 assalaa mu 'alaikum wr. wb. Welcome to the beautiful country where everything goes wrong except for the buttkissing. Yes, that's right! We kiss people's butts like noone else. It's what we do best. In fact, that's ALL we can do.
Indonesia adalah bangsa yang sangat mahir dalam urusan cari muka. Jilat-menjilat adalah suatu hal yang tidak terpisahkan dari budaya Indonesia. Saya tidak tahu apakah bangsa ini bangga dengan 'kelebihannya' ini, namun yang jelas kebiasaan ini selalu diwariskan kepada generasi berikutnya. Saya masih ingat betapa indahnya jalan-jalan besar di Kota Bandung pada saat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika (lanjutan dari KAA yang dahulu) beberapa waktu yang lalu. Tidak ada sampah di sepanjang jalan Dago, karena konon para peserta KAA tinggal di sebuah hotel besar di jalan itu. Para pedagang yang tadinya memenuhi jalan itu diusir semuanya dan terpaksa harus mencari tempat lain untuk berjualan selama para peserta KAA yang terhormat itu masih di Bandung. Tempat penampungan sampah di Pasar Dago sudah pasti dipindahkan. Jalan-jalan di Bandung yang tadinya tidak menarik langsung disulap jadi meriah. Trotoar-trotoar dihias dengan berbagai macam tanaman, dinding gedung-gedung tua dibersihkan sampai mengkilat, dan tentu saja para pedagang asongan harus menyingkir agar Indonesia bisa menjaga mukanya. Tidak mengherankan jika kemudian muncul gonjang-ganjing ketika pemerintah membeli khusus sekian banyak mobil demi kepentingan para tamu negara itu. Selain untuk memberi kesan baik, ada juga yang curiga bahwa ini semua hanyalah main-mainan para pejabat yang pandai memanfaatkan momen. Segera setelah KAA berakhir, mobil-mobil itu bisa diambilnya dengan harga supermiring. Sssst... Ini cuma isu, lho! Yang kasihan adalah tanaman-tanaman hias yang dibutuhkan hanya sebagai penyedap mata semasa KAA saja. Habis manis, sepah dibuang. Habis KAA, tanaman hias tak dipedulikan. Maka tanaman-tanaman itu banyak yang mati karena tak ada yang mengurus. Inilah salah satu bukti betapa Indonesia tidak pernah punya niatan jangka panjang untuk mempercantik kota-kotanya. Keindahan kota hanya penting jika ada yang perlu dijilat. Dulu juga pernah Kota Bandung menanggung malu karena tumpukan sampahnya yang membukit di tengah kota. Salah satu tempat penampungan yang paling parah adalah di Pasar Dago. Karena waktu itu Pak Presiden mau berkunjung, maka Bandung harus menyelamatkan mukanya dengan.................... memindahkan sampah ke tempat yang tidak akan dilihat oleh Presiden. Apa dinyana, SBY justru membelokkan iring-iringannya, dan akhirnya terkuaklah aib itu. Ini adalah salah satu contoh buttkissing yang gagal. Sidak (inspeksi mendadak) adalah suatu cara ampuh yang mesti dipelihara di negeri ini. Dengan demikian, orang tidak sempat lagi untuk menata diri dan memoles muka agar tampak 'cantik' di hadapan mereka yang mau dijilatnya. Kebiasaan menjilat harus dihentikan, dan nampaknya tujuan tersebut hanya mungkin dicapai dengan cara-cara yang sedikit 'keras'.  