Blog EntrySisi LainNov 8, '06 11:24 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Menarik bagaimana sebagian orang melihat suatu masalah dari satu atau beberapa sisi saja, sedangkan sisanya diabaikan sepenuhnya. Sebagai langkah awal metode seperti ini bermanfaat juga sebenarnya, karena jika harus sepenuhnya memperhitungkan semua variabel, kemungkinan besar tidak ada yang bisa kita hasilkan. Saya akan beri satu contoh mengenai hal ini.

Masih ingat buah apel yang jatuh di depan mata Isaac Newton? Buah apel yang penuh berkah itu berhasil memancing akal Newton untuk bekerja dan melahirkan apa yang disebut sebagai Hukum Newton. Dalam kasus apel (atau benda apa pun) yang jatuh ke bumi, kita dapatkan rumus F = m x g, di mana F adalah gaya yang dihasilkan, m adalah massa benda yang jatuh, dan g adalah percepatan gravitasinya. Sebenarnya rumus ini terlalu sederhana dan terlalu instan, karena masih ada hal-hal yang tidak diperhitungkannya, misalnya :

  • Bagaimana pengaruh gesekan udara terhadap percepatan jatuhnya benda tersebut?
  • Apakah percepatan gravitasi itu sama di semua titik di muka bumi?
  • Faktor-faktor apa saja yang menentukan besarnya percepatan gravitasi?

Pengaruh gesekan udara bisa diabaikan kalau ketinggiannya hanya sejarak pucuk pohon apel saja. Percepatan gravitasi secara faktual tidak sama di setiap titik, karena jarak titik tersebut dari inti bumi tidak sama, demikian juga kandungan isi perut bumi di sekitar tempat itu juga berpengaruh. Tapi, untuk kemudahan, biasanya digunakan angka sebesar 9,81 atau bahkan dibulatkan saja menjadi 10 meter per detik kuadrat. Jika penyederhanaan-penyederhanaan semacam ini tidak dilakukan, Anda bisa bayangkan betapa susahnya melakukan pekerjaan engineering. Meski demikian, para ilmuwan tahu persis bahwa penyederhanaan ini benar-benar terjadi dan semua faktor yang diabaikan itu bukannya tidak ada. Sebagai contoh, di daerah-daerah tertentu, besaran percepatan gravitasi harus benar-benar dihitung ulang, karena sangat ekstrem. Jadi, langkah-langkah penyederhanaan itu dilakukan bukan karena alasan meremehkan, namun ada maksud yang bisa dipertanggungjawabkan.

Masalah terjadi jika kita mengabaikan satu sisi dari suatu masalah tanpa alasan yang jelas, apalagi jika yang kita abaikan itu adalah suatu sisi yang amat penting untuk diperhitungkan. Dalam contoh perhitungan gaya di atas, apa jadinya jika kita mengabaikan massa apel?

Di dunia ini banyak hal yang seringkali kita tanggapi dari satu sisi saja, dengan sepenuhnya mengabaikan sisi lain yang tidak kalah pentingnya. Jika para ilmuwan memiliki alasan bagus untuk mengabaikan hal-hal tertentu serta memperhitungkan betul safety dari tindakannya itu, maka amat disayangkan banyak manusia yang tidak berpikir seperti ilmuwan.

Apa kesan yang Anda rasakan ketika mendengar nama ‘Allah Yang Maha Adil’? Kemungkinan besar Anda akan merasa nyaman. Kebaikan apa pun, bahkan ketika hal itu baru berupa niat di dalam hati, pasti akan diberi ganjaran yang setimpal oleh-Nya. Karena itu, kita tidak perlu takut, karena pengadilan di akhirat kelak dijamin tidak akan ada kecurangan di dalamnya. Amal-amal kita tidak akan dikorting, karena Allah Maha Adil. Pemahaman seperti ini, tentu saja benar.

Tapi di sisi lain, justru karena Allah Maha Adil, maka semestinya juga timbul perasaan takut dalam diri kita. Bagaimana dengan dosa-dosa kita? Meskipun kecil, karena Allah Maha Adil, maka pasti akan dibalas dengan tuntas. Kita semestinya tidak merasa aman, karena setiap dosa yang kita anggap kecil bisa jadi besar kalau ditumpuk-tumpuk.

