Blog EntrySemua Sama ?Oct 17, '06 1:46 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Konsep persamaan agama sama sekali bukan hal yang baru.  Kecerobohan semacam ini sebenarnya sudah usang, sama usangnya dengan jenis-jenis kesesatan yang lain.  Apakah Lia Aminuddin yang mengaku titisan Jibril atau Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku Rasul adalah sebuah hal yang baru?  Tentu tidak, sebelum mereka sudah ada Musailamah yang membuat semua orang sakit perut karena tertawa mendengar surah karangannya yang bercerita tentang kodok.  Apakah homoseksualisme adalah suatu kelainan perilaku manusia yang identik dengan kehidupan modern?  Tidak juga, karena kebejatan semacam ini sudah ada sejak jaman Nabi Luth as.  Sejarah membuktikan bahwa semua jenis kejahatan sebenarnya hanya sedikit saja bervariasi, sedangkan intinya tetap sama.

Jauh sebelum para aktifis liberalis berkoar mengenai hal ini, sudah banyak yang mendahului mereka.  Ada John Hick yang berujar, “Other religions are equally valid ways to the same truth.”, ada pula John B. Cobb Jr. yang berkomentar, “Other religions speak of different but equally valid truths.  Untuk melengkapi pawai kecerobohan ini, Budhy Munawar-Rachman menambahkan komentarnya, “Di sini jelas teologi pluralis menolak paham eksklusivisme, sebab dalam eksklusivisme itu ada kecenderungan opresif.”

Saya akan jelaskan mengapa semua hal ini saya sebut sebagai ‘pawai kecerobohan’.

Di suatu persimpangan antara jalan raya dengan rel kereta api, tercatat 10 korban meninggal tertabrak kereta.  Menurut catatan dari rumah sakit, ditemukan fakta bahwa semua korban mengenakan pakaian berwarna merah, baik itu kemeja, celana dalam, atau kaus kaki.  Paling tidak salah satu diantaranya berwarna merah.  Maka muncullah seorang cendekiawan yang sudah lulus sekolah di luar negeri seraya berkata, “Orang berpakaian warna merah jangan menyeberang rel kereta, karena khawatir tertabrak!”

Ada tiga orang lelaki yang sedang sial bertemu dengan seekor harimau di rimba belantara.  Harimau itu belum makan sejak kemarin, dan manusia kelihatan sangat lezat di matanya.  Orang pertama dimangsa tanpa ampun.  Orang kedua juga tidak luput dari terkaman sang hewan buas.  Tinggallah orang ketiga yang terpojok dan sambil terkencing-kencing ia memohon-mohon pada harimau itu agar tidak dimangsa, seolah-olah harimau itu mengerti maksud kata-katanya.  Ternyata, harimau itu malah duduk dan tidur seperti kucing rumahan yang jinak.  Orang ketiga itu pun melarikan diri dan bercerita pada semua kerabat di kampungnya, “Kalau ada harimau, memohonlah baik-baik padanya agar tidak dimangsa!  Insya Allah ia akan mengerti dan batal menyerang!”  Padahal harimau yang ditemuinya tadi bisa tenang-tenang tidur siang lantaran perutnya sudah kenyang.

Kedua kasus di atas menunjukkan kecerobohan orang-orang yang hanya paham kulitnya saja namun bersikap seolah-olah sudah paham luar dalam dari sebuah permasalahan.  Hanya karena kebetulan mereka yang tertabrak kereta mengenakan pakaian berwarna merah, dibuatlah kesimpulan superprematur bahwa warna merah mengundang nasib sial di rel kereta api.  Harimau yang tertidur kekenyangan disangka semacam makhluk gaib yang mengerti bahasa manusia dan akan ‘mengampuni’ mereka yang memohon ampun.  Kesimpulan yang terburu-buru adalah sumber malapetaka bagi sikap hidup ilmiah.

Mengatakan semua agama itu sama adalah sebuah perkataan yang bukan main cerobohnya.  Sebabnya, orang-orang yang berkata demikian biasanya justru tidak pernah mendalami agama mana pun.  Mereka berkata begitu hanya karena malas menjalankan perintah agama dan malas pula berpikir susah-susah untuk memilih agama yang benar.

