Blog EntryPengalaman Saya Dengan Kaum LiberalisApr 13, '06 3:24 AM
for everyone
assalaamu'alaikum wr. wb.

Salah satu sifat dasar kaum liberalis adalah sombong. Memang liberalisme sendiri adalah sebuah ajaran yg didasarkan pada nilai-nilai kesombongan yang mereka sebut sebagai 'kebebasan'. Kebebasan, bagi manusia, memang merupakan sebuah euforia yang terlalu berlebihan. Kebebasan itu sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar ada, karena manusia memang tidak bebas.

Apakah kebebasan itu? Apakah merokok dan merusak hidup orang banyak di sekitar Anda adalah sesuatu yang bebas dilakukan siapa saja? Apakah bertelanjang bulat dan membuat semua orang resah (kecuali yang tidak normal akalnya) adalah sebuah kebebasan bagi setiap orang? Apakah merenggut paksa tanah orang Aborigin dan Palestina adalah sebuah kebebasan bagi setiap bangsa? Apakah menyebarkan berita-berita yang belum pasti kebenarannya adalah hak setiap orang?

Bisakah Anda membayangkan dunia dimana setiap orang bebas berbuat apa saja? Orang-orang bebas berbugil ria di jalan, narkoba dikonsumsi oleh anak-anak SD, manusia meniru anjing (kencing di bawah pohon dan berhubungan seks di pinggir jalan), dan barangkali nanti Anda juga akan melihat sekelompok orang yang buang air besar di halaman rumahnya sendiri dan jadi tontonan banyak orang. Selamat datang di dunia penuh kebebasan!

Para penganut kebebasan itu sendiri sebenarnya hipokrit. Mereka bilang bebas, padahal mereka ingin semua orang menurut pada standar mereka. Jadi apanya yang bebas? Liberalisme sejatinya hanyalah penjajahan dengan bahasa yang lebih sedap didengar. Tanyakanlah pada penduduk Irak : bagaimanakah wajah kebebasan yang dibawa oleh tentara-tentara AS ke negeri mereka?

Dengan semangat kebebasan, barangkali kaum liberalis juga menganggap bahwa mereka bebas sebebas-bebasnya untuk melancarkan fitnah. Fitnah ya fitnah. Tentu saja tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tapi mereka tetap melenggang dengan sombongnya, karena kesombongan adalah prinsip liberalisme itu sendiri.

Kasus I
Pada sebuah group di Multiply ini, pernah ada sebuah diskusi seputar sebuah artikel yang isinya mendiskreditkan Tuhan dan menunjukkan (seolah-olah) kaum atheis itu juga berhak menerima simpati. Tentu saja orang-orang yang beriman dengan ajaran agamanya lalu memberikan berbagai tanggapan yang sifatnya ofensif. Lalu muncullah orang-orang liberal yang bilang "Orang yang beragama jangan merasa lebih pintar daripada mereka yang atheis, ya! Jangan sombong!"

Mendengar kata "sombong" muncul ke permukaan, saya pun tergoda untuk memberi komentar. Singkat dan sederhana saja. Kalau ada manusia bersikap sombong di hadapan manusia lain saja sudah tidak pantas, lalu apa pantasnya manusia bersikap sombong di hadapan Tuhan?

Kasus II
Di milis FLP pernah muncul seseorang yang tidak dikenal yang tiba-tiba membawa berbagai wacana 'aneh'. Aneh, karena milis itu adalah milis yang membicarakan masalah seputar kepenulisan, sedangkan yang ia bicarakan adalah seputar kebencian yang 'ditiupkan' oleh umat Islam kepada Yahudi, Holocaust dan sebagainya. Dalam bahasa 'gaul' di internetnya : Dia itu OOT !!

Lalu saya bilang baik-baik bahwa orang Islam yang paham agamanya tidak akan benci Yahudi, karena banyak juga Yahudi yang tidak setuju pada pendirian negara Israel. Yang kita benci adalah penjajahan mereka atas tanah Palestina. Kita tidak pernah mempermasalahkan keputusan mereka untuk hidup sebagai orang Yahudi. Adapun soal Holocaust, saya bilang padanya bahwa banyak ahli yang tidak percaya pada Holocaust. Kompilasi dari penelitian mereka salah satunya bisa dilihat dari hasil karya Harun Yahya. Saya bahkan menyertakan link ke homepage resmi Harun Yahya.

Argumen satu-satunya yang diberikan oleh orang itu adalah (dalam versi singkat) : "Harun Yahya aja dipercaya!!!"

Berikutnya saya membombardir orang itu dengan argumen panjang yang intinya menggugat keilmiahannya dalam diskusi. Dia bahkan belum membuka homepage Harun Yahya, tapi sudah mendiskreditkannya sedemikian rupa. Dia belum membaca kompilasi data yang dibuat olehnya, tapi sudah menganggapnya bohong belaka. Kalau memang dia merasa data-data yang diberikan oleh Harun Yahya itu salah, seharusnya sebagai orang intelek, dia bisa memaparkan segala sebab yang membuatnya tidak percaya pada data-data itu.

Tapi dia memang terlalu sombong untuk mengakui kebodohannya.

Kasus III
Setelah Kasus II di atas terjadi, diam-diam orang itu mengundang saya untuk masuk ke sebuah milis miliknya. Saya sebenarnya malas masuk ke dalam milis itu karena belum apa-apa saya sudah berpikir akan repot seperti apa saya nanti kalau harus berdiskusi di dalam milis yang penuh dengan orang-orang tidak ilmiah seperti dirinya? Tapi karena saya ingin bersikap objektif, maka saya coba juga subscribe ke milis tersebut.

Isinya seperti yang sudah saya kira sebelumnya. Semua orang seenaknya beropini, saling cela dan saling fitnah tanpa secuil pun bukti ilmiah. Ada orang yang bilang begini-begitu soal Islam sambil membawa-bawa sebuah hadits sebagai dasar pikirannya. Setelah saya komentari bahwa hadits itu sebenarnya palsu, mereka hanya diam saja. Mereka terlalu sombong untuk mengakui kesalahannya. Mereka memang manusia tanpa harga diri dan kehormatan.

