Blog EntryMayoritasNov 22, '06 2:40 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Kata ‘mayoritas’ adalah suatu masalah besar bagi kehidupan modern, terutama karena ajaran demokrasi sudah dipertuhankan melebihi Tuhan itu sendiri.  Saya ingat bagaimana Akbar Tandjung dicerca oleh banyak orang (termasuk saya) ketika dalam sebuah diskusi politik menjelang Pemilu 1999 di GWW IPB ia berucap, “Suara rakyat adalah suara Tuhan.”  Atas nama mayoritas, manusia bisa saja merasa berhak mendikte Tuhan.

Saya juga ingat sebuah retorika yang diutarakan oleh Emha Ainun Najib yang kira-kira seperti begini, “Kita sering mendengar istilah ‘hak asasi manusia’ dan menuntut agar hak tersebut ditunaikan.  Sayangnya, kita jarang sekali menunaikan hak-hak Tuhan.”  Saya tidak selalu setuju dengan pendapat dan penafsiran Cak Nun, tapi saya setuju dengan kalimat tersebut, setidaknya dengan penafsiran saya sendiri.  Kalau hak-hak manusia saja sedemikian ngototnya kita perjuangkan, mengapa kita jarang bersikeras menunaikan hak-hak Allah?

Ada pula sharing pengalaman dari almarhum Ustadz Rahmat Abdullah (semoga Allah merahmati beliau).  Setelah pemilu 2004, untuk pertama kalinya beliau ‘mencicipi’ rasanya jadi anggota DPR, meskipun sudah berkali-kali beliau memohon agar jangan diberikan beban tanggung jawab seberat itu.  Pada suatu hari, ketika rapat sedang berlangsung, waktu shalat pun tiba.  Dengan sigap sang ustadz pun meminta agar rapat diberi waktu istirahat barang sebentar agar para anggota DPR yang Muslim dapat menunaikan ibadah shalat.  Dalam perjalanan menuju tempat shalat, beliau didekati oleh seorang rekan anggota DPR dari fraksi partai lain dan diberi ucapan selamat.  Mengapa?  Karena telah berani meminta waktu untuk shalat di tengah-tengah rapat.

Hal ini tentu sangat mengejutkan, karena yang memberi selamat itu adalah seorang ‘Kiai’ dari sebuah partai Islam lainnya.  Rupa-rupanya, selama ini, jika rapat DPR melewati waktu shalat, anggota DPR yang beragama Islam seringkali ‘malu-malu’ untuk minta waktu.  Karena selama ini tidak ada yang protes, maka mereka yang ingin shalat pun merasa dirinya minoritas, kecil, tidak punya suara, tidak punya hak, dan tidak bernyali untuk mengemukakan keinginannya.

Saya sudah seringkali mengemukakan fakta bahwa ‘banyak’ tidak ekivalen dengan ‘benar’.  Andaikata seluruh negeri doyan mabuk, tetap saja faktanya tidak akan berubah.  Mabuk tetaplah perbuatan yang merugikan, dan peradaban manusia tidak akan pernah diuntungkan dengan mabuk.  Demikian pula jika seluruh manusia berkomplot untuk menyembah berhala, tetap saja otoritas Allah SWT tidak akan berubah.  Keputusan Allah tidak akan berubah meski kebanyakan manusia ciptaan-Nya memilih jalan menuju neraka, dan bukan ke surga-Nya.  Kebenaran tidak akan berubah hanya karena lebih banyak orang yang menyukai kesesatan.  Seorang Muslim yang masih mampu berpikir logis tidak akan menggunakan jumlah pendukung sebagai legitimasi suatu tindakan.

Masalahnya lagi, kata ‘mayoritas’ itu sendiri seringkali digunakan dengan cara yang sangat tidak bertanggung jawab.  Jika George W. Bush dua kali menjabat kursi kepresidenan, apakah itu berarti mayoritas warga AS menyukai dia?  Ini adalah sebuah kesimpulan yang sangat terburu-buru!

Faktanya, golput di Indonesia jumlahnya cukup besar, apalagi di Amerika Serikat!  Sebenarnya warga AS sudah banyak yang apatis dengan urusan politik dan memutuskan untuk tidak mencoblos di Pemilu seumur hidup.  Dari sekian jumlah warga AS yang mau mencoblos itu, George W. Bush menang (anggaplah kemenangannya itu sah dan tidak dilatarbelakangi kelicikan).  Tapi apakah semua yang memilih Bush bisa dianggap 100% loyal dan mendukung Bush all the way?  Ini pun sebuah keputusan yang sangat terburu-buru!

