assalaamu’alaikum wr. wb.
Bukan, ini bukan lagu dangdut!
Dulu, saya berpikir bahwa laki-laki paling sial di dunia ini adalah Ucup. Oleh Bajuri dimarahi terus, oleh Emak dikerjain melulu, dan Oneng pun tidak memberi banyak bantuan karena sama ngaconya. Tetangga-tetangga pun selalu mencari setiap kesempatan untuk menjahili Ucup. Dalam dunia sinetron, tokoh Ucup memang salah satu karakter yang paling pantas untuk dikasihani.
Sayangnya, itu hanya di dunia sinetron. Dan sebelum ada hingar-bingar soal Mayangsari.
Sekarang, gelar lelaki yang paling saya kasihani di dunia beralih kepada Bambang Trihatmodjo, salah satu putra mahkota di negeri ini pada masa Orde Baru. Karena affair-nya (yang terpaksa tidak bisa dirahasiakan lagi), ia menanggung banyak sekali masalah. Bukan masalah finansial, tapi sangat menyakitkan.
Selingkuh mungkin dianggap nikmat oleh sebagian orang. Tapi tidak juga. Pertama, selingkuh itu sendiri pertanda adanya ketidakberesan dalam rumah tangga, yaitu dalam hubungan antara suami dan istri. Ketikdaberesan semacam ini saja sudah cukup menyakitkan, sedemikian menyakitkannya sampai perlu mencari pihak ketiga sebagai pelampiasan. Namanya juga pelampiasan, tidak pernah menawarkan solusi.
Kedua, selingkuh itu sendiri membuat hidup menjadi sangat tidak tenang. Bohong besar kalau ada yang bilang selingkuh itu membuat hati lebih tentram. Tentu saja manusia yang masih manusia (artinya : masih punya malu) tidak ingin perselingkuhannya terungkap. Artinya, mereka yang berselingkuh akan selalu kucing-kucingan dari pandangan mata orang lain. Apa enaknya?
Ketiga, masalah akan bertambah besar ketika perselingkuhan itu terungkap. Orang-orang akan memberikan penilaian dan menghakimi pelakunya, keluarga hancur berantakan, dan kesenjangan antara suami dan istri semakin besar saja. Jika pelakunya tokoh masyarakat, maka media massa pun akan ikut mencari rejeki dari berita buruk ini. Sayangnya, bagi pers, bad news is good news.
Sekarang, seperti kita semua sudah tahu, affair Bambang Trihatmodjo sudah terjadi dan sudah terbuka lebar-lebar untuk dikonsumsi oleh masyarakat yang haus berita (dan gosip). Bayi mereka pun sudah lahir. Semua orang sudah tahu sama tahu, dan tak ada lagi yang berusaha menutup-nutupi kebenarannya. Berita perselingkuhan ini sudah menjadi konsumsi massa.
Dalam keadaan dilengserkan secara paksa dari tahta putera mahkota negeri dan nama baik yang sudah terlanjur tercemar, belum lagi ditambah saudara kandung yang sedang meringkuk di penjara dan ayah tercinta yang sudah luntur keperkasaannya, Bambang Trihatmodjo harus menerima semuanya bulat-bulat. Ia harus menerima segala kesusahan ini sendiri. Dicaci-maki istri sahnya, disudutkan oleh pers, dihakimi oleh massa, dan dibenci oleh semua orang yang membenci Orde Baru. Sudah cukup?
Belum!
Jangan lupa, pada insiden ‘penyerangan’ ke rumah Mayangsari tempo hari, terjadi sesuatu hal yang paling menyakitkan bagi orang tua mana pun. Dipukul anak sendiri!
Aduh, kasihan sekali Bambang Trihatmodjo...
wassalaamu’alaikum wr. wb.