Blog EntryPuisi-Puisi RahasiaApr 9, '06 12:27 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

 

Hal yang paling saya sukai dari puisi adalah kerahasiaannya.  Saya bisa menuliskan segala hal dengan berbagai kata yang saya pilih, namun saya bisa tetap mempertahankan misteri maknanya sedemikian rupa sehingga tidak ada orang yang akan benar-benar mengerti apa yang tengah saya sampaikan dengan puisi itu, kecuali saya sendiri tentunya.  Dengan demikian, penafsiran setiap orang terhadap sebuah puisi juga bisa berbeda-beda.  Inilah yang membuat puisi menjadi sangat pribadi bagi setiap orang.

 

Saya juga senang ‘mempermainkan’ orang-orang yang coba-coba membaca puisi saya dengan rangkaian kata yang aneh.  Mungkin kalimatnya sendiri tidak seberapa aneh, tapi tidak ada yang mengerti maksudnya selain saya sendiri.  Kerahasiaan adalah sesuatu yang sangat janggal sekaligus menyenangkan.  Sebenarnya banyak rahasia yang sudah saya beberkan, tapi tidak banyak yang tahu.

 

 

 

Hujan

 

sementara kita menyusuri pantai mati ini

kau bertanya-tanya pada kemarau

yang terus melanda hati

dan pasir yang menyelinap di antara kedua kakimu

hingga hujan turun dari kedua matamu

dan sepi berhembus.  membawamu dalam kebekuan. 

“Kita akan jatuh,” katamu

tapi tak ada siapa pun.

seluruh bumi membisu

dan membatu

 

hingga hujan turun membasahi kedua matamu

dan jauh di dalam hatimu kau ingin memaafkan

tapi tidak pernah bisa kau temukan sebuah samudera

yang mampu menelanmu ke dalam luasnya

kita pun tenggelam dalam birunya langit.

 

begitu inginnya memberi maaf

hingga hujan turun membasahi kedua matamu

 

 

Bandung, 13 September 2001

 

 

 

Malam Ini Saja

 

bisakah kau kembali, malam ini saja?

kalau pun hanya untuk mengenang

masa kecilmu

ketika kau hanya bisa tidur saja di dekapan

 

hari-hari ini,

aku telah belajar

bahwa waktu tak pernah membiarkan kita

dan hidup tak hendak melepasku

meski begitu besarnya harapan

untuk menjemputmu kembali

 

demi Tuhan,

apa pun akan kugadaikan

hanya untuk menggandeng tangan kecilmu

sekali lagi

 

bisakah kau kembali, malam ini saja?

 

Bandung, 5 Agustus 2003

 

 

 

Bisu

 

malam tak berangin berlalu lagi

melenyapkan bukit-bukit yang terus bungkam

meneriakkan segala yang dipendam di dalamnya

pohon, hewan, rembulan, semua bicara!

 

dalam sebuah kepanikan tak berwujud,

sebuah tangis tanpa bentuk diteriakkan

dari tubuh-tubuh yang tidak mengenali dirinya sendiri

bebatuan, rerumputan, semuanya hidup dalam diam!

 

nun jauh di negeri seberang,

malam tak berangin menyapu bukit-bukit pasir

dalam sebuah pembunuhan yang tak berjerit

pasir dan bebatuan menelan setiap suara

langit dan bumi, semua

meneriakkan pilunya sendiri-sendiri!

 

Bandung, 3 Mei 2005

 

 

 

Hilang

 

bagaimana aku harus menjelaskan tentang tahun-tahun yang hilang begitu saja dari hidupku?  bagaimana aku harus membuatmu mengerti bahwa masa-masa itu bagaikan tidak pernah ada?  dan bagaimana aku harus bicara tentang ingatan yang seolah lenyap di balik bukit?

 

waktu terus bergulir, nasib terus bergilir, namun semuanya masih begitu tersembunyi.  kita memang tidak dilahirkan untuk benar-benar paham.  semakin kau berpikir, akan semakin banyak yang tidak kaumengerti.  jadi katakanlah padaku, bagaimana aku harus membuatmu mengerti?

 

malam berganti pagi, pagi berganti siang, dan matahari pun kembali terbenam, tapi semuanya begitu penuh rahasia.  setiap kaubuka sebuah tabir, maka tabir lain sudah menunggu di baliknya.  di atas langit ada langit, di balik bukit ada bukit, dan kita tidak pernah menyelam begitu dalam ke kegelapan lautan.  bagaimana aku harus menggambarkan kegelapan yang begitu pekat padamu, sementara mataku pun tiada mampu melihat?

