assalaamu'alaikum wr. wb.
Gegabah itu, tidak diragukan lagi, adalah sebuah masalah besar. Dalam definisi versi saya yang asal-asalan, gegabah itu boleh disubstitusi dengan istilah "tidak pikir panjang". Tentu ada kalanya kita dituntut untuk membuat keputusan dengan cepat, tapi pada umumnya kita bisa meluangkan waktu sejenak sekedar untuk memutuskan apa yang mesti diperbuat.
Tentu saja semua manusia berbuat kesalahan, bahkan (seperti sudah sangat sering saya katakan) para Rasul pun berbuat kesalahan, meskipun beda level dengan kita yang manusia biasa ini. Bayangkan diri Anda sebagai seorang pendakwah yang datang kepada suatu kaum superbebal. Saking keras kepalanya, tidak ada nasihat yang mau mereka dengarkan. Setelah berusaha sekian lama, tidak ada kemajuan juga. Anda berpikir bahwa, demi efektifitas waktu, maka lebih baik Anda pergi ke kota lain yang penduduknya tidak sebebal itu. Bagi orang-orang biasa seperti kita, hal ini dianggap manusiawi, bahkan realistis. Tapi bagi seorang Rasul, hal ini adalah sebuah kesalahan berat. Tanya saja pada Nabi Yunus as.!
Dalam hal melakukan kesalahan, manusia biasa berbeda dengan para Rasul setidaknya dalam dua hal : (1) kadang-kadang kita sengaja melakukannya, sedangkan para Rasul tidak, dan (2) para Rasul langsung bertaubat setelah menyadari kesalahannya, sedangkan manusia biasa belum tentu. Banyak hal yang membuat manusia susah bertaubat, tapi masalah sebenarnya adalah pada diri sendiri.
Seringkali manusia membebani dirinya sendiri dengan kesulitan. Dengan kata lain, ia menggali lubang dan kemudian menjatuhkan dirinya sendiri secara sukarela ke dalamnya. Kesulitan itu bernama : gegabah.
Dahulu kala, seorang raja dengan sombongnya berdebat dengan Nabi Ibrahim as. Dipanggilnya dua orang rakyatnya, yang seorang dibunuh dan yang seorang lagi dibiarkan hidup. Tanpa perhitungan lebih lanjut, ia mengaku dirinya sama hebat dengan Tuhan lantaran bisa menghidupkan (lebih tepatnya : membiarkan hidup) manusia dan juga bisa mematikannya. Apa yang terjadi berikutnya, ketika Nabi Ibrahim as. menyampaikan argumennya?
"Tuhanku menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!"
Apakah dengan argumen secerdas dan sesederhana ini lantas sang Raja mau bertaubat? Apparently not! Sejak jauh-jauh hari ia sudah menggali lubang untuk dirinya sendiri. Pertama, ia sudah menempatkan dirinya sendiri sebagai Raja. Maukah seorang Raja menerima petuah dari rakyat jelata? Singgasana sudah membuatnya semakin sulit untuk berpikir objektif, dan barangkali dia bisa menyalahkan nenek moyangnya karena melahirkannya sebagai seorang Raja.
Kedua, ia tidak mengambil waktu cukup untuk memikirkan dakwah Nabi Ibrahim as. Dia bisa saja memintanya untuk menjelaskan terlebih dahulu poin-poin yang ingin disampaikannya, tapi dia tidak melakukannya. Dia langsung saja menolak mentah-mentah. Dia bukannya menentang Nabi Ibrahim as., tapi malah menentang Tuhan. Mengapa ia tidak duduk dan merenung dulu? Jika ia menggunakan sedikit saja dari kemampuan akalnya, tentu ia akan tahu bahwa dirinya tidak setara dengan Tuhan. Setiap hari ia melihat matahari, lantas mengapa ia kaget mendengar argumen sang Nabi? Memalukan, sungguh memalukan.
Saya jadi ingat argumen para 'cendekiawan Muslim' ketika mereka berusaha melindungi aktifis-aktifis JIL dari kecerobohannya sendiri. Kata mereka, anak-anak muda itu hanya berwacana dan masih dalam tahap belajar, maka semestinya mereka tidak diserang karena pemikirannya. Well, pertanyaannya adalah : kalau masih belajar, mengapa mereka begitu agresif menyerang orang lain? Bijaksanakah bila kita sedang belajar ilmu fiqih tahap awal, lantas coba-coba menjelek-jelekkan Imam Syafii, atau Ibnu Taimiyah? Inilah yang disebut gegabah.
Belajar fisika sebulan, lantas coba-coba menafikan hasil kerja Isaac Newton? Gegabah. Masuk fakultas kedokteran satu semester, lalu iseng-iseng membedah perut teman? Gegabah. Punya peliharaan dua puluh ekor kucing, lantas merasa mampu menjinakkan singa? Gila!
Gegabah itu memang berbahaya. Setiap manusia pasti berbuat kesalahan, tapi menceburkan diri sendiri dalam kubangan kehinaan adalah suatu ketidakwajaran. Karena itu, semestinya kita menjauhkan diri dari segala beban yang tidak perlu. Kesombongan adalah beban yang paling menyusahkan. Kalau sejak awal sudah merasa lebih jago daripada orang lain, kita akan sulit sekali menerima kritik. Seorang bangsawan yang terbiasa dihormati secara berlebihan oleh rakyatnya akan susah menghadapi kenyataan ketika ia dikritik. Seorang yang memproklamirkan dirinya sebagai yang paling pintar akan kewalahan mengatasi rasa malu ketika kekurangannya terbongkar di depan umum. Sebaliknya, orang yang terbiasa dengan sikap rendah hati akan dengan mudah saja mengakui kesalahannya. Justru dengan cara itulah ia mendapatkan respek dari banyak orang.
Rasulullah saw. tidak menyembunyikan surah 'Abasa, meskipun awal surah itu jelas-jelas berisi teguran terhadap dirinya. Ketika dibantah oleh seorang Muslimah di depan umum, Umar bin Khattab ra. (yang ketika itu sudah menjadi Khalifah) dengan mudah mengakui kealpaannya dan menyatakan bahwa pendapat Muslimah itulah yang benar. Begitulah contoh orang-orang yang sadar bahwa hidupnya sudah cukup sulit, sehingga tidak lagi merasa perlu untuk mempersulit diri sendiri.
Ada lagi kisah tentang jin yang pernah bertatap muka langsung dengan Allah SWT. Suatu hari ia diberi perintah untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya menghinakan dirinya sendiri. Di hadapan Allah Yang Maha Penyayang (Allah selalu mengasihi hamba-Nya yang tahu diri), dia bisa saja mengajukan pertanyaan mengenai alasan diberikannya perintah tersebut. Nabi Musa as. pernah meminta Allah menampakkan diri-Nya, dan Nabi Ibrahim as. pernah meminta Allah untuk memperlihatkan cara-Nya mencipta, sedangkan Allah tidak murka akibat permintaan mereka. Masalahnya, karena tidak berpikir panjang, jin bodoh yang satu ini langsung saja membantah perintah dari-Nya, tanpa berpikir lebih dulu, tanpa bertanya sama sekali. Maka terkutuklah ia hingga akhir jaman.
Nama jin yang tidak berpikir panjang itu adalah : Iblis.
wassalaamu'alaikum wr. wb.