assalaamu’alaikum wr. wb.
Ada-ada saja metode yang digunakan oleh orang-orang untuk berkilah. Untuk genre seni yang satu ini (bisa disebut ‘seni berkilah’ atau ‘seni bela diri silat lidah’ kalau mau) kita mau tidak mau harus angkat topi terutama pada orang-orang liberal. Betapa canggih metode yang mereka gunakan sampai-sampai banyak orang tidak sadar bahwa omongan mereka jauh sekali dari ilmiah.
Kautsar Azhari Noer, seorang petinggi di Paramadina dan juga dosen UIN (dulu IAIN) Jakarta, pernah berkilah bahwa dengan menjadi orang pluralis dirinya merasa lebih khusyu’. Ia juga pernah berkata bahwa kalau yang masuk surga hanya orang Islam, maka betapa sedikitnya, karena penduduk dunia ini yang Islam hanya sedikit.
Modus operandinya sederhana saja. Pertama, lontarkan sebuah opini yang tidak mungkin diuji atau diukur secara kuantitatif. Dalam hal ini adalah ke-khusyu’-an. Ini murni berasal dari perasaan Kautsar Azhari Noer seorang. Tidak ada seorang pun manusia di muka bumi ini yang bisa mengkonfirmasi kebenarannya ; apakah memang ia lebih khusyu’ setelah menjadi seorang pluralis atau tidak. Kita juga tidak mendengar konfirmasi tersebut dari langit, yang artinya tidak ada pula pembenaran dari Yang Maha Kuasa. Tidak mungkin menguji ke-khusyu’-an seseorang. Kautsar Azhari Noer tahu persis hal itu, dan ia menggunakannya sebagai argumen.
Hal kedua yang dilakukannya adalah melontarkan sebuah pendapat yang disenangi oleh banyak orang, yaitu yang sangat berbau humanis. Sangat manusiawi. Semua orang ingin surga dihuni oleh banyak orang. Tentu kita ingin melihat diri kita dan seluruh keluarga dan karib kerabat kita berada di surga kelak. Tapi ia lupa bahwa Tuhan bukanlah manusia, dan Tuhan tidak punya kewajiban untuk menuruti keinginan manusia. Cara berpikir yang sangat humanis tentu saja salah besar kalau diterapkan pada Tuhan. Tuhan punya otoritas penuh untuk memaksa manusia untuk menuruti kehendak-Nya. Kalau menolak juga, Tuhan pun punya otoritas untuk memenuhi neraka-Nya dengan para pembangkang. Kalau ada manusia yang bersikap otoriter seperti ini memang sangat menyebalkan, tapi Tuhan bukan manusia. Tuhan punya hak sepenuhnya untuk bersikap otoriter.
Selain itu, banyak-sedikitnya penduduk surga kelak sama sekali tidak relevan untuk dibahas sekarang. Apakah akhir jaman sudah tiba, sehingga Kautsar Azhari Noer bisa berkata bahwa penduduk surga hanya sedikit? Siapa tahu, dengan dakwah yang semakin baik, umat Islam bertambah pesat dan penduduk surga pun membludak. Tentu saja, sebanyak apa pun penduduknya, surga Allah masih saja cukup luas. Kalau masalah ini masih perlu juga diperpanjang, bisa dipertanyakan kembali : apa relevansinya memikirkan banyak-tidaknya penghuni surga kelak? Apakah Allah berkewajiban mengisi surga dan neraka dalam sebuah rasio tertentu? Tentu tidak!
Tia Subiakto, dirigent orkestra T&T yang kini tak lagi berjilbab, menyatakan “Daripada saya berjilbab tapi masih selingkuh…” Seolah-olah mereka yang berjilbab pasti selingkuh, dan seolah yang tidak selingkuh pasti tidak berjilbab. Ataukah ini adalah sebuah pengakuan dosa bahwa Tia Subiakto gemar selingkuh saat masih mengenakan jilbab? Tentu saya tidak bisa memastikan soal ini sama sekali.