Kasus IV
Sebenarnya dalam kasus yang satu ini saya bahkan tidak terlibat sama sekali, tapi sebagai 'penonton' yang baik rasanya saya memiliki tanggung jawab moral untuk membuat sedikit review. Ada seseorang yang mencoba memfitnah seorang teman saya dengan cara-cara yang amat keji, tanpa bukti dan saksi sama sekali. Dia tidak menyebut nama, tapi menyertakan link menuju homepage pribadinya. Apa artinya? Saya tidak paham dengan logikanya, tapi bagi saya dia terlihat seperti provokator amatir yang terlalu pengecut untuk menyebut nama.

Sebenarnya ia sudah merangkai kata dengan cukup baik seolah-olah ia tidak hendak menyebar fitnah. Langkahnya sudah sangat sempurna, hanya saja ada satu kekurangan. Setelah semua berita yang disebutkannya itu diklarifikasi sebagai sebuah berita bohong, tidak ada permintaan maaf secara terbuka. Menurut logika, karena fitnah itu disebar di forum terbuka, maka seharusnya permintaan maaf pun harus dibuat secara terbuka, bukan?

Tapi orang-orang liberalis memang terlalu sombong untuk mengakui kecerobohannya.

Tapi saya bukan pengecut seperti mereka. Penyebar fitnah (yang sampai detik ini belum saya lihat permintaan maafnya) itu adalah Ciput, dan korbannya adalah Mas Iwan. Silakan pantau terus berita-berita di Multiply ini dan lihat sendiri betapa meminta maaf itu sangatlah sulit bagi sebagian orang.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

66 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ferrydjajaprana wrote on Apr 13, '06
Hmm.. kebebasan ?
jonru wrote on Apr 13, '06
sabar mas... sabar...
tarik nafas, tahan, dan hembuskan pelan..pelan..

hehehehe.. :)
ferrydjajaprana wrote on Apr 13, '06
Atau kebablasan kang?
kpuspita wrote on Apr 13, '06
Ho..ho....iya neh Akmal penuh esmosi :D
Sayangnya aku bukan penonton yang baik so ngga' terlalu ngerti masalahnya....MOga2 disirami oleh cahayaNya untuk rendah hati.......
jonru wrote on Apr 13, '06
Tapi saya bukan pengecut seperti mereka.

yup setuju banget
akur deh
karena itu, kalau nanti ada orang yang tersinggung dengan tulisan ini, saya yakin mas akmal dengan penuh gentleman akan meminta maaf pada mereka

hehehehe..
peace ah

maaf bila tidak berkenan ya.. :)
brownhieze wrote on Apr 13, '06
yuupp.. setuju pak jonru.. ;)
ciput wrote on Apr 13, '06
Bung, makasih sudah sebut saya sebagai penyebar fitnah.
okalaksana wrote on Apr 13, '06
mal... gue seneng di MP karena damai... moga2 curahan hati elu ini bikin orang jadi introspeksi dan tetap menjungjung damai... bukan malah sebaliknya... peace ya kang (uhibuka fillah akhi..., jangan kebencian kita thdp suatu kaum membuat kita tidak adil)
kizzer wrote on Apr 13, '06
mas akmal , minta ijin buat ngelink ke sini ya , bagus nih tulisannya
indrayogi wrote on Apr 13, '06
awasss....Akmal baru keluar dari pertapaannya nih huhuhu. Thanks atas pemberitahuannya mal. Dan saya salut dengan tulisan ini, it's 'eyes opening'. Eh insya Allah sabtu ke Bdg nih...ketemuan nyok ? apa antum (hihihi) udah di Bogor terus ?
funnyfunky wrote on Apr 14, '06
nice post...
akmal wrote on Apr 14, '06
ciput said
Bung, makasih sudah sebut saya sebagai penyebar fitnah.
gimana? enak gak?
akmal wrote on Apr 14, '06
uat klarifikasi nih ya...

1. saya sengaja tdk buka multiply biar pada rame dulu setelah baca tulisan ini hahaha..

2. saya selalu menganggap umat Islam itu satu tubuh... kalau ada yg menjewer telinga kiri, maka sudah sewajarnya tangan kiri menangkis, tangan kanan memukul, kaki menginjak-injak, dan taring menggigit dengan kerasnya... jadi jangan heran kalau saya berbicara sekeras ini, karena menurut saya sungguh wajar kalau Mas Iwan 'dikerjain' lalu saya marah2... justru saya merasa sangat tidak wajar kalau teman2 Mas Iwan diam saja melihat beliau digituin... apakah ukhuwah Islamiyah ini hanya mitos belaka? apakah tradisi saling membela kehormatan sesama Muslim hanyalah slogan omong kosong? jawab saja dgn hati nurani...

3. saya ingin menunjukkan pada semua orang bahwa begini inilah perilaku dan tabiat orang2 liberal... perlu diketahui bahwa sebelumnya saya sudah mengamati masalah ini cukup lama dan saya sudah memberi 'kesempatan' dan waktu pada Ciput utk minta maaf secara terbuka pada Mas Iwan... tapi setelah sekian lama saya tdk melihat juga penyesalannya... jadi yah jangan protes kalau saya sekarang melancarkan serangan demikian dahsyatnya... salah sendiri cari masalah sama temen saya... You mess around with my friend, then you mess around with ME! I'm the LAST person that you wanna mess around with!!!

4. saya jg tidak sepakat pada pendapat beberapa rekan yg mengatakan bahwa tdk etis jika saya menulis namanya langsung dlm artikel yg bebas dibaca org seperti ini... kenapa? saya hanya menjalankan sunnah Rasul kok... dulu Rasulullah saw. menghukum mati kaum Yahudi di Madinah krn melakukan pengkhianatan... hukuman mati utk pengkhianat itu sendiri diambil dari kitab Taurat yg jadi pegangan umat Yahudi... nah sekarang, Ciput sendiri dgn tidak etisnya telah secara terbuka menyebar fitnah tentang Mas Iwan... memang tdk ditulis namanya, tapi disertakan linknya... buat saya itu sih sama saja... jadi Ciput tidak punya hak utk marah2 ketika namanya saya cantumkan secara terbuka disini, karena dia pun telah melakukan hal yg sama pada Mas Iwan... saya hanya melaksanakan 'hukum' yang dianggap benar oleh Ciput kok...

