 assalaamu'alaikum wr. wb.
Baru-baru ini muncul ajaran sesat dari 'pesantren' yang dipimpin oleh seseorang bernama Muhammad Roy. Tokoh yang (berusaha) terkenal ini menyodorkan sebuah konsep yang terdengar baru, tapi sebenarnya tidak terlalu baru juga. Pada intinya, orang yang satu ini merasa kecewa dengan masa lalunya yang tidak pernah mengerti apa yang dibacanya ketika shalat, kemudian menggugatnya dengan sebuah langkah revolusioner : melaksanakan shalat dalam bahasa Indonesia.
Tentu saja, momen yang seperti ini begitu cepat dimanfaatkan oleh kaum misionaris Kristen. Saya tidak akan menyalahkan mereka, karena memang itu adalah pekerjaan mereka. Malah bagus, karena dengan adanya legitimasi atas pekerjaan mereka, berarti umat Islam pun bebas sebebas-bebasnya untuk menyebarluaskan ajarannya. Dan, tentu saja, di akhir cerita, Islam pasti menang. Lihat saja.
Tapi sudahlah. Tidak perlu membicarakan hal yang sudah pasti. Sekarang umat Islam punya kewajiban untuk memberikan jawaban yang benar dan enak di telinga. Kenapa harus enak di telinga? Karena kebenaran yang menyinggung orang lain tentu tidak akan berhasil menarik hati lawan bicara.
Gagasan untuk mengubah bacaan shalat dan Al-Qur'an ke dalam bahasa lokal sebenarnya sudah didengungkan sejak dahulu, dengan bantuan intensif dari kerajaan media massa Yahudi. Pelopornya adalah para pemimpin Turki yang meruntuhkan kekhalifahan Utsmaniyah. Salah satu 'karya' mereka adalah dengan dilantunkannya adzan dalam bahasa lokal, yaitu bahasa Turki. Menurut kaum nasionalis, kalau masih menggunakan bahasa non-Turki, maka kesannya tidak cinta tanah air.
Pertanyaan yang harus diajukan adalah : "Mengapa harus bahasa Arab?". Kalau belum bisa menjawabnya, bolehlah mengubah pertanyaan ini menjadi : "Apa yang akan terjadi kalau diganti ke dalam bahasa lain?".
Kalau ada yang bilang bahwa semua bahasa itu sama, maka orang itu pasti mendapat nilai kurang dalam bahasa Inggris (atau bahasa asing lainnya). Semua orang yang menguasai dua bahasa atau lebih pasti tahu persis bahwa setiap bahasa memiliki karakternya masing-masing, sebagaimana setiap bangsa pun memiliki karakternya masing-masing. Bahkan di antara dua suku yang berbeda di negara yang sama pun memiliki karakter yang berbeda-beda.
Perbedaan yang paling mencolok adalah pada proses penyusunan kalimatnya. Bahasa Inggris disusun dalam berbagai tenses. Cara kita merangkai kalimat yang menggambarkan kejadian di masa lalu berbeda dengan kejadian yang terjadi setiap hari. Dalam bahasa Indonesia, keterangan mengenai waktu cukup ditunjukkan dengan beberapa kata tambahan saja. Misalnya, untuk menceritakan kejadian kemarin, kita tinggal menyisipkan kata "kemarin" pada tempat yang cocok. Predikatnya sendiri tidak berubah sedikit pun.
Bahasa Perancis memiliki tabiat yang berbeda. Setiap benda memiliki sifat yang 'feminin' dan 'maskulin'. Kata-kata yang 'feminin' diperlakukan berbeda dengan kata-kata yang bersifat 'maskulin'. Perbedaan status ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam kalimat.
Perbedaan lain yang cukup jelas adalah pada ragam kata dalam bahasa. Terkadang suatu kata dalam bahasa tertentu tidak bisa dengan mudah diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Kata "accept" dan "receive" dalam bahasa Inggris sama-sama diterjemahkan sebagai "menerima" dalam bahasa Indonesia. Kenyataannya, kedua kata ini jelas berbeda.
-
I accepted the invitation.
-
I received the invitation.
Pada kalimat pertama, artinya adalah "Saya menerima dengan senang hati undangan tersebut dan kemungkinan besar akan hadir." Kalimat kedua - yang menggunakan kata "receive" - bermakna "Saya telah menerima surat undangan tersebut." Masalah surat tersebut diterima dengan senang hati atau dengan bersungut-sungut sama sekali tidak terlihat dari kalimat ini. Kalimat ini juga bersifat netral tanpa menunjukkan keputusan si penerima surat undangan, apakah akan menghadiri undangan tersebut atau tidak.