Sekarang, sebagian rakyat Indonesia sedang mengadakan aksi 'cium pantat' berjamaah. Siapa lagi yang hendak dijilat kalau bukan presiden terbodoh dalam sejarah AS, yaitu George W. Bush? Demi seorang Bush yang hanya menginjakkan kaki di negeri cantik ini selama 6 jam saja, banyak kepentingan yang harus dikorbankan. Kantor-kantor yang lokasinya di dekat Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor diminta untuk libur sehari, demikian juga sekolah-sekolah di sekitar situ. Pada Hari-H, sudah pasti kendaraan tidak boleh lewat di sekitar Istana Bogor. Bagaimana nasib para pedagang? "Either you're with us, or against us!" kata si George. Inilah manusia yang melakukan pembantaian dimana-mana tanpa mampu memberikan alasan secuil pun. Dialah yang menyerang Afghanistan untuk mencari teroris yang tidak pernah ditemukannya. Dia juga yang menjajah Irak untuk mencari senjata pemusnah masal, sementara satu-satunya pemusnah masal yang ada di sana adalah kelakuan tentara-tentaranya sendiri. Foto-foto Abu Gharib adalah fakta yang tak terbantahkan, bahkan oleh lidah seorang Bush. Tapi dia tetap kukuh dengan aksi koboinya. Sementara operasi mencari terorisnya tidak kunjung berhasil, toh ia cukup puas dengan rampasan perangnya yang berupa minyak bumi. Inilah orangnya yang sudah mengobarkan 'Perang Salib' (versinya sendiri) karena dua gedung kebanggaannya runtuh dan Pentagon diserang. Herannya, ia tidak peduli pada fakta bahwa sekian banyak warga Yahudi yang bekerja di gedung naas itu bolos kerja secara bersamaan dan terhindar dari maut. Ia juga tidak peduli pada kesaksian orang-orang yang tidak melihat adanya pesawat yang menabrak Pentagon, melainkan rudal! Manusia superbodoh yang satu  ini juga tidak pandai berhitung, sehingga ia mengabaikan fakta bahwa ukuran lubang di Pentagon tidak bisa memuat sebuah pesawat seperti yang dituduhkan dunia internasional saat itu. Tambahan lagi, tidak pernah ada bangkai pesawat di sana. Pertanyaannya : siapa yang bisa menembakkan rudal ke Pentagon tanpa terdeteksi? Inilah manusia hina yang hanya dikalahkan kehinaannya oleh orang-orang yang menjilat di hadapannya! Dan sebagian bangsa kita sedang berjuang sungguh-sungguh untuk mencari muka di hadapannya. Beruntung di negeri ini masih banyak orang yang lebih suka menyuarakan kebenaran daripada menciumi pantat orang lain. Sekian banyak warga Indonesia melibatkan diri dalam demonstrasi anti-Bush. Jangan kira ini adalah proyek warga Bogor, karena Palembang pun sudah membara karena isu ini. Sudah saatnya kita bersikap proporsional dan berhenti bersikap berlebihan. Faktanya, Ahmadinejad yang dituduh teroris, radikal, fundamentalis, dan berbagai predikat lainnya itu bisa berjalan tenang-tenang di Indonesia. Sudah waktunya generasi muda negeri ini mencampakkan budaya menjilat yang diajarkan oleh nenek moyang kita, dan beralih pada kebiasaan yang lebih sehat, lebih Islami, lebih rasional. Sekarang saatnya kita berkata yang sebenarnya! Tunjukkan pada dunia siapa teroris yang paling memuakkan itu sebenarnya! Go home, Bush! We don't want you here!
wassalaamu'alaikum wr. wb.
 | iya bikin susah warga bogor aja!!! cuma 6 jam dibogor tp preparationnya berminggu-minggu! sampe pake acara sweeping dimana-mana lg!
|
 | Faktanya, Ahmadinejad yang dituduh teroris, radikal, fundamentalis, dan berbagai predikat lainnya itu bisa berjalan tenang-tenang di Indonesia
yuup aku membuktikan sendiri. saat ahmad dinejad mengunjungi gedung PBNU, aku jemput anakku yg ngantor tepat digedung sebelahnya. Bisa nunggu didepan kantornya, dan aku boleh berhenti tepat disebelah gedung dimana sang presiden berada. Barangkali si Bush perlu belajar ama ahmad dinejad, gimana caranya menumbuhkan rasa berani, atau emang si bush tuh emangchicken |
 | hm.. kira2 santetnya ki joko bodho bisa kena beneran gak ya.. hahahahaha |
 | ian mah masih susah ngilangin kebiasaan jilat es krim.