5. saya jg tdk sependapat dgn rekan2 yg mengatakan bahwa kita harus bersikap damai2 saja meskipun sudah dizalimi seperti ini... sahabat Rasulullah saw. bukan hanya Abu Bakar ra., tapi ada juga yg seperti Umar bin Khattab ra. dan Hamzah bin Abdul Muththalib ra... masih ingatkah rekan2 apa hal pertama yg dilakukan Umar ra. setelah masuk Islam? Beliau lari ke tengah kota, menyatakan keimanannya, lalu dikeroyok oleh kaum musyrik Mekkah, dan perkelahian itu berlangsung sampai tengah hari... dan ingat, Rasulullah saw. tdk pernah menyalahkan sikap Umar ra., karena Rasulullah saw. sendiri pernah berdoa secara khusus kepada Allah agar umatnya diperkuat dgn kehadiran org2 semacam Umar bin Khattab ra... jadi, bersikap agresif itu kadang2 perlu, agar umat ini tdk dilecehkan begitu saja...

6. sesaat sebelum artikel ini dibuat, saya terlibat chatting dgn Mas Iwan di Yahoo! messenger... Mas Iwan mengeluh krn Ciput telah memfitnahnya tapi tdk mau minta maaf... bahkan pada pertemuan di Danau UI pun Ciput hanya 'ngeles' dan bicara ini-itu tanpa pernah menyatakan penyesalannya... memang pintar sekali mereka memilih korban, yaitu Mas Iwan yg kita semua tahu tdk punya bakat galak... tapi dia benar-benar kecewa dan merasa dizalimi dgn fitnah itu... apa saya harus diam saja??? apa alasan saya utk mengaku Muslim di hadapan malaikat interogator kelak kalau ada saudara seiman saya yg dizalimi di depan mata tapi saya duduk manis??? Na'uudzubillaah...

7. ketidaksepakatan saya dgn usul teman2 bukan berarti saya memusuhi kalian ya... saya terbiasa berbeda pendapat, dan saya tahu kalian mengkritik saya karena menghendaki kebaikan untuk saya... tapi fitnah bukan urusan khilafiyah, bukan??
akmal wrote on Apr 14, '06
Atau kebablasan kang?
liberalisme itu memang kebablasan sih.
akmal wrote on Apr 14, '06
jonru said
karena itu, kalau nanti ada orang yang tersinggung dengan tulisan ini, saya yakin mas akmal dengan penuh gentleman akan meminta maaf pada mereka
saya akan minta maaf kalo terbukti salah, bukan kalo ada org yg tersinggung... soalnya tersinggung itu subjektif... bagaimana kalau ada pelacur merasa tersinggung ketika saya bilang pekerjaannya itu haram? apakah saya harus minta maaf?

jadi... buktikan saja dulu kalo saya salah... jgn lari dari perdebatan seperti kelakuan org2 liberalis... OK?
akmal wrote on Apr 14, '06
Eh insya Allah sabtu ke Bdg nih...ketemuan nyok ? apa antum (hihihi) udah di Bogor terus ?
ah payah ente beraninya ke bandung kalo saya lagi di bogor... hahaha... :)) kebetulan lagi di bogor nih kan long weekend gitu lho.... :p

btw, kenapa ber-hihi-hihi waktu bilang saya udah di bogor terus? nyindir ya? hahaha :) :p
Comment deleted at the request of the author.
jonru wrote on Apr 14, '06
Terima kasih mas akmal atas penjelasannya
Tapi terus terang, kali ini saya sangat tidak sependapat dengan ente.
Saya juga sering berdiskusi yang panas, bahkan berdebat dengan teman-teman yang berbeda agama dan aliran di situs www.ajangkita.com.

Tapi alhamdulillah, hingga kini diskusi di sana berlangsung dengan damai dan tertib.

Hal ini disebabkan kita berdiskusi, dan yang kita debat adalah PENDAPAT orang tersebut, bukan PRIBADINYA.

kalau yang kita "serang" adalah pribadi (misalnya dengan mengatakan "kaum liberal = pengecut"), saya berpikir ini adalah cara berdiskusi yang justru tidak produktif, karena bisa memicu kemarahan dari pihak-pihak yang kita serang.

Memang benar, bahwa kita harus menyampaikan kebenaran. Tapi setahu saya. Rasulullah sendiri menyampaikan kebenaran itu dengan cara yang baik. Dalam arti tidak sampai melukai perasaan siapapun. Kalaupun akhirnya banyak orang yang memusuhi beliau, itu karena adanya faktor iri, merasa kepentingannya diusik, dst.

Hm.. sebenarnya masih banyak yang hendak saya sampaikan. Tapi semoga penjelasan ini sudah cukup mewakili apa yang ada di pikiran saya.

Maaf bila tidak berkenan, dan terima kasih atas perhatiannya :)
akmal wrote on Apr 14, '06
gak apa2 mas... nampaknya memang kt tdk sependapat toh...

(lihat kan betapa ramahnya saya sama org yg beda pendapat dgn saya?)
jonru wrote on Apr 14, '06
Btw.. dalam tulisan di atas, antum secara tersirat mengatakan bahwa antum bukan termasuk orang yang berat untuk meminta maaf.

Tapi beberapa waktu lalu, antum melakukan sebuah "kesalahan kecil" terhadap saya, yakni ketika antum menceritakan sesuatu, padahal saya sudah meminta antum untuk merahasiakannya. Antum memang memperbaiki kesalahan tersebut, tapi hingga kini antum belum meminta maaf juga pada saya.

Nah, ini artinya apa?

Hehehehe.. jangan dimasukin ke hati ya..
Saya bukan mengharapkan permintaan maaf antum. Insya Allah, saya sudah memaafkan antum sebelum antum meminta maaf.

