assalaamu’alaikum wr. wb.
Dari sebuah buku, saya mengetahui sebuah karya tulis bikinan seorang lulusan IAIN Yogyakarta. Namanya Muhidin M. Dahlan. Hampir-hampir saya meneteskan air mata setelah membaca sedikit kutipan dari tulisannya itu. Sayangnya, bukan air mata haru. Beginilah kutipan dari buku karya Muhidin M. Dahlan yang berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur : Memoar Luka Seorang Muslimah” :
Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya.
Na’uudzubillaah! Apa saja yang mereka ajarkan di IAIN Yogyakarta?
Sebagai orang yang sedang merencanakan pernikahan, saya ingin menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya kepada Muhidin M. Dahlan yang memiliki anggapan sedemikian buruk terhadap institusi pernikahan. Saya tidak bisa membayangkan betapa hancur leburnya hidup sang lulusan IAIN ini sehingga ia tidak lagi mampu melihat hikmah di balik sunnah Rasulullah saw. yang satu ini. Dalam bayangan saya, pernikahan adalah suatu hal yang menentramkan, membahagiakan, dan memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya. Rupanya, ada yang berpendapat sebaliknya.
Saya juga ingin menyampaikan duka cita saya yang amat mendalam kepada Muhidin M. Dahlan yang tidak lagi takut dengan batas-batas keimanan dan kekafiran. Memang banyak perdebatan dalam memahami agama Islam, misalnya dalam masalah-masalah fiqih, namun saya belum pernah menemui pendapat yang membenarkan pelacuran. Tidak ada seorang ulama pun yang pernah menghalalkan pelacuran, setahu saya. Barangkali Muhidin ingin menjadi yang pertama? Ah, tetapi apakah ia sudah berstatus ulama?
Apakah pernikahan memang sekedar pembirokrasian seks? Apakah seks adalah satu-satunya dimensi dalam sebuah lembaga pernikahan? Saya ingin mengetuk hati kecil Muhidin dengan sebuah pertanyaan : Apakah ayah dan ibumu tidak punya kegiatan lain selain seks?
Sederhana saja. Jika memang menganggap pernikahan adalah sebuah lembaga pembirokrasian seks, maka bukalah mata lebar-lebar dan lihatlah sendiri ; apakah memang semua orang menikah karena alasan seks semata? Jangan lihat kuman di seberang lautan, tapi lihatlah gajah di pelupuk mata. Mulailah dari orang-orang terdekat. Apakah orang-orang di sekitar Muhidin memang semuanya sex-oriented? Jika memang ya, maka sekali lagi saya menyampaikan duka cita yang amat mendalam.
Kalau memang pelacur tidak ada bedanya dengan istri yang sah, jangan berpikir terlalu jauh. Pikirkanlah ibu, kakak perempuan, adik perempuan, sepupu, bibi dan nenek kita yang sudah menikah. Apakah mereka semua memang sama dengan pelacur? Atau barangkali memang keluarga Muhidin semuanya pelacur? Saya sungguh kasihan pada kerabat perempuan Muhidin yang sudah menikah, karena saudaranya sendiri menuduh mereka sama dengan pelacur.
Yang terjadi di sini adalah kebejatan cara pandang dan generalisasi yang berlebihan terhadap orang lain. Muhidin M. Dahlan kelihatannya memang mengalami semacam penyakit ge-er, dimana ia menyangka semua orang berpikir sama dengannya. Pertama, ia memang hanya mampu melihat dimensi seks dari sebuah pernikahan. Kedua, ia menyangka bahwa semua orang berpikir seperti demikian. Padahal sebenarnya, cara pandangnya ini sangatlah sempit, dan tidak banyak yang berpikiran sesempit Muhidin.
Jika kita harus berempati – dan memang sebaiknya begitu – maka hati kita akan tergerak untuk merasa kasihan kepada Muhidin yang malang ini. Ia bersekolah di IAIN, namun di hatinya tidak ada kehangatan yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Setidaknya, demikianlah yang nampak dari karya-karyanya. Nampaknya ia pun tidak memiliki hubungan yang ‘mesra’ dengan Rabb-nya. Pada tahun 2005, ia pernah menulis sebuah novel berjudul “Adam Hawa” yang sangat jorok dan melecehkan. Beginilah secuil kutipannya :
Kedua tangannya membelai kepala Adam yang ditumbuhi rambut lebat ketiak Tuhan. Dia menggaruk-garuk ketika Tuhan yang lebat dan busuk itu hingga berantakan tak keruan…
Na’uudzubillaah!