Perbedaan satu kata saja bisa mengakibatkan banyak perbedaan. Inilah perbedaan yang amat mencolok antara sistem bahasa Inggris dengan sistem bahasa Indonesia. Bagaimana dengan bahasa Arab?
Bahasa Arab bahkan lebih rumit lagi. Dalam bahasa Arab, dikenal sistem tunggal, ganda dan jamak. Selain itu, subjek laki-laki, perempuan atau kumpulan dari laki-laki dan perempuan juga dibedakan. Dalam bahasa Indonesia, kita akan temui sistem sebagai berikut :
-
Saya
-
Kamu
-
Dia
-
Kita
-
Kami
-
Kalian
-
Mereka
Dalam bahasa Arab, sistem yang muncul akan lebih rumit lagi karena adanya aturan-aturan di atas. Sistem tersebut adalah sebagai berikut :
-
"Ana" ---> Saya
-
"Anta" ---> Kamu (untuk laki-laki)
-
"Anti" ---> Kamu (untuk perempuan)
-
"Huwa" ---> Dia (untuk laki-laki)
-
"Hiya" ---> Dia (untuk perempuan)
-
"Antum" ---> Kalian (untuk laki-laki)
-
"Antunna" ---> Kalian (untuk perempuan)
-
dan seterusnya...
Jadi, kalau kita jumpai kata "kalian" dalam bahasa Arab, belum tentu hal tersebut merujuk pada subjek yang sama. Kita perlu meneliti pilihan katanya. Apakah dia bermaksud merujuk pada sekumpulan orang laki-laki ataukah perempuan?
Contoh lain adalah pada kata-kata "Rabb" dan "Ilaah". Keduanya sama-sama diterjemahkan sebagai kata "Tuhan" dalam bahasa Indonesia. Pada kenyataannya, penerjemahan seperti ini sangatlah tidak tepat. Meskipun "Rabb" dan "Ilaah" memang sama-sama merujuk pada Allah SWT, namun kesan yang disampaikannya sangat berbeda. Kata "Rabb" bermakna "pemelihara, pendidik, pembangun" dan segala hal yang bermakna kasih sayang dan peningkatan. Kata "Ilaah" memiliki makna yang sama sekali berbeda, yaitu menggambarkan absolutisme kekuasaan Allah. Kata ini bermakna "yang diharapkan, yang dicintai, yang ditakuti dan yang ditaati". Dengan menyebut kata "Ilaah", kesan yang didapat adalah ketergantungan manusia kepada-Nya.
Pemakaian kata "Rabb" dan "Ilaah" pun jelas berbeda. "Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin" artinya "Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam". Kalimat ini adalah kalimat pujian, sebuah ungkapan takjub atas keindahan perbuatan Allah, sekaligus rasa terima kasih dari hati yang terdalam atas segala kebaikan yang telah Allah berikan. Kalimat ini jelas cocok bila menggunakan kata "Rabb", karena sesuai dengan maknanya. Di sisi lain, ketika menyatakan keislamannya, setiap orang diwajibkan mengucapkan "Asyhaduan laa ilaaha illallaah.." yang artinya "Aku bersaksi bahwasanya tiada Ilaah selain Allah". Pengakuan keislaman seseorang tentu diucapkan dengan sebuah kebanggaan dan keyakinan yang amat tinggi atas kebenaran kata-katanya. Secara tegas, ia menyatakan bahwa tidak ada lagi sandaran hidupnya kecuali Allah. Karena itu, digunakanlah kata "Ilaah", karena memang pas dengan kesan yang dimunculkan oleh kalimat ini.
Keputusan Allah untuk menurunkan Al-Qur'an dengan satu bahasa saja sangatlah tepat, dan keputusan-Nya untuk memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur'an pun sangat tepat. Kalau Al-Qur'an bebas ditulis dalam segala bahasa, maka akan terjadi kebingungan, karena bagaimana pun, setiap bahasa berbeda-beda tabiatnya walaupun ketika menggambarkan sebuah hal yang sama.
Meski demikian, bukan berarti Al-Qur'an tidak boleh diterjemahkan. Terjemahan Al-Qur'an jelas dibutuhkan oleh orang-orang awam yang belum menguasai bahasa Arab. Tapi harus diingat bahwa yang disebut Al-Qur'an adalah wahyu Allah yang diturunkan dalam bahasa Arab, bukan terjemahannya.