Pernyataan semacam ini seringkali meluncur dari orang-orang yang memandang sinis penggunaan hijab oleh kaum Muslimah. Ada banyak pernyataan lain sejenisnya, misalnya :
-
“Sebelum tubuh, hati dulu yang harus dijilbabi!”
-
“Yang berjilbab tapi berzina pun ada, toh?”
-
“Apa memang yang berjilbab itu pasti lebih baik?”
Mari kita teliti masalahnya. Masalahnya adalah setiap Muslimah harus menutupi auratnya dengan hijab. Pertanyaan pertama tidak relevan, karena dalam Islam berlaku prinsipi “kerjakan menurut kemampuan”. Maka jika yang bisa dilakukan adalah ‘menjilbabi’ tubuh, tentu tidak ada salahnya dilakukan sambil terus membenahi hatinya. Memang ada prioritas dalam beramal, tapi tidak sekaku itu. Apa pun yang bisa dilakukan, maka lakukanlah. Begitulah seorang Muslim bersikap.
Pernyataan kedua juga mengundang pertanyaan. Memang yang berjilbab juga ada yang berzina. Lantas kenapa? Apakah itu alasan untuk tidak mempedulikan kewajiban yang telah diberikan oleh Allah? Kalau zina mau dijadikan parameter, maka yang tidak berjilbab dan melakukannya malah lebih banyak lagi. Pelacur mana pun bisa mengenakan jilbab dengan mudah, namun hal itu tidak berarti melaksanakan kewajiban dari Allah bisa dianggap kecil artinya.
Pernyataan ketiga juga sama tidak masuk akalnya. Tidak ada yang bilang bahwa perempuan berjilbab itu pasti masuk surga, atau semacamnya. Tidak ada juga yang bilang bahwa yang berjilbab pasti lebih baik daripada Muslimah yang tidak berjilbab. Yang jelas, menutup aurat adalah kewajiban. Jika mampu melakukannya, maka mengapa harus mencari-cari banyak alasan? Kita tidak tahu apakah amal-amal kita lebih berat daripada dosa-dosa kita. Karena itu, amal apa pun yang bisa kita lakukan, maka selayaknyalah kita lakukan.
Kembali pada pernyataan Tia Subiakto, maka seolah-olah ia berkata bahwa hanya ada dua jenis perempuan : (1) berjilbab tapi selingkuh, dan (2) tidak berjilbab tapi tidak selingkuh. Padahal kalau mau menggunakan parameter-parameter tersebut, masih ada dua jenis lagi, yaitu : (3) tidak berjilbab dan selingkuh, dan tentu saja yang terbaik adalah (4) berjilbab dan tidak selingkuh. Mengapa Tia Subiakto harus menghubung-hubungkan jilbab dengan selingkuh? Hanya dirinyalah yang tahu.
Tokoh-tokoh JIL juga suka sekali mendiskreditkan syariat Islam dan mengklaim bahwa syariat Islam tidak mungkin membawa kebaikan bagi sebuah bangsa. Contoh kasus yang digunakannya adalah pada beberapa negara di Timur Tengah, yang nyata-nyata tidak menggunakan syariat Islam. Memang penduduknya mayoritas Muslim, tapi mereka jelas-jelas tidak menggunakan syariat Islam dalam pemerintahannya. Bahkan negaranya pun dipimpin oleh para Raja (entah syariat yang manakah yang membenarkan sistem seperti ini). Dengan sendirinya, ‘kegagalan’ yang dialami oleh bangsa-bangsa Timur Tengah modern tidak bisa dijadikan bukti bagi argumen mereka yang mengatakan bahwa syariat Islam tidak bisa memecahkan berbagai permasalahan kontemporer.