gimana tuh udadamdamdudidam? |
 | akmal wrote on Nov 14, '06 iya bikin susah warga bogor aja!!! cuma 6 jam dibogor tp preparationnya berminggu-minggu! sampe pake acara sweeping dimana-mana lg!  saya mo nikah cuma 5 jam tapi preparationnya berbulan-bulan... tapi gak pake sweeping hahahahahaha :D |
 | akmal wrote on Nov 14, '06 Faktanya, Ahmadinejad yang dituduh teroris, radikal, fundamentalis, dan berbagai predikat lainnya itu bisa berjalan tenang-tenang di Indonesia
yuup aku membuktikan sendiri. saat ahmad dinejad mengunjungi gedung PBNU, aku jemput anakku yg ngantor tepat digedung sebelahnya. Bisa nunggu didepan kantornya, dan aku boleh berhenti tepat disebelah gedung dimana sang presiden berada. Barangkali si Bush perlu belajar ama ahmad dinejad, gimana caranya menumbuhkan rasa berani, atau emang si bush tuh emangchicken  hati kecilnya nyadar kalo dia dibenci banyak orang tuhhh... :p |
 | akmal wrote on Nov 14, '06 hm.. kira2 santetnya ki joko bodho bisa kena beneran gak ya.. hahahahaha  mari kita adu domba para syetan!!! kekekeke :D |
 | akmal wrote on Nov 14, '06 ian mah masih susah ngilangin kebiasaan jilat es krim.  that makes two of us! :p |
 | Yah itulah yang membedakan Nejad dan Bush, yang satu berani bersuara lantang karena benar, yang satu bersuara lantang untuk ngeluarin gaung di kepalanya (kosong soalnya).
Jadi, sambut Bush atau sambit Bush? Saya mau sambet ajah. Wehehe... |
 | akmal wrote on Nov 15, '06 terimakasih Fetry....^_^  maksudnya ngefans sama saya gitu lhooooo :p |
 | huss ini om sama ponakan setali tiga uang...
*geleng2 kepala* |
 | Om Om...padahal nikahnya dimajuin aja Om, trus tamunya suruh demo:P |
 | akmal wrote on Nov 15, '06 Om Om...padahal nikahnya dimajuin aja Om, trus tamunya suruh demo:P  hidangan buat para tamu : BUSH GULING !!! :D
|
 | akmal wrote on Nov 15, '06 Maaf sebelumnya. Boleh gak aku dapat sumber berita dari informasi yang Akmal tulis ini (i.e. maksudnya yang aku kutip di atas). Sori agak ketinggalan jaman, tapi aku baru denger yang ini, soalnya. Kalo berita tentang ribuan Yahudi yang bolos kerja pas kejadian 9/11 itu sudah sering denger sebelumnya. Tnx sebelumnya. Jzkk.  dulu saya nonton VCDnya... di situ diperlihatkan jelas bahwa ukuran lubang di Pentagon tdk bisa memuat pesawat Boeing yg dikabarkan menubruknya... lagipula tdk ada bangkai pesawat sama sekali dlm bentuk apa pun, baik sayap, ekor dsb... saksi2 yg melihat justru bilang bahwa yg menghantam pentagon adalah rudal dari jarak dekat.. siapa yg bisa menembakkan rudal ke Pentagon dari jarak dekat? siapa lagi kalau bukan pemerintah AS sendiri... kecuali jika memang pengamanan Pentagon sangat menyedihkan...