Semua orang tua pasti senang melihat anaknya memanjatkan doa setelah shalat, “Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak aku kecil”. Kedengaran indah? Nanti dulu. Masalahnya adalah pada kata “sebagaimana” dalam doa itu. Artinya, kita minta Allah memperlakukan kedua orang tua kita sebagaimana mereka memperlakukan kita sejak kecil. Bagaimana kalau kasih sayangnya minim sekali, alias orang tua tidak memperlakukan kita dengan baik? Dengan demikian, doa yang tadinya terdengar manis bisa berubah menjadi semacam ‘kutukan’. Kalau gemar menempelengi anak, maka nantikanlah tempelengan dari malaikat kelak! Kalau kasih sayangnya pada anak tipis, maka kasih sayang Allah padanya juga akan tipis. Apakah hal semacam ini tidak perlu diperhitungkan oleh para orang tua?

Dalam wawancaranya di situs resmi JIL, Jalaluddin Rakhmat bersikeras bahwa semua umat beragama akan masuk surga. Alasannya : karena Allah Maha Penyayang, dan kasih sayang-Nya itu begitu luas. Saking luasnya, maka semua manusia yang berbuat baik, apa pun agamanya, akan dimasukkan ke dalam surga.

Ironisnya, ia tidak melihat sisi lain dari sifat Maha Penyayang milik Allah itu. Sekarang pertanyaannya : karena Allah Maha Penyayang, pantaskah jika kita mendurhakai-Nya dengan menjadikan hal-hal lain sebagai sembahan? Pantaskah mengimani trinitas, misalnya, sementara pada waktu yang bersamaan kita yakin sepenuhnya bahwa Allah-lah satu-satunya ilah yang benar, dan Dia Maha Penyayang serta tidak pernah lelah mencurahkan rahmat-Nya pada kita? Tanyalah pada diri sendiri : pantaskah?

Sementara berbuat selingkuh pada istri yang setia saja dikatakan tidak pantas, apakah pantas hal yang sama dilakukan kepada Allah?

Sungguh mengherankan bagaimana kita mengabaikan sisi-sisi yang sebenarnya sangat penting untuk diperhitungkan. Akibatnya, kita hanya bisa melihat ke satu arah saja. Bahkan kuda pun tidak mengenakan ‘kacamatanya’ sendiri, namun manusia justru secara suka rela mempersempit pandangan dan memperdangkal pemikirannya. Manusia memang makhluk yang tidak henti membuat kejutan.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


29 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ti2n wrote on Nov 8, '06
pertamaaa :p
akmal wrote on Nov 8, '06
ti2n said
pertamaaa :p
hidup teh titin!!! hidup parsel!!! (lho??)

:p
wirdayanti wrote on Nov 8, '06
Bunda ketiga yaa...??
Dapat hadiah kan Son? :))
ti2n wrote on Nov 8, '06
akmal said
hidup teh titin!!!
klo teh titin ngga hidup, ngga bakalan bisa reply duoong :p
wib711 wrote on Nov 8, '06
akmal said
Masalah terjadi jika kita mengabaikan satu sisi dari suatu masalah tanpa alasan yang jelas, apalagi jika yang kita abaikan itu adalah suatu sisi yang amat penting untuk diperhitungkan.
biasanya hal ini terjadi kalo kita berada disisi yang satu, jadi sisi lain walaupun terlihat ga terlalu dipikirkan.. toh (mungkin) bisa saja dianggap seimbang, padahal banyak "jelentrekan" yang bisa berpengaruh..

*wibduasisihitamputih*
jonru wrote on Nov 8, '06
mungkin kita perlu juga sesekali berjalan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, supaya bisa melihat bumi dari sisi yang berbeda

hehehe... :)
syifa95 wrote on Nov 8, '06
akmal said
Sementara berbuat selingkuh pada istri yang setia pada suami saja dikatakan tidak pantas, apakah pantas hal yang sama dilakukan kepada Allah
Sungguh tidak pantaslah mas
tapi ya itu ironisnya manusia sering lupa diri.
jadi hal yang seharusnya tidak pantas utk dilakukan.
justru dianggapnya pantas. dan dengan sombong dan bangganya dia lakukan itu.
dimyati wrote on Nov 8, '06
akmal said
Kebaikan apa pun, bahkan ketika hal itu baru berupa niat di dalam hati, pasti akan diberi ganjaran yang setimpal oleh-Nya
nah ini cep Akmal ( panggilan baru ..biar nambah list panggilannya hihi ) banyak orang yg salah mengartikan kalimat ini, contohnya disini loh ada satu golongan yg mrk itu ngaku islam tp ga pernah shalat, shaum dan ibadah lainnya...krn alasan itu diatas loh......ktnya kebaikan apapun ..termasuk ibadah klo sudah niat ya sudah cukup niat saja ..kan Allah sudah memberikan hal yg setimpal dengan yg kita perbuat :((
akmal wrote on Nov 8, '06
Bunda ketiga yaa...??
Dapat hadiah kan Son? :))
hadiahnya : reply balik!!! kekeke :p
akmal wrote on Nov 8, '06
ti2n said
klo teh titin ngga hidup, ngga bakalan bisa reply duoong :p
lah, nggak salah kan?? :p
akmal wrote on Nov 8, '06
wib711 said
biasanya hal ini terjadi kalo kita berada disisi yang satu, jadi sisi lain walaupun terlihat ga terlalu dipikirkan.. toh (mungkin) bisa saja dianggap seimbang, padahal banyak "jelentrekan" yang bisa berpengaruh..