Kalau dipikir-pikir, cara orang-orang liberalis berkilah sebenarnya tidak jauh beda dengan metode yang diwariskan oleh Darmogandul dan Gatoloco, pelopor aliran kebatinan sesat yang pernah ada (dan bukan tidak mungkin masih ada juga) di Indonesia. Dahulu, Gatoloco bilang bahwa daging babi atau anjing milik sendiri atau dibeli dengan sah lebih halal daripada daging kambing hasil curian. Inilah cara mereka berargumentasi, yaitu dengan membelokkan pembicaraan dari arah sejatinya. Yang dibicarakan awalnya adalah keharaman daging babi dan anjing secara dzat-nya, tidak ada hubungannya dengan cara memperolehnya. Memang benar daging kambing yang halal dikonsumsi pun bisa jadi haram kalau didapat dari mencuri, tidak disembelih dengan mengucapkan basmalah, atau sudah menjadi bangkai duluan. Tapi yang dibicarakan sama sekali bukan itu!
Serupa dengan argumen Tia Subiakto, Gatoloco pun seolah menciptakan dua kubu dalam khayalnya yang amat terbatas : (1) daging babi dan anjing hasil transaksi yang sah, dan (2) daging kambing hasil curian. Padahal masih ada opsi untuk mengkonsumsi daging kambing yang dibeli dengan sah. Tapi Gatoloco membuang sama sekali kemungkinan tersebut. Yang lebih parahnya lagi adalah Gatoloco mengabaikan sama sekali fakta bahwa daging babi dan anjing haram untuk dikonsumsi di luar keadaan yang benar-benar darurat. Jadi bukan hanya masalah cara memperolehnya! Tapi seperti biasa, Gatoloco tidak mau peduli. Inilah seni berkilah.
Kalau mau diteliti lebih jauh, banyak sekali kerancuan berpikir di sekitar kita. Bangsa Yahudi diberi tanah di Palestina karena seluruh dunia kasihan atas nasibnya yang dianiaya habis-habisan oleh Hitler pada Perang Dunia kedua dahulu. Kalau memang Jerman yang bersalah, mengapa Palestina yang harus memberikan tanahnya? Ada juga yang bilang bahwa secara historis bangsa Yahudi punya hak tinggal di tanah Palestina. Jika demikian, maka mengapa kaum kulit putih keturunan Eropa tidak segera enyah dari AS dan Australia dan menyerahkan hak-hak bangsa Indian dan Aborigin yang sudah ratusan tahun mereka rampas seenaknya?
Ada yang mengkritik tindakan Rasulullah saw. mengeksekusi semua lelaki dewasa dari dua kabilah Yahudi di Madinah dahulu. Mereka benar-benar lari dari dua fakta yang seharusnya diungkapkan : (1) kedua kabilah itu telah mengkhianati perjanjian yang mereka buat bersama-sama dengan seluruh warga Madinah, dan (2) hukuman yang ‘kejam’ tersebut tidak berasal dari perintah Rasulullah saw., melainkan berasal dari Taurat yang mereka junjung tinggi sendiri. Jadi, kalau orang-orang Yahudi mau mengeluh, maka proteslah Kitab Sucinya sendiri!
Ada yang minta agar Soeharto dimaafkan, padahal memaafkan atau tidak bukan haknya presiden, jaksa agung, anggota DPR, atau siapa pun, melainkan hak para korban saja. Ada yang bilang belajar agama belum tentu membuat orang menjadi saleh, dengan mengambil contoh dari segelintir orang lulusan IAIN. Padahal, ajaran sesat sekularismelah yang menjadikan mereka seperti demikian. Tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali.
Begitulah cara mereka bekerja. Segala pembicaraan dibelokkan sedemikian rupa sehingga tidak lagi menyentuh permasalahan yang sebenarnya. Akhirnya, apa yang dibicarakan menjadi sangat tidak berbobot. Ujung-ujungnya, mereka akan menggunakan sebuah paham sesat, yaitu bahwa “kebenaran itu memang relatif”.
wassalaamu’alaikum wr. wb.