ada situsnya di internet, tapi saya lupa alamatnya... ntar saya cariin deh, kalo dah ketemu pasti tak kabarin... :) |
 | Katanya sampe sinyal bakalan "dikacaukan" ya pas bush dateng.....susah amet ya? Kok malah ngerasa, kalo kitanya seh yang di isolir? |
 | akmal wrote on Nov 18, '06 Katanya sampe sinyal bakalan "dikacaukan" ya pas bush dateng.....susah amet ya? Kok malah ngerasa, kalo kitanya seh yang di isolir?  iya tuh harusnya Bush aja yg dikandangin, trus dirantai... kekeke :D |
 | Go Home Bush!!! and your home is HELL!!! |
 | Langkah diplomatik Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad, mengambil inisiatif dalam konteks hubungan AS-Iran yang kian memanas tampaknya akan memiliki dampak yang luas. Sekalipun mendapat caci-maki kekanak-kanakan dari Presiden Universitas Columbia, Lee Bollinger, langkah berani Ahmadinejad bukan tak mungkin akan terbukti menghunjam lebih dalam ketimbang yang diperkirakan para musuhnya di AS. Bagi setiap orang yang dapat berpikir dengan lebih tenang, keberanian Ahmadinejad untuk tanding tandang, menahan segala celaan dan cemooh hadirin, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan sikap kekanak-kanakan dan kepicikan sang rektor dan sebagian audiens untuk memperolok tamu yang diundangnya. Pemandangan kontras ini dapat dilihat sebagai pertanda keyakinan akan kemenangan di pihak Ahmadinejad dan semua yang dia wakili, sekaligus menandakan suasana frustrasi serta kegelisahan di pihak Bollinger dan semua yang diwakilinya. Di bawah ini adalah sebagian kecil kandungan ceramah kedua pihak yang mewakili dua peradaban yang berbeda itu.
Bollinger memulai 'ceramah penyambutannya', antara lain, dengan menyatakan bahwa acara tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan hak pembicara (Ahmadinejad), tapi hanya berkaitan dengan haknya untuk mendengar dan berbicara. ''Kami melakukan ini demi diri kami sendiri,'' kata Bollinger. Kemudian Bollinger melanjutkan, ''Suatu hari pada Desember 2005 dalam sebuah acara siaran televisi negara, Anda menggambarkan holocaust sebagai sebuah legenda yang dibuat-buat. Satu tahun kemudian, Anda mengadakan konferensi dua hari yang menghimpun para pengingkar holocaust. Bagi orang awam dan bodoh sekalipun, ini adalah propaganda yang berbahaya.'' Tepuk tangan memecah ketegangan.
Bollinger menandaskan, ''Sekarang Anda datang ke tempat ini (tempat bagi banyak pengungsi holocaust), maka Anda tampak menggelikan. Anda hanya menjadi seorang yang secara angkuh bersifat provokatif atau secara mengejutkan tidak berpendidikan.'' Lagi-lagi tepuk tangan membahana. Bollinger meneruskan, ''Dua belas hari yang lalu Anda berkata negara Israel tidak lagi bisa hidup. Pernyataan ini menggemakan berbagai pernyataan provokatif yang Anda sampaikan pada dua tahun terakhir, termasuk pada Oktober 2005, ketika Anda berkata Israel itu harus dihapuskan dari peta. Nah, di Columbia banyak mahasiswa yang tinggal di Israel atau berasal dari Israel, apakah penghapusan itu juga mencakup Columbia? Mengapa Anda mendukung organisasi-organisasi teroris yang senantiasa menghantam perdamaian dan demokrasi di Timur Tengah, menghancurkan hidup dan masyarakat sipil di kawasan itu?'' Tepuk tangan memuncak.
