assalaamu’alaikum wr. wb.
Mengapa orang dewasa sering lupa? Seolah-olah mereka tidak pernah menjadi kanak-kanak sebelumnya. Seolah-olah mereka terlahir langsung sebagai orang dewasa, tanpa melalui proses pendewasaan (atau penuaan?) sebelumnya. Bagaimana pun, tua dan dewasa itu berbeda jauh. Sebagaimana tidak ada yang bisa menjadi orang besar sebelum ia menghargai yang kecil, manusia juga tidak akan pernah dewasa sebelum ia menghayati masa kanak-kanaknya.
Ironis, betapa kita sering mengulang-ulang perbuatan yang kita benci pada masa kanak-kanak dan melampiaskannya pada anak-anak kita sendiri. Ketika orang tua kita dulu melakukannya, kita nyaris tidak bisa memaafkannya, bahkan masih teringat-ingat sampai sekarang. Tapi ketika saatnya tiba untuk mendidik anak-anak kita, kita pun menjelma menjadi monster yang sama.
Seorang ibu ‘beramah-tamah’ dengan guru anaknya. Dalam pandangan sebagian orang, ketika dua orang dewasa bertemu, maka ramah-tamah yang paling pas adalah menjelek-jelekkan anak masing-masing. “Iya Bu, kalau anak saya nakal langsung dihukum saja. Memang nakal, sih!” Diakhiri dengan tawa basa-basi, lengkaplah sudah penghinaan terhadap anak Anda.
Saat bagi rapor adalah saat yang paling traumatis bagi sebagian anak. Saat itu, orang tua mereka (biasanya kaum ibu) saling bertemu dan saling memperbandingkan anak-anaknya. Tentu saja yang mendapat tempat ‘paling mulia’ adalah anak yang mendapatkan rangking pertama, seolah-olah rangking adalah tiket jaminan menuju surga. “Wah, anak Ibu pintar sekali. Lagi-lagi dapat rangking satu. Anak saya ini kalau disuruh belajar susah sekali, Bu! Minta ampun, deh!” Lengkaplah sudah penderitaan anak yang dipermalukan oleh orang tuanya sendiri.
Untuk melengkapi segala ketidaknyamanan itu, anak-anak yang masih tidak mengenal kesombongan itu juga dibuat merasa tidak enak dengan temannya yang diperbandingkan dengannya. Yang dapat rangking satu pun tidak nyaman, karena ia juga tidak suka orang tuanya membangga-banggakan dirinya secara berlebihan seperti itu. Ia ingin bilang bahwa ia merasa jijik dengan segala kesombongan ini, tapi ia hanya anak kecil. Kalau protes, bisa-bisa kena damprat.
Anak-anak memang sering dijadikan sasaran dampratan orang dewasa. Dulu waktu ia masih sangat kecil dan hanya bisa tergolek tak berdaya, kita menyuruhnya untuk cepat besar agar bisa berbuat banyak hal. “Aduh, anak Mama cakep sekali… Cepat besar ya nak, biar kamu bisa jadi orang hebat…” Tapi ini adalah kalimat yang dengan cepatnya terlupakan.
Tanpa sadar kita sendiri telah mencegah anak-anak kita untuk tumbuh menjadi orang hebat. Bagaimana mau jadi orang hebat kalau semuanya dilarang? Kalau sudah sampai pada usianya, ia pasti penasaran terhadap segala hal. Ia ingin memegang semua yang bisa ia pegang, mengangkat semua yang bisa ia angkat, dan ia belajar mengenali material barang yang ada di tangannya dengan membantingnya ke lantai. Dan kita, dengan alasan tidak mau repot, membentaknya dengan kasar dan praktis tidak memperbolehkannya berbuat apa-apa. Kenyataannya, anak-anak yang ‘dipaksa’ untuk menjadi penurut pada masa-masa seperti ini tumbuh jadi anak yang penakut, tidak punya inisiatif, dan tentu saja tidak mungkin jadi orang hebat.
