assalaamu’alaikum wr. wb.
The Night Before
Adwin datang ke rumah dengan Ummi dan Abinya. Setelah pagar dibuka, ia langsung berlari dan
melepas sepatunya di teras. Setelah
menyalami neneknya dan saya, ia bertanya dengan polos : “Pa Ucu, Tante Ami
mana?”
Saya tersenyum dan menjawab, “Insya Allah mulai besok
Tante Ami tinggal di sini yah…”
The Dawn
Meskipun sebelumnya saya tidak terlalu pusing memikirkan
soal pernikahan, dan juga tidak terbebani karenanya, pagi itu saya gugup
juga. Saya terbangun jam tiga pagi dan
tidak ada selera untuk tidur sama sekali setelah itu. Saya sadar sepenuhnya bahwa sekitar enam jam
lagi saya akan membuat sebuah perjanjian yang kokoh yang disebut di dalam
Al-Qur’an sebagai mitsaaqan ghaliizhaa.
Saya sudah cukup mendengar istilah ini dari buku-bukunya
Fauzil Adhim. Hanya saja, beberapa hari
sebelumnya saya telah melakukan penelitian kecil-kecilan. Dengan software Al-Qur’an digital yang
saya miliki, saya bisa menemukan tiga ayat yang menggunakan istilah “mitsaaqan
ghaliizhaa”.
Di Q.S. An-Nisaa’ [4] : 154, istilah ini digunakan ketika
Allah membuat perjanjian dengan Bani Israil yang kebanyakan berakhlaq
superbrengsek. Tidak tanggung-tanggung,
saking seringnya mereka melanggar janji, maka Allah merasa perlu mengangkat
bukit Thursina di atas kepala mereka.
Kelanjutannya, tentu saja, perjanjian sekokoh itu pun dilanggar sesuka
hati oleh sebagian besar kaum Bani Israil.
Di Q.S. Al-Ahzaab [33] : 7, istilah ini digunakan untuk
perjanjian yang diadakan antara Allah dengan para Nabi. Tentu saja perjanjian ini teramat dahsyat,
karena terjadi antara Allah dan para utusan-Nya yang mulia. Tak ada satu pun di antara mereka yang
mangkir dari tugas, dan kisah mereka akan selamanya hidup sebagai teladan bagi
setiap Muslim hingga akhir jaman.
Istilah “mitsaaqan ghaliizhaa” digunakan pula di
Q.S. An-Nisaa’ [4] : 21 untuk menggambarkan perjanjian antara seorang lelaki
dan perempuan yang diikat oleh sebuah pernikahan. Ini pun disebut sebagai ‘perjanjian yang
kokoh’.
Hal pertama yang mencolok adalah kedahsyatan level
pernikahan itu sendiri, sampai-sampai Al-Qur’an menggunakan istilah yang sama
dengan istilah yang digunakan untuk perjanjian antara Allah dengan Bani Israil
dan para Nabi. Hikmah ini mudah sekali
dibaca. Tapi ada satu hal lagi yang
sangat mengganggu pikiran saya.
Masalahnya, di sini terlihat dua ekstrem dan satu yang masih tanda
tanya. Bani Israil sudah jelas melanggar
‘perjanjian yang kokoh’ itu, sedangkan para Nabi jelas-jelas sukses besar dalam
menjalankan amanatnya. Maka seorang
lelaki yang mengikat janji dalam sebuah akad nikah berada di antara dua ekstrem
tersebut. Apakah dia akan berhasil
seperti para Nabi, atau tenggelam dalam kesesatan seperti Bani Israil?
Saya rasa seperti itulah perasaan saya pagi itu. Bagaikan bukit Thursina melayang di atas
kepala, dan bagaikan para Nabi berdiri mengelilingi saya sebagai saksi. Mau masuk barisan manusia yang mulia bersama
para Nabi, atau masuk dalam jamaah syetan bersama sebagian besar Bani
Israil? Itulah tantangan yang ada di
depan mata. Less than six hours from
now!
The Preparation
Saya bersyukur menjadi pengantin pria, karena riasannya
lebih sedikit, pakaiannya pun lebih ringkas.