Bollinger meneruskan kecamannya, ''Dalam sebuah pengarahan di hadapan National Press Club, Jenderal David Petraeus melaporkan senjata-senjata yang datang dari Iran, termasuk 240 milimeter roket dan proyektil peledak, berandil pada `serangan-serangan canggih yang sama sekali tidak akan mungkin tanpa dukungan Iran.' Sejumlah lulusan Columbia dan para mahasiswa ada di antara para anggota militer pemberani yang sedang bertugas di Irak dan Afghanistan. Mereka, seperti kebanyakan orang Amerika lainnya dengan putra, putri, ayah, suami, dan istri yang bertugas di medan pertempuran, benar-benar melihat pemerintahan Anda sebagai musuh, Mengapa Anda memilih membuat orang-orang di negara Anda menjadi lemah akibat sanksi-sanksi ekonomi internasional, dan mengancam untuk menelan dunia dalam pembasmian nuklir?''
Setelah melihat kecaman yang bertubi-tubi itu, sekarang marilah kita simak ringkasan pernyataan Ahmadinejad di forum Universitas Columbia petang 24 September 2007 itu. Ahmadinejad mengawali ceramahnya dengan mempersoalkan sikap Lee Bollinger yang telah membacakan pernyataan politik yang melecehkan dirinya sebelum ada pernyataan dari tamu yang diundangnya.
''Menurut saya, teks yang dibacakan oleh tuan di sini (Bollinger), bukan hanya menyangkut saya, melainkan lebih merupakan penghinaan atas informasi dan pengetahuan para pendengar yang hadir di sini. Dalam lingkungan universitas, kita harus membiarkan seseorang mengatakan pikirannya, mengizinkan setiap orang untuk berbicara sehingga kebenaran pada akhirnya bisa diungkapkan. Sudah tentu dia (Bollinger) mengambil lebih banyak waktu ketimbang yang dialokasikan untuk saya. Tapi tak apalah. Kita biarkan semua itu sebagai tambahan dalam daftar klaim penghormatan atas 'kebebasan berbicara' di negeri ini.''
Ahmadinejad melanjutkan ceramah singkatnya dengan memaparkan arti penting pengetahuan, informasi, dan riset bagi semua orang, terutama kalangan terpelajar. ''Kunci untuk memahami realitas sekitar kita ada di tangan para peneliti, yakni mereka yang mau menguak yang tersembunyi, ilmu-ilmu yang belum diketahui. Seluruh jendela realitas yang mungkin hanya bisa dibuka oleh para sarjana dan kaum terpelajar di dunia,'' tutur dia. ''Ajaran para nabi, dari Adam sampai Muhammad, bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, tahayul, perilaku tidak etis dan pola berpikir yang keliru. Salah satu bahaya yang ditimpakan pada pengetahuan ialah pembatasannya pada bidang eksperimental dan fisik, lantaran realitas jauh lebih luas daripada yang dapat ditampung oleh ranah materi.''
Ahmadinejad menambahkan bahwa di sisi lain, ilmu pengetahuan dapat disalahgunakan oleh individu atau kelompok yang korup dan egois. Akibatnya, ilmu hanya dipakai untuk melayani nafsu dan memuaskan amarah. Di dunia dewasa ini, negara-negara berkuasa hanya menyalahgunakan para ilmuwan untuk kepentingan mereka semata-mata. Negara-negara ini juga memanfaatkan semua peluang demi kepentingan mereka. Misalnya, dengan menggunakan metode-metode ilmiah, kini mereka menipu masyarakat dengan menciptakan musuh-musuh yang sebenarnya tiada, dan menimbulkan atmosfer ketakutan.
Semua ini, menurut dia, agar mereka bisa mengendalikan segala sesuatu atas nama (perang) melawan terorisme. Negara-negara adikuasa ini juga melanggar privasi, menyadap telepon dan terus-menerus merekayasa suasana psikologis yang tidak aman agar mereka bisa terus berkuasa atas rakyat mereka. Misal lain, dengan metode-metode ilmiah dan perencanaan yang matang, mereka melancarkan serangan pada budaya lokal yang merupakan buah interaksi, kreativitas, dan aktivitas kesenian ribuan tahun.
