assalaamu’alaikum wr. wb.
Polemik soal poligami telah mengantarkan kita pada
perdebatan panjang yang seringkali tidak ilmiah lagi, bahkan dibumbui dengan
pertikaian-pertikaian yang – entah mengapa – masih disebut sebagai ‘debat
intelektual’. Saya pribadi berpendapat
memang kebanyakan perdebatan mengenai masalah ini sama sekali tidak berbau
intelektual, terutama karena melibatkan begitu banyak praduga yang sama sekali
tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Saya bisa pro bisa pula kontra terhadap poligami. Semua tergantung kasusnya. Jangankan memiliki dua istri, memiliki satu
istri pun hukumnya belum tentu halal!
Naif sekali jika ada yang berpikir bahwa sunnah yang diperbuat oleh
Rasulullah saw. dianjurkan untuk ditiru oleh semua orang secara sekaligus dan
serampangan. Semua ada
tahapan-tahapannya. Seorang muallaf
tidak dituntut untuk melaksanakan qiyamul lail. Sekedar menjaga shalat lima waktu pun sudah
bagus. Demikian pula tidak semua Muslim
mesti dinikahkan. Muslim dan Muslimah
yang ilmu agamanya lemah semestinya kita cegah pernikahannya. Kalau pengetahuannya sudah cukup, barulah
boleh menikah. Kalau kita biarkan
orang-orang semacam ini menikah, itu sama saja menjerumuskan mereka ke dalam
jurang penderitaan dunia-akhirat!
Menikah itu sunnah Rasul. Siapa yang membencinya maka sudah tidak lagi
dianggap sebagai bagian dari umat Rasulullah saw. Tapi tidak semua Muslim pantas menikah. Ada persiapan-persiapan tertentu yang harus
dipenuhinya sebelum menyatakan diri siap nikah.
Dengan logika yang sama, seseorang boleh saja berpendapat bahwa poligami
adalah sunnah Rasul juga, karena faktanya memang Rasulullah saw.
mempraktekkannya. Akan tetapi, bukan
berarti setiap Muslim lantas dianjurkan untuk berpoligami. Mungkin memang ada orang-orang tertentu yang
pantas berpoligami, namun saya yakin bahwa yang tidak pantas jauh lebih banyak
lagi.
Kini, debat soal poligami selalu mengerucut pada satu
sosok : Aa Gym. Sikap saya terhadap
kasus ini pun sama ; bisa pro, bisa pula kontra.
Semuanya masih tergantung pada bagaimana Aa Gym mengelola rumah
tangganya dan membuktikan penilaiannya.
Kesimpulan mengenai masalah ini tidak bisa ditarik dalam sehari,
melainkan harus melalui observasi yang komprehensif. Sejauh ini, setahu saya, belum ada yang
berhasil memaparkan hasil observasinya secara komprehensif. Saya rasa memang tak mungkin melakukannya
dalam waktu sesingkat ini.
Oleh karena itu, saya rasa, menyalahkan dan membenarkan
tindakan Aa Gym adalah suatu tindakan yang terburu-buru. Kita harus bersikap apa adanya saja. Saya prihatin melihat sebuah artikel di salah
satu tabloid berjudul “Di Balik Senyum Teh Ninih”. Ada pula artikel lain yang isinya nyaris
sepenuhnya hanya asumsi, seolah-olah mereka mengetahui ada apa di balik hati
orang lain. Semuanya hanya prasangka
belaka, dan sama sekali tidak layak dijadikan argumen yang intelek. Akan tetapi saya juga harus menyampaikan
kritik pada sebagian pihak yang pro dengan poligaminya Aa Gym yang berpendapat
bahwa Aa Gym dan kedua istrinya akan masuk surga karena ikhlas mengikuti aturan
Allah. Hemat saya, jika poligami ini
dijalankan dengan cara atau niat yang salah, maka bukan surga yang didapat,
melainkan neraka. Membina satu keluarga
saja sudah bisa menyeret seorang lelaki ke neraka, apalagi dua?! Jaminan masuk surga untuk pelaku poligami
adalah statement yang prematur.
Saya rasa tindakan paling bijak adalah berprasangka baik dan menunggu
perkembangan berikutnya. Apakah Aa Gym
mampu melaksanakan tugasnya dengan baik?
Semuanya akan dijawab dengan waktu.
Salah satu argumen paling menyedihkan yang saya jumpai
berasal dari pihak yang sepenuhnya kontra terhadap ide poligami, yaitu
menganggap bahwa lelaki hanya melakukan poligami karena nafsu syahwatnya
belaka. Pertama, harus dipahami bahwa
poligami adalah ‘memiliki pasangan lebih dari satu’. Poligami tidak terbatas pada pernikahan
dengan dua pasangan, melainkan juga termasuk perselingkuhan yang kerap
dilakukan oleh manusia di seluruh dunia.
Anehnya, pembicaraan soal poligami tidak pernah menyentuh isu perselingkuhan. Bagi poligami jenis ini, saya cenderung
sepakat bahwa motivasinya memang hanya syahwat belaka.