Saya juga bersyukur kami dulu secara bulat memilih pakaian Muslim,
karena teramat sangat sederhana.
Kesederhanaan memang bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran
Islam. Saya rasa konyol sekali
berumit-rumit dalam hal-hal yang tidak diwajibkan sama sekali oleh syariat,
sedangkan yang mesti diperhatikan malah diabaikan begitu saja.
Eh, Om Wiku datang!
The ‘Ijab Qabul
Ini adalah urusan dua orang lelaki! Lamaran sudah diterima sejak lama, sekarang
tinggal mengesahkannya saja. Tangan
sudah saling menggenggam, mata sudah saling bertatapan. Saya jadi ingat seorang panglima Muslim yang
mendarat di daerah musuh dan membakar kapal-kapalnya agar tidak seorang pun di
antara prajuritnya yang berpikir untuk mundur.
Seperti begitulah. Maju terus!
Tiba-tiba seorang pria bertubuh ramping dengan memberikan
senyum dari kejauhan. Perlu kira-kira
setengah menit lamanya untuk menyadari bahwa lelaki ganteng yang satu itu
adalah Mas Upi. Aha! Ada
gula ada semut, ada Mas Upi pasti ada Mbak Ira!
Entah karena kepandaiannya berkamuflase atau karena tamu
yang cukup banyak, mata saya perlu waktu beberapa menit untuk menemukan Mbak
Ira. Benar dugaan saya. Rupanya dia sibuk mencari angle yang
tepat. Mbak Ira dan kameranya yang tak
terpisahkan. Seperti biasa, sesekali ia
juga menyempatkan diri memotret suaminya diam-diam.
Nah, yang satu lagi itu siapa ya? Oooh ternyata Fetry sudah tiba!
The Walimah
Setelah dirias ulang dengan pakaian baru yang berwarna
kuning emas nan meriah, tepat pukul sebelas siang saya kembali digelandang ke
ruang resepsi. Rupanya pada saat itu
sudah banyak tamu yang datang, sehingga acara bisa langsung dimulai. Kami pun berjalan sampai di pintu masuk, lalu
berjalan perlahan menuju pelaminan.
Sangat perlahan.
Wajah pertama yang terlihat adalah teman-teman dari
HI-ITB. Saya terharu bukan main melihat
Agus, Kang Ferry, Bu Siti, Hera dan Dina datang jauh-jauh dari Bandung hanya untuk menghadiri acara
ini. Naik bus pula! Kalau mereka naik bus AC, maka untuk
pulang-pergi saja mereka sudah harus keluar uang lebih dari tujuh puluh ribu
rupiah. Thanks, guys…!
Berikutnya terlihat ustadz kebanggaan Multiply nan ganteng
itu. Siapa lagi kalau bukan Ustadz
Cepi!!! Di sebelahnya ada sahabat
karibnya yang tak tergantikan, yaitu Bobby alias Bibo.
Dari sebelah kanan, tiba-tiba saja muncul Afnan dengan
senyumnya yang lebar. Ketika saya
menyapanya, “Hei Afnaaan!” dia cuma tertawa terkekeh-kekeh saja. Ada Afnan tentu saja ada Bunda. Ternyata Hilwa juga diajak. Tidak jauh dari Bunda ada banyak MP-ers yang
lain, hanya saja waktu itu saya belum yakin siapa-siapanya. Lagipula, saya tidak punya waktu untuk
berhenti dan berbincang-bincang.
The Hand Shakes
Hal paling melelahkan sebagai pengantin di atas pelaminan
(menurut saya) bukanlah posisi berdirinya, melainkan otot pipi yang dipaksa
tersenyum terus. Sebenarnya sama sekali
tidak terpaksa, karena saya memang senang sekali hari itu. Teman-teman saya banyak sekali yang
datang. Teman SMA, teman kuliah, teman
Multiply, dari seluruh penjuru dunia, deh!
Jadi saya tidak mungkin mencegah senyum.
Tapi lama-lama capek juga.
Baru saat bersalaman itulah saya mengenali saudara-saudara
saya yang tergabung di Club Anak Bunda (CAB).
