assalaamu’alaikum wr. wb.
Alhamdulillaah, Idul Adha kali ini dekat sekali
dengan tahun baru. Saya rasa kita mesti
bersyukur atas fakta ini, karena dengan begini setidaknya umat Islam memiliki
motivasi untuk beramal saleh di awal tahun, bukan sekedar hura-hura seperti
orang bodoh saja. Hura-hura memang masih
ada, tapi masih lumayan, karena amal salehnya pun ada. Paling tidak dengan melaksanakan shalat ‘Ied,
menyambung silaturahim dengan handai taulan (dengan berbagai cara), dan
tentu saja dengan menyembelih hewan-hewan qurban.
Dari perenungan Idul Adha tahun ini, setidaknya ada empat
hal yang menarik perhatian saya. Empat
hal ini barangkali bukan hal yang benar-benar ‘baru’, namun rasanya memang
seringkali luput dari perhatian kita.
Antara “Qurban” dan “Korban”
Kalau ditanyakan makna “qurban”, banyak di antara
umat Islam yang masih salah mengerti.
Dipikirnya, “qurban” itu berarti “menyembelih hewan ternak”. Padahal, meskipun istilah ini memang identik
dengan penyembelihan hewan ternak, namun pengertiannya yang sebenarnya justru
jauh lebih luas lagi.
Istilah “menyembelih hewan ternak” itu lebih cocok untuk
dijadikan terjemahan dari nama lainnya Idul Adha, yaitu “Idun-Nahaar”,
yang artinya adalah “hari penyembelihan”.
Kata “an-nahaar” adalah bentuk lain dari kata terakhir pada ayat
kedua surah Al-Kautsar. Pada ayat
tersebut, umat Islam diperintahkan untuk mendirikan shalat hanya kepada Allah
SWT dan menyembelih hewan kurban, karena Allah telah memberikan rahmat yang
banyak (sesuai penjelasan pada ayat sebelumnya).
“Qurban” itu sendiri akar katanya sama dengan kata
“qariib”, yang artinya “dekat”.
Maka ber-qurban dalam terminologi Islam artinya adalah
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mendekatkan diri kepada Allah tentu saja bisa dilakukan dengan berbagai
cara. Mereka yang sedang menunaikan
ibadah haji akan melakukannya dengan wukuf di Arafah, sedangkan kita
yang di tanah air juga mendekat kepada Allah dengan segala cara yang bisa kita
lakukan, antara lain dengan menyembelih hewan ternak.
Antara Simbolik dan Empirik
Idul Adha adalah salah satu bukti bahwa Islam bukanlah
agama simbolik, melainkan murni empirik.
Untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita tidak diperintahkan untuk
mengurung diri di rumah untuk membaca Al-Qur’an terus-menerus selama hari-hari tasyriq,
tidak juga diperintah untuk meninggalkan semua kebutuhan jasmani dan keinginan
kita terhadap kenikmatan duniawi.
Setelah hewan-hewan itu disembelih, dagingnya tidak perlu
diletakkan di puncak bukit untuk menunggu diambil oleh Allah SWT. Ia juga tidak perlu diletakkan di bawah
sebuah pohon besar yang dikeramatkan, atau diadakan sebuah upacara ritual
khusus untuk meresmikannya sebagai daging qurban. Yang ada hanya aturan cara menyembelih (yang
sebenarnya sangat sederhana), dan standar hewan yang akan di-qurban-kan.
Kalau mau mendekat kepada Allah, maka bagikanlah sebagian
rizki dari-Nya kepada orang-orang lain di sekitarmu! Perintah ini sangat sederhana dan dapat
dipahami oleh siapa pun. Tidak ada yang
membingungkan dari perintah ini, dan sedikit pun tidak ada simbolisme. Hewan-hewan itu disembelih bukan untuk
sesajen, melainkan untuk dimakan bersama-sama.
Kalau mau mendekatkan diri kepada Allah, buatlah saudaramu kenyang! Apa perlu penjelasan lagi? Duhai, betapa Islam itu sungguh mudah…
Antara yang Tua dan yang Muda
Banyak orang melihat kisah ‘penyembelihan Ismail as.’
sebagai bukti kekokohan iman Nabi Ibrahim as.
Sama sekali tidak salah, namun saya melihat ada sisi lain dari kisah
ini. Ada ibroh yang jarang diulas di
ceramah-ceramah, padahal ia sangat penting untuk diungkapkan.
Saya melihat terjadinya sebuah ‘persaingan sengit’ antara
ayah dan anak dalam kisah tersebut. Fastabiqul
khairaat. Nabi Ibrahim as.
mengeraskan hatinya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Bisa Anda bayangkan sendiri betapa hati
seorang ayah hancur berkeping-keping ketika ia menceritakan pada anaknya bahwa
Tuhan telah memerintahkan untuk menyembelihnya.
Apakah kita bisa membicarakan hal seperti ini pada anak yang sangat
disayangi?
Di sisi lain, Ismail as. sebagai yang muda juga tidak rela
kalau ayahnya mengunggulinya begitu saja.
Tidak tanpa ‘perlawanan’. Justru
setelah mendengar perintah penyembelihan tersebut, Ismail as. langsung
menawarkan lehernya, tanpa keraguan sedikit pun. Yang muda tidak mesti kalah dengan yang
tua. Bahkan lebih tegasnya lagi : yang
muda tidak boleh kalah begitu saja dengan yang tua. Kebaikan tidak mengenal kriteria usia.
Antara Idul Fitri dan Idul Adha
Jarak yang cukup dekat antara Idul Fitri dan Idul Adha
juga menarik untuk diambil hikmahnya.
Saya berkeyakinan bahwa Ramadhan adalah ‘sekolah’ untuk memperbaiki diri
bagi umat Muslim. Selayaknya sekolah,
tidak semua orang bisa lulus. Kalau pun lulus,
tidak semuanya mendapat nilai sempurna.
Nilai sempurna itu adalah kembalinya kita kepada fitrah,
yaitu suci tanpa dosa. Banyak juga yang
tidak sampai kepada derajat ini, tapi tidak bisa juga dianggap sia-sia
ibadahnya di bulan Ramadhan. Selama bulan
Ramadhan kita diberi target puncak, yaitu membersihkan diri dari segala dosa,
sehingga pada Hari Raya Idul Fitri, kita semua suci bagaikan bayi.
Keberadaan Idul Adha yang tidak berapa jauh dari Idul
Fitri membuat saya merasa ‘tersindir’.
Seolah-olah Allah SWT berfirman dengan hal ini, “Wahai hamba-Ku, kalau
tempo hari engkau gagal mencapai target maksimal di Hari Raya Idul Fitri, maka
ada kesempatan untuk mendekat kepada-Ku pada Hari Raya Idul Adha. Kalau memang engkau tempo hari gagal menjadi manusia
yang suci dari dosa-dosa, setidaknya sekarang jadikanlah dirimu berguna bagi orang lain
dengan ber-qurban.”
Tentu saja, ini tidak berarti bahwa Idul Adha didesain
khusus untuk mengobati ‘kegagalan’ di Hari Raya Idul Fitri. Yang jelas, kedua hari raya tersebut adalah
rahmat Allah yang tak terukur nilainya.
Wallaahu a’lam.
wassalaamu’alaikum wr. wb.