Mari mengingat kembali masa ketika Gus Dur naik ke kursi kepresidenan RI.  Saat itu, lawannya hanyalah Megawati Soekarnoputri.  Maka, yang memilih Gus Dur bukan hanya golongan loyalis Gus Dur, melainkan juga orang-orang yang juga tidak suka padanya, namun lebih tidak suka lagi pada Mega.  Bukankah ini sebuah jawaban yang komprehensif?

Dalam politik memang tidak semua kondisi ideal bisa terpenuhi.  Dalam Pemilu 2004 yang lalu, PKS memilih Amien Rais karena pertimbangan-pertimbangan tertentu.  Banyak suara dari intern PKS yang mengusulkan agar Hidayat Nur Wahid dimajukan saja sebagai Capres.  Tapi, tentu saja, tujuan akhirnya bukanlah kemenangan, jika kemenangan itu hanya memecah belah umat.  Karena itu, dukungan dialihkan kepada Amien Rais.  Setelah jagonya kalah di putaran pertama, ijtihad pun kembali dilakukan.  Maka dibuatlah sebuah keputusan yang mempertimbangkan berbagai manfaat dan mudharat-nya, lalu dukungan PKS pun dihibahkan kepada SBY.

Tapi salah besar kalau dianggap bahwa PKS, para kader dan simpatisannya adalah pendukung loyal SBY.  Semua ini hanyalah ijtihad politik.  Jika tidak bisa mencapai posisi ideal, setidaknya kita bergerak mendekati posisi tersebut.  Menurut sunnatullaah, semua peningkatan harus dilakukan secara gradual.  Tidaklah bijak jika kita memaksakan perubahan radikal kepada masyarakat.

Karena itu, jika sekarang SBY duduk di kursi RI-1, maka kita tidak boleh beranggapan bahwa ia mendapatkan dukungan dari mayoritas rakyat Indonesia.  Demikian pula George W. Bush bukanlah representasi dari mayoritas rakyat AS.  Yang lebih parahnya lagi bila kita mengadakan jajak pendapat dengan ruang lingkup yang sangat terbatas, lalu kita membuat kesimpulan ‘mayoritas warga Indonesia begini dan begitu’.  Untuk bicara mengenai mayoritas diperlukan penelaahan yang mendalam dan komprehensif.  Sayangnya, jaman sekarang banyak sekali orang yang memanfaatkan istilah ‘mayoritas’ tanpa paham betul maknanya.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
benwal wrote on Nov 22, '06
di atas mayoritas masih ada "letkolitas" sama "kolonelitas" di bawahnya ada "kaptenitas" hehehe...
jonru wrote on Nov 22, '06
Saya setuju dengan pendapat "suara rakyat adalah suara Tuhan"

ini terbukti pada kasus pemilihan presiden. Siapa yang memperoleh suara terbanyak, maka dia yang jadi presiden. Maka, itu adalah "suara" Tuhan juga, sebab memang Tuhan menghendaki orang tsb yang jadi presiden

btw... belum cuti juga Son?
hihihi....
omhanif wrote on Nov 22, '06
kalo dalam satu rapat, emang biasanya yang lebih didenger bukan mayoritas dalam jumlah.
tapi seringnya yang suaranya kenceng yang lebih didenger.
karamullahw wrote on Nov 22, '06
"Masalahnya lagi, kata ‘mayoritas’ itu sendiri seringkali digunakan dengan cara yang sangat tidak bertanggung jawab. Jika George W. Bush dua kali menjabat kursi kepresidenan, apakah itu berarti mayoritas warga AS menyukai dia? Ini adalah sebuah kesimpulan yang sangat terburu-buru!"

om, di pemilu yang pertama dengan algore, george bush kalah populer (kalah bila one man one vote), tetapi dia menang secara distrik, karena diamerika memilih presiden bukan sistem one man one vote, tetapi ada perwakilan distrik nya, ya yang terpilih adalah dia
akmal wrote on Nov 22, '06
"Masalahnya lagi, kata ‘mayoritas’ itu sendiri seringkali digunakan dengan cara yang sangat tidak bertanggung jawab. Jika George W. Bush dua kali menjabat kursi kepresidenan, apakah itu berarti mayoritas warga AS menyukai dia? Ini adalah sebuah kesimpulan yang sangat terburu-buru!"

om, di pemilu yang pertama dengan algore, george bush kalah populer (kalah bila one man one vote), tetapi dia menang secara distrik, karena diamerika memilih presiden bukan sistem one man one vote, tetapi ada perwakilan distrik nya, ya yang terpilih adalah dia
nah apalagi kalo kayak gini toh...? :p
ianaja wrote on Nov 22, '06
kalo one cat one vote?