Pembenaran dari orang-orang yang membelanya tidak akan terlalu jauh, paling-paling berkisar dalam dua hal : (1) Muhidin masih dalam tahap pencarian, dan ia hanya berwacana, dan (2) Tuhan tidak perlu dibela. Jawaban ini sama-sama usang, karena sudah dijawab oleh banyak orang secara tuntas. Kalau memang masih dalam tahap pencarian, seharusnya ia tidak berkoar kemana-mana terlebih dahulu sebelum mendiskusikannya dengan para ahli. Dan Tuhan memang tidak perlu dibela. Tapi apakah kita memang pantas masuk surga jika seumur hidup kita selalu diam saja melihat Tuhan dilecehkan? Saya rasa logika sederhana sudah bisa menjawab pertanyaan retoris ini.
Mengapa lulusan IAIN bisa berpikir dan menulis seperti ini? Mengapa ia bisa diluluskan dari IAIN? Bahkan untuk masuk IAIN pun rasanya tidak pantas. Atau mungkin IAIN adalah kepanjangan dari Institut Anti Islam Nasional?
Hus! Tidak semua produk IAIN seperti Muhidin!
wassalaamu’alaikum wr. wb.
 | sijey wrote on Jul 11, '06 ass wr wb
sekali lagi, ditemukan tulisan tanpa dasar data yang jelas. tidak semua orang berpikiran seperti Muhidin. atau jangan-jangan di dunia ini hanya Muhidin saja yang berpikir seperti itu. saya yakin jika Muhidin sedikit melakukan riset untuk mengetahui persepsi masyarakat Islam tentang pernikahan, tulisan yang dia tulis akan berbeda. sekali lagi, sebelum membuat tulisan, mohon didasari dengan data yang jelas!!
wassalaam wr wb |
 | saya jadi ingat perkataan seorang teman,... IAIN = Ingkar Agama Ingkar Nabi..., Naudzubillah min dzalik..!!!
wallahu a'lam, mudah2an tidak benar. oleh karena itu sekarang status IAIN khan berubah menjadi Universitas. mudah2an dengan berubah status menjadikan lulusan IAIN menjadi secercah harapan untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi, bukannya malah menghancurkan. |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 ass wr wb
sekali lagi, ditemukan tulisan tanpa dasar data yang jelas. tidak semua orang berpikiran seperti Muhidin. atau jangan-jangan di dunia ini hanya Muhidin saja yang berpikir seperti itu. saya yakin jika Muhidin sedikit melakukan riset untuk mengetahui persepsi masyarakat Islam tentang pernikahan, tulisan yang dia tulis akan berbeda. sekali lagi, sebelum membuat tulisan, mohon didasari dengan data yang jelas!!
wassalaam wr wb  haha om CJ memang bener... si Muhidin ini emang ajaib ajaibun... syukurlah banyak yg gak sependapat sama beliau... :D |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 mudah2an dengan berubah status menjadikan lulusan IAIN menjadi secercah harapan untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi, bukannya malah menghancurkan.  Aamiin.... :) |
 | sedih memang karena ternyata iain lebih sekular dari kampus umum.....*inget liputan sabili bbrp thn yg lalu...* |
 | wah kalo itu mah saya ngggak terlalu aneh kang. soalnya kalo diindonesia mah orang kuliah itu kebanyakan bukan karena keinginan kuliah ditempat tsb. ya kebanyakan mereka itu karena nggak dapat kesempatan mendaftar ke PT yang diharapkan (dulu mungkin tujuannya masuk Kedokteran UI ato Electro ITB) ya tapi karena pada penuh (yang jelas karena kemampuan otaknya nggak nyampe kesana) maka dipilihlah IAIN (sekurang kurangnyakan masih negeri hehehe lumayan uang kuliahnya lebih murah hahaha) ya hasilnya kayak gini. (masa g**mo disuruh kuliah ke IAIN ya fikiannya ya jadi kayak gini). maaf kalo ada yang tersinggung tapi ini memang sesuai fakta hahaha. sebab saya nggak mau menyebut oknum (kalo cuma 1% itu baru oknum kalo udah 90% masa masih dibilang oknum.. maaf polisi anda bukan oknum tapi memang penjahat hahahahah) |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 sedih memang karena ternyata iain lebih sekular dari kampus umum.....*inget liputan sabili bbrp thn yg lalu...*  yah begitulah.... |
 | wow ternyata kita postingannya sama dengan kang akmal hahahahaha. hi dunsanak baa kaba
|
