assalaamu’alaikum wr. wb.
Hal yang paling saya sukai dari puisi adalah kerahasiaannya. Saya bisa menuliskan segala hal dengan berbagai kata yang saya pilih, namun saya bisa tetap mempertahankan misteri maknanya sedemikian rupa sehingga tidak ada orang yang akan benar-benar mengerti apa yang tengah saya sampaikan dengan puisi itu, kecuali saya sendiri tentunya. Dengan demikian, penafsiran setiap orang terhadap sebuah puisi juga bisa berbeda-beda. Inilah yang membuat puisi menjadi sangat pribadi bagi setiap orang.
Saya juga senang ‘mempermainkan’ orang-orang yang coba-coba membaca puisi saya dengan rangkaian kata yang aneh. Mungkin kalimatnya sendiri tidak seberapa aneh, tapi tidak ada yang mengerti maksudnya selain saya sendiri. Kerahasiaan adalah sesuatu yang sangat janggal sekaligus menyenangkan. Sebenarnya banyak rahasia yang sudah saya beberkan, tapi tidak banyak yang tahu.
Hujan
sementara kita menyusuri pantai mati ini
kau bertanya-tanya pada kemarau
yang terus melanda hati
dan pasir yang menyelinap di antara kedua kakimu
hingga hujan turun dari kedua matamu
dan sepi berhembus. membawamu dalam kebekuan.
“Kita akan jatuh,” katamu
tapi tak ada siapa pun.
seluruh bumi membisu
dan membatu
hingga hujan turun membasahi kedua matamu
dan jauh di dalam hatimu kau ingin memaafkan
tapi tidak pernah bisa kau temukan sebuah samudera
yang mampu menelanmu ke dalam luasnya
kita pun tenggelam dalam birunya langit.
begitu inginnya memberi maaf
hingga hujan turun membasahi kedua matamu
Bandung, 13 September 2001
Malam Ini Saja
bisakah kau kembali, malam ini saja?
kalau pun hanya untuk mengenang
masa kecilmu
ketika kau hanya bisa tidur saja di dekapan
hari-hari ini,
aku telah belajar
bahwa waktu tak pernah membiarkan kita
dan hidup tak hendak melepasku
meski begitu besarnya harapan
untuk menjemputmu kembali
demi Tuhan,
apa pun akan kugadaikan
hanya untuk menggandeng tangan kecilmu
sekali lagi
bisakah kau kembali, malam ini saja?
Bandung, 5 Agustus 2003
Bisu
malam tak berangin berlalu lagi
melenyapkan bukit-bukit yang terus bungkam
meneriakkan segala yang dipendam di dalamnya
pohon, hewan, rembulan, semua bicara!
dalam sebuah kepanikan tak berwujud,
sebuah tangis tanpa bentuk diteriakkan
dari tubuh-tubuh yang tidak mengenali dirinya sendiri
bebatuan, rerumputan, semuanya hidup dalam diam!
nun jauh di negeri seberang,
malam tak berangin menyapu bukit-bukit pasir
dalam sebuah pembunuhan yang tak berjerit
pasir dan bebatuan menelan setiap suara
langit dan bumi, semua
meneriakkan pilunya sendiri-sendiri!
Bandung, 3 Mei 2005
Hilang
bagaimana aku harus menjelaskan tentang tahun-tahun yang hilang begitu saja dari hidupku? bagaimana aku harus membuatmu mengerti bahwa masa-masa itu bagaikan tidak pernah ada? dan bagaimana aku harus bicara tentang ingatan yang seolah lenyap di balik bukit?
waktu terus bergulir, nasib terus bergilir, namun semuanya masih begitu tersembunyi. kita memang tidak dilahirkan untuk benar-benar paham. semakin kau berpikir, akan semakin banyak yang tidak kaumengerti. jadi katakanlah padaku, bagaimana aku harus membuatmu mengerti?
malam berganti pagi, pagi berganti siang, dan matahari pun kembali terbenam, tapi semuanya begitu penuh rahasia. setiap kaubuka sebuah tabir, maka tabir lain sudah menunggu di baliknya. di atas langit ada langit, di balik bukit ada bukit, dan kita tidak pernah menyelam begitu dalam ke kegelapan lautan. bagaimana aku harus menggambarkan kegelapan yang begitu pekat padamu, sementara mataku pun tiada mampu melihat?
adakah engkau mengerti, bahwa semua ini begitu tidak bisa dimengerti ; begitu sesat dan menyesatkan, seperti lorong-lorong yang dilingkupi oleh dinding-dinding yang tinggi menembus awan? entah kemana kita akan dibawanya. entah kemana kaki ini hendak berlari, tapi toh ia lari juga. bagaimana aku harus membuatmu mengerti bahwa kita tidak punya jalan untuk melarikan diri? bagaimana aku harus meyakinkanmu untuk berbalik dan menghadapi tahun-tahun yang hilang?
Bandung, 11 Juli 2005
Alasan
di tengah belantara yang terbuat dari baja dan beton ini, asap membubung tinggi, aspal yang hitam pun semakin terbenam dalam hitamnya terik matahari. tidak sebutir pun awan datang hari ini, dan langit membiru sebiru-birunya. tidak setetes embun pun tersisa, menguap seperti peluhku juga. aku merasakan terik, tapi tidak kupedulikan lagi, karena matahari hanya membakar mereka yang mengakuinya, dan dahaga hanya datang pada mereka yang menginginkan air. aku tidak mengakui kekuasaan matahari atas diriku, dan aku pun terlalu angkuh untuk sekedar memohon seteguk air. tidak ada alasan bagiku untuk melakukan apa pun. di bawah teriknya siang hari, di tengah hiruk-pikuk besi dan timah yang saling berdentingan seperti ini, tidak ada alasan untuk apa pun. dan aku pun tidak punya alasan untuk mengakui keberadaanmu. bagaimana pun teriknya hari ini, aku tidak punya alasan untuk mendengarkan segala hasutanmu. kau hanyalah desau angin. kau tidak berarti. aku tidak mengakuimu.
Bandung, 16 Juli 2005
Bicara Sekarang Juga !
tolong katakan pada bukit-bukit hijau itu
berhentilah membisu!
dunia penuh sesak dengan mereka yang diam
dan kita tidak bisa lagi hidup membungkam
tolong katakan pada angin yang mendesau itu
berhentilah bersikap seolah tidak ada yang salah!
kita telah lama mendiamkan semua ini
luka telah menjadi busuk
tolong katakan pada langit yang cerah di atas sana
semuanya tidak pernah baik-baik saja!
keindahanmu adalah dusta
biarkan kami terbakar,
tapi jangan suruh kami diam!
berhentilah membisu!
Bandung, 21 Oktober 2005
Ah, segala yang rahasia itu memang sedap.....
wassalaamu’alaikum wr. wb.