 

adakah engkau mengerti, bahwa semua ini begitu tidak bisa dimengerti ; begitu sesat dan menyesatkan, seperti lorong-lorong yang dilingkupi oleh dinding-dinding yang tinggi menembus awan?  entah kemana kita akan dibawanya.  entah kemana kaki ini hendak berlari, tapi toh ia lari juga.  bagaimana aku harus membuatmu mengerti bahwa kita tidak punya jalan untuk melarikan diri?  bagaimana aku harus meyakinkanmu untuk berbalik dan menghadapi tahun-tahun yang hilang?

 

Bandung, 11 Juli 2005

 

 

 

Alasan

 

di tengah belantara yang terbuat dari baja dan beton ini, asap membubung tinggi, aspal yang hitam pun semakin terbenam dalam hitamnya terik matahari.  tidak sebutir pun awan datang hari ini, dan langit membiru sebiru-birunya.  tidak setetes embun pun tersisa, menguap seperti peluhku juga.  aku merasakan terik, tapi tidak kupedulikan lagi, karena matahari hanya membakar mereka yang mengakuinya, dan dahaga hanya datang pada mereka yang menginginkan air.  aku tidak mengakui kekuasaan matahari atas diriku, dan aku pun terlalu angkuh untuk sekedar memohon seteguk air.  tidak ada alasan bagiku untuk melakukan apa pun.  di bawah teriknya siang hari, di tengah hiruk-pikuk besi dan timah yang saling berdentingan seperti ini, tidak ada alasan untuk apa pun.  dan aku pun tidak punya alasan untuk mengakui keberadaanmu.  bagaimana pun teriknya hari ini, aku tidak punya alasan untuk mendengarkan segala hasutanmu.  kau hanyalah desau angin.  kau tidak berarti.  aku tidak mengakuimu.

 

Bandung, 16 Juli 2005

 

 

 

Bicara Sekarang Juga !

 

tolong katakan pada bukit-bukit hijau itu

berhentilah membisu!

dunia penuh sesak dengan mereka yang diam

dan kita tidak bisa lagi hidup membungkam

 

tolong katakan pada angin yang mendesau itu

berhentilah bersikap seolah tidak ada yang salah!

kita telah lama mendiamkan semua ini

luka telah menjadi busuk

 

tolong katakan pada langit yang cerah di atas sana

semuanya tidak pernah baik-baik saja!

keindahanmu adalah dusta

biarkan kami terbakar,

tapi jangan suruh kami diam!

 

berhentilah membisu!

 

Bandung, 21 Oktober 2005

 

 

 

Ah, segala yang rahasia itu memang sedap.....

 

wassalaamu’alaikum wr. wb.


26 CommentsChronological   Reverse   Threaded
droppingzone wrote on Apr 9, '06
akmal said
bisakah kau kembali, malam ini saja?
Seettt daaahh... Udah malem ooyy!
Jam 23:44 WIB !!!
akmal wrote on Apr 9, '06
lah situ sendiri ngapain online jam segini??? :D :p
droppingzone wrote on Apr 9, '06
akmal said
lah situ sendiri ngapain online jam segini??? :D :p
akmal wrote on Apr 9, '06
nggeus ah urang geus tunduh yeuh, keur sare, ngarti teu?? :p ;D

hati2 pas ronda ya... jgn mikirin puisi2 saya... moal ngartieun lah ente mah... hahaha
droppingzone wrote on Apr 9, '06, edited on Apr 9, '06
akmal said
nggeus ah urang geus tunduh yeuh, keur sare, ngarti teu?? :p ;D

hati2 pas ronda ya... jgn mikirin puisi2 saya... moal ngartieun lah ente mah... hahaha
Wahhh... Si borokokok yeuh!
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
jonru wrote on Apr 10, '06
Hehehehe..
lagi-lagi kita punya satu persamaan :)

Saya juga suka main rahasia-rahasiaan dalam berpuisi
Tapi itu dulu, ketika saya masih muda belia dan banyak masalah (atau saya sendiri yang emang suka cari masalah, hehehehe..)