Jika kita kembali pada pokok pemikiran Muhammad Roy, sang 'revolusioner' dari Malang itu, maka jelas bahwa masalah yang terjadi pada dirinya adalah karena dia tidak memahami bahasa Arab. Karena ia tidak memahami bahasa Arab, lantas seluruh shalat harus diucapkan dalam bahasa Indonesia. Buruk muka, cermin pun dibelah. Diri sendiri yang kekurangan, mengapa sistem yang harus diubah? Kalau kita tidak bisa membaca, apakah orang lain tidak boleh menulis? Ini bukanlah sikap seorang Muslim sejati. Kalau kita menyadari kekurangan diri sendiri, maka kita harus memperbaikinya.
Sangatlah tidak beralasan jika dikatakan bahwa ia tidak mengerti arti dari bacaan shalatnya. Kalau ia mengeluhkan hal ini kepada saya, insya Allah saya akan segera membelikan buku-buku tuntunan shalat yang disertai terjemahan plus sebuah Al-Qur'an kecil yang juga ada terjemahannya! Semuanya itu tidak akan menghabiskan uang lebih dari Rp 50.000,00. Sayang, Muhammad Roy tidak pernah datang kepada saya.
Bagaimanakah nasib kitab Bible yang disalin secara bebas ke dalam berbagai bahasa? Adakah perubahan makna terjadi dalam proses penyalinan tersebut? Entahlah. Saya rasa mereka lebih tahu.
wassalaamu'alaikum wr. wb. 
 | trimakasih mal....berita ini memang sedang santer...dan menarik dibahas dimedia pertelevisian kita |
 | Tapi herannya kok masih ada yg menganggap hal seperti itu sah2 aja ya ?! ck...ck...heran hehe |
 | wow ... great writing ... Bisa saya kutip nih ya intisarinya untuk dibahas sama temen2 ... ^_^ |
 | akmal wrote on May 12, '05 alhamdulillaah kalo mo dibahas kan mudah2an jadi manfaat ya, terutama buat saya (pahala itu kan sistemnya MLM) :) kalo mo dikutip atau dibahas sih boleh-boleh aja, tapi kalo mo dipajang di jurnal sendiri atau di media apa pun harap cantumkan sumbernya ya :) bukan apa-apa, maksudnya supaya makin banyak yang nengok homepage saya hehehe |
 | akmal wrote on May 13, '05 terus terang saya agak malas mendalami masalah mazhab di Indonesia... karena pendukungnya sendiri tidak mencerminkan sikap pendiri mazhab itu sendiri... para pendukung mazhab banyak yg saling mengkafirkan, padahal para pendiri mazhab tdk pernah bersikap demikian...
yah, inilah sebabnya kita diperintahkan utk berpegang teguh pada Al-Qur'an, bukan pada mazhab... dgn logika saja jelas kan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dlm shalat justru menyempitkan maknanya (seperti yg sudah saya bahas di tulisan ini)? saya rasa hal ini tidak perlu dihubung-hubungkan dengan mazhab... |
 | salut untuk tulisan anda. mari bersama kita bela dan tegakkan islam dengan cara-cara yang ahsan. |
 | akmal wrote on May 1, '06 terima kasih... kita berjuang bersama ya... :)) |
 | deepspace9 wrote on May 17, '06, edited on May 17, '06 Kenapa harus bahasa Arab? Apakah Tuhan cuma paham bahasa Arab sehingga semuanya mesti diterjemahkan dalam bahasa Arab? |
 | akmal wrote on May 17, '06 bukan begitu... manusialah yg perlu pake bahasa Arab, karena bahasa itu paling mampu menyimpan makna yg luas dlm kalimat2 yg sederhana dan ringkas... kalau pakai bahasa Indonesia, nanti jadi tdk efektif... sudah baca artikel di atas belum sih? |
 | Justru karena baca artikel di ataslah yang membuat saya bertanya. kenapa setiap komunikasi dengan Tuhan harus pakai bahasa Arab? Apakah Tuhan cuma paham bahasa Arab? Apakah suatu suku terasing tidak bisa komunikasi dengan Tuhan kalo tidak pakai bahasa arab?
