assalaamu’alaikum wr. wb.
Kata orang, menikah itu ekivalen dengan menggenapkan
separuh diin. Sudah barang tentu
yang dimaksud bukanlah kesempurnaan dari diin itu sendiri, karena tidak
ada manusia yang tidak pernah berbuat salah.
Kenyataannya memang tidak pernah ada manusia yang mampu menunaikan semua
ajaran Islam secara sempurna setiap saatnya.
Bahkan Rasulullah saw. yang disebut sebagai Al-Qur’an berjalan pun
pernah berbuat khilaf.
Lantas apa maksudnya menggenapkan separuh diin? Sampai detik ini saya tidak tahu pasti
bagaimana maknanya, tapi pikiran saya sedikit terbuka setelah 24 jam pertama
menjadi seorang suami.
Menurut salah seorang paman saya, dalam pernikahan itu
banyak hak yang harus ditunaikan, dan banyak kewajiban yang harus
dilakukan. Akan tetapi, jika melihat
dari kehidupan rumah tangga Rasulullah saw., menurut beliau, seringkali yang
terlihat manis justru bukan perkara-perkara yang wajib, melainkan yang
sunnah-sunnah.
Rasulullah saw. pernah kemalaman tiba di rumah. Istrinya tetap tertidur lelap meskipun beliau
mengetuk-ngetuk pintu. Pada posisi ini,
sebenarnya seorang suami berhak untuk mengetuk pintu atau berteriak agak keras
untuk membangunkan istrinya. Tentu tidak
ada yang merasa hal ini tidak wajar. Masak
suami dibiarkan tidur di luar? Tapi
itulah yang terjadi. Rasulullah saw.
benar-benar memilih untuk tidur di luar rumah agar istrinya bisa tidur nyenyak.
Apa reaksi seorang suami ketika bangun di pagi hari dan
tidak menemukan apa pun di rumahnya untuk sarapan? Sebenarnya wajar-wajar saja kalau ia sedikit
kesal atau marah. Tetapi Rasulullah saw.
bukan sembarang lelaki. Dengan entengnya
beliau berkata, “Kalau begitu aku shaum hari ini.”
Apa perlunya meminta ijin istri untuk shalat malam? Tidak ada aturan soal ini dalam syariat, dan
tak pernah ada seorang ulama pun yang mewajibkan seorang suami untuk minta ijin
istri sebelum melaksanakan qiyamul lail.
Tapi, believe it or not, Rasulullah saw. benar-benar
melakukannya. Tidak ada perintah untuk
meminta ijin, tapi beliau melakukannya juga, karena beliau menghargai istrinya.
Bercermin dari sikap uswatun hasanah kita itu, saya
rasa keindahan pernikahan jauh daripada yang dibayangkan orang kebanyakan. Banyak orang yang bilang pada saya, “Enak ya,
sekarang sudah ada yang ngurus!”
Saya tidak setuju. Menurut saya,
menikah itu nikmat bukan karena ada yang mengurus, melainkan karena ada yang
diurus.
Saya rasa pernikahan itu adalah sebuah komitmen untuk
mengurus pasangan kita tanpa perlu terlalu mempermasalahkan ini tugas siapa dan
itu kewajiban siapa. We are commited
to take care of each other.
Sesederhana itu!
Barangkali ada yang berpikir bahwa bangun tidur atau
pulang kerja disambut dengan secangkir teh manis panas adalah salah satu impian
para lelaki. Saya juga dulu berpikir
begitu. Tapi ternyata ada yang lebih
menyenangkan, yaitu membuatkan teh manis panas untuk saya dan istri sebelum dia
sempat memintanya. Apa salahnya?
Saya baru saja menaruh setumpuk pakaian yang baru selesai
disetrika di atas tempat tidur. Saya
ingin menyimpannya di dalam lemari, tapi saya perlu ke WC sebentar. Keluar dari WC, tumpukan pakaian itu sudah
lenyap. Tanpa diminta, istri saya sudah
memasukkannya ke dalam lemari. Padahal
saya tidak merasa ia wajib melakukannya.
Yang manis dari pernikahan adalah bagaimana kita saling
mengurus pasangan kita. Tidak perlu ada
permintaan macam-macam, tidak perlu ada aturan yang kaku soal pembagian
tugas. Hindarilah berpikir secara kaku, just
take care of each other! Sebenarnya
masalah ini tidak sulit untuk dimengerti, namun entah mengapa saya baru
terpikir sekarang.
Saya pikir, hikmah dari istilah “menggenapkan separuh diin”
adalah karena komitmen itu sendiri. Kita
mengurus pasangan kita dengan penuh komitmen, dengan usaha yang semaksimal
mungkin. Tentu saja pelayan di restoran
pun bisa menyuguhkan minuman pada Anda dengan cara-cara yang baik, dengan
senyum yang ramah, dan dengan sikap yang sopan. Akan tetapi, komitmennya pada Anda hanya sebatas kunjungan Anda di restoran
tersebut. Dia bahkan tidak mengenal
Anda, dan bisa jadi ada saat-saat tertentu ketika sikap lemah lembutnya menjadi
sebuah basa-basi belaka.
Tapi pernikahan bukanlah basa-basi.
Seingat saya, ada hadits yang mengatakan bahwa jika ada
seseorang yang mendapat hidayah melalui kita, maka hal itu adalah suatu
keberkahan yang teramat besar bagi kita.
Saya rasa inilah rahasia ‘separuh diin’ tadi. Menyampaikan ceramah di hadapan seribu orang
masih lebih kecil nilainya daripada berkomitmen mendidik, menjaga, mengurus dan
menyelamatkan seorang pasangan hidup kita.
Ceramah 1 jam saja belum tentu bisa menyelamatkan aqidah
seseorang, bahkan bisa jadi tidak berkesan sama sekali. Pernikahan berada pada level yang jauh
berbeda. Pernikahan adalah komitmen
untuk menyelamatkan pasangan, dunia maupun akhirat.
Jika Anda pernah merasakan nikmatnya shalat, maka
barangkali Anda perlu merasakan kelezatan yang lebih dari itu, yaitu mengajak
pasangan untuk shalat berjamaah, berdoa bersama, dan menikmati ‘kebertigaan’
dengan Allah. Jika Anda tahu nikmatnya
membaca Al-Qur’an, saya rasa Anda juga harus tahu nikmatnya tilawah
bersama orang yang paling Anda kehendaki untuk selamat dunia-akhirat.
Komitmen untuk memenuhi kebutuhan pasangan, menyelamatkan
segala urusannya, dan saling mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat. Kalau orang tuanya sudah begini, maka insya
Allah anak-anaknya pun tidak tersesat.
Kalau keluarga sudah menjadi benteng yang kokoh, maka apa yang bisa
dilakukan oleh para pengepungnya?
Menikahlah, dan berkomitmenlah untuk saling menyelamatkan!
wassalaamu’alaikum wr. wb.