Hal yang lebih memilukan adalah upaya kekuatan-kekuatan besar untuk memonopoli sains dan mencegah negara-negara lain dalam mencapai pengembangan ilmiah yang sama. Mereka berdalih dengan ribuan alasan, melemparkan tuduhan tanpa bukti, memberlakukan sanksi-sanksi ekonomi untuk mencegah perkembangan dan percepatan. Semua itu merupakan akibat pudarnya nilai-nilai kemanusiaan, moral dan ajaran para nabi Ilahi. Dengan sangat menyesal, mereka memang belum terlatih untuk melayani umat manusia. Para ilmuwan seharusnya menjadi orang-orang yang memandu umat manusia menuju masa depan yang lebih baik. Tuhan menyadari semua realitas. ''Saya berharap akan datang suatu hari manakala para ilmuwan memerintah dunia dan Tuhan itu sendiri akan datang bersama Nabi Musa, Isa, dan Muhammad untuk memerintah dunia ini dan membawa kita menyongsong keadilan,'' ujar Ahmadinejad.
Mengacu pada dua poin yang dikatakan (Bollinger) di pengantar, Ahmadinejad mengaku terbuka bagi setiap pertanyaan. ''Tahun lalu, atau dua tahun lalu, saya mengajukan dua pertanyaan. Anda tahu pekerjaan utama saya adalah dosen. Walau menjadi presiden, saya masih mengajar di tingkat pascasarjana dan doktoral setiap minggu. Mahasiswa saya banyak bekerja dengan saya dalam berbagai bidang ilmu. Saya percaya bahwa saya adalah seorang akademisi. Maka itu, saya berbicara dengan Anda dari sudut pandang akademis. Saya pernah mengajukan dua pertanyaan. Tapi, alih-alih mendapat tanggapan, saya malah menerima gelombang hujatan dan tuduhan. Dan sayangnya, kebanyakan penghujat dan penuduh itu datang dari kelompok yang mengklaim percaya pada kebebasan berbicara dan kebebasan mendapat informasi. Anda pasti tahu bahwa Palestina adalah luka yang telah berusia tua 60 tahun.''
Menurut Ahmadinejad, selama 60 tahun, orang-orang ini diusir; terus dibantai didera konflik dan teror. Kaum wanita dan anak-anak mereka yang tidak bersalah dibinasakan, dihancurkan, dan dibunuh oleh segala rupa helikopter dan pesawat tempur (Israel) yang meluluhlantakkan rumah mereka dari atas. Anak-anak (Palestina) usia sekolah banyak yang dipenjarakan dan disiksa. Keamanan Timur Tengah selalu berada dalam bahaya; dan selama 60 tahun ini, menurut dia, masyarakat sering mendengar slogan ekspansionisme 'Dari Nil hingga Efrat'.
''Dua pertanyaan yang sama akan saya ajukan lagi di sini. Dan Anda dapat menilai apakah tanggapan atas pertanyaan-pertanya an ini harus berupa hujatan dan tudingan atau mencuatkan segala propaganda negatif? Atau haruskah kita benar-benar mencoba menghadapi dua pertanyaan ini dan menjawabnya? Seperti Anda, seperti umumnya para akademisi, saya akan berupaya diam sampai saya mendapat jawaban. Maka itu, saya menunggu jawaban logis dan bukannya hujatan. Pertanyaan pertama saya adalah jika memang holocaust itu kenyataan yang terjadi di zaman ini, mengapa tidak ada riset memadai yang dapat mendekati topik ini dari perspektif-perspekt if yang berbeda? Teman kita (Bollinger) merujuk pada 1930 sebagai titik awal perkembangan ini; tapi saya menduga holocaust, dari apa yang kita baca, terjadi selama Perang Dunia II pada 1940-an. Maka, Anda tahu, kita harus benar-benar mampu melacak peristiwa itu,'' tutur Ahmadinejad.
