assalaamu’alaikum wr. wb.
November 2006. Musim
penghujan sudah mulai datang.
Daerah-daerah yang tadinya kekeringan kini malah kebanjiran. Ada
juga daerah-daerah tertentu yang masih mengalami pancaroba. Berita di televisi sangat mengherankan :
kekeringan di Jawa Timur dan banjir di Kalimantan! Bogor? Seperti biasa, hujan selalu. Banjir adalah jatahnya Jakarta.
Hujan mulai teratur datangnya, menghapus teriknya musim
kemarau di bulan-bulan yang lalu.
Sebenarnya musim penghujan datang terlambat tahun ini. Tapi memang begitulah iklim di dunia
sekarang, semakin tidak menentu. Seingat
saya, sewaktu saya masih kecil dulu, bulan September saja sudah benar-benar
masuk musim penghujan, dan Bogor
akan dilanda hujan dari pagi hingga malam, nyaris tak berhenti. Sekarang, hujan di Bogor cenderung sebentar namun lebat dan berangin
kencang.
Ketika tiba waktunya membereskan kamar, barulah saya sadar
bahwa hari yang dinanti-nanti itu akan segera tiba. Saya pun pindah dari kamar yang kecil ke
kamar yang besar. Kamar itu harus segera
dirapikan dan dibersihkan agar bisa segera digunakan. Saya tersentak ketika menyadari bahwa hari
penikahan hanya tinggal dua minggu lagi.
Kemudian Bogor disibukkan dengan kedatangan seorang manusia yang paling tidak diharapkan, yaitu George W. Bush. Indonesia yang paling saya banggakan akhirnya tidak lebih dari sekedar
bangsa penjilat. Hari demi hari berlalu dan Bogor pun dengan telaten
mempersiapkan diri untuk memberi sambutan, meskipun banyak sekali
warga yang menentang. Saya jadi bingung ; ini negara milik seorang Bush atau milik seluruh warga?
Hasil kedatangan Bush? Selain kehinaan untuk Indonesia, rasanya tidak ada.
Bush berlalu, hidup pun berjalan terus...
Pekan yang sangat panjang!
Menyebarkan sisa-sisa undangan, melakukan koordinasi terakhir dengan
pihak katering, membereskan rumah yang nampaknya tidak beres-beres, dan
berlomba dengan waktu yang terus berpacu.
Sampai akhirnya, hari itu datang juga.
Hari Ahad, 26 Nopember 2006, adalah hari yang bersejarah
dalam hidup kami. Pada hari itu saya
melangsungkan akad nikah yang langsung dilanjutkan dengan resepsi. Cukup menegangkan, karena memang tidak pernah
ada persiapan yang luar biasa sebelumnya.
Hanya sekedar membaca protokol yang sudah disusun oleh pihak WO (Wedding
Organizer) sebelumnya, dan selebihnya hanya berusaha bersikap wajar
saja. Alhamdulillaah acara
berjalan lancar, karena susunannya memang sangat sederhana.
Resepsinya berbeda dengan apa yang sudah saya bayangkan
sebelumnya. Saya kira kaki sayalah yang
akan paling menderita pegal-pegal berdiri di atas pelaminan, namun ternyata
justru otot pipi yang merasa kewalahan duluan.
Too much smile will kill you!
Ya, mau bagaimana lagi? Lagipula
saya bukan pura-pura tersenyum, justru saking sungguh-sungguhnya tersenyum dan
tertawa seharian, maka otot pipi ini terasa pegal sekali. Selama di pelaminan saya seringkali mencuri
pandang ke arah hidangan yang tersedia.
Di sisi kanan pelaminan ada hidangan khusus untuk pengantin dan
keluarga.
Apa dinyana, ketika waktu untuk pengantin menyantap
hidangan telah tiba, selera makan justru hilang. Barangkali karena sudah terlalu lelah. Memang melelahkan.
Hadiah paling menyenangkan tentunya adalah pernikahan itu
sendiri, apalagi dengan kedatangan begitu banyak teman, baik di acara akad
nikah maupun di acara walimah.
