assalaamu’alaikum wr. wb.
“Wah, ada buku baru nih!” kata seorang teman.
“Buku apa?”
“Buku love story antara Rasulullah saw. dan
Khadijah ra.!”
“O ya? Menarik
juga, ya! Sepertinya memang Khadijah ra.
itulah istri Rasulullah saw. yang paling istimewa. Padahal istri-istrinya yang lain pun tidak
ada yang tidak istimewa.”
“Ya, tapi beda level, lah !”
“Beda level bagaimana?”
“Khadijah ra. ‘kan
istri Rasulullah saw. yang setia mendukungnya di saat-saat penuh kesusahan di
masa awal dakwah di Mekkah. Kalau istri-istri
beliau yang lain sih, kasarnya nih, tinggal enaknya aja! Saat beliau menikahi istri-istri yang lain,
beliau ‘kan sudah
menjadi pemimpin besar di Madinah.”
*
* * * * * *
Ya, memang benar.
Saya pribadi belum pernah mendengar ada pernikahan lain yang lebih
produktif daripada pernikahan Rasulullah saw. dengan Khadijah ra. ‘Aisyah memang paling muda, paling pintar,
dan konon, juga paling cantik. Tapi
semua aset dalam dirinya itu masih saja ‘beda level’ dengan Khadijah ra. Itulah sebabnya Rasulullah saw. seringkali
menyebut-nyebut dan memuji-muji nama Khadijah ra., jauh setelah istri
pertamanya itu wafat.
Hal yang paling sering dibahas oleh orang-orang dari kisah
cinta mereka adalah bahwa Rasulullah saw. lebih lama bermonogami daripada
berpoligami. Sama sekali tidak
salah. Hanya saja, ada hal lain yang
bisa digali dari sana. Mengapa dalam masa-masa awal dakwahnya di
Mekkah – yang penuh kesulitan itu – Rasulullah saw. merasa cukup dengan seorang
Khadijah ra. sebagai pendamping hidupnya?
Perlu diingat, bahwa pernikahan ini tidak dimulai dengan
pinangan dari pihak Rasulullah saw., melainkan justru Khadijah ra.-lah yang
menawarkan dirinya melalui perantara.
Lelaki ini begitu tinggi kemuliaan akhlaq-nya hingga seorang
perempuan terhormat yang dimuliakan di Mekkah mau menawarkan diri untuk menjadi
istrinya. Tambahan lagi, perempuan itu
adalah saudagar yang mempercayakan perdagangannya kepada Rasulullah saw. Dengan kata lain, beliau dulunya adalah
‘atasan’ dari sang al-Amin.
Lelaki yang mampu meluluhkan hati perempuan semulia Khadijah ra.
sedemikian rupa, menurut keyakinan saya pribadi, takkan mengalami kesulitan
untuk mendapatkan beberapa perempuan lain yang mau dijadikan istri. Toh, masyarakat jahiliyah pada masa itu sudah
terbiasa dengan poligami yang tanpa aturan.
Kenyataannya, beliau merasa cukup dengan Khadijah ra.
Inilah pernikahan yang paling produktif yang pernah ada di
seluruh dunia! Sesudah Jibril
menampakkan dirinya dan membuat Muhammad saw. lari ketakutan, siapa yang
menyelimuti beliau dengan kehangatan dan menghiburnya dengan ucapan yang tidak
sedikitpun dikotori oleh rasa ragu? Abu
Bakar ra. diberi gelar ash-shiddiq karena selalu membenarkan Rasulullah
saw., namun ia hanyalah back up dari Rasululah saw. yang amat yakin
dengan dakwahnya. Ingatlah bahwa di sisi
Rasulullah saw. ada seorang istri setia yang tidak pernah sedetik pun ragu pada
suaminya, bahkan ketika Rasulullah saw. ragu dengan penglihatannya sendiri. Apakah yang tadi itu benar malaikat, atau syaithan? Khadijah ra.-lah yang memantapkan hati
beliau, padahal ia tidak bersamanya ketika Jibril datang.
Khadijah ra.-lah yang ‘pasang badan’ demi dakwah, ketika
umat Islam masih sangat sedikit dan dikepung oleh kekuatan musyrik dari segala
arah. Semua kekayaan dan kemuliaan yang
sudah dimilikinya benar-benar dibaktikan demi misi suci sang suami. Jika Anda memuji Abu Bakar ra. karena
kesetiaannya, Umar ra. karena keberaniannya, dan Ali ra. karena keperkasaannya,
maka setidaknya janganlah melupakan perempuan mulia yang satu ini.
Ketika Rasulullah saw. dan para pengikutnya diboikot,
adakah Khadijah ra. mengeluh dan mengingat-ingat kejayaannya di masa lalu? Pernahkah keluar satu kata cemooh dari
lidahnya karena menyesali keputusannya untuk menawarkan diri pada salah satu
pedagang yang bekerja untuk dirinya itu?
Demi Allah, sejarah tidak pernah mendengar keburukan semacam itu datang
dari pribadi Khadijah ra.!
Inilah pernikahan yang paling produktif. Dua orang manusia dipersatukan, kemudian
bahu-membahu di jalan dakwah, bukannya larut dalam kebahagiaan berdua. Manusia yang sedang dimabuk cinta memang
merasa dunia milik berdua, namun untuk semua hal ada waktu-waktunya. Rasulullah saw. dan Khadijah ra. telah
memberi contoh kepada kita bagaimana sebuah pernikahan semestinya mempengaruhi
hidup kita.
Sungguh aneh umat ini, karena mengaku meneladani
Rasulullah saw. namun bersikap jauh dari apa yang dicontohkannya. Mereka yang sudah menikah tiba-tiba saja
bersikap seolah-olah waktunya habis.
Tidak ada lagi waktu untuk dakwah, tidak ada lagi waktu untuk mengurusi
teman, tidak ada kesempatan lagi untuk mencermati kebutuhan umat, dan tidak ada
energi lagi untuk bersikap kritis terhadap keadaan.
Seorang teman pernah berkata pada saya : “Lu harus
aktif, mumpung belum nikah!”
Dagelan macam apa lagi ini? Saya menikah untuk meningkatkan
produktifitas! Menikah itu untuk
menggenapkan separuh diin, bukan malah menguranginya. Menikah itu untuk menundukkan pandangan, agar
pikiran kita lebih fokus pada hal-hal yang memang butuh perhatian. Menikah itu untuk memperkuat umat, bukan
justru membuatnya tak berdaya!
wassalaamu’alaikum wr. wb.