assalaamu’alaikum wr. wb.
Tahun Lalu
14 Juni 2005 adalah salah satu hari yang paling membuat saya sedih. Pada hari itulah saya mendapat kepastian bahwa saya tidak akan bisa melaksanakan sidang Tugas Akhir pada bulan Juli. Alasannya konyol dan sulit dipercaya. Syukurlah semua itu sudah selesai sekarang. Tapi saya masih ingat bagaimana rasanya bolak-balik kesana-kemari di dalam kampus untuk mengurus berbagai hal, menelpon dosen dan dimarahi ketua departemen, lalu akhirnya malah tidak bisa maju bersidang. Waktu itu hujan deras. Saya pulang ke kostan sore-sore tanpa mempedulikan baju dan tas yang basah kuyup. Rasanya hari itu tidak bisa bertambah buruk lagi.
Seperti biasa, saya salah total.
Sepulang dari kampus, saya langsung masuk ke kamar dengan perasaan kacau balau. Pakaian yang basah membuat lantai perlu dipel karena air terus menetes. Ah, peduli amat! Saya gagal sidang. Apa lagi yang lebih menyakitkan daripada itu? Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, dan sebuah pesan singkat masuk. Dalam sekejap saya terjun bebas ke dalam jurang yang seratus kali lebih menyakitkan.
Ya, Pak Rahmat Abdullah sudah berpulang ke Rahmatullah hari itu. Pak Rahmat Abdullah yang semua tulisannya di Majalah Tarbawi saya fotokopi dan kumpulkan. Pak Rahmat Abdullah yang tulisan-tulisannya selalu membuat hati saya terharu-biru dengan cahaya Islam, dengan kalimat-kalimatnya yang terangkai indah bagaikan puisi gubahan pujangga kelas berat. Beliaulah yang membuat saya tiba-tiba ingin belajar menulis.
Hanya sekali seumur hidup saya sempat bertemu dengan beliau, pada suatu acara silaturahim kader PKS di sebuah gedung olah raga di Bandung. Setelah acara usai, Ustadz Rahmat tidak dibiarkan pergi begitu saja. Puluhan kader mengerubunginya, ingin bicara begini-begitu. Saya juga ingin menanyakan banyak hal. Tapi jangankan bertanya, bergerak pun lidah ini tak mampu.
Banyak yang ingin saya bicarakan. Saya tidak sempat berbicara. Beliau bahkan tidak tahu siapa saya. Tapi saya sempat berdiri di belakangnya, hingga dada saya berada pada jarak tidak lebih dari sejengkal dari punggungnya. Tubuhnya kecil dan gemuk. Selalu tersenyum. Mudah sekali diajak bicara. Saya ingin bicara dengannya, tapi ada hal lain yang lebih saya inginkan dari dirinya. Saya menginginkan kekuatan seperti miliknya, walaupun hanya sebagian. Dengan berdiri di dekatnya saja, misi saya sudah cukup berhasil. Ada sesuatu yang beresonansi di antara kami. Seperti jenderal yang kehadirannya membuat tubuh para kopral bergetar hebat karena dadanya penuh dengan tekad bertempur.
Maka kami pun berpisah, tanpa berkata apa-apa. Tapi pertemuan itu begitu berkesan. Saya yakin beliau tidak mengenali saya. Tapi saya akan gunakan energi ini sampai habis. Sampai Islam menjadi pemenang, atau kita semua mati sebagai pejuang.
Begitulah Ustadz Rahmat Abdullah yang saya kenal. Saya memang bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Sudah pasti beliau tidak mengenali saya. Saya hanya mengenalinya dari tulisan-tulisannya, dua kali mendengarkan ceramahnya, dan sekali saja berdiri di dekatnya. Tapi saya benar-benar menangis, 14 Juni tahun yang lalu. Saya tidak peduli lagi pada sidang Tugas Akhir. Saya menangisi rasa kesepian dalam hati ini karena ditinggal oleh seorang Rahmat Abdullah.
Tidak, saya tidak menangisi beliau. Saya yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan dirinya. Sayalah yang harus ditangisi, karena kehilangan seorang guru besar. Seorang saudara seperjuangan. Seorang ayah.
Hari Ini
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir akan dibebaskan. Seluruh keluarganya (tentu saja) menyambut dengan suka cita. Seluruh anggota MMI menyambut kepulangannya dengan perasaan gembir. Umat Islam yang yakin pada kebenaran agamanya bersyukur karena akhirnya segala kebohongan ini usai sudah.
Saya tidak pernah tahu siapa Abu Bakar Ba’asyir sebelum dipenjarakan oleh pemerintah RI. Apalagi MMI. Sama sekali tidak tahu. Saya belum pernah mendengarkan ceramah beliau, juga tidak tahu bagaimana rupa sang Ustadz sebenarnya. Saya hanya mengenalnya lewat televisi.
Oh, jadi inilah Abu Bakar Ba’asyir.
Seorang lelaki tua yang tubuhnya sudah tidak gagah lagi, rambut dan janggut memutih, sering mengenakan syal dan pakaian yang tebal, tidak lupa juga topi kecilnya yang berwarna putih serta kacamatanya. Jangan salah. Coba lihat matanya. Tua, lelah, namun tidak lemah dan tidak ragu. Beginikah wajah seorang teroris?
Kita tahu siapa yang sebenarnya berbohong. Semua terdakwa kasus Bom Bali sudah menyangkal keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir. Hanya AS dan Australia saja yang terus-terusan cerewet. Kita maklum atas sikap jahil mereka. Pertanyaannya : dikemanakan harga diri Indonesia?
Harga diri para pejuang kemerdekaan yang lebih memilih mati atau cacat daripada terus dijajah telah diludahi dan dikencingi beramai-ramai oleh para pembuat keputusan di negeri ini. Atas dikte penguasa asing yang entah apa kepentingan dan urusannya, seorang ustadz tua renta diciduk dari pesantrennya dengan tuduhan membuat bom yang terlalu canggih untuk ukuran pesantren mana pun di Indonesia. Kemanakah menguapnya kejantanan bangsa ini? Cuih!
Saya tidak kenal Abu Bakar Ba’asyir, dan sampai detik ini pun belum pernah mendengarkan ceramahnya. Tapi kita semua tahu siapa yang berbohong. Kita juga tahu siapa yang dengan tidak malu-malunya menyekap seorang kakek di penjara selama bertahun-tahun tanpa bukti yang nyata.
Hari ini, 14 Juni 2006, segala bukti telah tersaji di depan mata.
25 Tahun yang Lalu
Dua puluh lima tahun yang lalu, seorang bayi laki-laki lahir di Jakarta. Bertepatan dengan hari Ahad, 14 Juni 1981. Anak itu diberi nama Akmal, diambil dari nama seorang adik dari ibunya yang meninggal semasa kecil, yaitu Sjaiful Akmal. Nama itu adalah pemberian sang Nenek.
Nama adalah doa. “Akmal” adalah doa yang bukan main besarnya. Arti harfiahnya adalah “telah sempurna”. Apakah ia adalah manusia yang sempurna? Jelas tidak. Besarnya harapan orang tua pada anak yang satu ini tercermin jelas pada nama yang dipilihkan untuknya.
Akankah ia mampu memenuhi harapan sebesar itu? Waktulah yang akan menjawab.
wassalaamu’alaikum wr. wb.