 assalaamu'alaikum wr. wb.
Manusia jaman sekarang takut uang, titik!
Mereka benar-benar terintimidasi olehnya. Merasa takut kehilangan uang. Setiap orang khawatir uang akan meninggalkan mereka, lalu tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Apa yang terjadi? Uang tak dapat bergerak. Mengurusi dirinya sendiri pun tidak bisa. Bagaimana mungkin manusia terintimidasi oleh uang?
Sistem yang berjalan di dunia saat ini benar-benar membuat manusia menjadi semakin takut pada uang. Segalanya dilakukan demi menumpuk uang. Lupa akan fakta bahwa uang yang menumpuk sama sekali tidak membawa manfaat.
Kita bisa menumpuk uang di dalam lemari di kamar tidur, terlindung oleh dinding di empat sisi dan atap di atasnya. Tapi rumah pun bisa dengan mudah dihempas tsunami, atau diangkat dengan kekuatan tornado, atau terbakar dengan mudahnya ketika petir menyambar, atau ketika ada orang iseng yang sembarangan membuang rokok yang masih menyala.
Kita bisa menyimpan uang di bank, tapi bank itu tetap saja bisa bangkrut, direkturnya kabur ke luar negeri, sembunyi dari kredit macet. Bencana alam bisa menghancurkan gedung pusat data, hingga tidak ada bukti bahwa kita pernah menabung di sana. Hacker dapat menembus komputer, sehingga semua uang di rekening kita raib dan pindah ke rekening orang lain. Peperangan bisa saja terjadi, dan kita pun kehilangan segalanya.
Kalau mau berandai-andai, semua pilihan pasti ada resikonya. Dengan mudahnya Allah mencabut semua kenikmatan dunia, semudah takdir Allah yang menentukan siapa pemenang undian 1 milyar. Allah bisa memberi kita uang semudah Dia mengambilnya kembali. Mengapa kita terintimidasi oleh barang yang dapat hilang semudah ia datang?
Abdurrahman bin 'Auf ra. pergi hijrah sebagai seorang mantan saudagar. Nyaris semua kekayaannya ditinggal di Mekkah, dengan harapan ia akan beroleh ridha Allah di tanah Madinah. Ia tidak takut pada uang. Ia tahu betul cara untuk memperolehnya kembali, dan ia terkenal pandai untuk urusan itu. Beberapa lama di Madinah, ia kembali menjadi saudagar kaya. Uang tidak pernah merisaukannya. Ia bisa mendapatkan apa yang diperolehnya dengan kepandaiannya sendiri.
Ketakutan manusia akan uang adalah ketakutan yang jujur. Kalau saja kejujuran itu bisa disuarakan, maka akan muncul pernyataan : "Aku takut kehilangan uang yang sudah kukumpulkan selama ini, karena aku tidak yakin bisa mendapatkan kembali sebanyak itu." Orang-orang takut kehilangan uang, karena mereka tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri. Mereka meragukan kompetensi dirinya sendiri. Abdurrahman bin 'Auf ra. tidak demikian.
Manusia yang punya banyak keahlian tidak takut pada uang. Seorang sarjana S1 di jurusan Sipil, misalnya, bisa berkumpul dengan teman-temannya dan mendirikan sebuah perusahaan konsultan kecil-kecilan. Segala pekerjaan bisa dilakukan di rumah, dan mereka hanya berkumpul 2 kali seminggu untuk mendiskusikan pekerjaan. Gajinya tidak besar, mungkin hanya sekitar 800 ribu - sejuta rupiah sebulan. Jika ia punya kemampuan bahasa Inggris yang bagus, ia bisa memberi semi-privat dengan bayaran yang sangat bagus, total sekitar 100-200 ribu rupiah per minggu, atau 400-800 ribu rupiah sebulannya (kalau pelajaran yang diberikannya hanya sekali seminggu, dengan jumlah murid 3-5 orang). Kalau ia gemar membaca, maka ia pun pasti bisa menulis. Sekali menulis artikel, ia akan diberi bayaran sekitar 300 ribu rupiah, demikian juga jika ia bisa menulis cerpen. Semakin banyak tulisannya dimuat, semakin besar pula penghasilannya. Dia bisa pula ikut berbisnis MLM yang waktu kerjanya bebas, atau kalau dia jago basket, boleh saja menawarkan diri untuk jadi pelatih basket di SMP almamaternya.
Sejuta satu (bukan seribu satu) cara untuk mendapatkan uang tanpa jam kerja yang kaku, namun ada satu syarat : kompetensi! Kalau kita punya banyak keahlian, maka banyak pula jalan keluar bagi masalah kita. Kalau kita cuma punya satu keahlian, maka kemungkinan besar kita akan jadi budak uang. Kita akan kerja lembur setiap hari dan melupakan keluarga, atau korupsi habis-habisan karena dibutakan oleh keinginan.
Bagaimana pilihan Anda?
wassalaamu'alaikum wr. wb. 
| |