*yg ini bener2 gak nyambung. maklum, abis dibilang MP palsu ama seseorang*
izziaryy wrote on Nov 22, '06
:)
kok belom cuti nikah kang??
akmal wrote on Nov 22, '06
benwal said
di atas mayoritas masih ada "letkolitas" sama "kolonelitas" di bawahnya ada "kaptenitas" hehehe...
kopralitas mah ke laut aja ya... :D
akmal wrote on Nov 22, '06
jonru said
Saya setuju dengan pendapat "suara rakyat adalah suara Tuhan"

ini terbukti pada kasus pemilihan presiden. Siapa yang memperoleh suara terbanyak, maka dia yang jadi presiden. Maka, itu adalah "suara" Tuhan juga, sebab memang Tuhan menghendaki orang tsb yang jadi presiden

btw... belum cuti juga Son?
hihihi....
kadang2 gak juga tuh bos... buktinya rakyat protes dgn penyambutan yg berlebihan thd om Bush, tapi toh minoritas yg duduk di kursi kekuasaanlah yg menentukan... :)
akmal wrote on Nov 22, '06
ianaja said
kalo one cat one vote?

*yg ini bener2 gak nyambung. maklum, abis dibilang MP palsu ama seseorang*
sabar aja deh... dia emang terbiasa mencela org lain yg gak sependapat dgn dirinya... maklum terbiasa dipuja-puja oleh orang banyak (liat aja backgroundnya), jadi gak siap menghadapi kenyataan... :D
akmal wrote on Nov 22, '06
:)
kok belom cuti nikah kang??
lagi ngajarin anak buah utk ngerjain tugas2 saya pas cuti nanti nih... :D
ianaja wrote on Nov 22, '06
jangan buru2 cuti, nanti MP sepi. iya kan, udadamdamdudidam?
akmal wrote on Nov 22, '06
ianaja said
jangan buru2 cuti, nanti MP sepi. iya kan, udadamdamdudidam?
iya sih, ntar saya cuti pada kangen lagi... :D
ianaja wrote on Nov 22, '06
akmal said
iya sih, ntar saya cuti pada kangen lagi... :D
wah, jadi ge er, deh...
peaceman wrote on Jan 5, '07
wah dari mayoritas ke nikah-itas ni ...
abudaniel wrote on Apr 3, '07
Assalamu'alaikum,
Ada hal yang agak aneh dalam pengertian serta pelaksanaan "suara mayoritas" atau "demokrasi" dalam kehidupan berbangsa-bangsa didunia.
Penerapan terhadap satu kelompok tidak sama dengan kelompok lain. Pelaksanaan terhadap satu kelompok akan jauh beda dengan kelompok lain.
Contohnya, dalam penerapan resolusi PBB. Pelaksanaan suatu resolusi terhadap Israel akan jauh beda dengan yang dilaksanakan atas Iran atau Palestina. Walaupun keputusan mengeluarkan resolusi terjadi karena disetujui oleh suara mayoritas anggota PBB. Tanya kenapa?.
Suatu keputusan yang telah disetujui, katakanlah, oleh seluruh anggota PBB kecuali Amrik atau Inggris, akan tidak bisa dikeluarkan atau dianulir, akibat veto oleh kedua atau satu dari negara ini. Demokrasinya mana?. Bahkan kadang-kadang kita lihat ada resolusi yang ditentang oleh hampir separoh anggota PBB bisa diterbitkan karena didukung oleh 5 (mungin sekarang 6) anggota tetap dewan keamanan PBB. Sekali lagi demokrasinya mana?. Jadi, kesimpulannya, bagi dunia Islam yang namanya demokrasi dan suara mayoritas itu tidak berlaku. Contoh paling nyata adalah kemenangan Hammas. Walaupun dipilih oleh mayoritas, tetap tidak bisa memerintah.
Jadi, kalau umat Islam mau bersatu, sekali lagi "kalau mau bersatu", lebih baik mereka semua keluar dari PBB yang sekarang dan mendirikan PBB Islam.
Mereka bisa mengurus diri sendiri, bisa menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh umat dan Negara Islam. Mereka tidak akan bisa didikte oleh Barat. Karena Barat masih bergantung pada sumber daya alam, yang alhamdulillah hampir 70% berada di Negara-negara Islam. Kita masih ingat ditahun 1974 (kalau tidak salah), terjadi embargo minyak oleh Raja Faisal, bagaimana merananya dunia Barat, terutama Amerika.
Jangan terlalu percaya dengan demokrasi atau suara mayoritas, karena ini adalah buatan dan pemikiran Barat/Zionis, yang mereka sendiri juga tidak konsisten melaloninya.
Wassalam,
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help