Saya menyinggung ini cuma untuk mengingatkan sesama saudara, bahwa kita benar-benar harus mengamalkan hal-hal yang kita dakwahkan kepada orang lain.

Maaf bila tidak berkenan :)
akmal wrote on Apr 14, '06, edited on Apr 14, '06
nah, utk membuktikan hal itu, sekarang saya minta maaf secara terbuka deh... maaf ya mas Jonru... waktu itu saya buru2 pisan mo cabut dari warnet jadi cuma sempet nge-delete reply (melakukan permintaan mas Jonru) tanpa sempet ngobrol macem2... dan buru2 di warnet itu bukan apa2, tapi karena duitnya dah abis (bawanya pas-pasan sih)... hehehe...

maaf maaf sekali lagi maaf...
jonru wrote on Apr 14, '06
nah gitu dong
hehehe..
saya juga minta maaf ya kalo ada yang salah :)
wib711 wrote on Apr 14, '06
ya... maaf juga kalau saya cuma numpang baca jurnal ini dan replyannya... diskusinya makin seru... :D
akmal wrote on Apr 14, '06
wahaha kalau yg kayak gitu sih gak usah minta maaf atuh... :)
jonru wrote on Apr 14, '06
maaf, numpang lewat
halah!
wib711 wrote on Apr 15, '06
akmal said
wahaha kalau yg kayak gitu sih gak usah minta maaf atuh... :)
hehehe... kali aja kang Akmal kurang berkenan gitu... :p
akmal wrote on Apr 15, '06
idih nuduh.... :p :))

eh eh tau gak? ada yg nuduh saya melakukan 'pembunuhan karakter' dgn kedok 'rantai sahabat' lho... lalu yg terjadi di forum lain itu apa bukan pembunuhan karakter mas iwan ya? hahaha...
okalaksana wrote on Apr 15, '06
ampunnnnnn
akmal wrote on Apr 15, '06
kok minta ampun? emang ente yg berbuat? hahaha... :)
jonru wrote on Apr 16, '06
ampunnnnnn
sweeper jangan mencuri
sweeper jangan mencuri

halah!
ciput wrote on Apr 17, '06
akmal said
gimana? enak gak?
No further comment, tar malah dibilang membunuh karakter situ lagi :-p
jonru wrote on Apr 17, '06, edited on Apr 17, '06
bagaimana kalau ada pelacur merasa tersinggung ketika saya bilang pekerjaannya itu haram? apakah saya harus minta maaf?

wah, maaf.. saya kelupaan mengomentari yang ini:

Ucapan mengenai pekerjaan pelacur = haram adalah ucapan yang benar. Dan antum tak perlu meminta maaf untuk hal ini.

Tapi jika seandainya CARA antum dalam menyampaikan pendapat tersebut telah melukai hati si pelacur, maka menurut saya, antum harus meminta maaf atas CARA tersebut.

bagaimanapun hinanya seseorang, saya percaya bahwa mereka tetap manusia biasa yang tetap harus kita hargai dan kita perlakukan secara manusiawi.

maaf bila tidak berkenan :)
pinkq wrote on Apr 17, '06, edited on Apr 17, '06
maaf...bukannya saya mau ikut campur....
maaf juga bukannya saya merasa benar...dan maaf secara mas iwan dan mas ciput adalah sahabat2 saya..alangkah baiknya bila saudara akmal mempersatukan mereka dengan cara perdamaian...
sekali lagi maaf...mungkin saya salah...tapi saya berdoa semoga semua disatukan oleh kata maaf...
maaf jika mengganggu waktu saudara :)
dbaonk wrote on Apr 17, '06
hanya ada dua penolong.
shalat & sabar.
maap. :)
srisariningdiyah wrote on Apr 17, '06
Monggo, kita saling memaafkan saja...
Saya juga minta maaf kalau 2 jurnal saya: Chicken Soup for the MPers Soul dan Klarifikasi Gossip menjadi pemicu semua masalah...

Di kedua jurnal tersebut, saya hanya menjawab pertanyaan, mengemukakan kebenaran yang memang ada dan selama ini tertutupi, dan mencoba klarifikasi saja dengan meminimalisir emosi yang muncul, tidak lebih... Dan hal tersebut didorong karena keinginan tidak jatuh korban yang lebih banyak lagi, termasuk saya sendiri sebagai korban, akibat berita-berita keji yang beredar makin santer. Entah karena ada kesengajaan dibuat makin santer menjelang ulang tahun MP Indo, atau bagaimana, sejauh ini memang terlihat selalu ada isu2 yang ditiupkan menjelang acara2 besar MP Indo. Semua berhak berkomentar dan menilai sesuai keyakinan masing2, monggo...

Tidak ada satupun orang yang saya tuduh langsung dalam jurnal2 tersebut, karena memang saya tidak tahu pasti kebenaran asal berita-berita keji itu. Semua hanya saya serahkan kepada Allah SWT untuk dinilai, dan apapun penilaian rekan semua terhadap masalah ini, semoga tidak menjadi persoalan rumit yang baru.

Amien...
Mari, kita semua saling mencoba sabar & berjabat tangan...
Saya-pun sedang belajar sabar dari rekan-rekan semuanya...
Salam damai...
akmal wrote on Apr 17, '06
mbak sri aja dah ngajak damai... kok mas ciput blum minta maaf? wah wah.... dahsyat...
akmal wrote on Apr 17, '06
ya sudah saya tawarkan solusi saja deh... mbak sri kan sudah ngajak damai tuh... sekarang saya kembalikan ke akar masalahnya... masalahnya sekarang mas Iwan sudah dizalimi dengan berita2 bohong tak bertanggung jawab itu (kalo bohong jelas gak tanggung jawab lah namanya!)... terakhir kali saya chatting sama mas Iwan, beliau masih merasa dizalimi... dan urusan fitnah itu bukan hanya masalah maaf-memaafkan, melainkan juga harus ada rehabilitasi alias pembersihan nama baik...

saya bersedia menghapus "Kasus IV" dalam tulisan di atas, asalkan mas Ciput juga mau meminta maaf secara terbuka (pake aja tuh forum "klarifikasi gosip" di homepagenya mbak sri) dan membersihkan nama baik mas Iwan... tapi kalau tidak ada penjelasan secara terbuka ya mohon maaf saja ya, saya anggap artikel saya di atas tidak lebih dari sekumpulan fakta yang bisa dicek oleh siapa saja dan kapan saja dengan mengklik link yg saya berikan...

