assalaamu’alaikum wr. wb.
Demokrasi memang suatu fenomena yang sangat menarik. Di satu sisi ia disanjung-sanjung sebagai cara terbaik untuk memenuhi kepentingan semua orang. Ia berasal dari bahasa Yunani yang artinya kurang lebih “kekuasaan di tangan rakyat”. Lalu Tuhan dikemanakan ya? Entahlah. Tapi bukan ini yang ingin saya bicarakan sekarang.
Belum lama ini di ITB baru saja berlangsung sebuah ‘pesta demokrasi’, yaitu pemilihan Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITB. Menarik untuk diamati, bagaimana cara-cara kampanye dalam rangka demokrasi itu telah berkembang sedemikian rupa sehingga bisa menarik perhatian banyak orang. Berbagai publikasi dikerahkan untuk membuat semua orang tertarik untuk memilih jagoannya masing-masing. Begitu menariknya kemasan, sehingga orang-orang (dengan sengaja atau tidak) dibuat lupa dengan esensinya.
Slogan-slogan memang perlu untuk menarik perhatian orang dalam waktu singkat, tapi (semestinya) tidak digunakan secara tidak bertanggung jawab. Apalagi di ITB, kampusnya orang-orang yang menjunjung tinggi logika. Seharusnya ada pesan yang lebih mendalam yang bisa disampaikan daripada sekedar slogan. Slogan-slogan yang digunakan misalnya seperti :
-
“Pilihlah saya!”
-
“Sayalah yang terbaik untuk ITB!”
-
“Pilih saya untuk ITB yang lebih baik!”
-
“Songsong masa depan bersama saya!”
-
“Kreatif, dinamis dan cerdas bersama saya!”
Jadi, informasi objektif apa yang bisa didapat dari slogan-slogan ini? Tidak ada!
Di satu pihak, mereka yang berkampanye hanya dengan bermodalkan slogan pastilah tidak bertanggung jawab. Di sisi lain, mereka yang mau menelan bulat-bulat sebuah slogan (siapa pun yang melontarkannya) pastilah tidak cerdas dan sama sekali tidak berhak berkuliah di ITB. Paling tidak, menurut saya begitulah.
Tapi beginilah demokrasi. Sama saja dengan saat pemilu, Anda bisa melihat ribuan bendera partai berkibaran di seluruh kota. Apa informasi atau manfaat yang bisa Anda dapat dari bendera-bendera itu? Nol besar! Sungguh bodoh orang yang mau mencoblos sebuah partai dengan ukuran yang sangat subjektif seperti itu. Suka atau tidak, beginilah wajah demokrasi yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Ada pula cara-cara kampanye yang sangat tidak mendidik lainnya. Kalau ada calon perempuan, seringkali ia mengusung kesetaraan gender. Tentu tidak ada salahnya. Lucunya kalau ia lantas memunculkan nama-nama pemimpin dunia yang berkelamin perempuan tanpa argumen apa pun. Ya, memang Benazir Bhutto, Hillary Clinton dan Megawati Soekarnoputri pernah (dan masih) menjadi pemimpin. Tapi yang perlu dibicarakan bukan fakta bahwa mereka dijadikan pemimpin oleh sebagian orang, melainkan sukses tidaknya mereka dalam menjalankan peran sebagai pemimpin. Kalau sekedar jadi pemimpin, Pol Pot pun bisa jadi contoh, apalagi Hitler yang pernah sukses menaklukkan sebagian besar Eropa. Tapi ukurannya bukan jabatan, melainkan prestasi.
Lalu ada pula persaingan tidak sehat dalam berpolitik. Setiap ada pemilihan Presiden KM ITB, pasti ada isu-isu tidak sedap yang melanda para aktifis Islam, terutama Gamais (Keluarga Mahasiswa Islam) ITB. Dari tahun ke tahun, Gamais ‘dituding’ mengirimkan calonnya dan menginstruksikan seluruh mahasiswa baru untuk mencoblosnya dengan menggunakan mekanisme mentoring. Dalam banyak kesempatan, hal ini bisa memunculkan sebuah perdebatan yang amat seru.
Pertanyaannya : salah siapa kalau semua orang mau menurut pada Gamais? Tentu bukan salah siapa-siapa. Gamais tidak bisa (dan tidak berhak) memaksa orang untuk mencoblos jagoannya, tapi entah bagaimana, toh banyak yang menurut. Jadi salah siapa? Yang salah adalah mereka yang kurang gesit membuat jaringan dan memanfaatkannya.
Ada tuduhan bahwa Gamais memanfaatkan agama untuk politik. Lalu salah siapa kalau banyak yang menganggap agama itu penting sehingga mau menurut pada anjuran Gamais? Tentu tidak ada yang salah. Toh banyak juga calon lain yang terang-terangan mengajak pada sekularisme (bahkan pernah ada juga yang terang-terangan atheis), tapi tetap saja tidak boleh marah kalau sedikit yang mendukung. Saya tidak hendak mendukung Gamais, tapi kampanye negatif semacam ini sangat kasar, tidak objektif, dan jauh dari cerdas.
Percaya atau tidak, fenomena ‘belajar berdemokrasi’ seperti ini terjadi di mana-mana, dari tingkat kampus sampai negara. Lucunya, kita menganggap segalanya normal-normal saja.
wassalaamu’alaikum wr. wb.