assalaamu'alaikum wr. wb.
Kita sering lupa arah kala sedang dimabuk kemenangan. Di tengah euforia dan kesenangan yang menggelegak dari dalam darah, biasanya kita berada dalam keadaan paling lengah. Paling mudah ditebak, paling vulnerable, dan tentu saja, setan paling hobi berteman dengan para pelupa.
Inilah efek dari terlalu seringnya kita mengadakan kompetisi tanpa diimbangi dengan perenungan. Kompetisi membuat kita perkasa, tahan banting, tahan pukul, dan ahli dalam strategi peperangan. Tapi bagaimana kalau yang diperangi justru dirinya sendiri?
Islam memerintahkan kita untuk bekerja sepenuh tenaga, berpikir semampu akal dan berempati seluas kedalaman hatinya. Seorang Muslim dipacu terus-menerus untuk menghasilkan karya-karya terbaiknya. Ini adalah pekerjaan harian bagi seorang Muslim. Bukan sesuatu yang luar biasa, bahkan sebenarnya rutinitas. Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan keeratan hubungan antara iman dan mencari nafkah. Sampai-sampai Rasulullah saw. mengajarkan, "Ada dosa-dosa tertentu yang hanya bisa dihapuskan oleh kelelahan dalam bekerja."
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan serangkaian ibadah dengan jadwal yang sangat padat. Paling tidak lima kali sehari kita harus menghentikan pekerjaan kita untuk melaksanakan shalat. Jika ditambah dengan Qiyamul Lail, maka kita pun harus bangun di tengah malam untuk shalat. Kaum laki-laki wajib menunaikan shalat Jumat berjamaah di Masjid. Kita pun diwajibkan berpuasa jika kondisi fisik memungkinkan. Tidak tanggung-tanggung, puasa tersebut harus dijalankan sebulan penuh! Zakat harus ditunaikan, dan orang-orang yang mampu harus mau bersusah payah ke negeri yang tandus di seberang lautan sana untuk menunaikan ibadah Haji. Terlalu padat? Ini baru yang wajib-wajibnya saja!
Setiap hari, kita harus 'berhenti' lima kali sehari. Sekali seminggu, kita 'berhenti' untuk menunaikan shalat Jumat. Setiap tahun, kita harus 'berhenti' selama bulan Ramadhan. Paling tidak sekali seumur hidup, jika mampu, kita harus 'berhenti' sejenak untuk berhaji. Kita harus sibuk berkarya, tapi ada pula saat-saatnya untuk 'berhenti' barang sebentar, bermuhasabah dengan diri sendiri.
Semua 'perhentian' ini tentu saja tidak lepas dari makna produktif. Semua perhentian ini memang benar-benar dibutuhkan untuk merumuskan rencana-rencana selanjutnya, sekaligus mengevaluasi langkah-langkah yang telah dilalui sebelumnya. Tanpa perhentian-perhentian semacam ini, manusia seringkali kehilangan kemampuan untuk melihat the big picture, gagal menilai dirinya sendiri secara objektif, dan cenderung mencari-cari pembenaran untuk kesenangan dirinya sendiri.
* * * * * * *
Siapakah tim terbaik dalam sebuah pertandingan basket? Tentu saja tim yang menang. Tentu saja, hal ini hanya berlaku kalau tim tersebut tidak menggunakan doping, menyogok wasit, meneror pemain lawan, atau bermain mata dengan pelatih tim lawan.
Tapi ini dunia permainan. Permainan sudah diatur sedemikian rupa sehingga dengan jelas dapat dilihat hitam-putihnya. Para pemain sudah sepakat bagaimana cara mendribel bola, cara untuk melakukan pertahanan yang dibolehkan, dan hal-hal yang tidak dibolehkan. Ketika pelanggaran dilakukan, wasit langsung meniup peluit, dan semua orang harus patuh. Kalau tidak patuh, maka sangsi yang lebih berat lagi akan menunggu.
