Blog EntryManiak Seks yang Anti PoligamiDec 17, '06 9:53 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Polemik soal poligami telah mengantarkan kita pada perdebatan panjang yang seringkali tidak ilmiah lagi, bahkan dibumbui dengan pertikaian-pertikaian yang – entah mengapa – masih disebut sebagai ‘debat intelektual’. Saya pribadi berpendapat memang kebanyakan perdebatan mengenai masalah ini sama sekali tidak berbau intelektual, terutama karena melibatkan begitu banyak praduga yang sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Saya bisa pro bisa pula kontra terhadap poligami. Semua tergantung kasusnya. Jangankan memiliki dua istri, memiliki satu istri pun hukumnya belum tentu halal! Naif sekali jika ada yang berpikir bahwa sunnah yang diperbuat oleh Rasulullah saw. dianjurkan untuk ditiru oleh semua orang secara sekaligus dan serampangan. Semua ada tahapan-tahapannya. Seorang muallaf tidak dituntut untuk melaksanakan qiyamul lail. Sekedar menjaga shalat lima waktu pun sudah bagus. Demikian pula tidak semua Muslim mesti dinikahkan. Muslim dan Muslimah yang ilmu agamanya lemah semestinya kita cegah pernikahannya. Kalau pengetahuannya sudah cukup, barulah boleh menikah. Kalau kita biarkan orang-orang semacam ini menikah, itu sama saja menjerumuskan mereka ke dalam jurang penderitaan dunia-akhirat!

Menikah itu sunnah Rasul. Siapa yang membencinya maka sudah tidak lagi dianggap sebagai bagian dari umat Rasulullah saw. Tapi tidak semua Muslim pantas menikah. Ada persiapan-persiapan tertentu yang harus dipenuhinya sebelum menyatakan diri siap nikah. Dengan logika yang sama, seseorang boleh saja berpendapat bahwa poligami adalah sunnah Rasul juga, karena faktanya memang Rasulullah saw. mempraktekkannya. Akan tetapi, bukan berarti setiap Muslim lantas dianjurkan untuk berpoligami. Mungkin memang ada orang-orang tertentu yang pantas berpoligami, namun saya yakin bahwa yang tidak pantas jauh lebih banyak lagi.

Kini, debat soal poligami selalu mengerucut pada satu sosok : Aa Gym. Sikap saya terhadap kasus ini pun sama ; bisa pro, bisa pula kontra. Semuanya masih tergantung pada bagaimana Aa Gym mengelola rumah tangganya dan membuktikan penilaiannya. Kesimpulan mengenai masalah ini tidak bisa ditarik dalam sehari, melainkan harus melalui observasi yang komprehensif. Sejauh ini, setahu saya, belum ada yang berhasil memaparkan hasil observasinya secara komprehensif. Saya rasa memang tak mungkin melakukannya dalam waktu sesingkat ini.

Oleh karena itu, saya rasa, menyalahkan dan membenarkan tindakan Aa Gym adalah suatu tindakan yang terburu-buru. Kita harus bersikap apa adanya saja. Saya prihatin melihat sebuah artikel di salah satu tabloid berjudul “Di Balik Senyum Teh Ninih”. Ada pula artikel lain yang isinya nyaris sepenuhnya hanya asumsi, seolah-olah mereka mengetahui ada apa di balik hati orang lain. Semuanya hanya prasangka belaka, dan sama sekali tidak layak dijadikan argumen yang intelek. Akan tetapi saya juga harus menyampaikan kritik pada sebagian pihak yang pro dengan poligaminya Aa Gym yang berpendapat bahwa Aa Gym dan kedua istrinya akan masuk surga karena ikhlas mengikuti aturan Allah. Hemat saya, jika poligami ini dijalankan dengan cara atau niat yang salah, maka bukan surga yang didapat, melainkan neraka. Membina satu keluarga saja sudah bisa menyeret seorang lelaki ke neraka, apalagi dua?! Jaminan masuk surga untuk pelaku poligami adalah statement yang prematur. Saya rasa tindakan paling bijak adalah berprasangka baik dan menunggu perkembangan berikutnya. Apakah Aa Gym mampu melaksanakan tugasnya dengan baik? Semuanya akan dijawab dengan waktu.

