assalaamu’alaikum wr. wb.
Juli 2006. Sebelumnya
memang saya melamar tanpa memberitahu Mama terlebih dahulu. Alasannya kurang lebih seperti ketika seorang
panglima besar membakar kapal-kapalnya di pesisir pantai di wilayah musuh. There’s no turning back. Pernikahan harus dilaksanakan sesegera
mungkin, dan langkah awal sudah dibuat.
Barangkali terlihat sembrono, tapi kadang-kadang yang dibutuhkan oleh
seorang lelaki adalah resiko.
Pernikahan memang diusahakan secepat mungkin, namun tidak secepat
itu. Masalahnya, keluarga kami
adalah keluarga besar, dan nyaris tak mungkin mengadakan pesta kecil-kecilan
saja, apalagi mengingat teman-teman keluarga yang jumlahnya sangat banyak. Meskipun resepsi itu hanya urusan yang
derajatnya sunnah saja, namun apa boleh buat kita perlu serius
memikirkannya. Artinya : perlu waktu
lebih untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan.
Dana sudah ada, tapi masih dalam bentuk investasi, sehingga tak mungkin
buru-buru dicairkan.
Sementara itu, MP masih saja dipenuhi provokator...
Agustus 2006. Dari
Juli ke Agustus terlalu cepat, sedangkan bulan September terhalang oleh
Ramadhan. Tentu saja tidak enak kalau
harus mengadakan walimah pada bulan Ramadhan, karena siang harinya para
tamu tidak bisa makan, dan kalau diadakan malam maka akan menghalangi ibadah
malam Ramadhan bagi banyak orang. Idul
Fitri jatuh pada akhir Oktober. Maka
pernikahan pun sedianya akan diadakan pada bulan Nopember, tepatnya sebulan
setelah Idul Fitri.
Yah, meski harus menunggu lama, setidaknya sudah ada
kepastian tanggalnya. Strategi ‘bakar
kapal’ nampaknya berjalan cukup mulus.
Keadaan akan sangat berbeda kalau misalnya pada akhir
tahun lalu saya sudah lulus, dan saya sudah mendapat pekerjaan sekitar bulan
Februari atau Maret. Barangkali dengan
demikian saya bisa menikah sebelum Ramadhan.
Tapi dengan demikian, saya tidak akan sempat berjalan-jalan ke Sumbawa, Padang, Bukittinggi dan
Payakumbuh. Saya juga tidak akan sempat
‘berlibur’ dan menikmati serunya kota Bandung. Sebenarnya takdir Allah ini sudah sempurna
adanya, hanya saja hati manusialah yang terlalu kerdil untuk menampung segala
hikmahnya.
September 2006. Menurut
kelaziman, sebelum ada pernikahan harus ada lamaran terlebih dahulu. Yang disebut ‘lamaran’ itu adalah acara
besar-besaran dengan mengundang sekian banyak tetangga dan dilengkapi oleh
perjamuan besar. Kalau tidak ada acara
semacam begini, lantas ‘tiba-tiba’ saja ada undangan resepsi, maka ada saja
mulut-mulut nakal yang bicara begini-begitu.
Gosip memang santapan paling menarik bagi mereka yang kurang
kerjaan. Tanpa acara ‘seserahan’,
bisa-bisa kita diperbincangkan sebagai pasangan yang married by
accident! Please, deh!
Saya sendiri menganggapnya sebagai acara silaturahim saja. Masalahnya, barang-barang yang dijadikan
‘seserahan’ itu sendiri sebenarnya bukan saya yang memilihkannya, melainkan
justru Mama dan Ami (waktu itu masih calon istri saya). Jadi tidak ada unsur surprise di sini,
karena Ami sendiri yang memilih barang-barang yang akan dijadikan ‘seserahan’. Ini terjadi karena kompromi, sebab toh
nantinya barang itu akan menjadi milik Ami juga, jadi apa salahnya
memilih-milih barang bersama sang calon pemiliknya? Adapun acara ‘lamaran’ itu sendiri sebenarnya
sudah dianggap formalitas belaka oleh kedua belah pihak, karena lamaran yang
sesungguhnya sudah diterima sejak bulan Juni yang lalu.
Bukan masalah.
Anggap saja saya sedang membelikan barang-barang keperluan rumah tangga
kami kelak. Sejak kapan memberi hadiah
itu dilarang?
Lalu Ramadhan pun datang.
Oktober 2006. Ramadhan
paling bermakna dalam hidup. Jauh-jauh
hari sebelum kedatangannya, saya berulang kali menegaskan pada diri sendiri
bahwa inilah kesempatan ‘terakhir’ untuk memperbaiki diri. Mumpung masih single, mumpung belum
jadi kepala keluarga, maka inilah waktu yang paling tepat – sekaligus kepepet –
untuk mengubah segala keburukan menjadi kebaikan. Kalau sudah mendapat gelar ‘kepala keluarga’
dan sudah memiliki istri yang patuh, khawatirnya akan muncul pula ego yang
menyebabkan saya susah mencerna hikmah.
Kalau sudah terbiasa mengatur-atur istri (atau bahkan anak),
jangan-jangan saya tidak lagi mau diatur oleh Tuhan. Inilah kesempatan ‘terakhir’ yang dapat menentukan
segalanya.
Komitmennya sederhana saja : memperbaiki ibadah yang wajib
dan ‘menambal’ waktu-waktu yang bolong dengan segala yang bermanfaat. Saya sudah bisa membaca dan menulis sejak TK,
dan kini keduanya sudah menjadi hobi, jadi keduanya itulah yang menjadi andalan
saya dalam mengisi waktu-waktu kosong.
Barangkali kondisi tubuh manusia waktu shaum itulah
yang paling tepat untuk belajar, karena pada saat itu saya bisa menggandakan
kuantitas bacaan saya hingga berkali-kali lipat. Ide pun berdatangan dengan mudah, seperti
antena di ketinggian yang dikepung oleh berbagai transmisi dari segala
arah. Hanya perlu duduk dan berpikir,
dan ilham pun mengalir deras.
Ramadhan pun mengantarkan saya hingga sampai pada Hari Raya Idul Fitri, padahal diri ini masih jauh dari puas. Terus membaca dan menulis.
wassalaamu’alaikum wr. wb.