampu=puasa yah: ;)
yang jadi pertanyaan sekarang ada pada "ukuran" mapannya yang seperti apa?
kalo menunggu punya rumah & mobil bisa jadi bujang lapuk! he*
tergantung "nrimo-nya" calon istri juga ding :)
eh mal... di rumahku tuh ya...lagi ada masalah lumayan gede. ternyata beberapa biang masalahnya adalah pemuda-pemuda yang belum menikah....
aku sampe bilang ke adikku dan ibuku... jangan sampe deh pada telat nikah, ntar jadi ngaco dan bikin rusuh kampung doank kerjanya...
ati-ati Mal... ntar nt ikut-ikutan ngaco lho..
hidup ini kan cuma ada di dua pilihan, kalo gak berada dalam kebaikan berarti kita sedang ada dalam keburukan..kalo menikah itu udah jelas-jelas dikatakan terdapat beribu kebaikan..nah..yang gak nikah berarti berada di beribu apa donk...?????
albirru wrote on Apr 7, '06
masalahnya, persepsi orang akan mapan itu beda2. Apalagi yg namanya manusia nggak ada puasnya sama yg namanya materi. Ya nggak pak? Jadi, kpn undangannya neh?
albirru wrote on Apr 7, '06
hehe.. telat ngereply yah.. tau2 udah rammeeeeee!!!
akmal wrote on Apr 8, '06
eh tolong ya...!!! itu juga perintah buat dikauw.... jangan merasa bebas tugas....!!!!!
yess...!! DEVIDE ET IMPERA berhasil!!! :p
akmal wrote on Apr 8, '06
eh mal... di rumahku tuh ya...lagi ada masalah lumayan gede. ternyata beberapa biang masalahnya adalah pemuda-pemuda yang belum menikah....
aku sampe bilang ke adikku dan ibuku... jangan sampe deh pada telat nikah, ntar jadi ngaco dan bikin rusuh kampung doank kerjanya...
ati-ati Mal... ntar nt ikut-ikutan ngaco lho..
hidup ini kan cuma ada di dua pilihan, kalo gak berada dalam kebaikan berarti kita sedang ada dalam keburukan..kalo menikah itu udah jelas-jelas dikatakan terdapat beribu kebaikan..nah..yang gak nikah berarti berada di beribu apa donk...?????
hahaha saya sih udah ngaco dari sononya mbak... huehehehe... tenang, gak ada niat menunda2 kok... makanya saya harus menjauh dari ITB nih... di ITB banyak yg workaholic atau studyholic ampe lupa kawin... hahahahaa fakta tuh... :p
akmal wrote on Apr 8, '06
albirru said
hehe.. telat ngereply yah.. tau2 udah rammeeeeee!!!
iya nih... makanya gaul donks! kalo liat ada blog dari saya langsung buka cepetan, biar gak ketinggalan info hahahaha.... :p
akmal wrote on Apr 8, '06
albirru said
Jadi, kpn undangannya neh?
sabar... sabar... one surprise at a time, okay? :))
albirru wrote on Apr 10, '06
maklum deh mal.. blon konek nih.. kelamaan offline. :D
Oke deh.. gak usah dibahas lg undangannya, langsung aja ya nanti... ini alamatku....jl. ir.h... (hehe... mupeng)
arvenda wrote on Apr 11, '06
wakakakaka.. laris maniss maaang :))))
nikah emang ga ada abisnyee :P
(* jd pengen.....)
akmal wrote on Apr 12, '06
hohohohoho..............
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help