Salah satu argumen paling menyedihkan yang saya jumpai berasal dari pihak yang sepenuhnya kontra terhadap ide poligami, yaitu menganggap bahwa lelaki hanya melakukan poligami karena nafsu syahwatnya belaka. Pertama, harus dipahami bahwa poligami adalah ‘memiliki pasangan lebih dari satu’. Poligami tidak terbatas pada pernikahan dengan dua pasangan, melainkan juga termasuk perselingkuhan yang kerap dilakukan oleh manusia di seluruh dunia. Anehnya, pembicaraan soal poligami tidak pernah menyentuh isu perselingkuhan. Bagi poligami jenis ini, saya cenderung sepakat bahwa motivasinya memang hanya syahwat belaka.

Akan tetapi, Islam tidak pernah mengajari para pemeluknya untuk menikah karena syahwat belaka. Rasulullah saw. pernah berkata bahwa menikah itu berguna untuk menundukkan pandangan, bukan sekedar memuaskan syahwat. Kalau sekedar memuaskan syahwat, di dunia ini banyak pelacur yang bisa disewa dengan harga tak seberapa! Akan tetapi dengan menikah, manusia diajarkan untuk menggunakan logika : daripada bersama yang tidak keruan di luar sana, lebih baik dengan pasangan yang sah saja.

Kalau memang menikah itu demi syahwat, tentu manusia-manusia semacam Britney Spears atau Christina Aguilera yang rajin obral aurat itu akan dikategorikan sebagai perempuan-perempuan impian! Kenyataannya, saya yakin setiap ulama (kecuali yang liberal, mungkin?) akan mengkategorikan mereka berdua sebagai perempuan yang haram untuk dijadikan istri, selagi mereka belum bertaubat. Rasulullah saw. justru memerintahkan umatnya untuk memilih istri dari perempuan-perempuan yang shalihah. Menutup aurat tentu merupakan bagian dari kriteria shalihah tadi.

Agaknya mereka yang menuduh poligami hanya dilakukan atas dasar syahwat itu memang tidak benar-benar mengenal Islam. Mereka adalah orang-orang yang akalnya telah di-brainwash dengan film-film Hollywood, dan tidak ada hal lain yang mengisi otaknya dalam porsi yang lebih banyak daripada seks. Singkat kata, mereka memang tidak memahami pernikahan selain untuk seks!

Kepada mereka, saya sarankan untuk membaca buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah” karya Cahyadi Takariawan. Di dalam buku berwarna merah jambu ini bisa ditemukan tiga kisah pernikahan ‘ajaib’ yang termaktub dalam bagian Catatan Pembuka.

Kasus pertama adalah Jabir ra., seorang sahabat Rasulullah saw. yang menikahi seorang janda. Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Mengapa (tidak) menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?”. Harap ingat, bahwa meski memberi saran untuk menikahi para gadis, namun kenyataannya nyaris semua istri Rasulullah saw. adalah janda.

Jawaban Jabir ra. adalah sebagai berikut : “Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras. Saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan persoalan tersebut.” Apa reaksi Rasulullah saw.? “Benar katamu!”, jawab Nabi saw.

Rupanya Jabir ra. mampu berpikir lebih jauh dari kebanyakan orang. Ia berpikir dengan akal, bukan dengan alat kelaminnya. Seorang janda yang telah ditempa pengalaman hidup diharapkannya mampu membawa suasana hangat kepada keluarga dengan kebijaksanaannya. Sebaliknya, seorang gadis yang masih kurang pengalaman dikhawatirkan hanya akan menambah kericuhan saja di dalam keluarga yang memang ‘potensial ricuh’. Jabir ra. mengutamakan kemaslahatan banyak orang, dan insya Allah pernikahannya itu memberi berkah baginya.