Kedatangan mereka juga merupakan hadiah tersendiri bagi saya. Selain itu, kami masih dibanjiri kado dari
para handai-taulan. Kado yang paling
mengesankan, tentu saja, adalah kado dari Club Anak Bunda berupa Tafsir Fii
Zhilaalil Qur’an karya Sayyid Quthb yang sudah melegenda itu. Masih banyak kegembiraan lain yang tidak akan
bisa saya ekspresikan dengan baik melalui tulisan, sebagaimana juga rasa terima
kasih saya kepada semua orang di sekitar saya yang tidak pernah cukup untuk
diucapkan.
Terima kasih, terima kasih!
Tiga hari setelah menikah, kami pun pergi ke Bandung dalam rangka
jalan-jalan menghabiskan jatah cuti dari kantor. Kami sempatkan untuk menengok keluarga Mas
Undi, yang rumahnya menjadi tempat kos saya selama hampir enam tahun
lamanya. Semuanya masih tetap sama,
penghuninya pun masih sama. Satu-satunya
perbedaan adalah kamar kos saya yang sampai kini belum ada yang menempati.
Selain itu kami pun sempat berbelanja sedikit, membelikan
sekedar oleh-oleh buat orang tua di Bogor,
dan tidak lupa juga mampir ke ITB. I
really miss my campus! Ada ‘wibawa’ tersendiri
yang dimiliki oleh kampus ITB yang bisa dirasakan ketika memasuki
gerbangnya. Saya pernah merasakannya
dulu ketika pertama kali masuk ke sana
sesaat setelah hasil UMPTN diumumkan, namun sensasi itu menghilang bersama
waktu karena telah terbiasa dengannya.
Kini saya merasakannya kembali, enam bulan setelah meninggalkan
kampus. Saya merasa kembali seperti anak
SMA yang tengah bermimpi masuk ITB!
Desember 2006. Jadi,
setelah menikah, kehidupan seorang lelaki umumnya menjadi jauh lebih tenang dan
teratur. Kalau tidak waspada, kita akan
keenakan ; jiwa menjadi malas, otak menjadi tumpul, dan badan pun akan semakin melar. Beruntung saya memiliki kecintaan yang tak
tersembuhkan pada basket. Yes,
basketball saved my life!
Berkat kebiasaan yang dikembangkan sejak bulan Ramadhan
yang lalu, membaca pun menjadi kegiatan sehari-hari yang selalu dicukupkan
porsinya. Sekarang saya bisa membaca
buku di angkot tanpa merasa pusing atau mengantuk, tidak pula peduli pada pikir
orang lain di sekitar saya. Maklum, di
Indonesia, membaca buku tebal di angkot membuat kita sedikit nampak seperti
kutu buku. Nerd! Tapi hanya orang buta saja yang menuduh saya
mirip dengan kutu buku.
Bulan Desember ini, musim penghujan secara resmi
merajalela di nyaris seluruh pelosok negeri.
Banjir di berbagai daerah di Sumatera, dan hujan yang tak henti-hentinya
mengguyur Bogor. Semua orang sibuk mengurusi rumah tangga
orang lain (maksudnya Aa Gym) dan sebagian malah nampak tenang-tenang saja
menyaksikan pihak lain yang mesra namun tidak berumah tangga (maksudnya YZ dan
ME). Semua orang sibuk beradu pendapat dan dengan segala cara berusaha menjadi pemenang, meski dengan membohongi semua orang. Akhirnya artis Bogor jualah yang mampu menaklukkan semua
kehebohan ini. Alda Risma, penyanyi yang
pernah naik daun di penghujung abad ke-20 dulu, meninggal dengan mewariskan
begitu banyak misteri. Inilah,
nampaknya, kasus yang paling menyita perhatian publik di Indonesia di
akhir tahun 2006.
Saya pun berdiri di sini, di waktu-waktu akhirnya, untuk
mengenang segala yang telah terjadi pada tahun 2006. Saya pikir, inilah tahun terbaik dalam hidup
saya. Tapi Islam tidak mengenal tahun
baik dan tahun buruk. Barangkali yang
sebenarnya terjadi adalah : saya lebih pandai bersyukur tahun ini, dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya.
Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk menjadi hamba
yang lebih bersyukur. Fabi-ayyi
aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan?
wassalaamu’alaikum wr. wb.