Ahmadinejad menganggap pertanyaan itu sederhana. Kata dia, ada sejumlah peneliti yang ingin mendekati topik ini dari suatu perspektif yang berbeda, namun mereka dijebloskan ke penjara. Sekarang ini, ada beberapa akademisi Eropa yang dikurung karena mencoba menulis tentang holocaust. Padahal mereka hanya mencoba mempertanyakan aspek-aspek tertentu berkenaan dengan holocaust dari perspektif berbeda.
''Pertanyaan saya adalah mengapa hal ini tidak terbuka bagi semua bentuk riset? Saya diberi tahu bahwa sudah terdapat cukup riset mengenai topik ini. Dan saya bertanya, bukankah topik-topik seperti kebebasan, demokrasi, konsep-konsep dan norma-norma seperti Tuhan, agama, fisika, bahkan kimia, juga sudah beroleh banyak riset? Tapi mengapa kita masih melanjutkan, bahkan mendorong, lebih banyak riset dalam topik-topik itu. Lalu, kenapa kita tidak mendorong lebih banyak riset mengenai peristiwa historis yang sudah menjadi akar dan penyebab banyak bencana besar di kawasan (Timur Tengah) pada zaman ini? Tidakkah seharusnya ada lebih banyak riset mengenai penyebab utamanya? Itulah pertanyaan pertama saya.''
Sedang pertanyaan yang kedua adalah, jika memang peristiwa historis ini suatu kenyataan, maka publik masih perlu mempertanyakan apakah rakyat Palestina harus menanggungnya atau tidak? Bagaimanapun, peristiwa itu terjadi di Eropa. Bangsa Palestina tidak punya peran di dalamnya. Jadi kenapakah orang-orang Palestina harus terus menanggung akibat peristiwa yang tidak berkaitan dengan mereka?
Dan perihal isu nuklir Iran, Ahamdinejad mengungkapkan negaranya adalah anggota International Atomic Energy Agency (IAEA). Undang-undang IAEA dengan tegas menyatakan bahwa semua negara anggota mempunyai hak atas teknologi bahan bakar nuklir yang damai. Ini adalah pernyataan tegas dan eksplisit yang dibuat di dalam hukum. Dan hukum itu mengatakan tidak ada alasan atau dalih, bahkan pemeriksaan yang dilakukan IAEA sendiri, yang dapat mencegah negara anggota untuk memiliki hak itu.
''Tetapi sayangnya, dua atau tiga kekuatan monopolistik, kekuatan-kekuatan yang egois, ingin memaksakan pendapat mereka pada bangsa Iran sembari mengingkari hak mereka. Saya mau katakan ini pada Anda, di masa lalu, kami memiliki kontrak dengan pemerintah AS, Inggris, Prancis, Jerman, dan Kanada dalam pengembangan nuklir untuk tujuan damai. Lalu, secara sepihak, negara-negara tadi membatalkan kontrak-kontrak mereka dengan kami. Akibatnya, bangsa Iran harus membayar kerugian miliaran dolar,'' tutur dia.
Ahmadinejad menambahkan, ''Untuk apa kami perlu bahan bakar dari kalian? Kalian bahkan tidak memberikan suku cadang yang kami perlukan untuk maskapai penerbangan sipil selama 28 tahun, atas nama embargo dan sanksi-sanksi lain, karena kami menentang, hak asasi manusia atau kebebasan? Dengan dalih itu pula, kalian menolak hak kami atas teknologi? Padahal, apa yang kami inginkan ialah hak untuk menentukan nasib sendiri di masa depan. Kami ingin independen. Jangan mencampuri urusan kami. Jika kalian tidak memberikan kepada kami suku cadang pesawat terbang sipil, mengapa kami harus berharap kalian akan memberikan kepada kami bahan bakar untuk pengembangan nuklir demi tujuan damai?''
|
| |