 | akmal wrote on Jul 11, '06 wah kalo itu mah saya ngggak terlalu aneh kang. soalnya kalo diindonesia mah orang kuliah itu kebanyakan bukan karena keinginan kuliah ditempat tsb. ya kebanyakan mereka itu karena nggak dapat kesempatan mendaftar ke PT yang diharapkan (dulu mungkin tujuannya masuk Kedokteran UI ato Electro ITB) ya tapi karena pada penuh (yang jelas karena kemampuan otaknya nggak nyampe kesana) maka dipilihlah IAIN (sekurang kurangnyakan masih negeri hehehe lumayan uang kuliahnya lebih murah hahaha) ya hasilnya kayak gini. (masa g**mo disuruh kuliah ke IAIN ya fikiannya ya jadi kayak gini). maaf kalo ada yang tersinggung tapi ini memang sesuai fakta hahaha. sebab saya nggak mau menyebut oknum (kalo cuma 1% itu baru oknum kalo udah 90% masa masih dibilang oknum.. maaf polisi anda bukan oknum tapi memang penjahat hahahahah)  waduh lebih pedas lagi dari tulisan saya nih... tapi sabar ah kang, saya kenal kok anak2 IAIN lain yg gak seperti itu, salah satunya ya temen di multiply ini.. :) |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 wow ternyata kita postingannya sama dengan kang akmal hahahahaha. hi dunsanak baa kaba  kabar baik, alhamdulillaah :) |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 Wah, SARA ini he..he..:)  Suku, Agama, Ras dan............. Akademis!!! kekeke :D |
 | kok jarang sekarang posting di forum HI. kemanakah dikau? sory jadi ajang chating hahaha |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 kok jarang sekarang posting di forum HI. kemanakah dikau? sory jadi ajang chating hahaha  males ah disana gak ada perkembangan sih, gitu2 aja... di foserba mah jadi pembaca setia ajah... :D |
 | maaf lagi nih. sebelumnya hehehe. sama kayak beberapa hari yang lalu pada saat ceramah solat jumaat sang khatib berbicara soal peringatan, hukuman atau cobaan ya salah satunya dikaitkan tentang bencana di jogja. saya jadi kepikiran kang, kok kita-kita ini kayaknya nggak mengukur diri ya.masih aja menganggap kita ini nggak berdosa dan semua itu sepertinya hanya terguran, kalo menurut saya sih harusnya kita itu berani berkaca dan mengakui bahwa itu bukan cobaan itu hukuman. lah masa iya ada cobaan saat kita lebih percaya pada loro kidul (kira kira saya cukup memadai nggak ya untuk jadi pacarnya hahaha saya liat fotonya cakep) dari pada Tuhan. saat kita lebih percaya pada kesaktian mbah marijan dari pada kekuatan Tuhan dan saat kita lebih percaya pada pusaka pusaka kerajaan dari pada saktinya Tuhan saat kita lebih percaya pada dewi sri yang menumbuhkan padi bukannya Tuhan, saat kita lebih percaya memberi sesaji dipohon toge untuk gendruwo biar nggak marah. masih pingin bilang itu cobaan. saya sampe nggak habis pikir. hehehe. maaf agak pedas maklum tadi baru makan indomie selera pedas |
 | togie wrote on Jul 11, '06 Wakaka, Asal Jangan SARIP ajah... Suku Agama Ras dan Indeks Prestasi
Kl yg ini mah, daku nyerah deh |
 | wah balik ke soal menikah ini. kang saya mau tanya nih. (maklum agak buta di bidang agama) kalo saya nggak salah membaca ada hadist yang kira kira maksudnya (maaf kalo salah) begini :
jangan engkau takut menikah karena masalah ekonomi sebab rezeki itu Allah yang memberi.
yang jadi pertanyaan saya kang kok di indonesia banyak anak anak yang gizi buruk bahkan ada yang sampe mati ini apakah karena Tuhan lupa membagi rezekinya ato apa hadisnya yang palsu tolong dong beri pencerahan ke pada saya. |
| jonru wrote on Jul 11, '06 Adik kita muhidin mungkin perlu membaca tulisan saya yang ini :) |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 kan dibawahnya udah minta maaf duluan. terserah yang tersinggung mau atau tak mau memaafkan mas hehehehe. but that's fact.  jangan gitu donk bos... udah diralat aja.... katakan saja ente kenal sebagian mahasiswa IAIN yg seperti itu... tapi gak adil mencap semuanya... insya Allah masih banyak kok yg bener2 cinta sama agama sendiri...