OK? apa masih kurang adil?
droppingzone wrote on Apr 19, '06, edited on Apr 19, '06
Heboh ya....

Hidup pak Amien! Ya mbak Sri?
kizzer wrote on Apr 19, '06
mas akmal ikutan komen ya , ini pengalaman pribadi saya
orang yang liberal , biasanya bergabung dengan teman temannya seperti atheis , komunis , aliran sesat , dyssl ( dan yang sesat sesat lainnya )

tetapi begitu mereka saya beri bukti , FPI membantu di aceh , mereka sama sekali tidak mau mengakuinya bahkan salah seorang yahudi mengatakan , "lha ngapain FPI mencari mayat mayat , necrophilia ya" , mereka tidak mau mengakui kesalahan mereka , dalam hal ini mereka bilang FPI gak pernah ke aceh waktu tsunami , bahkan sebelum saya sempat memberikan pendapat saya topik saya ditutup oleh moderatornya yang atheis , seakan akan mereka gak pengin ketahuan kalau mereka salah
satu lagi , kalau para liberalis itu sendirian walau diajak berdebat 1 on 1 tidak akan berani , mereka beraninya kalau ditemenin ama dyssl, mereka menghina islam
jadi kesimpulan saya orang liberalis itu , sombong dan pengecut

maaf kalau ada yang salah kata
akmal wrote on Apr 19, '06
.... :))
lukmanov wrote on Apr 23, '06
Bagus Akmal. Emosimu penuh kecintaan akan ajaran Islam. Bila seorang muslim tidak naik emosinya jika ajaran islam diputarbelitkan, maka dipertanyakan keimanannya tuh. Syukur, Akmal memiliki emosi yang positif.
akmal wrote on Apr 27, '06
makasih mas... :))
rusdimathari wrote on May 18, '06, edited on May 18, '06
Akmal yang baik
Saya suka dengan anak muda yang penuh semangat seperti anda. Agama diperjuangkan dengan sikap-sikap rasional dan hujjah yang penuh semangat. Saya hanya mengingatkan, jangan terjebak dengan kesombongan, bahwa semuanya bisa dirasionalkan (human being) karena itu bisa membawamu ke lobang najis yaitu syirik. Allah itu satu. Dulu, sekarang, dan yang akan datang. Jika anda berakal, mudah-mudahan mengerti apa yang saya maksudkan.

Saya hanya mengingatkan. Sekedar mengingatkan. Dan ini berlaku untuk semua jurnal yang anda tulis, yang insyaallah telah saya baca, sebagian besar.

tabik
rusdi
Comment deleted at the request of the author.
lukmanov wrote on May 18, '06
Saya hanya mengingatkan, jangan terjebak dengan kesombongan, bahwa semuanya bisa dirasionalkan (human being) karena itu bisa membawamu ke lobang najis yaitu syirik. Allah itu satu. Dulu, sekarang, dan yang akan datang. Jika anda berakal, mudah-mudahan mengerti apa yang saya maksudkan.
Saya pikir kata-kata dari Rusdimathari itu tidak tepat, cukup sarkastik, dan menohok. Hati-hati dong mas rusdi. Sudah jelas yang Akmal bilang itu bahwa salahsatu karakter kaum Islam liberal adalah SOmbong, kok malah Akmal sekarang yang dibilang Terjebak dengan Kesombongan dst dst...
mrnoxious wrote on May 18, '06
akhir-akhir ini kok jadi makin banyak ya account2 MP ngga jelas ya ? dan lsg komen kaya gitu.....ntar juga ngga nongol lagi nih si Rusdi uhuhuuhu
mrnoxious wrote on May 18, '06
Tapi yang pasti lewat tulisan2 akmal, gw jadi banyak tau ttg bobroklnya ide liberalisme islam....thanks ya !
akmal wrote on May 18, '06
hehe walaupun saya tdk mengerti mengapa diberi nasihat seperti itu, tapi nasihat mas rusdi saya terima dgn baik... tapi saya perlu memberi jawaban bahwa dgn bersikap rasional sebenarnya tdk akan terjerumus ke dlm syirik... yg terjerumus itu yg gagal membedakan mana yg rasio dan mana yg hawa nafsu... misalnya mrk yg bilang "mengapa percaya sama Tuhan yg tdk kelihatan wujud-Nya?"... dlm tulisan saya yg berjudul "Mari Memikirkan Dzat Allah!" saya sudah membuktikan bahwa hanya hawa nafsulah yg mendesak kita utk merasa ingin melihat wujud Allah... kalau berpikir secara rasional, justru sangat tdk logis kalau kita merasa mampu (atau ingin) melihat wujud-Nya...

mudah2an saya tdk jd org sombong... :))
masarcon wrote on Jun 9, '06
kizzer said
mas akmal ikutan komen ya , ini pengalaman pribadi saya
orang yang liberal , biasanya bergabung dengan teman temannya seperti atheis , komunis , aliran sesat , dyssl ( dan yang sesat sesat lainnya )

tetapi begitu mereka saya beri bukti , FPI membantu di aceh , mereka sama sekali tidak mau mengakuinya bahkan salah seorang yahudi mengatakan , "lha ngapain FPI mencari mayat mayat , necrophilia ya" , mereka tidak mau mengakui kesalahan mereka , dalam hal ini mereka bilang FPI gak pernah ke aceh waktu tsunami , bahkan sebelum saya sempat memberikan pendapat saya topik saya ditutup oleh moderatornya yang atheis , seakan akan mereka gak pengin ketahuan kalau mereka salah
satu lagi , kalau para liberalis itu sendirian walau diajak berdebat 1 on 1 tidak akan berani , mereka beraninya kalau ditemenin ama dyssl, mereka menghina islam
jadi kesimpulan saya orang liberalis itu , sombong dan pengecut

maaf kalau ada yang salah kata

APAKAH CONTOH ORANG LIBERAL YANG SEPERTI INI ???????

