assalaamu’alaikum wr. wb.
Cinta adalah sebuah pilihan sejati. Manusia bisa memilih akan mencintai atau membenci, sepenuhnya terserah dirinya. Cinta tidak mesti tunggal, dan Allah pun tidak meminta kita untuk mencintai hanya Allah saja. Kita berhak mencintai apa pun, asalkan kecintaan yang paling tinggi hanya bagi-Nya saja.
Anda berhak mencintai sastra, asalkan Anda hanya merangkai kata yang dicintai Allah saja. Anda berhak mencintai pekerjaan Anda, asalkan Anda sungguh-sungguh menjadikan peran Anda sebagai hamba Allah sebagai profesi utama Anda, bukan sekedar pekerjaan sambilan, apalagi pengisi waktu luang. Anda juga jelas sangat berhak mencintai anak-istri Anda, sampai-sampai Rasulullah saw. mengingatkan kita untuk membiasakan diri memeluk, mencium dan mendudukkan anak-anak di pangkuan kita, dan meremas jemari istri dengan mesra. Cinta adalah perintah Allah. Tidak kurang daripada itu.
Tapi adakalanya cinta juga harus memilih, ketika dua hal yang kita cintai saling bertentangan secara absolut. Tidak mungkin mencintai Allah sekaligus mencintai Iblis, karena Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk memperlakukan Iblis sebagai musuh sejati. Tidak mungkin mencintai Islam, namun di saat yang bersamaan malah yakin seratus persen bahwa agama yang diridhai Allah SWT ini tidak mampu menjawab tantangan jaman. Mustahil menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup ketika orang-orang yang menghinanya kita diamkan saja.
Belum lama ini, Gus Dur diusir secara paksa dari sebuah forum lintas agama oleh para aktifis ormas Islam yang merasa tersinggung dengan ucapan Gus Dur yang, antara lain, menyebut aksi sejuta umat mendukung RUU APP tempo hari disusupi oleh kekuatan-kekuatan asing, dan sebagainya. Tidak lupa Gus Dur juga menutup segala kontroversi dirinya dengan menyebut sebagian aktifis ormas Islam sebagai ‘preman berjubah’.
Kita tidak mesti setuju dengan aksi pengusiran Gus Dur tersebut, apalagi jika hanya didasari oleh ketersinggungan pribadi. Rasulullah saw. sendiri tidak pernah tersinggung jika yang dicela hanya dirinya sendiri. Akan tetapi, beliau tidak akan surut jika yang dihina adalah Allah dan Islam. Beliau juga akan mati-matian membela jika ada di antara umat Islam yang dianiaya.
Ketersinggungan FPI, HTI dan MMI atas ucapan Gus Dur adalah masalah kecil, walaupun mereka juga berhak meminta pertanggungjawaban atas ucapannya itu. Tanpa bermaksud menyepelekan rasa ketersinggungan mereka, rasanya ada hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan menyangkut tokoh yang dianggap wali oleh sebagian orang ini.
Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh JIL, Gus Dur membuat sebuah pernyataan yang amat mengerikan. Wawancara itu jelas sekali memang disengaja untuk menciptakan opini negatif tentang penerapan syariat Islam (walaupun hanya secara parsial) di beberapa daerah, dan juga sedikit menyinggung masalah pornografi dan pornoaksi. Dengan gagah beraninya, Gus Dur menyebut Al-Qur’an sebagai Kitab Suci paling porno sedunia hanya karena sebuah ayat tentang ibu yang diperintahkan untuk menyusui anaknya. Tidak lupa, Gus Dur melengkapi kontroversi tersebut dengan mengatakan bahwa Bible (yang dianggapnya sebagai Injil) tidak pernah memuat hal-hal berbau porno tersebut.
Ucapannya jelas sangat tidak akurat, karena kenyataannya justru berkebalikan dari pernyataan Gus Dur. Bible justru mengandung banyak sekali ayat yang berbau porno dan cabul. Tidak ada perlunya mengadakan pembandingan agama sekarang, karena memang bukan itu topik pembicaraan kita kali ini. Jika mau, Anda bisa merujuk pada buku “The Dark Bible” karya Dr. Jim Walker dan Dr. Shabir Ally yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku “The Choice” karya Ahmad Deedat yang sangat laris di Indonesia, dan berbagai VCD perdebatan antara Ahmad Deedat dengan para pemuka umat Kristiani dari seluruh belahan dunia yang kini banyak beredar.
Adapun mengenai ayat yang berbicara tentang ibu yang diperintahkan untuk menyusui anaknya, hanya ada satu jawaban yang perlu dikemukakan : Hanya orang yang menderita penyimpangan seksual sajalah yang menganggap bahwa peristiwa seorang ibu menyusui anaknya itu berbau porno!
Pada titik ini, kita dipaksa untuk mempertanyakan kembali cinta kita. Adakah kita lebih mencintai Allah daripada Gus Dur? Adakah kita lebih mencintai Islam daripada Gus Dur? Adakah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup, dan bukan kata-kata Gus Dur belaka?
Cinta dan benci sebenarnya adalah dua sisi mata uang. Ketika kita mencintai sesuatu, maka kita membenci apa-apa yang membahayakan, mengancam, menyulitkan, menghina, menyakiti, atau mencederai apa pun yang kita cintai itu. Sungguh tidak wajar mencintai Allah namun membenci Kitab Suci Al-Qur’an. Betapa tidak masuk akalnya mengaku mencintai Allah namun diam saja ketika Al-Qur’an dihina sedemikian rupa.
Jika mengaku mencintai Gus Dur, maka berpikirlah kembali, sekarang juga! Tidakkah hatimu merasa marah ketika Al-Qur’an yang indah ini dicela dan difitnah sedemikian rupa? Tidakkah dadamu membara ketika agama yang serba cantik ini direndahkan begitu rupa? Tidakkah engkau mau berkumpul bersama Rasulullah saw. di akhirat kelak? Manakah yang hendak engkau pilih (jika memang harus memilih) : bersama Rasulullah saw. atau bersama Gus Dur? Jika kini engkau dipaksa untuk memilih, manakah yang akan kau pilih? Wahai, masih ingatkah engkau dengan Allah? Bukankah Allah sangat dekat denganmu, lebih dekat dari urat lehermu sendiri? Apakah kini engkau hendak menyangkal hubungan cinta antara Allah dengan hamba-Nya? Apakah sekarang engkau hendak memisahkan diri dari barisan panjang umat Rasulullah saw.?
Pernyataan “Al-Qur’an adalah Kitab Suci paling porno sedunia” sudah dihapus dari skrip wawancara di situs resmi JIL, namun sudah terlalu banyak mata yang melihatnya, dan sudah terlalu banyak hati yang mengingatnya. Jika memang Gus Dur tidak pernah melontarkan ucapan demikian, maka Gus Dur dan para pengikutnya dipersilakan mengajukan tuntutan kepada Hamid Basyaib (koordinator JIL) dan semacamnya yang telah memalsukan hasil wawancara. Namun jika memang Gus Dur benar-benar telah menistakan Al-Qur’an demikian rupa, maka sudah terlalu banyak orang yang tahu, dan insya Allah tidak akan melupakan pengkhianatan besar itu.
Cinta memang seringkali harus memilih. Pilihlah sekarang juga! Sudikah Anda menggadaikan agama demi seorang Gus Dur? Peganglah Al-Qur’an, dan dekaplah di dadamu erat-erat! Maukah engkau membuktikan cintamu padanya?
wassalaamu’alaikum wr. wb.