Bagaimana mungkin semua agama dianggap sama?  Hanya karena semuanya (mengaku) menyembah Tuhan?  Bagaimana dengan konsep ketuhanan yang dianutnya?  Kesimpulan prematur semacam ini sama saja seperti menyamakan prajurit yang berjuang demi kehormatan negara dengan antek-antek komunis yang membantai rakyat sendiri di Uni Soviet dahulu.  Semuanya sama-sama mengaku membela negara, sama-sama memegang senjata, dan sama-sama membunuh.  Apakah hanya karena persamaan sekecil itu saja kita langsung bisa menarik kesimpulan bahwa keduanya benar-benar sama?  Duhai, betapa piciknya!

Islam memiliki konsep ketuhanannya sendiri, Katolik juga memiliki konsepnya sendiri, Protestan mengimani konsepnya sendiri, Hindu dan Budha pun demikian.  Anda bebas memeluk agama mana pun, tapi hanya orang ceroboh sajalah yang berkata bahwa semua konsep ketuhanan ini sama.  Konsep trinitas yang diimani oleh umat Kristiani adalah sebuah konsep yang sama sekali tidak dikenal dalam Islam dan dibantah habis-habisan dalam surah Al-Ikhlas.  Penggunaan simbol-simbol atau perantara untuk berhubungan dengan Tuhan adalah suatu hal yang sangat dicela dalam ajaran Islam, namun tidak demikian halnya dalam beberapa agama. 

Sekali lagi, Anda bebas mengimani konsep mana pun yang Anda suka.  Akan tetapi, kembali pada pokok persoalannya : apakah semua konsep itu memang sama?

Bibel menyatakan bahwa tidak menikah adalah suatu tindakan yang dipandang lebih baik untuk dilakukan, dan sekumpulan penganut agama Hindu di India secara rutin menggelar pawai yang meliputi ritual-ritual tertentu yang melibatkan rasa sakit atau penyiksaan diri.  Dalam Islam, jangankan sengaja tidak menikah atau menusuk-nusuk tubuh dengan benda tajam, ber-shaum setiap hari (kecuali bulan Ramadhan) pun sudah dikategorikan ‘membenci sunnah Rasulullah saw.’  Apakah semua agama bisa dikatakan sama?

Siddharta Gautama mencapai kesempurnaannya setelah merenung sekian lama di suatu tempat yang tenang.  Di sana, ia menjauh dari dunia dan seluruh hiruk-pikuknya.  Begitulah konsep yang diimani oleh umat Budha.  Di lain pihak, Islam melarang pemeluknya dari sikap menolak urusan dunia secara total.  Apa pun alasannya, seorang Muslim harus memiliki fungsi secara sosial.  Ia wajib memperhatikan keluarganya, kerabatnya, teman-temannya, tetangganya, bahkan saling bertamu pun memberi hikmah yang sangat besar.  Setelah melihat perbedaan konsep seperti ini, wajarkah bila ada orang yang berkesimpulan bahwa Islam dan Budha itu sama?

Ya, tentu saja, semua agama membenci pencurian, perselingkuhan, kebohongan, korupsi, atau ketidakjujuran.  Sulit bagi saya membayangkan ada suatu Kitab Suci yang menyuruh manusia untuk melakukan hal-hal keji semacam itu (walaupun ada bukti-bukti nyata bahwa hal-hal itu benar-benar ada dalam kitab yang dianggap suci oleh para pemeluk agamanya, namun hal itu tidak akan saya bicarakan sekarang).  Akan tetapi hal ini baru kulitnya saja, sama sekali belum mencapai inti dari ajaran agama-agama itu sendiri.

Orang-orang yang mengatakan bahwa semua agama itu sama bahkan tidak pernah dikenal sebagai peneliti agama-agama.  Umumnya mereka hanya rajin mengobrol (atau mereka biasa menyebutnya : berdiskusi) dalam kajian tertutup dan mengambil kesimpulan-kesimpulan prematur semacam itu.  Karena semua yang berkumpul sama-sama tidak pernah meneliti agama-agama secara mendalam, maka mereka pun kompak untuk berprematur ria dalam mengambil kesimpulan.  Tanpa meneliti Kitab Suci masing-masing agama secara menyeluruh, secepat kilat mereka berfatwa, “Semua agama itu sama, dan semuanya sama-sama mengajarkan kebaikan.” 