*wibduasisihitamputih*
lebih kacaw lagi kalau sisinya bukan hanya ada 2, tapi banyak bos... :D

wah dah lama gak denger kata 'jelentrekan'.. kekeke :p
akmal wrote on Nov 8, '06
jonru said
mungkin kita perlu juga sesekali berjalan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, supaya bisa melihat bumi dari sisi yang berbeda

hehehe... :)
gak usah jauh2, coba aja kalo jalan2 sering liat2 ke atas... biasanya kan mata kita ngeliat ke arah tanah mulu... :p
akmal wrote on Nov 8, '06
syifa95 said
Sungguh tidak pantaslah mas
tapi ya itu ironisnya manusia sering lupa diri.
jadi hal yang seharusnya tidak pantas utk dilakukan.
justru dianggapnya pantas. dan dengan sombong dan bangganya dia lakukan itu.
tanyakanlah pada Jalaluddin Rakhmat yang bergoyang... :D
akmal wrote on Nov 8, '06
dimyati said
nah ini cep Akmal ( panggilan baru ..biar nambah list panggilannya hihi ) banyak orang yg salah mengartikan kalimat ini, contohnya disini loh ada satu golongan yg mrk itu ngaku islam tp ga pernah shalat, shaum dan ibadah lainnya...krn alasan itu diatas loh......ktnya kebaikan apapun ..termasuk ibadah klo sudah niat ya sudah cukup niat saja ..kan Allah sudah memberikan hal yg setimpal dengan yg kita perbuat :((
memang ada korupsi pada makna "niat" sih ya... dikiranya 'lintasan pikiran untuk melakukan sesuatu' itu sudah bisa disebut niat, padahal niat itu baru diukur kalau sudah ada langkah yang dilakukan menuju terlaksananya keinginan tsb... :) kalo gak ada usaha ya bukan niat namanya...
baud wrote on Nov 9, '06
Wooo... cuman pengin nyerang "trinitas" aja muter-muter....
Dengan segala hormat, marilah kita lihat dari sisi lain. Sebuah batu di Kota Mekkah dijadikan sentra sembahan seluruh umat, yang membuat orang mesti berpikir kemana harus menghadap ketika mau berdoa. Emang Allah cuman di situ ya? Kasihan....
Anda lihat dari satu sisi, saya lihat dari sisi yang lain. Boleh dong!
nazzier wrote on Nov 9, '06
aku dari sisi kanan ya...
hehehhe
akmal wrote on Nov 9, '06
baud said
Wooo... cuman pengin nyerang "trinitas" aja muter-muter....
Dengan segala hormat, marilah kita lihat dari sisi lain. Sebuah batu di Kota Mekkah dijadikan sentra sembahan seluruh umat, yang membuat orang mesti berpikir kemana harus menghadap ketika mau berdoa. Emang Allah cuman di situ ya? Kasihan....
Anda lihat dari satu sisi, saya lihat dari sisi yang lain. Boleh dong!
sebenarnya gak ada maksud gitu... saya cuma ambil perumpamaan bagaimana kacaunya kalau mencampuradukkan agama satu dgn agama yg lain, kebetulan aja yg diambil contohnya trinitas, sori ya... sah-sah aja kalau ente anggap konsep Islam itu yg salah, soalnya kalau ente anggap konsep kami benar lantas ente gak masuk Islam, itu berarti ente gak logis... hahaha...

saya tdk mencela keyakinan agama lain, saya hanya mencela orang yg menyebut dirinya Muslim (Jalaluddin Rakhmat kan Muslim) tapi mengadopsi ajaran agama lain... kalau orang Katolik membenarkan agamanya sendiri ya wajar, orang Hindu merasa ajaran agamanya benar ya wajar bangeeeettttt... yg gak wajar itu ya itu tadi, orang Islam yg mengadopsi konsep agama lain, demikian juga tidak wajar kalau orang Kristen mengadopsi konsep Islam...

