assalaamu’alaikum wr. wb.
Menarik bagaimana sebagian orang
melihat suatu masalah dari satu atau beberapa sisi saja, sedangkan sisanya
diabaikan sepenuhnya. Sebagai langkah
awal metode seperti ini bermanfaat juga sebenarnya, karena jika harus sepenuhnya
memperhitungkan semua variabel, kemungkinan besar tidak ada yang bisa kita
hasilkan. Saya akan beri satu contoh
mengenai hal ini.
Masih ingat buah apel yang jatuh
di depan mata Isaac Newton? Buah apel
yang penuh berkah itu berhasil memancing akal Newton untuk bekerja dan melahirkan apa yang
disebut sebagai Hukum Newton. Dalam
kasus apel (atau benda apa pun) yang jatuh ke bumi, kita dapatkan rumus F = m x
g, di mana F adalah gaya yang dihasilkan, m
adalah massa
benda yang jatuh, dan g adalah percepatan gravitasinya. Sebenarnya rumus ini terlalu sederhana dan
terlalu instan, karena masih ada hal-hal yang tidak diperhitungkannya, misalnya
:
- Bagaimana pengaruh gesekan udara
terhadap percepatan jatuhnya benda tersebut?
- Apakah percepatan gravitasi itu
sama di semua titik di muka bumi?
- Faktor-faktor apa saja yang
menentukan besarnya percepatan gravitasi?
Pengaruh gesekan udara bisa
diabaikan kalau ketinggiannya hanya sejarak pucuk pohon apel saja. Percepatan gravitasi secara faktual tidak
sama di setiap titik, karena jarak titik tersebut dari inti bumi tidak sama,
demikian juga kandungan isi perut bumi di sekitar tempat itu juga
berpengaruh. Tapi, untuk kemudahan,
biasanya digunakan angka sebesar 9,81 atau bahkan dibulatkan saja menjadi 10
meter per detik kuadrat. Jika
penyederhanaan-penyederhanaan semacam ini tidak dilakukan, Anda bisa bayangkan
betapa susahnya melakukan pekerjaan engineering. Meski demikian, para ilmuwan tahu persis
bahwa penyederhanaan ini benar-benar terjadi dan semua faktor yang diabaikan
itu bukannya tidak ada. Sebagai contoh,
di daerah-daerah tertentu, besaran percepatan gravitasi harus benar-benar
dihitung ulang, karena sangat ekstrem.
Jadi, langkah-langkah penyederhanaan itu dilakukan bukan karena alasan
meremehkan, namun ada maksud yang bisa dipertanggungjawabkan.
Masalah terjadi jika kita
mengabaikan satu sisi dari suatu masalah tanpa alasan yang jelas, apalagi jika
yang kita abaikan itu adalah suatu sisi yang amat penting untuk
diperhitungkan. Dalam contoh perhitungan
gaya di atas, apa jadinya jika kita mengabaikan massa apel?
Di dunia ini banyak hal yang
seringkali kita tanggapi dari satu sisi saja, dengan sepenuhnya mengabaikan
sisi lain yang tidak kalah pentingnya.
Jika para ilmuwan memiliki alasan bagus untuk mengabaikan hal-hal
tertentu serta memperhitungkan betul safety
dari tindakannya itu, maka amat disayangkan banyak manusia yang tidak berpikir
seperti ilmuwan.
Apa kesan yang Anda rasakan
ketika mendengar nama ‘Allah Yang Maha Adil’?
Kemungkinan besar Anda akan merasa nyaman. Kebaikan apa pun, bahkan ketika hal itu baru
berupa niat di dalam hati, pasti akan diberi ganjaran yang setimpal
oleh-Nya. Karena itu, kita tidak perlu
takut, karena pengadilan di akhirat kelak dijamin tidak akan ada kecurangan di
dalamnya. Amal-amal kita tidak akan
dikorting, karena Allah Maha Adil.
Pemahaman seperti ini, tentu saja benar.
Tapi di sisi lain, justru karena
Allah Maha Adil, maka semestinya juga timbul perasaan takut dalam diri
kita. Bagaimana dengan dosa-dosa kita? Meskipun kecil, karena Allah Maha Adil, maka
pasti akan dibalas dengan tuntas. Kita
semestinya tidak merasa aman, karena setiap dosa yang kita anggap kecil bisa
jadi besar kalau ditumpuk-tumpuk.
Semua orang tua pasti senang
melihat anaknya memanjatkan doa setelah shalat, “Ya Allah, ampunilah kedua
orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak aku
kecil”. Kedengaran indah? Nanti dulu.
Masalahnya adalah pada kata “sebagaimana” dalam doa itu. Artinya, kita minta Allah memperlakukan kedua
orang tua kita sebagaimana mereka memperlakukan kita sejak kecil. Bagaimana kalau kasih sayangnya minim sekali,
alias orang tua tidak memperlakukan kita dengan baik? Dengan demikian, doa yang tadinya terdengar
manis bisa berubah menjadi semacam ‘kutukan’.
Kalau gemar menempelengi anak, maka nantikanlah tempelengan dari
malaikat kelak! Kalau kasih sayangnya
pada anak tipis, maka kasih sayang Allah padanya juga akan tipis. Apakah hal semacam ini tidak perlu
diperhitungkan oleh para orang tua?
Dalam wawancaranya di situs resmi
JIL, Jalaluddin Rakhmat bersikeras bahwa semua umat beragama akan masuk
surga. Alasannya : karena Allah Maha
Penyayang, dan kasih sayang-Nya itu begitu luas. Saking luasnya, maka semua manusia yang
berbuat baik, apa pun agamanya, akan dimasukkan ke dalam surga.
Ironisnya, ia tidak melihat sisi
lain dari sifat Maha Penyayang milik Allah itu.
Sekarang pertanyaannya : karena Allah Maha Penyayang, pantaskah jika
kita mendurhakai-Nya dengan menjadikan hal-hal lain sebagai sembahan? Pantaskah mengimani trinitas, misalnya,
sementara pada waktu yang bersamaan kita yakin sepenuhnya bahwa Allah-lah
satu-satunya ilah yang benar, dan Dia
Maha Penyayang serta tidak pernah lelah mencurahkan rahmat-Nya pada kita? Tanyalah pada diri sendiri : pantaskah?
Sementara berbuat selingkuh pada
istri yang setia saja dikatakan tidak pantas, apakah pantas hal yang
sama dilakukan kepada Allah?
Sungguh mengherankan bagaimana
kita mengabaikan sisi-sisi yang sebenarnya sangat penting untuk
diperhitungkan. Akibatnya, kita hanya
bisa melihat ke satu arah saja. Bahkan
kuda pun tidak mengenakan ‘kacamatanya’ sendiri, namun manusia justru secara suka rela
mempersempit pandangan dan memperdangkal pemikirannya. Manusia memang makhluk yang tidak henti
membuat kejutan.
wassalaamu’alaikum wr. wb.