Sekarang sih, saya lebih suka menulis puisi yang "terang benderang", seperti Taufik Ismail.
simplyndah wrote on Apr 10, '06
akmal said
Ah, segala yang rahasia itu memang sedap.....
Udahlah bang akmal ini, kalo lagi badabinlove jangan main rahasia.
Buruan adain Walimatul ursy, dan undang MPers.
:P .... (kipas2, panas-panas)
brownhieze wrote on Apr 10, '06
iyah.. meni dalem ini teh puisi2nyah..
agustianwar wrote on Apr 10, '06
Akmal, puisinya bagus-bagus, apalagi yang 'dark poems' itu. Mestinya lebih sering menulis puisi... Soal maknanya di mata pembaca, penyairnya tak perlu punya pretensi sendiri. Sebab, ketika ia sudah sampai ke tangan pembaca, benar bahwa maknanya menjadi milik masing-masing. Saya kira, semakin beragam makna yang diterimakan, semakin sukses sajak itu dan tentunya akan lebih baik apabila itu bukan sekedar permainan. Sebab, sajak sebetulnya jauh lebih sensitif dan serius dari banyak karya lainnya... Salam, Anwar/Agus Harpe.
akmal wrote on Apr 11, '06
jonru said
Sekarang sih, saya lebih suka menulis puisi yang "terang benderang", seperti Taufik Ismail.
sebenernya sih gak ada puisi yg sebener-benernya terang benderang, krn biarpun dgn gaya Taufik Ismail yg agak2 jelas sekalipun, pasti penulisnya sendiri punya gambaran yg unik dan personal atas puisinya... :p itu pendapat saya sih...
akmal wrote on Apr 11, '06
Udahlah bang akmal ini, kalo lagi badabinlove jangan main rahasia.
Buruan adain Walimatul ursy, dan undang MPers.
:P .... (kipas2, panas-panas)
idih puisi2 yg ini gak ada hubungannya ama cinta-cintaan tauuuu...!! hahaha makanya saya bilang jg rahasia, jd silakan interpretasi sendiri maksudnya apa.... tp jgn protes kalau saya salahkan hohoho....

by the way, kok pertanyaan saya waktu itu blum dijawab mbak? siapakah lelaki itu? hahahaha
akmal wrote on Apr 11, '06
iyah.. meni dalem ini teh puisi2nyah..
sedalam apakah? :p
jonru wrote on Apr 11, '06
akmal said
sebenernya sih gak ada puisi yg sebener-benernya terang benderang
betul juga..
tapi setidaknya, kita sudah berusaha untuk terang benderang ketika menulis puisi tersebut
misalnya: dengan menyalakan lampu yang watt-nya tinggi

*halah! gak ada hubungannya!*
akmal wrote on Apr 11, '06
Akmal, puisinya bagus-bagus, apalagi yang 'dark poems' itu. Mestinya lebih sering menulis puisi... Soal maknanya di mata pembaca, penyairnya tak perlu punya pretensi sendiri. Sebab, ketika ia sudah sampai ke tangan pembaca, benar bahwa maknanya menjadi milik masing-masing. Saya kira, semakin beragam makna yang diterimakan, semakin sukses sajak itu dan tentunya akan lebih baik apabila itu bukan sekedar permainan. Sebab, sajak sebetulnya jauh lebih sensitif dan serius dari banyak karya lainnya... Salam, Anwar/Agus Harpe.
wah makasih atas reply-nya yg sangat ilmiah mas... :) hehehe saya emang sering menulis puisi kok, tapi gak terlalu sering mempublikasikannya... kalo ada maksud khusus baru dipublikasikan... :))
akmal wrote on Apr 11, '06
jonru said
betul juga..
tapi setidaknya, kita sudah berusaha untuk terang benderang ketika menulis puisi tersebut
misalnya: dengan menyalakan lampu yang watt-nya tinggi

*halah! gak ada hubungannya!*
asal jgn pake lampu stadion aja mas... ntar terlalu silau lagi... haahahha
brownhieze wrote on Apr 11, '06
sedalam mutiara di dasar hati...
halaahh =))
akmal wrote on Apr 11, '06
wah ada mutiara toh di hatinya... kalo kepepet bisa dijual mahal tuh... hahaha
brownhieze wrote on Apr 11, '06
jangan dijual mal.. digadaikan ajah, nti kl ada uang kan bisa balik lagi.. =))
arvenda wrote on Apr 11, '06
hwaa.. puisinya mantabh maannn
kena deh hati gw.... hueheuhue
simplyndah wrote on Apr 11, '06
akmal said
idih puisi2 yg ini gak ada hubungannya ama cinta-cintaan tauuuu...!!
Mau ada hubunganya, mau engga!!!
Yang penting... Provokasi Must go On, anyhow!!!

Cheerleader
akmal wrote on Apr 12, '06
jangan dijual mal.. digadaikan ajah, nti kl ada uang kan bisa balik lagi.. =))
hmm bener juga yah... pinter juga dikau berbisnis... :p
akmal wrote on Apr 12, '06
arvenda said
hwaa.. puisinya mantabh maannn
kena deh hati gw.... hueheuhue
mantab dari hongkooooooong!!!! :D
akmal wrote on Apr 12, '06
Mau ada hubunganya, mau engga!!!
Yang penting... Provokasi Must go On, anyhow!!!

Cheerleader
Allaahu Akbar!!! Lho...? :p
packdhe wrote on Feb 8, '07
allahu akbar......
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help