|
 | akmal wrote on May 22, '06 kata siapa shalat itu komunikasi dgn Tuhan? aneh deh situ... shalat itu ibadah, kewajiban manusia thd Allah... Allah gak butuh ibadah manusia, manusialah yg butuh beribadah pada-Nya... Allah gak butuh dikasi tau ini-itu sama lidah manusia, karena Allah Maha Tahu... gak ngomong pun Allah tahu isi hati manusia... kalo Tuhan perlu diberi tahu, bukan Tuhan donk namanya...
wah konsep ketuhanan ente lucu nian ya... Tuhan macam apa sih yg Anda sembah? terserah aja sih, tapi kalo saya sih hanya menyembah Allah Yang Maha Tahu saja... :D |
 | Allah Maha Tahu. Jadi kenapa harus bahasa Arab? Tidakkah bahasa Indonesia juga dimengerti oleh Allah?
Kalau ngomong gak ngomong juga sudah diketahui, kenapa harus ngomong pakai bahasa Arab? |
 | akmal wrote on May 22, '06 mas, yg namanya shalat itu adalah ibadah UNTUK manusia... bukan ngomong sama Allah... kita membaca ayat2 sbg peringatan UNTUK KITA.... petunjuk itu sudah ada dlm Al-Qur'an, tinggal dibaca... makanya kita harus membacanya dlm shalat supaya pikiran kita kembali pada Al-Qur'an, supaya kembali fokus pada Allah... karena Al-Qur'an itu harus menampung banyak info, dan karena Allah menetapkan bahasa Arab sbg bahasa yg paling cocok utk menampuk info sebanyak itu dlm bentuk seringkas mungkin, maka Al-Qur'an pun harus dlm bahasa Arab... waduh susah ya memahaminya? |
 | Ibadah itu apa? Kalau hanya untuk membaca al-Qur'an, tanpa sholatpun bisa dilakukan. Jadi sholat itu apa? |
 | akmal wrote on May 22, '06 shalat itu ibadah yg dicontohkan Rasulullah saw... bukan hanya bacaan tp jg gerakan... Anda kan tadi nanya segi bahasanya jadi saya cuma membahas segi bacaannya saja... gerakannya jg banyak bermanfaat, sudah dibuktikan dgn ilmu kedokteran... |
 | akmal wrote on May 22, '06 mas, maap setelah saya baca lagi jawaban saya di atas, ternyata saya sendiri kurang sreg... emang agak sulit menjelaskannya dlm kalimat2 singkat... saya sudah membuat artikel tersendiri soal itu, tadinya mo diupload malam ini, tapi lupa bawa file-nya (maap)... jadi insya Allah besok siang saya upload, ok? :)) |
Comment deleted at the request of the author.
 | ryono wrote on Dec 19, '06 Bung Akmal, anda harus juga menelaah mahdzab-mahzab di Indonesia, seperti yang diusulkan bung indrayogi barusan, bisa jadi anda ditertawai orang-orang IAIN, STAIN, UIN kalau anda melewatkan kajian mahdzab sebelum menulis artikel 'ringan' (benar-benar ringan, tidak bernas) ini..coba deh baca lagi Mahdzab HANAFI (Imam Abu Hanifah) yang Asal Persia, jangan melulu berpendapat bahwa bahasa Arab lebih superior atas bahasa yang lain-Ala Syafe'I (meski anda mungkin tidak tahu), jangan-jangan anda dapat dana dari Organisasi2 asal Kerajaan Saudi ya.., Saya bisa saja marah atas Statement anda bahwa bahasa indonesia punya problematika semantik,( yang lebih marah mungkin J.S Badudu-pakar Bahasa Kita), trus Orang2 seantero Inggris juga Marah, begitu juaga Orang-orang Prancis..bisa jadi TUHAN juga marah karena Dia-lah Pencipta Bahasa2 Manusia...lebih baik anda pelajari dulu Kajian Linguistik plus perbandingan Mahdzab..jangan dulu ber ApoloGi (kata ini tidak ada dalam bahasa Arab, coba cek di Kamus Bahasa Indonesia) |