Ada yang bilang bahwa rasa frustasi orang tua dalam menghadapi anak sangat mungkin terjadi karena sejak awal mereka belum siap memiliki anak. Tapi ini pun tidak lebih dari sebuah pembenaran yang amat konyol. Kalau tidak siap memiliki anak, kenapa kawin?? Hidup membujang saja terus daripada menzalimi anak-anak kandung sendiri. Sungguh egois manusia yang menikah hanya demi kesenangannya sendiri. Seharusnya mereka mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum menikah.
Kita melarang anak-anak kita berlari di dalam rumah karena takut ia jatuh. Kalau ia tidak pernah lari, lalu apakah ia harus selalu berjalan pelan-pelan? Kalau ia tidak diperbolehkan lari, lantas kapan ia berolah raga? Apakah kita menginginkan anak yang duduk diam sepanjang hari dan menghabiskan hidupnya dalam keadaan obesitas?
Kadang-kadang orang dewasa gagal mengidentifikasi masalahnya sendiri. Anak-anak yang suka berlari-lari di rumahnya sendiri tidak bisa disalahkan. Begitulah cara ia bermain dan mengambil pelajaran dari pengalamannya sendiri. Jatuh dan terluka pun adalah sebuah pengalaman yang berharga. Ketika ia menangis kesakitan itulah kita bisa mengajarinya cara mengendalikan rasa sakit dan mengenyahkan rasa takut karena melihat darah yang mengalir. Hebatnya, ada orang tua yang justru mencubit anaknya yang sedang menangis kesakitan. Menghilangkan rasa sakit dengan rasa sakit. Sungguh jenius!
Masalah sebenarnya bukanlah kegiatan berlari itu sendiri. Masalahnya adalah cara ia berlari. Anak-anak memang suka lalai melihat langkahnya sendiri, sehingga ia sering tersandung karpet atau mainan yang berserakan di lantai. Mereka juga seringkali tidak melihat arah berlarinya dan akhirnya menabrak lemari atau dinding, atau orang dewasa yang sedang berdiri. Ketika ia berlari-lari, seharusnya kita terus mengawasinya sambil mengingatkannya untuk berhati-hati. Berlari bukanlah suatu keharusan. Ketidakwaspadaan itulah masalahnya. Tapi karena kita tidak mau repot, maka dengan brutalnya kita melarang anak kita berlari. Demi kepentingan anak, atau atas nama kemalasan pribadi?
Kita ingin anak kita jadi pintar, tapi kita bosan meladeni pertanyaan-pertanyaannya. Karena sedang asyik menonton sinetron, anak malang itu dibentak agar diam dan tidak terus bertanya. Sebaiknya jangan terlalu heran kalau anak itu tumbuh menjadi orang yang tidak menonjol di lingkungannya, karena kita sendirilah yang telah membunuh inisiatifnya untuk mencari ilmu.
Ini belum semua. Kita bisa menemui contoh-contoh kekerasan terhadap anak-anak di lingkungan kita sendiri. Saya pernah tertegun beberapa detik lamanya di tengah zebra cross dan nyaris tertabrak mobil gara-gara mendengar seorang ibu membentak anaknya dengan kata-kata “Goblog, sia!”. Kata-kata itu mungkin terasa biasa-biasa saja di lidahnya, tapi terdengar di telinga saya lebih dahsyat daripada petir di kota Bogor di tengah badai. Benar-benar orang tua yang jenius!
Saya pribadi belum pernah menemukan kasus anak durhaka yang tidak didahului oleh kezaliman orang tuanya. Saya percaya bahwa anak-anak lahir sebagai makhluk tak berdosa, dan orang tuanyalah yang mengajarinya cara membuat dosa. Mereka memperlakukan anak itu dengan sedemikian buruk, lantas anak itu pun tumbuh dewasa dan melanjutkan kezaliman itu kepada generasi berikutnya. Maka kezaliman pun terus bergulir hingga akhir jaman.
Kalau Anda berjiwa cukup besar, cobalah bersikap lebih dewasa dan menengok kembali ke masa kanak-kanak. Apakah ada sikap orang tua Anda yang tidak Anda sukai? Jika ya, maka jangan lakukan hal yang sama terhadap anak-anak Anda. Jangan beri mereka alasan untuk membenci orang tuanya sendiri.
…if you hate something, don’t you do it too… (“Not For You” – Pearl Jam)
wassaaamu’alaikum wr. wb.