Kasus kedua adalah ketika Ummu Sulaim menerima lamaran Abu Thalhah. Ketika itu, Abu Thalhah belum memeluk agama Islam. Ummu Sulaim, dengan berbagai pertimbangan, bersedia menerima pinangan tersebut dengan mahar keislaman Abu Thalhah. Apakah nafsu syahwat menjadi pertimbangan di sini? Jawablah sendiri!

Kasus ketiga adalah kasus yang amat dekat dengan kita. Dua orang akhwat menikah dengan dua kepala suku di Wamena, Papua. Pernikahannya ini menimbulkan gelombang dakwah besar-besaran, sehingga Islam tersebar hingga ke suku-suku di pedalaman Papua. Ada pula seorang ikhwan yang menikahi seorang perempuan muallaf yang merupakan anak kepala suku di Wamena, yang menyebabkan efek yang kurang lebih sama positifnya terhadap dakwah.

Apakah Anda berpendapat bahwa pernikahan mereka itu naif? Kenyataannya, Jabir ra. dan Ummu Sulaim ra. berhasil membina rumah tangganya dengan baik. Para kader dakwah di Wamena yang saya ceritakan tadi pun hingga kini – alhamdulillaah – masih menikmati keutuhan rumah tangganya. Anda boleh bilang apa saja, namun kenyataannya seperti demikianlah adanya.

Seorang maniak seks memang sulit memahami motivasi di balik sebuah pernikahan selain seks. Sungguh menyedihkan. Mari mendoakan mereka agar cepat sembuh.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


25 CommentsChronological   Reverse   Threaded
laurakhalida wrote on Dec 17, '06
wah aku save dulu nih, mau pulang
reipras94 wrote on Dec 17, '06
Mari mendoakan mereka agar cepat sembuh.
===================================
biar lebih cepat sembuh...masukkan saja mereka ke ICU Dakwah.......biar pada nyadar......
laxita wrote on Dec 17, '06
intinya mah...itu pilihan hidup masing-masing.
teh ninih milih bersedia dipoligami, ya itu hak beliau
dewi yull memilih cerai, yaa itu juga hak beliau
yang jelas poinnya:.
poligami mubah, bukan wajib
wanita punya pilihan untuk menerima atau menolak dipoligami
so jangan coba coba mengatakan bahwa wanita yang tidak bersedia dipoligami itu dengan cap "TIDAK BERIMAN" atau "TIDAK BAIK" atau "TIDAK SHOLEHAH"
akmal wrote on Dec 17, '06
laxita said
intinya mah...itu pilihan hidup masing-masing.
teh ninih milih bersedia dipoligami, ya itu hak beliau
dewi yull memilih cerai, yaa itu juga hak beliau
yang jelas poinnya:.
poligami mubah, bukan wajib
wanita punya pilihan untuk menerima atau menolak dipoligami
so jangan coba coba mengatakan bahwa wanita yang tidak bersedia dipoligami itu dengan cap "TIDAK BERIMAN" atau "TIDAK BAIK" atau "TIDAK SHOLEHAH"
menurut saya, penolakan istri itu cerminan dari kualitas suaminya... Dewi Yull menolak ya karena dia sadar siapa suaminya, dan barangkali dia memang curiga suaminya mo poligami karena syahwat doank... kalo Teh Ninih memang awalnya kaget dan sedih, tapi karena yakin ama suaminya maka beliau mau dipoligami... ya, selain Allah dan dirinya sendiri, siapa lagi yg lebih kenal suami selain istrinya?? :)

yg jelas saya gak ngasi cap macem2 lho kepada istri yg gak mau dipoligami... (kok kayaknya kalimat terakhir mbak itu kedengarannya seperti lagi marah2 sama saya ya... mudah2an nggak...)