Akan tetapi, Islam tidak pernah mengajari para pemeluknya
untuk menikah karena syahwat belaka.
Rasulullah saw. pernah berkata bahwa menikah itu berguna untuk
menundukkan pandangan, bukan sekedar memuaskan syahwat. Kalau sekedar memuaskan syahwat, di dunia ini
banyak pelacur yang bisa disewa dengan harga tak seberapa! Akan tetapi dengan menikah, manusia diajarkan
untuk menggunakan logika : daripada bersama yang tidak keruan di luar sana,
lebih baik dengan pasangan yang sah saja.
Kalau memang menikah itu demi syahwat, tentu
manusia-manusia semacam Britney Spears atau Christina Aguilera yang rajin obral
aurat itu akan dikategorikan sebagai perempuan-perempuan impian! Kenyataannya, saya yakin setiap ulama (kecuali yang liberal, mungkin?) akan mengkategorikan mereka berdua sebagai perempuan yang haram untuk
dijadikan istri, selagi mereka belum bertaubat.
Rasulullah saw. justru memerintahkan umatnya untuk memilih istri dari
perempuan-perempuan yang shalihah.
Menutup aurat tentu merupakan bagian dari kriteria shalihah tadi.
Agaknya mereka yang menuduh poligami hanya dilakukan atas
dasar syahwat itu memang tidak benar-benar mengenal Islam. Mereka adalah orang-orang yang akalnya telah
di-brainwash dengan film-film Hollywood, dan tidak ada hal lain yang
mengisi otaknya dalam porsi yang lebih banyak daripada seks. Singkat kata, mereka memang tidak memahami pernikahan
selain untuk seks!
Kepada mereka, saya sarankan untuk membaca buku “Di Jalan
Dakwah Aku Menikah” karya Cahyadi Takariawan.
Di dalam buku berwarna merah jambu ini bisa ditemukan tiga kisah
pernikahan ‘ajaib’ yang termaktub dalam bagian Catatan Pembuka.
Kasus pertama adalah Jabir ra., seorang sahabat Rasulullah
saw. yang menikahi seorang janda.
Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Mengapa (tidak) menikah dengan
seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?”. Harap ingat, bahwa meski memberi saran untuk
menikahi para gadis, namun kenyataannya nyaris semua istri Rasulullah saw.
adalah janda.
Jawaban Jabir ra. adalah sebagai berikut : “Wahai
Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras. Saya tidak mau membawa yang keras juga kepada
mereka. Janda ini saya harapkan mampu
menyelesaikan persoalan tersebut.” Apa
reaksi Rasulullah saw.? “Benar katamu!”,
jawab Nabi saw.
Rupanya Jabir ra. mampu berpikir lebih jauh dari
kebanyakan orang. Ia berpikir dengan
akal, bukan dengan alat kelaminnya.
Seorang janda yang telah ditempa pengalaman hidup diharapkannya mampu
membawa suasana hangat kepada keluarga dengan kebijaksanaannya. Sebaliknya, seorang gadis yang masih kurang
pengalaman dikhawatirkan hanya akan menambah kericuhan saja di dalam keluarga
yang memang ‘potensial ricuh’. Jabir ra.
mengutamakan kemaslahatan banyak orang, dan insya Allah pernikahannya itu
memberi berkah baginya.
Kasus kedua adalah ketika Ummu Sulaim menerima lamaran Abu
Thalhah. Ketika itu, Abu Thalhah belum
memeluk agama Islam. Ummu Sulaim, dengan
berbagai pertimbangan, bersedia menerima pinangan tersebut dengan mahar
keislaman Abu Thalhah. Apakah nafsu
syahwat menjadi pertimbangan di sini?
Jawablah sendiri!
Kasus ketiga adalah kasus yang amat dekat dengan
kita. Dua orang akhwat menikah
dengan dua kepala suku di Wamena, Papua.
Pernikahannya ini menimbulkan gelombang dakwah besar-besaran, sehingga
Islam tersebar hingga ke suku-suku di pedalaman Papua. Ada pula seorang ikhwan yang menikahi
seorang perempuan muallaf yang merupakan anak kepala suku di Wamena,
yang menyebabkan efek yang kurang lebih sama positifnya terhadap dakwah.
Apakah Anda berpendapat bahwa pernikahan mereka itu
naif? Kenyataannya, Jabir ra. dan Ummu
Sulaim ra. berhasil membina rumah tangganya dengan baik. Para kader dakwah di Wamena yang saya ceritakan
tadi pun hingga kini – alhamdulillaah – masih menikmati keutuhan rumah
tangganya. Anda boleh bilang apa saja,
namun kenyataannya seperti demikianlah adanya.
Seorang maniak seks memang sulit memahami motivasi di
balik sebuah pernikahan selain seks.
Sungguh menyedihkan. Mari mendoakan mereka agar cepat sembuh.
wassalaamu’alaikum wr. wb.