jadi supaya jgn ada lagi yg salah paham ni ya, mudah2an clear... :)

kalo soal Ka'bah itu ada sisi lain yg ente belum pikirkan, tapi itu masalah lain lagi... :)
imamisnaini wrote on Nov 9, '06
Ya lebih baik harus memandang dari segala kemungkinan sudut pandang yang ada, biar lebih mantap mengambil kesimpulan. Tapi jangan kecewa jika antar sudut pandang saling bertubrukan....
dimyati wrote on Nov 9, '06
akmal said
kalo soal Ka'bah itu ada sisi lain yg ente belum pikirkan, tapi itu masalah lain lagi... :)
salut buat akmal.......mal kita padamuuuuuuuuuuuu............:D

mal ditunggu kupasannya ya mal :)
akmal wrote on Nov 9, '06
dimyati said
salut buat akmal.......mal kita padamuuuuuuuuuuuu............:D

mal ditunggu kupasannya ya mal :)
aaappppaaaaa siiiiihhhhh..... :D
dimyati wrote on Nov 9, '06
baud said
Wooo... cuman pengin nyerang "trinitas" aja muter-muter....
Dengan segala hormat, marilah kita lihat dari sisi lain. Sebuah batu di Kota Mekkah dijadikan sentra sembahan seluruh umat, yang membuat orang mesti berpikir kemana harus menghadap ketika mau berdoa. Emang Allah cuman di situ ya? Kasihan....
Anda lihat dari satu sisi, saya lihat dari sisi yang lain. Boleh dong!
Menghadap Ka'bah bukan berarti kita menyembah Ka'bah, tetapi merupakan
simbol yang ditetapkan Allah bagi kiblat orang-orang Islam. Hal ini untuk
membedakan kiblat umat Muhammad dengan kiblat umat lain.

Namun demikian seandainya kita berada di suatu tempat dan tidak mengehtahui
arah Ka'bah maka menghadap kemanapun sah shalatnya karena dimana saja disitu
ada Wajah Allah....begitu loh mas Baud jadi ga usah kesian ma kite2 heheh kite nyang solat kok mas yg kesian :D kitanya jg gpp kok :D ( canda maas )

Menghadap ke Ka'bah adalah simbol persatuan, dan untuk memudahkan kalau kita
shalat, khususnya shalat berjamaah...

*piss ah kata Alan mah heheh*
akmal wrote on Nov 9, '06
dimyati said
Menghadap Ka'bah bukan berarti kita menyembah Ka'bah, tetapi merupakan
simbol yang ditetapkan Allah bagi kiblat orang-orang Islam. Hal ini untuk
membedakan kiblat umat Muhammad dengan kiblat umat lain.

Namun demikian seandainya kita berada di suatu tempat dan tidak mengehtahui
arah Ka'bah maka menghadap kemanapun sah shalatnya karena dimana saja disitu
ada Wajah Allah....begitu loh mas Baud jadi ga usah kesian ma kite2 heheh kite nyang solat kok mas yg kesian :D kitanya jg gpp kok :D ( canda maas )

Menghadap ke Ka'bah adalah simbol persatuan, dan untuk memudahkan kalau kita
shalat, khususnya shalat berjamaah...

*piss ah kata Alan mah heheh*
lah katanya nunggu saya yg ngupas kok malah dikupas duluan... kekekeke :D
dimyati wrote on Nov 9, '06
akmal said
aaappppaaaaa siiiiihhhhh..... :D
hihi tolong kupasin jeruuuuuk maksudnya :P
abambens wrote on Nov 9, '06
senyum sendiri aja=))=))=))
akmal wrote on Nov 9, '06
dimyati said
ga usah kesian ma kite2 heheh kite nyang solat kok mas yg kesian
kalo saya pribadi malah kasian sama yg gak shalat... :)
arisulindra wrote on Nov 9, '06
sip dah mal....... :)
satuju pisan......
rainychan wrote on Nov 9, '06
akmal said
kalau orang Katolik membenarkan agamanya sendiri ya wajar, orang Hindu merasa ajaran agamanya benar ya wajar bangeeeettttt
Ren termasuk sepakat sama ini!
Ren gak sepakat tuh semua agama baik. Harusnya agama yang kita anut itu adalah agama yang paling baik menurut kita. Tapi tetap aja harus menghargai keyakinan orang lain. Gitu aja.Titik!
baud wrote on Nov 9, '06
Ren gak sepakat tuh semua agama baik. Harusnya agama yang kita anut itu adalah agama yang paling baik menurut kita. Tapi tetap aja harus menghargai keyakinan orang lain.
Semua agama baik... menurut penganutnya.
akmal wrote on Nov 9, '06
baud said
Semua agama baik... menurut penganutnya.
nah kalo yg ini kita sepakat :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help