Mantan Jubir Parlemen Sudan Hassan Turabi
(http://en.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Turabi) baru-baru ini
memberikan wawancara dengan stasiun TV Al-Arabiyah. Tokoh politik dan
agama yang kontroversial ini sempat memimpin Sudan dalam penerapan
syariat Islam di tahun 1990-an sebelum didepak oleh Presiden Omar
Basyir.

Di antara komentarnya adalah:
- muslimah boleh menikah dengan laki-laki Ahli Kitab
(perempuan muallaf tidak perlu bercerai dengan suaminya yang belum masuk Islam)
- perempuan diperintahkan menutup dada, bukan wajah
- perempuan dapat menjadi imam salat
- perempuan dapat menjadi pemimpin negara
(ia menganjurkan perempuan bekerja dan menjadi bagian aktif dari masyarakat)
- tidak ada hukuman bagi orang yang minum alkohol di rumahnya
(dilarang memata-matai)
- imannya justru bertambah ketika berada di Eropa (Inggris, Prancis)
- dan juga, orang Islam sekarang kerjaannya cuma berkhayal
mengharapkan datangnya Yesus Al-Masih. Dunia Islam tertinggal,
terbelakang, mengutip al-Quran tanpa membacanya kecuali untuk cari
berkah.

Syekh Turabi menambahkan bahwa "fatwa-fatwa" ini tidak ada yang baru,
sudah puluhan tahun beredar dan ditulis di buku-buku (eh kirain
setelah ikutan WM :-) ). Tapi bagaimana pun juga, cukup mengejutkan
dari seorang ulama yang ikut memperjuangkan penerapan hudud (potong
tangan, rajam, cambuk, dll) di Sudan.

btw, Turabi dikabarkan sempat bergabung dengan Ikhwanul Muslimin
(cabang?) Sudan. Sekalipun demikian, akhir-akhir ini beredar bantahan
soal itu, terutama di kalangan "IM" Indonesia (PKS).

salam,
DWS

http://www.memritv.org/Transcript.asp?P1=1112

Sudanese Scholar Hassan Al-Turabi Elaborates on His Revolutionary
Fatwa on Muslim Women and Christian Men and Adds: Women Should Cover
Chest, Not Face; Women Can Be Imams, Political Leaders; No Punishment
for Drinking Alcohol at Home

Following are excerpts from an interview with Sudanese scholar Hassan
Al-Turabi, which was aired on Al-Arabiya TV on April 10, 2006.

Hassan Al-Turabi: Some of these views were already expressed decades
ago, and have appeared in books. But you still see most of the Islamic
world - in its stagnation, backwardness, and traditions - quoting
[blindly] without reading the Koran, except for blessings.

[...]

Interviewer: Dr. Al-Turabi, you talked about equality between men and
women, and said that women had the right to serve as Imams. You said
that if a woman is more devout and knowledgeable than a man, she can
lead the prayers. You also criticized marriage through a third party
when the woman is present. You [permitted] marriage between a Muslim
woman and a man from among the People of the Book. You also raised
some issues regarding the hijab, and said it was enough to cover the
chest.

[...]

Hassan Al-Turabi: I didn't mean that half of society should leave the
home just in order to double the number of people in the streets. In
any case, the home doesn't require much work anymore, with all the
appliances - unless we keep our wives as ornaments and wait for the
night.

I want women to work and become part of public life, Allah willing.
Allah gave them certain advantages over us, and gave us certain
advantages over them. He gave men and women advantages over one
another. I would like there to be equality between people, because we
were all created from the same soul: "Allah created from a single soul
its mate."

[...]

I have not found a hadith that prohibits women from being Imams.
During the prayer itself - I can understand... When we pray, we get
close and touch one another. If women were to pray with us, in such
proximity, they might divert our thoughts from our prayer to relations
between men and women. That is why they pray behind us or on the side,
depending on the mosque.

But if a woman is more devout, better, or older than us, people will
not stare at her face, but will listen to her words of wisdom.

I have only found one relevant hadith. The Prophet used to visit Umm
Warqa. He used to visit several women. He would visit the wives, not
their husbands, because they were more righteous.

A woman can serves as a muazin, and she can lead the people of her dar
in prayer. Dar does not just mean a home. Dar is a large area like dar
in Darfour or Dar-Hamed... Dar refers to a large area.

[...]

A woman can be the leader of a country, if she is the best of all the
candidates, and the one most capable of meeting the challenges facing
the country. The country may be in social, economic, or military
difficulties... Depending on the difficulties, I vote for this person
or that, according to the current needs.

[...]

People convert to Islam. In Europe, women may convert to Islam before
their husbands. Are we supposed to stop them, or place them on trial?
She is a believing woman – are we supposed to keep her from converting
until she gets divorced, and cause her family to fall apart? Where is
this taken from? There is no verse...

Interviewer: If she wants to convert to Islam, she must be married...

Hassan Al-Turabi: No, there is no verse that tells us... The verse
refers to polytheists. We are forbidden to marry them.

[...]

The Koran tells us we can marry the People of the Book. It doesn't say
otherwise. [Clerics who forbid this] rely on general verses, which can
hardly be relied on in this matter. If this does not cause strife
between the wife [and her husband], and nowadays it doesn't... She
doesn't even vote for the same party as her husband, let alone...
Sometimes he is not even religious. His Christianity is merely his
heritage, and he does not really believe in Jesus. Are we supposed to
make her go back to Christianity?! This does not make sense.

Similarly, we do not force our wives from among the People of the Book
to convert to our religion. I ruled... I didn't rule, but gave people
my opinion about their problems.

Women converted to Islam before their husbands, and the [clerics]
would stop them. I told them not to do so. If you had read your Salafi
books, you would have encountered this ruling.

[...]