"jangan sampai kebencianmu pada suatu kaum menjadikanmu tidak adil..." :) |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 maaf lagi nih. sebelumnya hehehe. sama kayak beberapa hari yang lalu pada saat ceramah solat jumaat sang khatib berbicara soal peringatan, hukuman atau cobaan ya salah satunya dikaitkan tentang bencana di jogja. saya jadi kepikiran kang, kok kita-kita ini kayaknya nggak mengukur diri ya.masih aja menganggap kita ini nggak berdosa dan semua itu sepertinya hanya terguran, kalo menurut saya sih harusnya kita itu berani berkaca dan mengakui bahwa itu bukan cobaan itu hukuman. lah masa iya ada cobaan saat kita lebih percaya pada loro kidul (kira kira saya cukup memadai nggak ya untuk jadi pacarnya hahaha saya liat fotonya cakep) dari pada Tuhan. saat kita lebih percaya pada kesaktian mbah marijan dari pada kekuatan Tuhan dan saat kita lebih percaya pada pusaka pusaka kerajaan dari pada saktinya Tuhan saat kita lebih percaya pada dewi sri yang menumbuhkan padi bukannya Tuhan, saat kita lebih percaya memberi sesaji dipohon toge untuk gendruwo biar nggak marah. masih pingin bilang itu cobaan. saya sampe nggak habis pikir. hehehe. maaf agak pedas maklum tadi baru makan indomie selera pedas  iya juga... padahal belum tentu dosa kita lebih dikit daripada mereka yg kena musibah.. lagipula kalo mrk sabar menghadapi musibah, justru dosa2nya yg bakal berguguran... sedangkan kita? jangan2 kita hidup senang karena gak dikasi cobaan sama Allah, dan artinya dosa kita ya tetap aja jadi dosa.... waduh!!! :D |
 | akmal wrote on Jul 11, '06 Wakaka, Asal Jangan SARIP ajah... Suku Agama Ras dan Indeks Prestasi
Kl yg ini mah, daku nyerah deh  wah sama donk saya jg nyerah deh kalo dah omong2 IPK segala... :D |
 | Biasalah "sepilis" cuma bisa bekoar biar jd sensasi.. tanpa ada aplikasi.. suruh aja dulu lingkungan terdekatnya baru ngomong,.
"Pikirkanlah ibu, kakak perempuan, adik perempuan, sepupu, bibi dan nenek kita yang sudah menikah. Apakah mereka semua memang sama dengan pelacur? Atau barangkali memang keluarga Muhidin semuanya pelacur? "
Kasihan orang tuanya tuh.. anak di gedein disekolahin.. kok jadi begini..? na'udzubillah min zalik...
|
 | laaah bukannya IAIN emang dah lama begitu master! menyedihkan
|
 | akmal wrote on Jul 12, '06 ehem....ehem...ciyeeeee :D cari perhatian doang kali dia. kacian banget cih, cari perhatian secara nulis yang aneh gini. benci aku.  halah teganya kau menuduhku teh... aku kan cuma menjelaskan subjektifitas pikiranku saat ini ketika membaca tulisannya om Muhidin itu... :p |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 wah balik ke soal menikah ini. kang saya mau tanya nih. (maklum agak buta di bidang agama) kalo saya nggak salah membaca ada hadist yang kira kira maksudnya (maaf kalo salah) begini :
jangan engkau takut menikah karena masalah ekonomi sebab rezeki itu Allah yang memberi.
yang jadi pertanyaan saya kang kok di indonesia banyak anak anak yang gizi buruk bahkan ada yang sampe mati ini apakah karena Tuhan lupa membagi rezekinya ato apa hadisnya yang palsu tolong dong beri pencerahan ke pada saya.  ayat2 Allah memang gak bisa diartikan sepotong2 kang... harus komprehensif... ayat itu ditujukannya buat siapa? Muslim kan? nah, Muslim itu seperti apa? apa cuma modal syahadat, shalat, shaum, zakat dah bisa dibilang Muslim yg kaaffaah? percuma beriman pada hadits tadi kalau malas bekerja, karena mencari nafkah juga sunnah Rasul saw. kan, dan harus diperlakukan sama dgn sunnah-sunnah lainnya...
intinya sih... Islam itu syumul (menyeluruh)... kalo diaplikasikan sepotong-sepotong ya... syusyah!!! :D |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 terheran-heran jg saya.... lulusan yang notabene agama malah pemahamannya kacau banget... labelisasi islam gak menjamin lulusannya bener2 Islami....  siapa sih yg gak heran... :)) kacaw beliaw memang dah... |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 Adik kita muhidin mungkin perlu membaca tulisan saya yang ini :)  iya, mudah2an setelah baca tulisan itu Muhidin tidak lagi jadi maniak seks... :p |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 Biasalah "sepilis" cuma bisa bekoar biar jd sensasi.. tanpa ada aplikasi.. suruh aja dulu lingkungan terdekatnya baru ngomong,.