seperti yg saya bilang di artikel di atas, masalah poligami harus dicek per kasus... saya bisa pro bisa pula kontra... tapi observasinya itu harus komprehensif, dan komprehensif itu artinya laaammmmmaaaa..... :D

gampangnya sih, liat aja sikap istrinya... kan istri yg paling tau siapa suaminya... :D
laxita wrote on Dec 17, '06
waduh sorry bung akmal, itu bukan marah marah tapi lebih ke penegasan...peaceee :))
apa alasan teh Ninih atau Dewi Yull wallahualam, hanya mereka yang tau...
toh mereka punya pertimbangan sendiri
saya tidak merasa berkompeten dan perlu untuk mengomentari alasan alasan dibalik keputusan mereka
yang penting jangan bohongi diri sendiri, kebahagiaan itu ada ditangan diri kita sendiri
itu ajah deh....

divarahman wrote on Dec 17, '06
laxita said
waduh sorry bung akmal, itu bukan marah marah tapi lebih ke penegasan...peaceee :))
apa alasan teh Ninih atau Dewi Yull wallahualam, hanya mereka yang tau...
toh mereka punya pertimbangan sendiri
saya tidak merasa berkompeten dan perlu untuk mengomentari alasan alasan dibalik keputusan mereka
yang penting jangan bohongi diri sendiri, kebahagiaan itu ada ditangan diri kita sendiri
itu ajah deh....

setuju!!!
dimyati wrote on Dec 18, '06
mal ktnya td dokter boyke di SCTV bilang klo yg poligami nemurut dia punya libido yg tinggi sehingga memerlukan lg seorang istri....hihi seyem ( ufssssssss itu ah sekilah inpoh :D)

ya pokoknya mah saya sih setuju dan tdk mengingkari dan tdk melarang yg mau poligami klo dianya berfikir mampu siap ya silahkan, istri pertama bener2 hrs disiapkan hrs dididik untuk siap

tp untuk sampe skrng saya msh merinding klo itu terjadi pd diri saya ..mampu ga saya ya huhu (lah hihi jd curhat hihi)
kucingkumeong wrote on Dec 18, '06
akmal, baru nikah kemaren, kok pingin lagi?
namakuide wrote on Dec 18, '06
inget khutbah jumat KH.athian ali kemarin, katanya poligami itu ibarat pintu darurat di pesawat terbang. kalo keadaan aman ketika terbang, terus si penumpang maksa keluar dari pesawat lewat pintu darurat itu, ya dia celaka sendiri. tapi kalo keadaan genting, gawat darurat, cuaca sangat jelek dan pesawat mungkin jatuh, makan pintu darurat itu boleh digunakan :) ... nyambung gak ya dengan tulisan kang akmal :)
akmal wrote on Dec 18, '06
dimyati said
mal ktnya td dokter boyke di SCTV bilang klo yg poligami nemurut dia punya libido yg tinggi sehingga memerlukan lg seorang istri....hihi seyem ( ufssssssss itu ah sekilah inpoh :D)

ya pokoknya mah saya sih setuju dan tdk mengingkari dan tdk melarang yg mau poligami klo dianya berfikir mampu siap ya silahkan, istri pertama bener2 hrs disiapkan hrs dididik untuk siap