The word hijab appears in the Koran. It refers to a curtain in the
Prophet's room. Naturally, it was impossible for the Prophet's wife to
sit there, while people entered the room – Muslims who came to ask for
rulings, converts to Islam who wanted to ask questions, people of the
Jahiliya who wanted to visit – this is impossible, even in modern
homes...

Allah be praised, today's homes are larger, and there are halls and
guest rooms, but back then there was only one room, so they put a
hijab so the woman would feel comfortable, and wear whatever she
liked. And if we want something from her, we request it from behind
the hijab.

The Koran did not refer to this thing as a hijab. This was called a
khimar, and it was worn over the chest only. What they are referring
to is the khimar, not the hijab. You keep hearing hijab, hijab,
hijab... When these words are distorted, they mislead people.

[...]

This is the weakness of the Muslims. They always just sit there and
beg God to solve their problems: "Oh Allah, kill the Jews, kill the
Americans." That's what they do, just sitting there. They want Jesus
to come, they want the Mahdi to come, and fill the world with justice
and light.

[...]

They don't want to do anything by themselves. They don't want to fight
falsehood or wage Jihad. They are waiting for Allah to send them Jesus
from the heavens so he can solve all their problems – the problems
with "those Americans, those Christians." Jesus is not still alive
after 2006 years, but he continues to live in the Muslims' illusions.
These are illusions, my brother, illusions.

[...]

The same goes for the Shiites. I think – of course I cannot be sure -
the caliph found out his name and he took him and his father and
perhaps he killed him in secret. But they are still waiting for the
Imam to come back. For more than a thousand, or hundreds of years,
they wait for the Imam. In fact, most of them have set the Imam aside
and moved on. I whish all Muslims would move on.

On Judgment Day, I will not be able to apologize to Allah, saying: I
was waiting for the Messiah, but for reasons known to You alone, You
delayed his coming. I was waiting for him. I am one of those who are
waiting. Be one of those who act, until you die. Many people have
died.

[...]

We are forbidden to drink alcohol. The punishment for drinking alcohol
is whipping. But I have said that we cannot enter people's homes. We
enter homes only with permission. If we knock and knock and knock, and
nobody opens the door, we should leave, even if we are the police -
even if we are Omar Ibn Al-Khattab. That is what he did. We do not
enter people's homes. If he makes his own alcohol, and drinks it
without taking it outside - let him do it until he falls asleep, and
leaves his house the next day like that. It is not that terrible.

But whoever drinks alcohol in public or sells it should be punished,
unless he is a non-Muslim, of course. If he is very drunk and unsteady
on his feet, and drives a car in a reckless manner – he is held
accountable in all the countries of the world. I don't want people to
use the ban on alcohol to spy on others.

[...]