Kebaikan versi mana?  Saya sudah mengemukakan perbedaan ekstrem antara Islam dan Kristiani dalam masalah ‘sengaja tidak menikah’.  Yang satu menganggapnya sebagai sebuah dosa besar yang bisa mengakibatkan pelakunya terlempar dari barisan umat Muhammad saw., sedangkan yang lain justru memujinya.  Islam menganggap hal itu buruk, namun umat Kristiani menganggapnya baik.  Bagaimana mungkin kita harus dipaksa untuk berkata bahwa semua agama mengajarkan kebaikan?

Sebenarnya mereka yang mengkampanyekan paham persamaan semua agama itulah yang selalu membawa-bawa bahaya laten perpecahan kemana pun mereka pergi.  Mereka terlalu takut dengan perbedaan, karena mereka sendiri terlalu ekstrem dalam menyikapi perbedaan.  Akhirnya, dengan tangan besi dan sikap keras kepala mereka memaksa semua orang untuk sepakat. 

Apa salahnya umat Islam meyakini kebenaran agamanya?  Apa salahnya umat Kristiani meyakini kebenaran trinitas?  Apa anehnya jika umat Hindu dan Budha beriman sepenuhnya pada prinsip-prinsip agamanya sendiri?  Justru yang aneh itu adalah mereka yang mengaku memeluk suatu agama namun tidak menjalankannya secara konsekuen!

Atau mungkin kaum liberalis memang berhasrat mendirikan agama baru?  Silakan!

wassalaamu’alaikum wr. wb.


22 CommentsChronological   Reverse   Threaded
spinkage wrote on Oct 17, '06
silakan.
kopipas.
save.
baca di rumah :D

menarik kayanya mal. hehehe
dealova79 wrote on Oct 17, '06
sepertinya liberalis bukan berarti mendirikan agama baru...tetapi kebebasan seseorang dalam memahami keyakinannya...
hilmantaofani wrote on Oct 17, '06
Mungkin maksutnya, creme de la creme agama itu yang sama, bukan per detailnya yang sama Mal. Secara umum, konsep ajaran semua agama memang dikategorikan untuk ber-"amar ma'ruf nahi munkar" kan yak? Cuman kalo udah nyampe masalah detail itu yang berbeda. Dan juga konsep ke-tauhid-an tiap agama berbeda serta menjadi ciri khas masing-masing agama. "Lakum diinukum waliyadiin" kan?

Gagasan liberalis melihat dari skala duniawi aja...
akmal wrote on Oct 17, '06
sepertinya liberalis bukan berarti mendirikan agama baru...tetapi kebebasan seseorang dalam memahami keyakinannya...
sayangnya, agama dan kebebasan itu seringkali kontradiktif... kalo mau serba bebas ya gak usah beragama saja sekalian, atau dirikan agama baru... hanya dua itu pilihannya... gak bisa seenaknya memeluk agama A tapi lantas bikin aturan2 baru yg jelas2 melanggar ajaran agama A itu sendiri, itu namanya nyeleneh alias cari2 musuh... :D

makanya saya sarankan kaum liberalis bikin agama baru sajah, insya Allah kagak bakal ada yg protes... :)
akmal wrote on Oct 17, '06
Mungkin maksutnya, creme de la creme agama itu yang sama, bukan per detailnya yang sama Mal. Secara umum, konsep ajaran semua agama memang dikategorikan untuk ber-"amar ma'ruf nahi munkar" kan yak? Cuman kalo udah nyampe masalah detail itu yang berbeda. Dan juga konsep ke-tauhid-an tiap agama berbeda serta menjadi ciri khas masing-masing agama. "Lakum diinukum waliyadiin" kan?