"Pikirkanlah ibu, kakak perempuan, adik perempuan, sepupu, bibi dan nenek kita yang sudah menikah. Apakah mereka semua memang sama dengan pelacur? Atau barangkali memang keluarga Muhidin semuanya pelacur? "
Kasihan orang tuanya tuh.. anak di gedein disekolahin.. kok jadi begini..? na'udzubillah min zalik...
 iya ya, kasihan orang tua dan seluruh anggota keluarganya....
turut berduka cita deh buat keluarga kaum "sepilis"... :p |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 laaah bukannya IAIN emang dah lama begitu master! menyedihkan  SEBAGIAN lho SEBAGIAN.... gak semua... :D |
 | lrscafe wrote on Jul 12, '06, edited on Jul 12, '06 IAIN sekarang memang jadi sarangnya SEPILIS. Jadi, jangan heran lagi dengan berita-berita orang-orang yang berasal dari sana. Tentunya ini bukan untuk menyamaratakan semua alumni dari sana. Tapi, institusi pendidikan ini perlu dibersihkan dari orang-orang yang sesat menyesatkan.
Berpikir tapi bukan untuk kedamaian, alias sudah tahu akan kebenaran tapi melencengkannya. Semoga Allah menyisihkan kita kalau azab suatu saat diturunkan di negeri ini. Saya hanya bisa beriman dengan lidah (kata-kata) saja.
MT Wilson www.majolelo.com |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 Weleh-weleh .. Pasti Dik Muhidin M. Dahlan cuma kenal pernikahan yang biasa kita sebut dengan "kawin kontrak". Kasihan .. Semoga wawasannya diperluas oleh Allah.
To cinduomato : Saya tidak tahu tentang hadist itu .. ( maklum, orang bodoh ) Tapi dari pengalaman pribadi, sejak saya menikah dengan niat "beribadah".. Rezeki tidak pernah berhenti mengalir. Setiap kali keuangan saya menipis, Allah akan menambah dari arah yang tidak pernah saya duga sebelumnya.
Soal gizi anak, bukan karena Allah lupa membagi rezeki. Menurutku lebih pada "persepsi" para orang tua .. Begini nih .. Setiap sen uang yang aku dapat, aku utamakan untuk "makanan" anak .. Aku dan istri korbankan semua hobi ( hobi buku, hobi jalan, hobi belanja ) yang kami tekuni sebelum mempunyai anak. Semuanya beralih menjadi susu anak. Prinsipnya, boleh jadi orang tua hanya makan sekali sehari, asal anak harus tetap makan bergizi ( sehat tidak harus mahal lho! )
NB. Anu .. Sebaiknya jangan pernah berprasangka buruk terhadap Allah .. hmm.. :-)  saya yakin kang cinduomato jg gak bermaksud berprasangka buruk pada Allah kok, cuma sekedar ingin tahu makna hadits itu aja... eh itu hadits shahih gak ya? haha bukan apa2, masalah hadits emang lebih kompleks sih.. kalo Qur'an kan gampang dicek... :)
anyway, perspektif yg ente tawarkan oke juga tuh bro... :) |
| jonru wrote on Jul 12, '06 iya, mudah2an setelah baca tulisan itu Muhidin tidak lagi jadi maniak seks... :p  tapi nanti kalo udah nikah, jangan sampai mas akmal enggak pernah melakukan hubungan sex bisa berabe
hihihi.. just kidding :) |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 IAIN sekarang memang jadi sarangnya SEPILIS. Jadi, jangan heran lagi dengan berita-berita orang-orang yang berasal dari sana. Tentunya ini bukan untuk menyamaratakan semua alumni dari sana. Tapi, institusi pendidikan ini perlu dibersihkan dari orang-orang yang sesat menyesatkan.
Berpikir tapi bukan untuk kedamaian, alias sudah tahu akan kebenaran tapi melencengkannya. Semoga Allah menyisihkan kita kalau azab suatu saat diturunkan di negeri ini. Saya hanya bisa beriman dengan lidah (kata-kata) saja.