Brother, our society needs to be reformed, and reform cannot emerge
out of wretchedness, fear, and conservatism. What are we conserving?
This backwardness? The Westerners ride our backs with their armies,
with their economy, their media, and their science, and we just sit
there being conservative? What are we conserving? By Allah, our faith
will become stronger if we go to the countries of the West. Our faith
will only grow. My faith grew stronger in Europe, in France, in
Britain. My faith grew stronger, and so did my knowledge, Allah be
praised.
akmal wrote on Jun 9, '06
waduh, kurang menguasai permasalahan Sudan euy, jadi gak bisa kasi komentar deh...
cakbambang wrote on Jun 11, '06
saya secara pribadi sangat setuju dengan pendapat saudara akmal yg harus membela saudara muslim lainnya yg sedang dizalimi,maju terus mas pantang mundur......wassalam
akmal wrote on Jun 11, '06
hidup cak bambang!!! :))
riobnget wrote on Apr 6, '07
paan che liberal yes111111111111111111111111111111
akmal wrote on Apr 9, '07
paan che liberal yes111111111111111111111111111111
bahasa alien ya...? :p
islamjalanku wrote on Jun 7, '07
Ikutan nyuap (eh ini bahasa bener gak ya, asa kata cuap kata kerjanya jadi nyuap he..he..)
Kalao ngomongin masalah 'sombong' maka kita semua tahu deh itu kan ter-hang (he..he.. ing-geris dikit oi) dari sudat pandang, pastinya kita pernah nemuin ada orang yang memang pinter en tahu detil dan bener tapi ada yang sinis bilang "uh dasar sombong" tapi ada juga yang komentar "wuih huebat banget, jadi pengen kayak dia" dll dll, dan kita tahu juga ini tergantung hati dan kepentingan atau tergantung hawa dan nafsu he..he.. soalnya kalau hawa lagi gerah tapi nafsu lagi turun ya paling ngedumel dalam hati atau kebalikannya hawa lagi dingin tapi nafsu lagi naek ya jadilah de-el-el de-el-el
Liberalis, suka gak suka kita sekarang hidup ditengah-tengah atmosfer liberalis, liberalis ada positif ada negatifnya, kita ambil positifnya terus yang negatifnya kita say da-dah bai bai.
Liberal identik sama kebebasan, kalo dipikir-pikir sih Alloh SWT udah kasih kebebasan sama kita manusia ini, tapi kan Alloh kasih kita rambu-rambu dan juklak, nah tinggal pilih aja, ikutin rambu dikasih 'carrot' gak ikutin ya dikasih 'stick plus api naar' astagfirulloh naudzubillah........
Simple kan, jadi "fadzakkir innamaa anta mudzakkirun" karena "lasta 'alayhim bimushaythirin"
Sikap ane (jangan dibaca ane nama cewek lho, kita orang asli jantan bo :p), ane benci kebebasan yang kebablasan, en yu no wat ai min
akmal wrote on Jun 21, '07
Ikutan nyuap (eh ini bahasa bener gak ya, asa kata cuap kata kerjanya jadi nyuap he..he..)
Kalao ngomongin masalah 'sombong' maka kita semua tahu deh itu kan ter-hang (he..he.. ing-geris dikit oi) dari sudat pandang, pastinya kita pernah nemuin ada orang yang memang pinter en tahu detil dan bener tapi ada yang sinis bilang "uh dasar sombong" tapi ada juga yang komentar "wuih huebat banget, jadi pengen kayak dia" dll dll, dan kita tahu juga ini tergantung hati dan kepentingan atau tergantung hawa dan nafsu he..he.. soalnya kalau hawa lagi gerah tapi nafsu lagi turun ya paling ngedumel dalam hati atau kebalikannya hawa lagi dingin tapi nafsu lagi naek ya jadilah de-el-el de-el-el
Liberalis, suka gak suka kita sekarang hidup ditengah-tengah atmosfer liberalis, liberalis ada positif ada negatifnya, kita ambil positifnya terus yang negatifnya kita say da-dah bai bai.
Liberal identik sama kebebasan, kalo dipikir-pikir sih Alloh SWT udah kasih kebebasan sama kita manusia ini, tapi kan Alloh kasih kita rambu-rambu dan juklak, nah tinggal pilih aja, ikutin rambu dikasih 'carrot' gak ikutin ya dikasih 'stick plus api naar' astagfirulloh naudzubillah........
Simple kan, jadi "fadzakkir innamaa anta mudzakkirun" karena "lasta 'alayhim bimushaythirin"
Sikap ane (jangan dibaca ane nama cewek lho, kita orang asli jantan bo :p), ane benci kebebasan yang kebablasan, en yu no wat ai min
setuju deh bos... :D
adeetea wrote on Jun 28, '07
jadi inget ceramah Ust. Miftah Faridhl, ada 2 sifat manusia yang menyebabkan hidayah tidak turun padanya, yaitu apriori dan arogansi.
jadi percuma kita bilang apa aja ke orang yang masih punya sifat itu, ga bakal mempan.
btw, lebih bijakkah jika kita tidak menyebut nama untuk menceritakan keburukan seseorang?
karena bukankah yang namanya ghibah itu adalah jika kita ceritakan keburukan seseorang yang jika orang itu tahu, maka hatinya akan menjadi sakit. walaupun keburukan itu memang benar adanya.
akan lebih bijak jika cukup membersihkan nama baik orang yang dizhalimi dan menceritakan bahwa itu adalah fitnah.
mohon maaf jika ada yang kurang berkenan
aku berlindung kepada Allah dari perbuatan dan perkataan sia-sia dan menyakitkan
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
akmal wrote on Sep 27, '07
adeetea said
jadi inget ceramah Ust. Miftah Faridhl, ada 2 sifat manusia yang menyebabkan hidayah tidak turun padanya, yaitu apriori dan arogansi.
jadi percuma kita bilang apa aja ke orang yang masih punya sifat itu, ga bakal mempan.
btw, lebih bijakkah jika kita tidak menyebut nama untuk menceritakan keburukan seseorang?
karena bukankah yang namanya ghibah itu adalah jika kita ceritakan keburukan seseorang yang jika orang itu tahu, maka hatinya akan menjadi sakit. walaupun keburukan itu memang benar adanya.
akan lebih bijak jika cukup membersihkan nama baik orang yang dizhalimi dan menceritakan bahwa itu adalah fitnah.
mohon maaf jika ada yang kurang berkenan
aku berlindung kepada Allah dari perbuatan dan perkataan sia-sia dan menyakitkan
masalahnya tidak sehitam-putih itu... dalam kasus kriminalitas, tindak kejahatan harus diumumkan pelakunya, karena dia akan menerima hukuman sosial selain qishash... misalnya seorang pembohong, walaupun sudah bertaubat dan tdk lagi dibenci orang banyak, namun tetap tidak bisa diterima kesaksiannya sebagaimana orang yg dikenal jujur... itu dlm kasus kriminalitas, apalagi dalam kasus fitnah yg lebih kejam daripada pembunuhan... saya rasa penting sekali bagi kita untuk menyebarluaskan nama-nama para pemfitnah, agar masyarakat mengenali siapa-siapa yang bisa dipercaya dan yg tidak...
kdora wrote on Jan 3
ciput itu siapa sih? koq dibilang liberal? enlighten me plss
Comment deleted at the request of the author.
maydays wrote on Feb 10
jonru said
Terima kasih mas akmal atas penjelasannya
Tapi terus terang, kali ini saya sangat tidak sependapat dengan ente.
Saya juga sering berdiskusi yang panas, bahkan berdebat dengan teman-teman yang berbeda agama dan aliran di situs www.ajangkita.com.

Tapi alhamdulillah, hingga kini diskusi di sana berlangsung dengan damai dan tertib.

Hal ini disebabkan kita berdiskusi, dan yang kita debat adalah PENDAPAT orang tersebut, bukan PRIBADINYA.

kalau yang kita "serang" adalah pribadi (misalnya dengan mengatakan "kaum liberal = pengecut"), saya berpikir ini adalah cara berdiskusi yang justru tidak produktif, karena bisa memicu kemarahan dari pihak-pihak yang kita serang.

Memang benar, bahwa kita harus menyampaikan kebenaran. Tapi setahu saya. Rasulullah sendiri menyampaikan kebenaran itu dengan cara yang baik. Dalam arti tidak sampai melukai perasaan siapapun. Kalaupun akhirnya banyak orang yang memusuhi beliau, itu karena adanya faktor iri, merasa kepentingannya diusik, dst.

Hm.. sebenarnya masih banyak yang hendak saya sampaikan. Tapi semoga penjelasan ini sudah cukup mewakili apa yang ada di pikiran saya.

Maaf bila tidak berkenan, dan terima kasih atas perhatiannya :)
likulli mqaalin maqaamun wa likulli maqaamin maqaalun

setiap perkataan ada tempatnya sendiri dan setiap tempat ada perkataanyya sendiri
galihpj wrote on Jul 9
wihh.. keren euy.. a akmal isi blog2nya. bener2 menohok org2 yg selama ini pinter keblinger. penjelasan yg bagus mengenai kelemahan2 mereka yg selama ini sudah jadi bakabon (cari komiknya klo pengen tau arti bakabon). mudah2an artikel2 ini bisa menjawab kebingungan saudara2 kita yg kadang dibingungkan oleh pendapat para bakabon itu. :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help