Blog EntryEmpat Hal Tentang Idul AdhaJan 2, '07 10:57 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillaah, Idul Adha kali ini dekat sekali dengan tahun baru. Saya rasa kita mesti bersyukur atas fakta ini, karena dengan begini setidaknya umat Islam memiliki motivasi untuk beramal saleh di awal tahun, bukan sekedar hura-hura seperti orang bodoh saja. Hura-hura memang masih ada, tapi masih lumayan, karena amal salehnya pun ada. Paling tidak dengan melaksanakan shalat ‘Ied, menyambung silaturahim dengan handai taulan (dengan berbagai cara), dan tentu saja dengan menyembelih hewan-hewan qurban.

Dari perenungan Idul Adha tahun ini, setidaknya ada empat hal yang menarik perhatian saya. Empat hal ini barangkali bukan hal yang benar-benar ‘baru’, namun rasanya memang seringkali luput dari perhatian kita.


Antara “Qurban” dan “Korban”

Kalau ditanyakan makna “qurban”, banyak di antara umat Islam yang masih salah mengerti. Dipikirnya, “qurban” itu berarti “menyembelih hewan ternak”. Padahal, meskipun istilah ini memang identik dengan penyembelihan hewan ternak, namun pengertiannya yang sebenarnya justru jauh lebih luas lagi.

Istilah “menyembelih hewan ternak” itu lebih cocok untuk dijadikan terjemahan dari nama lainnya Idul Adha, yaitu “Idun-Nahaar”, yang artinya adalah “hari penyembelihan”. Kata “an-nahaar” adalah bentuk lain dari kata terakhir pada ayat kedua surah Al-Kautsar. Pada ayat tersebut, umat Islam diperintahkan untuk mendirikan shalat hanya kepada Allah SWT dan menyembelih hewan kurban, karena Allah telah memberikan rahmat yang banyak (sesuai penjelasan pada ayat sebelumnya).

Qurban” itu sendiri akar katanya sama dengan kata “qariib”, yang artinya “dekat”. Maka ber-qurban dalam terminologi Islam artinya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mendekatkan diri kepada Allah tentu saja bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mereka yang sedang menunaikan ibadah haji akan melakukannya dengan wukuf di Arafah, sedangkan kita yang di tanah air juga mendekat kepada Allah dengan segala cara yang bisa kita lakukan, antara lain dengan menyembelih hewan ternak.


Antara Simbolik dan Empirik

Idul Adha adalah salah satu bukti bahwa Islam bukanlah agama simbolik, melainkan murni empirik. Untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita tidak diperintahkan untuk mengurung diri di rumah untuk membaca Al-Qur’an terus-menerus selama hari-hari tasyriq, tidak juga diperintah untuk meninggalkan semua kebutuhan jasmani dan keinginan kita terhadap kenikmatan duniawi.

Setelah hewan-hewan itu disembelih, dagingnya tidak perlu diletakkan di puncak bukit untuk menunggu diambil oleh Allah SWT. Ia juga tidak perlu diletakkan di bawah sebuah pohon besar yang dikeramatkan, atau diadakan sebuah upacara ritual khusus untuk meresmikannya sebagai daging qurban. Yang ada hanya aturan cara menyembelih (yang sebenarnya sangat sederhana), dan standar hewan yang akan di-qurban-kan.

Kalau mau mendekat kepada Allah, maka bagikanlah sebagian rizki dari-Nya kepada orang-orang lain di sekitarmu! Perintah ini sangat sederhana dan dapat dipahami oleh siapa pun. Tidak ada yang membingungkan dari perintah ini, dan sedikit pun tidak ada simbolisme. Hewan-hewan itu disembelih bukan untuk sesajen, melainkan untuk dimakan bersama-sama. Kalau mau mendekatkan diri kepada Allah, buatlah saudaramu kenyang! Apa perlu penjelasan lagi? Duhai, betapa Islam itu sungguh mudah…


Antara yang Tua dan yang Muda

Banyak orang melihat kisah ‘penyembelihan Ismail as.’ sebagai bukti kekokohan iman Nabi Ibrahim as. Sama sekali tidak salah, namun saya melihat ada sisi lain dari kisah ini. Ada ibroh yang jarang diulas di ceramah-ceramah, padahal ia sangat penting untuk diungkapkan.

Saya melihat terjadinya sebuah ‘persaingan sengit’ antara ayah dan anak dalam kisah tersebut. Fastabiqul khairaat. Nabi Ibrahim as. mengeraskan hatinya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Bisa Anda bayangkan sendiri betapa hati seorang ayah hancur berkeping-keping ketika ia menceritakan pada anaknya bahwa Tuhan telah memerintahkan untuk menyembelihnya. Apakah kita bisa membicarakan hal seperti ini pada anak yang sangat disayangi?