 | akmal wrote on Dec 19, '06 Bung Akmal, anda harus juga menelaah mahdzab-mahzab di Indonesia, seperti yang diusulkan bung indrayogi barusan, bisa jadi anda ditertawai orang-orang IAIN, STAIN, UIN kalau anda melewatkan kajian mahdzab sebelum menulis artikel 'ringan' (benar-benar ringan, tidak bernas) ini..coba deh baca lagi Mahdzab HANAFI (Imam Abu Hanifah) yang Asal Persia, jangan melulu berpendapat bahwa bahasa Arab lebih superior atas bahasa yang lain-Ala Syafe'I (meski anda mungkin tidak tahu), jangan-jangan anda dapat dana dari Organisasi2 asal Kerajaan Saudi ya.., Saya bisa saja marah atas Statement anda bahwa bahasa indonesia punya problematika semantik,( yang lebih marah mungkin J.S Badudu-pakar Bahasa Kita), trus Orang2 seantero Inggris juga Marah, begitu juaga Orang-orang Prancis..bisa jadi TUHAN juga marah karena Dia-lah Pencipta Bahasa2 Manusia...lebih baik anda pelajari dulu Kajian Linguistik plus perbandingan Mahdzab..jangan dulu ber ApoloGi (kata ini tidak ada dalam bahasa Arab, coba cek di Kamus Bahasa Indonesia)  hahaha soal pemilihan bahasa Arab oleh Allah itu ada di Al-Qur'an kok... makanya rajin2 baca Qur'an yah... atau Anda sudah tidak beriman pada Al-Qur'an? ckckckck.. saya tidak peduli orang2 bilang apa, yg jelas referensi saya adalah Al-Qur'an... kalau Anda mau mempertandingkan pendapat segelintir orang, atau banyak orang sekalipun, utk menafikan sebuah ayat Al-Qur'an, maka resiko Anda tanggung sendiri di akhirat... sebelum Anda belajar linguistik, saya sarankan Anda belajar Al-Qur'an dahulu... Oya, lain kali harap headshotnya diberi gambar yah... atau memang Anda takut ketahuan identitasnya? saya maklum sih, karena emang banyak yg kayak begitu... berani bicara banyak tapi gak mau ketahuan mukanya... standar sepilis (sekularis-pluralis-liberalis) lah... dan terakhir, berdasarkan kebijakan saya pribadi sebagaimana yg termaktub dalam http://akmal.multiply.com/journal/item/361 (silakan baca sampai selesai), Anda saya golongkan sebagai provokator tak bertanggung jawab karena bicaranya provokatif tapi identitas gak jelas... sebagai pemilik situs ini saya memutuskan untuk menggunakan hak saya untuk mem-blok Anda dan manusia2 lain sejenis Anda... jangan marah ya... kalau marah toh saya gak peduli kok... hehehe :D |
 | akmal wrote on Dec 19, '06 Bung Akmal, anda harus juga menelaah mahdzab-mahzab di Indonesia, seperti yang diusulkan bung indrayogi barusan, bisa jadi anda ditertawai orang-orang IAIN, STAIN, UIN kalau anda melewatkan kajian mahdzab  HAHAHAHA saya baru sadar bung Ryono ini tidak teliti sama sekali... yg ngomong begitu bukan mas Indrayogi, tapi mas Ingwuri (maaf saya kurang tahu ini nickname atau nama aslinya)... jadi beginilah cerminan ketidaktelitian orang-orang yg menganggap bahwa bahasa Arab dalam Al-Qur'an bisa diganti dgn bahasa lain ya???
TERIMA KASIH telah membuktikan bahwa saya benar!!! kesimpulannya, pendapat yg menyatakan bahwa bahasa Arab dalam Al-Qur'an dapat diganti dgn bahasa lain adalah sebuah pendapat yg hanya didukung oleh orang2 yg SANGAT TIDAK TELITI... :D |
 | izzahlaila wrote on Jan 4, '07, edited on Jan 4, '07 itu untuk ritual sholat...Kalau yg ibadah haji bagaimana jadinya ya bila harus pakai bahasa lain selain arab? Labbaikallahumma labbaiik...Laasyarikalakalabbaik diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa...bahasa jamaah haji masing2 negara...WARAKADALAH...ampun deh kacaunya...bila harus dijaharkan dalam waktu bersamaan...sudahlah om akmal...itu cuma logika sampah dari mereka yg nggak paham sunnah |
 | akmal wrote on Jan 4, '07 itu untuk ritual sholat...Kalau yg ibadah haji bagaimana jadinya ya bila harus pakai bahasa lain selain arab? Labbaikallahumma labbaiik...Laasyarikalakalabbaik diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa...bahasa jamaah haji masing2 negara...WARAKADALAH...ampun deh kacaunya...bila harus dijaharkan dalam waktu bersamaan...sudahlah om akmal...itu cuma logika sampah dari mereka yg nggak paham sunnah  hehee tapi sampah sekalipun kalau dikemas dgn baik bisa ditelan bulat-bulat oleh orang awam lho... makanya kita wajib mengatakan kebenaran... :) |
