assalaamu’alaikum wr. wb.
Bukan keajaiban lagi kalau Ahmad Dhani, frontman
grup band Dewa itu, tiba-tiba menarik perhatian masyarakat dengan
pernyataan-pernyataannya yang kontroversial.
Musisi handal yang satu ini memang sejak dulu terkenal karena
kontroversinya, baik dalam kehidupan bermusiknya atau di luar itu. Persis Gus Dur, salah satu tokoh pujaannya
itu.
Tokoh yang satu ini, selain diakui kehandalannya dalam
bermusik, juga dikenal karena sikapnya yang arogan dan tidak mau peduli dengan
pendapat orang lain. Dia juga tidak
peduli pada orang-orang yang merasa tersinggung melihat performance-nya
di atas panggung yang beralaskan kaligrafi yang jelas-jelas mirip sekali dengan
lafadz “Allah”. Padahal, sekedar minta
maaf secara terbuka saja kemungkinan besar sudah mampu meredam amarah orang
banyak. Tapi, seperti kata sepupu saya,
“Emang ada yang lebih gede daripada egonya Ahmad Dhani?”
Ya, tentu saja, permintaan maaf itu tidak pernah terjadi.
Masalah sikap Dhani yang otoriter itu memang bukan barang
baru. Gonta-ganti personel yang dialami
oleh Dewa (dulu Dewa 19) konon banyak disebabkan oleh ketidakcocokan Dhani
dengan personil lainnya. Salah satu
‘perseteruan’ terbesar yang diisukan pernah terjadi di tubuh Dewa adalah antara
Dhani dan Wong Aksan, salah satu mantan drummernya. Meski demikian, banyak yang berpendapat bahwa
Dhani memang berhak bersikap seperti itu karena dialah konseptor dan pendiri
utama band tersebut.
Kontroversi berikutnya yang terjadi adalah pertengkarannya
dengan sang ayah kandung yang terjadi secara sangat terbuka dan diliput oleh
banyak sekali media. Entah bagaimana,
Eddy Abdul Manaf, ayahanda Ahmad Dhani, merasa yakin bahwa anak pertama dari
istri ketiganya itu telah berpoligami dengan menikahi Mulan Kwok. Atas keyakinannya tersebut, sang ayah secara
frontal menyatakan dirinya tidak merestui tindakan Dhani tersebut. Benar-tidaknya isu poligami tersebut, saya
tidak tahu, dan tidak peduli. Itu urusan
rumah tangga orang lain. Bagi saya, yang
menarik adalah fakta bahwa ayahnya sendiri telah sedemikian kesal padanya
sampai-sampai merasa perlu memanfaatkan jasa infotainment untuk memberitakan
kekesalannya pada sang anak.
Memanfaatkan infotainment agaknya juga sudah menjadi trend
atau pilihan yang dianggap bagus oleh Ahmad Dhani sekeluarga, karena baru-baru
ini pun beredar kabar mengejutkan (yang tentu saja ‘dilahap’ duluan oleh
infotainment) perihal nasib perkawinan Ahmad Dhani dengan istrinya, Maia. Inti masalahnya adalah : Dhani merasa Maia
telah melalaikan kewajibannya sebagai ibu bagi anak-anaknya karena mengutamakan
karirnya sebagai personil Ratu. Oleh
karena itu, Dhani mengultimatum Maia untuk kembali mengurus anak-anak dengan
semestinya, atau Ratu dibubarkan saja.
Hal pertama yang menarik (bagi saya) dari kasus ini adalah
eksploitasi infotainment dan berbagai tabloid untuk penyebaran berita. Bahkan kenyataan bahwa Ahmad Dhani menjadikan
masalah rumah tangganya sendiri sebagai berita yang dikonsumsi masyarakat luas
pun membuat saya terperangah. Apakah
semua ini benar-benar perlu? Tidak
cukupkah berbicara dari hati ke hati antara suami dengan istrinya untuk
mencarikan jalan keluar? Tidak adakah
lagi rasa saling percaya sampai-sampai masyarakat luas dipersilakan menjadi
wasit dan jurinya? Sudah sedemikian
geramkah Dhani sampai-sampai merasa perlu menyatakan kekesalannya itu melalui
media massa?
Hal menarik yang kedua saya temukan ketika membaca liputan
kasus ini di tabloid Nova. Dalam
wawancara, Ahmad Dhani jelas-jelas memproklamirkan arogansinya dengan berkata
“Saya sombong tidak hanya kepada orang se-Indonesia, tapi dengan istri pun saya
bisa sombong.”
Sombong kepada istri?
Saya beri waktu kepada Anda untuk mencerna pernyataan yang aneh bin
ajaib ini. Saya pun perlu waktu sejenak
ketika pertama kali membacanya.