Hidup bukan permainan. Wasitnya adalah Allah Yang Maha Adil. Sayangnya, kita tidak akan bisa bertanya-tanya dengan Allah sebelum kita menemui ajal. Kita tidak bisa protes terhadap keputusan-Nya. Dan yang jelas, kita pun tidak bisa menyogok Allah.
Jadi, siapakah yang 'bermain' paling bagus di dunia ini? Sang pemenang kah? Belum tentu. Wasit belum meniup peluit.
* * * * * * *
Adolf Hitler adalah sebuah nama yang barangkali akan dikenang oleh peradaban manusia hingga akhir jaman. Negara-negara besar seperti Perancis dan Inggris berseteru tanpa henti di dataran Eropa, saling menaklukkan, bahkan saling bersaing dalam menebar wilayah jajahan di Asia dan Afrika. Tapi tak ada satu pun negara yang bisa mencengkeram Eropa sebagaiman Hitler pernah melakukannya dengan NAZI-nya.
Selama beberapa tahun, Hitler adalah seorang pemenang sejati. Manusia selain ras Arya adalah pecundang semuanya. Tapi itu semua hanya bertahan beberapa tahun lamanya. Setelah itu, pemenang berganti, pecundang berbalik menang. NAZI runtuh, Jerman dibelah dua. Jadi, siapa pemenangnya?
Amerika Serikat muncul sebagai negara penyelamat Eropa. Mereka dipuji-puji oleh seluruh Eropa dan dijadikan sekutu abadi, termasuk dalam hal-hal kotor yang akan mereka lakukan bersama. Amerika Serikat adalah pemenang, lainnya adalah pecundang.
Bagaimana nasib AS kini? Jutaan warganya tidak mengenal siapa ayahnya. Jutaan wanita kehilangan keperawanannya pada prom night, pesta dansa yang seharusnya menjadi kenangan manis pelepas masa-masa sekolah menengah. Tidak seorang pun di antara mereka yang tidak menyesal. Penyakit seksual merebak, penggunaan narkoba menjadi biasa. Minuman keras adalah pembunuh paling efektif di jalanan, dan makanan ringan yang mereka konsumsi setiap hari pada akhirnya malah mempersulit hari tua mereka dengan penyakit kanker. Sakit jiwa merebak, meski pun mereka selalu ingin tampil 'normal'. Banyak orang membeli senjata api, namun yang ditembaknya hanyalah kepalanya sendiri. Banyak orang bernyanyi, namun nyanyiannya justru membuat dirinya semakin tenggelam dalam depresi. Sembilan dari sepuluh pernikahan berakhir dengan perceraian, dan mereka menikah hanya untuk bertengkar.
Apakah AS kini tampil layaknya seorang juara? Mungkin, mungkin pula tidak.
* * * * * * *
Banyak orang menyangka bahwa kemenangan itu menandakan kebenaran. Padahal, kemenangan hanyalah sebuah fungsi dari waktu. Seiring berlalunya waktu, mereka yang tadinya gagah akan menjadi keriput dan beruban. Mereka yang digjaya akan dilupakan, dan manusia hanya hidup untuk menyongsong kematian. Jika kita sedang mengalami kemenangan, maka boleh jadi keesokan hari akan menjadi hari kejatuhan kita. Jika kita menjadi pecundang, boleh jadi esok akan jadi hari kemenangan.
Kemenangan adalah suatu fenomena masa kini, bukan selamanya. Kebenaran adalah abadi dan global. Minuman keras itu haram hukumnya : itulah kebenaran. Lalu mengapa AS yang dipenuhi oleh para pemabuk itu lebih maju negaranya? Sabar. Suruh saja mereka mengemudi di jalan tol. Kesuksesan mengumpulkan harta tidak akan ada gunanya jika kita harus mati karena mabuk.
wassalaamu'alaikum wr. wb.