 | Jika dengan bahasa arab maka secara tidak langsung ada tendensi untuk mengarabkan termasuk bahasa dan tradisi serta cara hidup juga harus menjadi arab, secara tidak langsung budaya dan tradisi yang tidak sesuai dengan arab akan musnah. apakah tidak terpikirkan bahwa secara tidak langsung kita telah menumbuhkembangkan budaya dan tradisi serta tata hidup abad ke-6 yang nota bene masih mengadopsi budaya jahiliyah |
 | apakah bahasa yang sekarang tertera pada al_quran adalah sama persisi waktu diturunkan? hal ini mengingat bahwa quran tertua yang ada dimuka bumi ini berusia 150-200 setelah kematian Nabi. ada yang mengatakan bahwa bahasa tersebut berasal dari Iraq/Iran |
 | Kalau saya selaku individu dari umat Islam tentu harus menyadari dan memilah mana yg harus menggunakan bahasa arab dan kapan waktunya saya memakai Bahasa lain. Untuk urusan syariah/ ibadah mahdoh maka kita punya panutan yg ditetapkan oleh Allah SWT yaitu Nabi Muhammad SAW. Segala perbuatan / tingkah laku akan tercatat sbg amal Sholeh di Yaumil akhir bila mencakup dua hal penting, yaitu : 1. Niat lillahi ta'ala (Hanya berharap ridho dari Allah SWT) 2. Sesuai dgn Sunnah/ kebiasaan hidup dari Nabi Muhammad SAW (Sesungguhnya dalam diri nabi terdapat suri tauladan/ pribadi yg sempurna).
Justru Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasulullah untuk merombak budaya Jahiliyah. Dengan memahami bahasa arab maka insya Allah kita akan memahami sumber2 aqidah islam yaitu Al-Qur'an, Sunnah dan akal Sehat. Sengaja Saya mengutip ayat Terjemahan Al-Qur'an agar saya tidak asal omong doang, berikut dalil2nya : "Alif Laam Miim.Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(T.AQ 2:1-2)" "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"(T.AQ 54:17) "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya."(T.AQ 4:82)
Allah SWT telah berjanji untuk menjaga kemurnian dan keabsahan Al-Qur'an sepanjang masa, sesuatu yg tidak dilakukan untuk kitab2 samawi yg lain. Firman-Nya: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (T.AQ 15:9).
Siapa dan dari mana kutipan yg mengatakan "bahwa bahasa tersebut berasal dari Iraq/Iran" dan "bahwa quran tertua yang ada dimuka bumi ini berusia 150-200 setelah kematian Nabi", bisakah sdr.anakbol menjelaskan sumbernya, biar kita bisa bahas bersama2 disini? (Afwan, Punten Mas Akmal selaku yg punya tulisan/ blog ini).
Wassalamu Alaikum Wr Wb
|
 | "Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya." (T.AQ:2) Dalam kaitan ini perlu ditegaskan bahwa mempelajari dan menguasai bahasa Arab adalah kewajiban syar'i bagi setiap Muslim, karena hanya dgn itu kita dpt memahami makna dan kandungan Al-Qur'an dan Sunnah. Hadits Nabi : "Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman sesudahku, kemudian zaman sesudahnya lagi" |
 | akmal wrote on May 18, '07 Jika dengan bahasa arab maka secara tidak langsung ada tendensi untuk mengarabkan termasuk bahasa dan tradisi serta cara hidup juga harus menjadi arab, secara tidak langsung budaya dan tradisi yang tidak sesuai dengan arab akan musnah. apakah tidak terpikirkan bahwa secara tidak langsung kita telah menumbuhkembangkan budaya dan tradisi serta tata hidup abad ke-6 yang nota bene masih mengadopsi budaya jahiliyah  salah besar kalau menganggap bahwa bahasa arab identik dgn budaya arab... kenyataannya Al-Qur’an tidak mendukung mentah2 semua budaya arab, namun mengoreksinya... apa2 yg buruk harus dihapuskan, misalnya budaya membunuh anak perempuan, pengaturan pernikahan yg tdk sesuai dgn agama, dsb... bagaimana pun budaya bangsa arab yg asli tidak semuanya dibenarkan oleh Islam...