Dengan pede-nya, saya memperkenalkan akhwat yang paling depan
kepada istri saya, “Nih, yang ini namanya Ian.
Dia editor terkenal, lho!” Apa
dinyana, ternyata saya salah! Setelah
dia memutar badannya ke angle yang tepat, baru saya sadar bahwa dia
bukan Ian, melainkan Indah!
Ian terkekeh-kekeh di belakang, sepertinya senang telah
berhasil menipu saya (atau barangkali sebelumnya telah berhasil memperdaya
banyak orang dengan kemiripan ini). Wah,
kok mirip sekali??? Yang mana yang clone?
Lalu ada Teh Euis yang lagi-lagi saya tidak
mengenalinya. Inilah masalahnya kalau
mengenali orang lain hanya dari satu-dua foto saja. Manusia itu 3-D, tidak mungkin
direpresentasikan dengan beberapa foto saja.
Akibatnya kalau angle-nya tidak tepat, susah mengenali mereka.
Ada Mbak Kosi juga, yang beberapa hari sebelumnya meminta
maaf karena tidak bisa hadir disebabkan ada acara yang sangat penting. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata
terjadi salah info, jadi Mbak Kosi akhirnya memutuskan untuk menyusul ke Bogor saja, mumpung belum
terlambat. Tentu tidak masalah buat Mbak
Kosi yang jago ngebut dengan motornya yang legendaris itu.
Ada
pula dua orang lelaki misterius. Yang
satu ternyata adalah Aribowo yang jarang sekali difoto dengan pose yang
‘normal’, dan yang satu lagi adalah Hasyim, jagoan dari Bekasi. Aribowo lebih banyak ketawa-ketiwi saja
melihat penderitaan saya yang tidak bisa bergerak banyak lantaran kostum
walimah yang ribet itu. Adapun
Hasyim justru cenderung pendiam dan lebih sering mondar-mandir bersama Bos Cepi
dan Bibo. Lain sekali dengan Hasyim yang
sering memulai ‘pertempuran jarak jauh’ di YM atau Multiply dengan saingannya
di Surabaya,
yaitu Kris. Kepribadian ganda? Hmmm…
Ada satu lagi MP-ers yang harus disebutkan namanya
di sini, yaitu Mbak Wahyu. Berhubung dia
juga tinggal di Bogor,
jadi jauh-jauh hari sudah saya wajibkan untuk datang ke acara ini. Untunglah dia tidak cukup nekad untuk tidak
datang.
Masih banyak tamu lain yang membuat hati saya
berbunga-bunga. Ada
rombongan pegawai dari kantor Rekon, ada Pak Judi dari Siemens National, ada
pula teman-teman yang datang jauh-jauh dari Bandung
dan Jakarta. Jangan ditanya keluarga besar saya. Datang semua!
Wah rameeeee…..!!!
The Aftershow Party
Kami tiba di rumah dalam kondisi kelelahan sekitar jam
tiga sore. Nyaris tidak ada yang bisa
diperbuat selain istirahat, berganti pakaian, dan bersih-bersih. Selepas Maghrib, perut masih terasa
kenyang. Karena itu, kami memutuskan
untuk membuka kado saja.
Beberapa undangan memberi kado seperangkat gelas atau
cangkir. Ada juga yang memberi blender dan toaster. Ada
yang memberi handuk, ada juga yang menghadiahi saya dengan buku. Tapi ada satu kotak besar yang berat bukan
main. Entah apa isinya. Save the best for last, itulah
prinsipku!
Ternyata memang yang satu itu memang the best
punya! Saya mendapat 12 jilid tafsir
Al-Qur’an Fii Zhilaalil Qur’aan karya Sayyid Quthb! Uedaaaaaan….!!! Mantaaaabsss…!!! Kado itu berasal dari saudara-saudara di
CAB. Kelihatannya tulisan saya tentang
obsesi membuat perpustakaan pribadi tempo hari memberikan inspirasi pada
mereka. Inspirasi yang sangat
bagus! This is the best gift I’ve
ever received!
Makasih ya semuanya… Saya bersyukur punya teman-teman seperti
kalian.
wassalaamu’alaikum wr. wb.