Di halaman berikutnya, berturut-turut Nova menyajikan
hasil wawancara dengan Eddy Abdul Manaf dan Dadang S. Manaf, anak pertama Eddy
dari istri pertamanya. Keduanya mengarah
pada satu kesimpulan : Ahmad Dhani memang sudah arogan sejak dulu. Dan hal ini diakuinya sendiri secara
terang-terangan. Hal ini telah
menjelaskan banyak hal.
Hal menarik ketiga – dan yang paling menarik bagi saya –
adalah ketika Ahmad Dhani menyatakan bahwa dirinya hanya menegakkan supremasi
suami sebagai bagian dari hukum Tuhan.
“Saya tahu apa yang saya lakukan.
Dalam hukum agama, suami berhak apa saja terhadap istrinya.” Di kesempatan lain, ia juga berujar,
“Menegakkan hukum Tuhan, lelaki is the ruler.”
Kedua pernyataan ini jelas tidak memiliki sandaran yang
kokoh dalam agama yang dianutnya (atau diakui memang dianutnya), yaitu
Islam. Mengatakan bahwa suami berhak apa
saja terhadap istrinya adalah pengambilalihan hak-hak Allah. Tidak ada yang berhak atas apa saja di dunia
ini selain Allah. Suami memang punya hak
atas istri, tapi istri pun jelas punya hak atas suaminya. Itulah keseimbangan yang ditawarkan oleh
Islam, bukan absolutisme manusia atas manusia lainnya. Jelas terjadi kesalahpahaman konseptual
besar-besaran dalam cara pandang Dhani terhadap agamanya sendiri.
Saya pribadi setuju pada pendapat yang menyatakan bahwa
seorang perempuan yang sudah menikah seharusnya mengutamakan rumah tangganya di
atas karir atau apa pun. Hanya saja,
saya sangat tergelitik melihat Ahmad Dhani mengeksploitasi hukum Islam dan
memodifikasinya sesuai kepentingannya sendiri di satu pihak, sementara ia
mengabaikan habis-habisan hukum Islam di sisi yang lain.
Apakah sombong itu dibenarkan di dalam Islam? Islam menegaskan bahwa manusia yang ada rasa
sombong dalam hatinya, meski secuil, maka ia takkan bisa mencium wanginya
surga. Darimana pulakah ia mendapatkan
pembenaran atas buruknya ikatan tali silaturahim dengan ayah kandungnya
sendiri? Semuanya ini jelas jauh dari
ajaran Islam.
Saya tidak hendak mengurusi rumah tangga orang lain, tidak
pula memiliki prediksi macam-macam atas kelanjutan rumah tangga Dhani –
Maia. Semua itu adalah urusan mereka
berdua, dan mudah-mudahan Allah memberikan yang terbaik bagi mereka berdua dan
ketiga anaknya. Hanya saja, pemanfaatan
hukum Islam secara sepihak semacam ini tidak boleh dijadikan kebiasaan. Kita tidak boleh memilih-milih dalil mana
yang bisa kita manfaatkan untuk kesenangan pribadi dan menyembunyikan mana yang
tidak kita sukai.
Gejala pemahaman parsial seperti ini terjadi
dimana-mana. Anak-anak disuruh untuk
menghormati orang tua, mencium tangannya, dan sebagainya. Akan tetapi, entah mengapa, hadits-hadits
yang menjelaskan kebiasaan Rasulullah saw. untuk mengucapkan salam duluan
kepada anak-anak jarang sekali diulas, begitu pun dengan sifat sabar beliau kepada
bayi yang mengencingi pakaiannya. Rakyat
disuruh tunduk pada pemerintah, tapi pemerintahnya sendiri tidak mau taubat
dari sifat korupnya. Persis seperti Gus
Dur yang malas sekali bicara dengan dalil-dalil yang benar, namun ketika rakyat
menghendakinya turun dari kursi kepresidenan, tiba-tiba saja beredar larangan
makar terhadap pemerintah yang sah secara syariat, lengkap dengan
dalil-dalilnya!
Berhentilah memanfaatkan ayat-ayat Allah untuk kesenangan
pribadi. Jika hal itu Anda lakukan, Anda
hanya akan jadi bahan tertawaan. Seperti
Ahmad Dhani ini, yang sudah mengikuti jejak Nurcholis Madjid, Gus Dur, JIL,
Ulil Abshar Abdalla, Jalaluddin Rakhmat, dan sejenisnya. Menerima sebagian dari ayat-ayat Allah dan menafikan yang lain, semuanya sudah pernah mereka lakukan. Basi!
wassalaamu’alaikum wr. wb.