|
 | akmal wrote on May 18, '07 apakah bahasa yang sekarang tertera pada al_quran adalah sama persisi waktu diturunkan? hal ini mengingat bahwa quran tertua yang ada dimuka bumi ini berusia 150-200 setelah kematian Nabi. ada yang mengatakan bahwa bahasa tersebut berasal dari Iraq/Iran  itu karena Anda menganggap Al-Qur'an sbg KITAB, yaitu sebuah buku yg berisikan tulisan... sebenarnya tdk masalah kalaupun Al-Qur'an ditulis satu milenium setelah Rasulullah saw. wafat sekalipun... karena memang Al-Qur'an tidak disebarkan melalui tulisan, melainkan melalui hapalan... jadi, tulisan Arab boleh berubah (dan memang sudah berubah kan?), namun hapalan para hafizh akan selalu mencegah perubahan pada Al-Qur'an... kalau hafizh-nya berasal dari satu kota sih bisa saja bersekongkol... tapi bagaimana dgn hafizh dari lima benua? |
 | anakbol wrote on May 20, '07, edited on May 20, '07 AKMAL SAID: "itu karena Anda menganggap Al-Qur'an sbg KITAB, yaitu sebuah buku yg berisikan tulisan... sebenarnya tdk masalah kalaupun Al-Qur'an ditulis satu milenium setelah Rasulullah saw. wafat sekalipun... karena memang Al-Qur'an tidak disebarkan melalui tulisan, melainkan melalui hapalan... jadi, tulisan Arab boleh berubah (dan memang sudah berubah kan?), namun hapalan para hafizh akan selalu mencegah perubahan pada Al-Qur'an... kalau hafizh-nya berasal dari satu kota sih bisa saja bersekongkol... tapi bagaimana dgn hafizh dari lima benua?"
Jika demikian anda mau mengatakan bahwa apa yang TERTULIS sekarang BERBEDA dengan yang DIHAPAL? MANA YANG AKAN DIPAKAI? yang TERTULIS atau yang DIHAPAL? BAGAIMANA MEMBACA YANG SEKARANG DITULIS ? DAN BAGAIMANA MENULIS YANG DIHAPAL? |
 | akmal wrote on May 22, '07 AKMAL SAID: "itu karena Anda menganggap Al-Qur'an sbg KITAB, yaitu sebuah buku yg berisikan tulisan... sebenarnya tdk masalah kalaupun Al-Qur'an ditulis satu milenium setelah Rasulullah saw. wafat sekalipun... karena memang Al-Qur'an tidak disebarkan melalui tulisan, melainkan melalui hapalan... jadi, tulisan Arab boleh berubah (dan memang sudah berubah kan?), namun hapalan para hafizh akan selalu mencegah perubahan pada Al-Qur'an... kalau hafizh-nya berasal dari satu kota sih bisa saja bersekongkol... tapi bagaimana dgn hafizh dari lima benua?"
Jika demikian anda mau mengatakan bahwa apa yang TERTULIS sekarang BERBEDA dengan yang DIHAPAL? MANA YANG AKAN DIPAKAI? yang TERTULIS atau yang DIHAPAL? BAGAIMANA MEMBACA YANG SEKARANG DITULIS ? DAN BAGAIMANA MENULIS YANG DIHAPAL?  wah salah paham banget tuh... btw, dalam dunia internet, pemakaian huruf kapital yg cukup banyak bisa diartikan sbg tindakan kasar lho...
begini, saya anggap Anda muslim yg tau cara baca Qur'an ya... huruf ba' dulunya tidak memiliki titik di bawah... baru khalifah Utsman ra. yg berinisiatif menambahkan titik di bawahnya agar terlihat beda dgn ya', ta', tsa', atau nun... meski demikian, sejak dulu sampai sekarang, bacaan "bismillaahirrahmaanirrahiim" tetaplah seperti itu, tidak lantas ada yg menyelewengkannya menjadi "yismillaahirrahmaanirrahiim"... karena para sahabat Rasulullah saw. menghapalkan Qur'an, bukan hanya menuliskan... jadi kalau mau bacaan yg benar silakan cek para penghapal (hafizh)... tulisan bisa berubah, misalnya seperti penulisan huruf tadi... tapi cara membacanya ya tetap sama...