MT Wilson www.majolelo.com  nah, ayo sebarkan beritanya... :) |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 tapi nanti kalo udah nikah, jangan sampai mas akmal enggak pernah melakukan hubungan sex bisa berabe
hihihi.. just kidding :)  GAK MUNGKIN BANGEEEUUUUDDD... :D
parah nih om jonru... |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 Wah, saya punya majalah Sabili siy. Tapi, saya bukan Islam hardline loh (menurut pendapat saya sendiri, hehehe...). Nah, dari majalah itu banyak diberitakan soal IAIN ini. Yang terakhir saya baca adalah seorang dosen IAIN yang menginjak-injak lafadz Allah. Menurut dia Al Quran itu adalah ciptaan Allah yang sama dengan ciptaan yang lain, seperti rumput. Oleh karena itu, jangan mem"berhala"kan Al Quran. Naudzubillah min zalik.  memang aneh, mereka sering lupa bahwa "menghormati" tdk sama dgn "memberhalakan"... logikanya gini aja, kalo cinta sama A, maka apa2 yg berhubungan dengannya pun kita cintai, atau minimal kita gak ingin apa2 yg berhubungan dgn si A itu dirusak... tersinggung gak sih kalau istri kita dimaki2?? apakah kalo kita tersinggung lantas dituduh "memberhalakan" istri? ajaib....
sama saja dgn org yg mencintai Allah SWT pasti tersinggung melihat wahyu-Nya diinjak-injak, biarpun cuma satu ayat atau satu kata dari dalamnya... itu kan wajar, dan sama sekali tdk ada hubungannya dgn "memberhalakan" Al-Qur'an... memangnya ada yg menyembah Al-Qur'an??? ajaib.... |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 aku ndak bermaksud menuduh de...cuma menggaris bawahi aja :p heheheheheheheh  teganya teganya teganya teganya teganya... :p |
 | NAUDZUBILLAH... anehnya, yang nulis spt itu cowo!!! Muhidin itu cowo kan??? |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 NAUDZUBILLAH... anehnya, yang nulis spt itu cowo!!! Muhidin itu cowo kan???  ehm belum pernah saya cek langsung sih, tapi kayaknya sih..... cowo kali ye?? wakakaka :D |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 hahaha iya lah pasti cowo... :D |
 | togie wrote on Jul 12, '06 jangan2 nama lengkapnya muhidin setyaningrum itu nama cewe kan..? |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 jangan2 nama lengkapnya muhidin setyaningrum itu nama cewe kan..?  ngaco aza! dah jelas namanya Muhidin M. Dahlan... kekekeke piye toh?? :p |
 | nah... bisa aja M nya itu maemunah atau maesaroh... heheheh.. maap yah yang namanya di sebut... |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 halah... macem2 aja bocah2 ini... :D |
 | IAIN sama UIN itu sama kan ? |
 | akmal wrote on Jul 12, '06 iya dulunya namanya IAIN, sekarang dijadiin UIN sih, tapi kayaknya masih ada yg pake nama IAIN ya.... entahlah... |
 | pernah baca bukunya yang mas akmal ceritain ini, plus buku satunya lagi yang berjudul kabar buruk dari langit. beberapa sumber mengatakan buku ini separuh kisah nyata. Jadi dia bener2 pernah mewawancara perempuan yang jadi tokoh utama di buku itu. tapi dia ga pernah mengakuinya sampe sekarang. Beberapa tulisan si pernah memuji2 si muhidin ini. dia dianggap menggunakan teknik bercerita yang ga umum. Yah, dari apa yang bisa ketangkep sama otakku yang terbatas ini, sepertinya yang dimaksud adalah muhidin punya cara bercerita yang agak2 seperti reversed psychology gitu. dunno, mungkin dia mo niru marquis de sade kali... bagaimanapun, menurutku, tulisannya menjijikkan. Kalo mo nyentak pikiran orang masih banyak cara lain kan, ga perlu serem begitu. |
 | akmal wrote on Jul 13, '06 pernah baca bukunya yang mas akmal ceritain ini, plus buku satunya lagi yang berjudul kabar buruk dari langit. beberapa sumber mengatakan buku ini separuh kisah nyata. Jadi dia bener2 pernah mewawancara perempuan yang jadi tokoh utama di buku itu. tapi dia ga pernah mengakuinya sampe sekarang. Beberapa tulisan si pernah memuji2 si muhidin ini. dia dianggap menggunakan teknik bercerita yang ga umum. Yah, dari apa yang bisa ketangkep sama otakku yang terbatas ini, sepertinya yang dimaksud adalah muhidin punya cara bercerita yang agak2 seperti reversed psychology gitu. dunno, mungkin dia mo niru marquis de sade kali... bagaimanapun, menurutku, tulisannya menjijikkan. Kalo mo nyentak pikiran orang masih banyak cara lain kan, ga perlu serem begitu.  masalahnya Muhidin belum punya reputasi yg cukup bagus utk melakukan reverse psychology seperti itu... kalo Aa Gym ngomong gitu sih orang2 bakal maklum dan kepikiran bahwa dia sedang melakukan reverse psychology... tapi Muhidin? siapa tuh???