Gagasan liberalis melihat dari skala duniawi aja...
bagaimana pun perlu dijelaskan bos, sampe mana persamaannya itu... kalo sekedar amar ma'ruf nahi munkar, itu pun saya rasa belum tentu sama... soalnya standar kemunkaran dan kema'rufan pun beda2... di artikel di atas saya sudah memberi contoh bagaimana suatu perbuatan yg dianggap baik (kema'rufan) dianggap sebagai sebuah keburukan (kemunkaran) di agama yg lain... :D
Comment deleted at the request of the author.
dealova79 wrote on Oct 17, '06
ente terlalu tendensius bos...tenang aja kalem...statemen yang cukup provokatif dengan mendirikan agama baru...haa...haa..haa.....kalo gitu ente aja yang jadi tuhannya...Ok.....ga bisa juga seenaknya menghakimi orang yang berbeda dengan kita bukan ?...kan katanya kita tida mau disamakan itu berarti kita siap untuk berbeda dan dibedakan...termasuk dalam sebuah pemahaman...
akmal wrote on Oct 17, '06
ente terlalu tendensius bos...tenang aja kalem...statemen yang cukup provokatif dengan mendirikan agama baru...haa...haa..haa.....kalo gitu ente aja yang jadi tuhannya...Ok.....ga bisa juga seenaknya menghakimi orang yang berbeda dengan kita bukan ?...kan katanya kita tida mau disamakan itu berarti kita siap untuk berbeda dan dibedakan...termasuk dalam sebuah pemahaman...
sudah pernah lihat statement2 kaum liberalis blum bos? kok bisa2nya saya disebut tendensius sedangkan mereka tidak... hahaha

saya gak bakal jadi Tuhan, sampe kapan pun juga...

beda pemahaman itu biasa, tapi orang2 liberalis sudah nyata2 seenaknya membuat penafsiran... ah, masak sih perlu saya kasi bukti lagi? browsing aja deh ke http://akmal.multiply.com/journal/item/206 ...
lrscafe wrote on Oct 17, '06
Memang, konsep ini sudah usang sekali. Saking usangnya, saya lebih milih buang konsep ini daripada sepatu butut saya yang udah butut sebutut-bututnya. Tapi, orang-orang penggoyang aqidah perlu ada di dunia ini supaya kita selalu aware dan supaya kita mau belajar agama. Jangan sampai diperdaya oleh mereka. Hidup ini adalah permainan (game), tanpa lawan game ini terasa hambar :)
alghozi wrote on Oct 17, '06
aneh kl orang yg paham agama menyatakan kl semua agama sama.. patut dipertanyakan itu..? tanya kennapa...!!


arisulindra wrote on Oct 17, '06
ga bener kl semua agama itu sama
izziaryy wrote on Oct 17, '06
Laa ilaahaillah artinya BUKAN TIDA TUHAN SELAIN TUHAN!
Tapi TIADA TUHAN SELAIN ALLAH!!!
Allahuakbar!!!!
hilmantaofani wrote on Oct 18, '06
akmal said
bagaimana pun perlu dijelaskan bos, sampe mana persamaannya itu... kalo sekedar amar ma'ruf nahi munkar, itu pun saya rasa belum tentu sama... soalnya standar kemunkaran dan kema'rufan pun beda2...
Kalo bicara per-detail memang bakal banyak sekali perbedaan antara agama satu dengan yang lain. Cuman bisa juga ini ada di perspektif balik ketika kita mencari persamaan ajaran agama satu dengan yang lainnya. Dalam konteks umum, bisa dicari persamaannya juga, dan itu mungkin yang jadi "celah" dimana ada statement mengenai secara umum semua ajran agama itu sama.
akmal wrote on Oct 18, '06
Kalo bicara per-detail memang bakal banyak sekali perbedaan antara agama satu dengan yang lain. Cuman bisa juga ini ada di perspektif balik ketika kita mencari persamaan ajaran agama satu dengan yang lainnya. Dalam konteks umum, bisa dicari persamaannya juga, dan itu mungkin yang jadi "celah" dimana ada statement mengenai secara umum semua ajran agama itu sama.
kalau dikatakan : "ada persamaan diantara agama-agama", itu saya setuju bos... tapi kalimat ini beda jauh dgn kalimat "semua agama sama"... tul gak? :)

tapi memang begitulah modus operandi mereka, yaitu mempermainkan kata dgn licinnya sehingga orang2 yg gak teliti bisa salah paham dan akhirnya ikut-ikutan tersesat bersama mereka :)
akmal wrote on Oct 18, '06
Laa ilaahaillah artinya BUKAN TIDA TUHAN SELAIN TUHAN!
Tapi TIADA TUHAN SELAIN ALLAH!!!
Allahuakbar!!!!
nah, anak SMA aja tau kok kalo pernyataan Cak Nur yg satu itu ngaco... kekeke :D
dinginbayu wrote on Oct 18, '06
  

elbintang wrote on Oct 19, '06
heuheuheu...