Bagaimana membaca yg sekarang ditulis : ya tinggal baca aja, gitu aja kok repot... :)
Bagaimana menulis yg dihapal : tergantung kesepakatan hurufnya seperti apa... bukankah huruf yg Anda gunakan ini juga buah dari suatu kesepakatan? |
Comment deleted at the request of the author.
 | akmal wrote on Oct 22, '07 sok tau lo...!!  yak saudara-saudara, beginilah fakta kadar intelektualitas para pendukung JIL... gak perlu saya komentari lebih lanjut kan?? :)) |
 | hihihihihihihi... uda..kadang2 yudi malah kasian ma uda.. apa uda g capek tiap hari ngurusin mereka2 yang sedikit gimana gitu??? |
 | udahlah mal, saya jd semakin gregetan liat mereka yang sudah SESAT, mereka selayaknya memang sudah buta dan tuli !!!! nasehat apapun ga bakalan dimasukkan ke dalam otak dan hati mereka !!!!! jadi cukuplah sudah tugasmu mal, tinggal laknat Allah menunggu mereka !!!!!! |
 | akmal wrote on Oct 22, '07 hihihihihihihi... uda..kadang2 yudi malah kasian ma uda.. apa uda g capek tiap hari ngurusin mereka2 yang sedikit gimana gitu???  emang capek sih tapi kalo dibawa asik ya lucu juga... :p |
 | wah..wah.. saya tersinggung madzhab Abu Hanifa ra dijadikan tameng sama kaum JIL. Mereka ini keliatan ilmunya rendah tapi senang berdebat. Bertahun2 saya pernah berada diantara dengan penganut madzhab ini. Mentang2 Turki yg sekuler menukar bahasa Arab dgn Turki oleh La'natullah Kemal Mustafa, jgn trus pendapat Abu Hanifa palsu dijadikan rujukan. Emang bener Bang Akmal, saya sendiri belajar bahasa Arab lebih enak pake bahasa Jerman, sebab bahasa kita ini memang bahasa pedagang. Mudah dipelajari tapi akhirnya secara tata bahasa jadi kelewat sederhana. Coba saja kita lihat dan bandingkan terjemahan Qur'an bahasa Indonesia terbaik versi Depag, hitung jumlah kata2 dalam bahasa Arabnya lalu, hitung jumlah kata-kata dalam bahasa Indonesianya. Selalu hampir 2 kali lipat. Itupun kadang terjemahannya nggak pas banget, tetapi sedaya upaya sang penerjemah berusaha menerjemahkan. Bukan saya nggak cinta sama bahasa sendiri cuma sekedar realistis aja. |
 | weeh hehehe "deepspace" itu kloningan "anakbol"... yaa yaa mangga, teruskan pertanyaan2 anda !! sy nyimak aja deh hehehe |
 | Quran Surat......ayat....." Aku turunkan Al'Quran ini dalam bahasa Arab, agar kamu mudah memahaminya" Nb : ini ditujukan kepada bangsa Arab dan bukan Bangsa Arab tetap harus mengikutinya sebagai ciri khas Islam dan serasa lebih agung. |
 | jangan diteruskan dech.. percuma..!!! Sudah jelas Allah didalam Al Quran, disebutkan bahwa bahasa Al Quran itu Bahasa Arab.. Mungkin orang2 itu maunya Al Quran turunnya di Jawa, pastikan pakai bahasa Jawa atau Sunda gitu.. dan nama nabinya mungkin bernama Kabayan atau Mas Joko.. hehehehe
|
 | kok bisa sih.. org2 yg ga mau memahami kenapa bahasa arab jadi bahasa pengantar qur'an merasa takut nantinya bahasa dan kebudayaan lain akan punah, dan tergantikan oleh bahasa arab dan budaya arab??? tapi mereka ga protes saat bahasa inggris dijadikan bahasa pengantar internasional, apa ga takut budaya dan bahasa lain akan hilang, dan tergantikan oleh bahasa inggris?? dan harusnya argumen ttg kenapa alqur'an itu harus pake bahasa arab kan udah jelas bgt, konsepnya sama kaya kenapa bahasa indonesia ga jadi bahasa pengantar internasional?? Ya, karena terlampau sederhana, dan bisa mengurangi makna dari apa yg ingin disampaikan, seperti yg sudah dijelaskan dgn contoh2 pada artikel diatas. Klo kita bisa terima bahasa inggris jadi bahasa pengantar internasional, bahkan rela les untuk bisa nguasainnya, kenapa nggak kita terima dan berusaha menguasai bahasa arab sebagai bahasa yg kia pakai dalam ibadah kita??dan bukannya ngeles bahasa arab, justru malah mau ngeganti semua ibadah dgn bahasa indonesia. |
| |