:p |
 | Hihihi baru nimbrung...Kalau saya nggak salah yang nulis Jakarta Undercover dll (Moammar Emka yach?), itu juga lulusan IAIN deh. Jadi kenapa dulu harus masuk IAIN kalo akhirnya jadi gt, mencemarkan aja ya kan? |
 | kalo menurutku si, dia tidak sedang melakukan reversed psychology mungkin dia menyindir sedikit, tapi sebagian dari yang dia ceritakan itu, ya memang itulah dia menurut aku si gituuu... |
 | akmal wrote on Jul 13, '06 Hihihi baru nimbrung...Kalau saya nggak salah yang nulis Jakarta Undercover dll (Moammar Emka yach?), itu juga lulusan IAIN deh. Jadi kenapa dulu harus masuk IAIN kalo akhirnya jadi gt, mencemarkan aja ya kan?  kenapa masuk IAIN? entahlah... banyak versi teori sih... susah digeneralisir :p |
 | akmal wrote on Jul 13, '06 kalo menurutku si, dia tidak sedang melakukan reversed psychology mungkin dia menyindir sedikit, tapi sebagian dari yang dia ceritakan itu, ya memang itulah dia menurut aku si gituuu...  yah, memang begitulah Muhidin, sepertinya sih... |
 | rizha wrote on Jul 14, '06 gw banyak denger juga sich ttg IAIN dr temen yg kul disana..kok bisa begitu ya?? banyak yg error.... emangnya diajarin apaan?? kok kaya di sesatin sich..........? |
 | Semua IAIN gak negatif. Kalo ada 1 IAIN yang ada ato GEDE citra Negatifnya...MAKA Masih ada kok nilai positif yang berlaku dan lestari hingga kini. Yang jelas hal2 yang menyimpang HARUS diluruskan. Kalo 1 orang, ya diluruskan 1 orang itu. Kalo Perilaku, ya perilaku itu...Kalo Sistem, maka sistemnya itu...(sda) SAYA DUKUNG PARA PEMBAHARU I_A_I_N yang ada di dalam kampus !!! dan yang di luar kampus juga... let's be objective and stay moderat to act; to reform; to revolt; or else. |
 | akmal wrote on Jul 17, '06 gw banyak denger juga sich ttg IAIN dr temen yg kul disana..kok bisa begitu ya?? banyak yg error.... emangnya diajarin apaan?? kok kaya di sesatin sich..........?  ya emang disesatin sih... dosennya aja gak malu2 nginjek lafadz Allah... |
 | akmal wrote on Jul 17, '06 Semua IAIN gak negatif. Kalo ada 1 IAIN yang ada ato GEDE citra Negatifnya...MAKA Masih ada kok nilai positif yang berlaku dan lestari hingga kini. Yang jelas hal2 yang menyimpang HARUS diluruskan. Kalo 1 orang, ya diluruskan 1 orang itu. Kalo Perilaku, ya perilaku itu...Kalo Sistem, maka sistemnya itu...(sda) SAYA DUKUNG PARA PEMBAHARU I_A_I_N yang ada di dalam kampus !!! dan yang di luar kampus juga... let's be objective and stay moderat to act; to reform; to revolt; or else.  setuju, itu sebabnya saya cantumkan kalimat terakhir dlm artikel saya itu... :) |
 | akmal wrote on Jul 18, '06 Akmal, aku juga alumni IAIN loh :-(  makanya saya bilang juga gak semua produk IAIN seperti Muhidin mbak... :) |
 | akmal wrote on Jul 18, '06  Yang mengaku pembaharu, justru menendang yang kontra dengannya.
Contoh kasus, Daud Rasyid ditendang dari UIN Jakarta, di "oper" ke Bandung.