hari gini masih bilang semua agama itu sama ???
ah yang bener ?
basa-basi kaleee...
--------------------------------------------------------
baru baca cepat...*scroll fast*...di save ntar dibuka lagi deh
akmal wrote on Oct 19, '06
heuheuheu...

hari gini masih bilang semua agama itu sama ???
ah yang bener ?
basa-basi kaleee...
--------------------------------------------------------
baru baca cepat...*scroll fast*...di save ntar dibuka lagi deh
emang basa-basi, alias udah basiiiii..... :D
roycelover wrote on Oct 20, '06
Hehehe kaum SEPILIS memang sudah sakit seperti sebutannya boss...:-))
akmal wrote on Oct 22, '06
Hehehe kaum SEPILIS memang sudah sakit seperti sebutannya boss...:-))
SETUJU bangeud bos...! makanya umat kudu dikasi vaksinasi biar kebal sama godaan syetan SEPILIS... kekeke :D
abudaniel wrote on Apr 2, '07
Assalamu'alaikum,
"Semua sama?".
Mal, mari kita main pertanyaan, yang dapat menjawab kita kasih 100 (rupiah?), oke.
- Apakah "Satu" sama dengan "Tiga"?
- Apakah "Batu/Kayu" sama dengan "Kwan Im Powsat"?
- Apakah "Wisnu" sama dengan "Budha"?
- Apakah "Brahma" sama dengan "Yesus"?
- Apakah "Zeus" sama dengan "Yahweh"?
- Apakah sama "Roh Kudus" dengan "Syiwa"?
- Apakah Kwan Im, Wisnu, Brahma, Syiwa, Budha, Zeus, Ra, Yesus, Angru Manyu, Batara Kala sama dengan Allah?.
Ayo, siapa yang berani mengatakan sama (dengan alasan ayng masuk akal tentunya).

Semua yang saya sebutkan diatas adalah sesembahan masing-masing agama.
Belum lagi yang disembah oleh penduduk Irian Jaya yang masih pagan, Suku Dayak di pedalaman Kalimantan, Suku Talang Mamak, Suku Semang, Suku Anak Laut di Kepulauan Riau, dsb.

Ditunggu jawabannya sekalian dengan no. rekeningnya.

Wassalam,
akmal wrote on Apr 2, '07
Assalamu'alaikum,
"Semua sama?".
Mal, mari kita main pertanyaan, yang dapat menjawab kita kasih 100 (rupiah?), oke.
- Apakah "Satu" sama dengan "Tiga"?
- Apakah "Batu/Kayu" sama dengan "Kwan Im Powsat"?
- Apakah "Wisnu" sama dengan "Budha"?
- Apakah "Brahma" sama dengan "Yesus"?
- Apakah "Zeus" sama dengan "Yahweh"?
- Apakah sama "Roh Kudus" dengan "Syiwa"?
- Apakah Kwan Im, Wisnu, Brahma, Syiwa, Budha, Zeus, Ra, Yesus, Angru Manyu, Batara Kala sama dengan Allah?.
Ayo, siapa yang berani mengatakan sama (dengan alasan ayng masuk akal tentunya).

Semua yang saya sebutkan diatas adalah sesembahan masing-masing agama.
Belum lagi yang disembah oleh penduduk Irian Jaya yang masih pagan, Suku Dayak di pedalaman Kalimantan, Suku Talang Mamak, Suku Semang, Suku Anak Laut di Kepulauan Riau, dsb.

Ditunggu jawabannya sekalian dengan no. rekeningnya.

Wassalam,
huehehehe susah amat pertanyaannya bos... :D
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help