Di sisi lain, Ismail as. sebagai yang muda juga tidak rela kalau ayahnya mengunggulinya begitu saja. Tidak tanpa ‘perlawanan’. Justru setelah mendengar perintah penyembelihan tersebut, Ismail as. langsung menawarkan lehernya, tanpa keraguan sedikit pun. Yang muda tidak mesti kalah dengan yang tua. Bahkan lebih tegasnya lagi : yang muda tidak boleh kalah begitu saja dengan yang tua. Kebaikan tidak mengenal kriteria usia.


Antara Idul Fitri dan Idul Adha

Jarak yang cukup dekat antara Idul Fitri dan Idul Adha juga menarik untuk diambil hikmahnya. Saya berkeyakinan bahwa Ramadhan adalah ‘sekolah’ untuk memperbaiki diri bagi umat Muslim. Selayaknya sekolah, tidak semua orang bisa lulus. Kalau pun lulus, tidak semuanya mendapat nilai sempurna.

Nilai sempurna itu adalah kembalinya kita kepada fitrah, yaitu suci tanpa dosa. Banyak juga yang tidak sampai kepada derajat ini, tapi tidak bisa juga dianggap sia-sia ibadahnya di bulan Ramadhan. Selama bulan Ramadhan kita diberi target puncak, yaitu membersihkan diri dari segala dosa, sehingga pada Hari Raya Idul Fitri, kita semua suci bagaikan bayi.

Keberadaan Idul Adha yang tidak berapa jauh dari Idul Fitri membuat saya merasa ‘tersindir’. Seolah-olah Allah SWT berfirman dengan hal ini, “Wahai hamba-Ku, kalau tempo hari engkau gagal mencapai target maksimal di Hari Raya Idul Fitri, maka ada kesempatan untuk mendekat kepada-Ku pada Hari Raya Idul Adha. Kalau memang engkau tempo hari gagal menjadi manusia yang suci dari dosa-dosa, setidaknya sekarang jadikanlah dirimu berguna bagi orang lain dengan ber-qurban.”

Tentu saja, ini tidak berarti bahwa Idul Adha didesain khusus untuk mengobati ‘kegagalan’ di Hari Raya Idul Fitri. Yang jelas, kedua hari raya tersebut adalah rahmat Allah yang tak terukur nilainya.

Wallaahu a’lam.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


11 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ikakartini wrote on Jan 2, '07
Assalamu'alaikum akmal...lama sudah rasanya saya tak buka multiply ni...tapi kamu tetap macam dulu dengan tulisan2 kamu yg ada aura buat ingatan manusia yg lalai...harap tahun ini kita akan menjadi bertambah baik dari hari2 yg lalu...harap ramadhan tahun ini juga pun begitu... aidil adha yg lalu saya ke kubur ibu saya... sehari-hari dalam hidup saya masih terkenangkannya... terlalu sedih utk diteruskan...maaf!
jonru wrote on Jan 2, '07
kemarin itu, untuk pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, saya lupa tentang pergantian tahun
tahu2 besoknya udah 2007
mungkin karena konsentrasi kita hari itu terpusat pada perayaan idul adha
sriprativil wrote on Jan 3, '07
tuh kan....masuk.....setelah uda off dari ym..
akmal wrote on Jan 3, '07
tapi kamu tetap macam dulu dengan tulisan2 kamu yg ada aura buat ingatan manusia yg lalai...
waduh jadi malu nih dipuji seperti ini... :p
akmal wrote on Jan 3, '07
jonru said
kemarin itu, untuk pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, saya lupa tentang pergantian tahun
tahu2 besoknya udah 2007
mungkin karena konsentrasi kita hari itu terpusat pada perayaan idul adha
senang ya, membuka tahun baru dgn kegiatan seperti kemarin... :)
akmal wrote on Jan 3, '07
tuh kan....masuk.....setelah uda off dari ym..
tiwiiiiii.... gimana rambutnya? dah gundul? kekekeke :p
rinrinjamrianti wrote on Jan 3, '07
TFS-nya... wah rajin sekali... tulisan2nya sy suka.... masuk ke hati banget.... ditunggu reminder2 berikutnya... hatur nuhuuun :)
alghozi wrote on Jan 3, '07
mantabbbssss. ! ! !
akmal wrote on Jan 3, '07
TFS-nya... wah rajin sekali... tulisan2nya sy suka.... masuk ke hati banget.... ditunggu reminder2 berikutnya... hatur nuhuuun :)
hehehe glad u like it... :)
akmal wrote on Jan 3, '07
alghozi said
mantabbbssss. ! ! !
no smoking!! :p
akmal wrote on Jan 4, '07
TFS-nya...
btw, TFS itu opo yooo?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help