Lho katanya islam liberal tho pak, demokratis, mencerahkan, bla bla bla. Ternyata, enggak tahan terhadap oposisi :)  weleh sepertinya saya kenal banget nih... :)
yg ngakunya liberal, demokratis, pluralis, itu sebenarnya cuma sebutan lain dari "semua bebas asal tdk menentang saya"... sudah terbukti berkali-kali kok... :) |
 | akmal wrote on Jul 19, '06 Bahkan mungkin mendapat suplai dana dari pihak-pihak yang tidak senang Islam berkembang baik di Negeri ini.  Bukan MUNGKIN lagi bos, tapi memang bener2 ada sokongan dana dari luar... tanya aja tuh JIL dkk yg dapet dana besar2an dari The Asia Foundation dan sejenisnya... :)) |
 | akmal wrote on Jul 19, '06 Trimakasih kang Akmal !!!  SIAP! LAKSANAKAN!!! :)) |
 | sulistiani wrote on Aug 3, '06, edited on Aug 3, '06 Assalamu'alaikum bung Akmal, Aku pernah ga' sengaja baca buku ini di Toko Buku Sarinah Di Gedung Sarinah Thamrin. Sampai terkaget-kaget bacanya, lebih kaget lagi karena bukunya sendiri diletakan sejajar dengan buku2 ttg kajian Islam lainnya. Tapi ga sampai selesai bacanya, udah malam, keburu maghrib! :)
|
 | akmal wrote on Aug 3, '06 hehehe baguslah, emang buku ini dibaca untuk dimusnahkan :) |
 | eh... buku itu buku sastra atau bukan? jika ya, kita tak bisa menilainya begitu saja tanpa mengkajinya secara mendalam. memang kesannya tulisan dalam buku itu 'keras', tapi tidakkah kita bisa menganggapnya sebagai kritik bagi diri kita sendiri? saya tidak ragu pernikahan dimaksudkan untuk tujuan mulia. tapi mari kita tengok lagi. apakah selama ini pernikahan itu kita jadikan ajang penindasan? tidak saja suami terhadap istri, tapi juga istri terhadap suami, orangtua terhadap anak-anak, dan lain sebagainya. mungkin, mungkin ini maksud penulisan buku ini, lengkap dengan gaya bombastisnya yang disengaja: menggugah pemikiran dan kesadaran kita, agar meluruskan pemahaman dan pelaksanaan kita terhadap pernikahan. agar jangan sampai ada lagi wanita-wanita yang berpikir seperti karakter dalam buku itu.
kita hars hati-hati. terkadang yang kita baca itu bukan omongan yang mewakili pikiran penulisnya, melainkan pikiran karakternya. hal ini bisa jadi sangat berbeda. misalnya saya membuat novel dengan seorang tokoh antagonis amit-amit pembela israel yang sibuk memaparkan dukungannya terhadap israel. bukan lantas saya pembela israel. saya hanya menciptakan karakter yang membela israel dan seperti itulah pikirannya.
tapi kalau buku ini digolongkan non-fiksi ya... agak susah ya. saya juga nggak berani ngomong.
saya bukan mau memancing polemik lho ya... saya sendiri enggak suka buku-buku yang kayak gitu, sebab kesannya sering cari sensasi (tahu kan buku yang judulnya 'lesbian di persimpangan jalan' atau apa itu judulnya? judulnya saja disengaja memancing sensasi...) tapi saya selalu berusaha meletakkan segala hal pada posisinya dulu. apalagi saya belum baca bukunya, jadi saya hanya bisa bilang ini saja. |
 | akmal wrote on Aug 28, '06 bener jg kata dikau bos... tp sebenernya tdk ada kisah (meskipun fiksi) yg bener2 netral.. bagaimana pun cerita fiksi juga menunjukkan ideologi penulisnya... |
 | assalamualaikum wr wb. numpang reply, saya jadi geli melihat tulisan kang muhidin, apa benar itu pikirannya sendiri ya..., ato emang "processor"-nya lagi short circuit. ato yang masukin "program" di IAIN (dosen ato apalah namanya) yang rada edan, dengan melihat salah satu pikiran yang melenceng ini saya jadi mikir kalo program yang dimasukin di"memory" para mhs IAIN ini udah di"rebuild" semuanya, jadi yang melenceng/salah dianggap benar. semoga pikiran saya ini salah. soalnya kalo programmer-nya aja udah salah gimana outputnya. bisa-bisa bukannya membawa kebenaran malah bisa jadi mudlaratnya yang muncul. maaf bagi rekan-rekan dari IAIN yang merasa tersinggung, bukannya menjelek-jelekkan institusi atau para mahasiswanya. tetapi rasa resah dan gelisah yang mendorong "reply" ini. semoga rekan-rekan semuanya tanpa terkecuali dari university manapun dapat pencerahan. wassalamualaikum |
 | akmal wrote on Aug 30, '06 semoga rekan-rekan semuanya tanpa terkecuali dari university manapun dapat pencerahan.  insya Allaah.. aamiin... :) |
| |