tp untuk sampe skrng saya msh merinding klo itu terjadi pd diri saya ..mampu ga saya ya huhu (lah hihi jd curhat hihi)
ya berarti Dr. Boyke belum baca buku "Di Jalan Dakwah Aku Menikah" karya Cahyadi Takariawan, makanya dia mengasosiasikan "nikah" dgn "libido"... :D
akmal wrote on Dec 18, '06
akmal, baru nikah kemaren, kok pingin lagi?
sumpe deh aye kagak kepengen mpok... kekeke :D
akmal wrote on Dec 18, '06
inget khutbah jumat KH.athian ali kemarin, katanya poligami itu ibarat pintu darurat di pesawat terbang. kalo keadaan aman ketika terbang, terus si penumpang maksa keluar dari pesawat lewat pintu darurat itu, ya dia celaka sendiri. tapi kalo keadaan genting, gawat darurat, cuaca sangat jelek dan pesawat mungkin jatuh, makan pintu darurat itu boleh digunakan :) ... nyambung gak ya dengan tulisan kang akmal :)
tergantung definisi 'darurat'nya itu.. sekarang pertanyaan awal dari saya : "Penumpangnya itu siapa? Laki-laki yg hendak poligami atau perempuan yg hendak dijadikan istri kedua? Definisi 'darurat' diukur dari siapa?" selama ini kita mengukur 'darurat' dari pihak lelakinya kan.. bagaimana dgn pihak perempuan yg dijadikan istri kedua? pernah berpikir gak bahwa bisa jadi ada keadaan 'darurat' bagi dirinya? :)
omhanif wrote on Dec 18, '06
akmal said
sumpe deh aye kagak kepengen mpok... kekeke :D
kagak kepengen pa belon kepengen ??
akmal wrote on Dec 18, '06
omhanif said
kagak kepengen pa belon kepengen ??
kan dah saya tulis di artikel di atas sono... satu istri aja kalo gak bisa manage bisa masuk neraka bos... apalagi dua istri... wah resikonya kegedean... buat yg lain aja lah, saya mah cari yg rada realistis ajah... kekeke :D
ehza wrote on Dec 18, '06
Mestinya yang menjadi pokok pembahasan orang-orang adalah substansial poligami bukan personalnya. Karena dijamin nggak akan selesai dan berakhir debat pak kusir.

Mengenai murni nggaknya poligami dari unsur seks emangnya siapa yang bisa menjamin orang yang berediologi monogami bersih dari unsur ini?
akmal wrote on Dec 18, '06
ehza said
Mestinya yang menjadi pokok pembahasan orang-orang adalah substansial poligami bukan personalnya. Karena dijamin nggak akan selesai dan berakhir debat pak kusir.

Mengenai murni nggaknya poligami dari unsur seks emangnya siapa yang bisa menjamin orang yang berediologi monogami bersih dari unsur ini?
kritik yg bagus sekali bos... :)
athimanis wrote on Dec 19, '06
terima kasih atas sharing nya.... athi sependapat juga dengan pak ehza.....untuk pak akmal ditunggu pemikiran lainnya...:)
mywritten wrote on Jan 4, '07
tulisan yang bagus...hatur nuhun...
baru baca yeuh mal:D

keep writing and play basketball yaks
nanti saya ajak maen gundu huehehee*ndak nyambung boow*
akmal wrote on Jan 4, '07
tulisan yang bagus...hatur nuhun...
baru baca yeuh mal:D

keep writing and play basketball yaks
nanti saya ajak maen gundu huehehee*ndak nyambung boow*
wah ketinggalan banget nih pak bos... :p
onetea wrote on Jan 5, '07
tulisannya bagus banget....
akmal wrote on Jan 5, '07
onetea said
tulisannya bagus banget....
ah masak siiiih... :p
peaceman wrote on Jan 25, '07, edited on Jan 25, '07
iya Mal ... swearrr deh ... bagus s s s s s s ... s ... banget ...
ga boong lho bos ...!
`:,-}
akmal wrote on Jan 25, '07
iya Mal ... swearrr deh ... bagus s s s s s s ... s ... banget ...
ga boong lho bos ...!
`:,-}
halah halah pak bos ini... :D
srisusanti wrote on Oct 23, '07
akmal said
Kasus pertama adalah Jabir ra., seorang sahabat Rasulullah saw. yang menikahi seorang janda. Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Mengapa (tidak) menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?”.
Biasanya dalil yang diambil tentang kriteria wanita yang layak dinikahi cuma bagian yang ini ya, padahal masih ada lanjutannya....;D
Thanks kang Akmal buat bagi2 ilmunya...
ekakurnia wrote on Oct 24, '07
Terkadang yang tadinya menentang Poligami tak tahunya melakukan poligami terselubung seperti yang dilakukan orang2 pluralis atau liberal seperti Gus Dur dengan Aryantinya dan Garin Nugroho yang menikah lagi.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help